Menjaga Nama Baik Perusahaan

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Maukah Anda bekerja di perusahaan yang punya reputasi buruk? Kalau saya tidak. Malu rasanya bekerja di perusahaan yang dicemooh oleh public hanya karena perusahaan itu dikenal sebagai perusahaan yang memperlakukan pelanggannya buruk. Atau cara kerjanya buruk. Atau cara pelayanannya yang buruk. Atau segala label buruk yang ditempelkan kepada nama perusahaan itu. Saya malu. Jika bekerja di perusahaan seperti itu. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda malu juga? Ataukah Anda cuek saja. Yang penting gaji bulanan tidak terganggu? Saya yakin, Anda sama seperti saya dan orang-orang ‘normal’ lainnya. Pertanyaannya adalah; siapakah yang bertanggungjawab untuk menjaga nama baik perusahaan itu? Perusahaankah? Atau kita yang bekerja didalamnya? Hmmmh… Anda sudah punya jawaban untuk pertanyaan itu?
 
Mungkin Anda masih ingat complain saya tentang sebuah bank multinasional melalui social media. Woooh, mereka pontang-panting menghubungi saya. Mengklarifikasi. Berusaha meyakinkan saya. Dan. Meminta saya untuk menjelaskan kepada public. Padahal, selama ini complain langsung saya kepada mereka sering dianggap angin lalu. Maklum, nasabah kelas ecek-ecek. Sampai sekarang saya tidak mau lagi menjadi nasabah bank itu. Kelak jika saya sudah menjadi orang yang kaya raya sekalipun, tidak ingin saya berhubungan dengan bank itu lagi. Bank lain yang punya reputasi lebih baik, akan menjadi pilihan saya.
 
“Wah, itu sih penilaian subyektifnya si Dadang saja…” mungkin ada yang mengira demikian.
 
Coba diingat kembali complain seorang Ibu di social media tentang pelayanan sebuah rumah sakit. Ditambah dengan bagaimana solidaritas rakyat Indonesia yang mengumpulkan koin seribuan untuk mendukungnya membiayai ongkos persidangan. Hal itu menunjukkan bahwa respon terhadap reputasi perusahaan itu bukanlah sekedar reaksi emosional segelintir manusia saja. Melainkan pola umum masyarakat dimana pun. Pola yang sebenarnya mudah untuk ditebak. Artinya, tidak sulit untuk diantisipasi. Sederhananya; lebih baik menjadi perusahaan yang punya reputasi baik, daripada menjadi perusahaan yang dikenal public sebagai perusahaan yang bereputasi buruk.
 
Sekarang saya  mau mengajak Anda untuk berganti peran. Bukan sebagai karyawan di perusahaan itu. Melainkan sebagai pelanggan. Apakah Anda mau membeli produk atau jasa dari perusahaan yang mempunyai reputasi buruk? Tentu mau; jika didunia ini tidak ada alternative lain, sedangkan produk atau jasa yang Anda butuhkan itu menentukan hidup dan mati Anda. Iya kan? Jika ada perusahaan lain yang menyediakan produk yang sama, Anda tentu lebih memilih membelinya dari perusahaan yang punya reputasi baik bukan? Atau, baiklah. Memang hanya itu perusahaan satu-satunya yang punya. Tapi, kalau tanpa produk itu pun hidup Anda akan tetap baik-baik saja; Anda masih ingin membeli produk itu dari perusahaan bereputasi buruk? Saya meragukan itu.
 
Nah. Sekarang kita sudah mempunyai dua sudut pandang yang berbeda. Satu sebagai karyawan. Dan dua sebagai pelanggan. Tidak masalah posisi kita apa – sebagai karyawan atau pelanggan – kita tidak tertarik berhubungan dengan perusahaan yang mempunyai reputasi buruk. Fakta ini menunjukkan bahwa reputasi itu penting sekali. Oleh karenanya, perusahaan harus punya reputasi baik. Dan tidak heran, jika setiap perusahaan berjuang mati-matian untuk menjaga reputasinya. Saatnya sekarang kita kembali kepada pertanyaan dimuka; siapakah yang bertanggunjawab untuk menjaga reputasi baik perusahaan itu?
 
Saya tidak menemukan jawaban yang lebih baik selain dari ini;”Kitalah, sebagai karyawan yang bekerja disana.” Memang benar, kan? Kita tidak bisa berharap orang luar mau menjaga reputasi perusahaan tempat kita bekerja. Dan kita, tidak bisa berharap computer, gagang telepon, kursi, meja maupun ruang meeting di kantor itu yang menjaga reputasi baik perusahaan. Semua hal yang ada diperusahaan kita kan hanya alat. Mereka tidak punya kuasa untuk menentukan hasil akhirnya. Sekalipun punya peralatan canggih, jika kita yang menggunakannya tidak punya komitmen untuk menjaga reputasi perusahaan, maka kecanggihan perlengkapan itu hanya akan semakin memudahkan kita dalam menghancurkan reputasi perusahaan.
 
Sebaliknya, meskipun kantor kita hanya punya peralatan sederhana. Namun karena kita dapat menggunakan perlengkapan bersahaja itu dengan sebaik-baiknya untuk membangun reputasi perusahaan, maka perusahaan kita akan dikenal public sebagai perusahaan yang baik.
 
Anda ingin bekerja di perusahaan yang punya reputasi baik, bukan? Jika demikian sahabatku, kitalah yang harus menolong agar perusahaan punya reputasi yang baik itu. Caranya bagaimana? Sederhana saja kok; tunaikan tugas dan tanggungjawab Anda dengan sebaik-baiknya serta layani setiap orang yang berhubungan dengan perusahaan Anda dengan sesantun-santunnya. Insya Allah, dengan cara sederhana itu saja kita bisa membantu perusahaan untuk dikenal public sebagai perusahaan yang baik.
 
Manfaatnya apa untuk Anda?
Hmmh… apa manfaatnya ya? Aha. Dengan reputasinya yang baik, perusahaan Anda akan lebih dipercaya oleh public. Dengan kepercayaan yang lebih baik dari public, maka perusahaan Anda akan mendapatkan pembelian yang lebih banyak dari pelanggannya. Dengan belanja yang lebih banyak dari pelanggan, maka perusahaan Anda punya kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan. Dengan keuntungan yang lebih banyak, maka perusahaan bisa lebih leluasa untuk memberikan bonus, hadiah, maupun kenaikan gaji kepada karyawannya. Siapakah karyawan di perusahaan Anda? Ya Anda. Jadi siapa yang akan mendapatkan keuntungannya jika demikian? Anda.
 
So, sahabatku. Mari kita bantu perusahaan tempat kita bekerja ini untuk membangun reputasi yang baik dihadapan public. Tidak usah rumit-rumit kok. Cukup dengan itu tadi. Pertama, jadilah pegawai yang baik disana. Yang amanah. Yang berkomitmen menjalankan tugas sebaik-baiknya. Kedua, perlakukanlah setiap orang yang berhubungan dengan perusahaan tempat Anda bekerja dengan sebaik-baiknya. Hormati pribadi mereka. Tunaikan hak-hak mereka. Dan buat mereka senang berhubungan dengan perusahaan yang Anda wakili.
 
Insya Allah, perusahaan Anda akan punya reputasi baik. Sehingga Anda akan semakin bangga bekerja disana. Dan Anda. Juga akan mendapatkan lebih banyak manfaat dari perusahaan yang Anda banggakan itu. Bersediakah Anda menolong perusahaan untuk membangun reputasi baik? Tentu. Kalau begitu. Silakan kembali ke meja kerja Anda. Lalu, lakukan tugas-tugas Anda dengan sebaik-baiknya. Dan jika berhubungan dengan pelanggan Anda, niatkanlah untuk mengerahkan seluruh kemampuan Anda dalam melayaninya. Toh kita tidak dituntut untuk melakukan sesuatu melampaui kemampuan itu kok. Begitulah cara kita untuk menjaga nama baik perusahaan tempat kita bekerja. Bisa mulai sekarang juga?
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: