Ilmu Menjalani Hidup

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Orang bilang, segala sesuatu itu ada ilmunya. Kayaknya sih memang demikian. Soalnya, paling males bekerja bersama orang yang ‘nggak tahu’ mesti ngapain kan? Kita sendiri juga suka bingung kalau harus mengerjakan sesuatu yang kita nggak punya ilmunya. Bahkan sebenarnya, apa yang kita dapatkan juga bergantung kepada ilmu kita. Kalau pencapaian kita masih cetek begini, mungkin itu karena ilmu kita juga masih cetek. Kita ini hanya ngakunya saja lulusan sekolah terbaik. Padahal, ilmu kita nggak seberapa. Sayangnya, kita tidak sadar soal itu. Maaf kata ya, ijazah saya; nyaris tidak bisa digunakan dalam cara saya menjalani hidup sekarang. Anda begitu jugakah? Itu menunjukkan jika kita masih harus mempelajari ilmu untuk menjalani hidup.
 
Ilmu, tidak hanya bisa didapat dari orang yang disebut guru. Atau mereka yang berdiri diatas mimbar. Ilmu hidup, justru sering dimiliki oleh orang-orang sederhana. Dan orang seperti itu, bisa siapa saja. Maka setiap kali memfasilitasi training, saya selalu menyediakan beberapa buku yang saya tulis untuk dihadiahkan kepada peserta yang bersedia berbagi pendapat atau aktif dalam forum itu sehingga orang lain dapat menarik pelajaran berharga darinya. Kadang-kadang, klien saya juga berinisiatif menyediakan hadiah hiburan. Biasanya sih berupa makanan kecil seperti coklat, kacang, kue-kue atau apa saja yang bisa dinikmati selagi mereka mengikuti acara training itu. Jadi, dikelas saya; peserta boleh mengikutinya sambil menikmati kelezatan makanan yang didapatkannya sebagai hadiah atas keterlibatannya secara aktif dalam diskusi interaktif.
 
Suatu ketika, peserta training saya mengemukakan pendapat yang sangat berharga. Sebagai imbalannya, saya menghadiahinya dengan cokelat lezat. Tapi, dia menolak hadiah itu. Padahal kan biasanya orang senang kalau dikasih hadiah. Dan tentunya, akan dengan senang hati pula menerimanya. Teman kita ini, tidak demikian. Maka, saya pun bertanya; “kenapa?”
 
Beliau kemudian menjawab; “Saya mau hadiahnya diganti dengan buku Pak Dadang….” Katanya. Teman-temannya di kelas pun menyambutnya dengan keriuhan beraneka ragam.
 
“Oke…” kata saya. “Tetapi, bisakah Anda jelaskan mengapa Anda merasa layak mendapatkan hadiah berupa buku itu?”
 
Teman kita itu berhenti sejenak. Lalu katanya; “Saya ingin menambah ilmu Pak….”
Berapa banyak diantara kita yang lebih mementingkan isi perut dibandingkan dengan isi kepala? Benar kita semua membutuhkan pemenuhan atas kebutuhan terhadap nutrisi berupa makanan. Tetapi ternyata sahabatku, bukan hanya tubuh fisik kita saja yang membutuhkan nutrisi itu. Jiwa kita pun tidak kalah butuhnya terhadap pemenuhan aspek-aspek penting yang bisa membuatnya lebih baik. Contohnya begini. Ketika sedang galau. Kita menutupi kegalauan itu dengan makan yang banyak. Semakin banyak makan, katanya kegalauan semakin berkurang ya? Apa memang demikian? Kenyataannya, melampiaskan kegalauan dengan makan bisa menyebabkan efek samping merugikan. Faktanya, kita tidak bisa mendapatkan penyelesaian dengan menjadikan makanan sebagai pelarian.
 
Beda sekali jika kita menyantap ilmu atau berbagai pencerahan. Contoh sederhananya begini. Ketika galau itu, kita mencari referensi yang relevan dengan situasi yang tengah kita hadapi. Didalamnya ada nasihat yang menyejukkan hati. Yang memberi kita inspirasi. Dan penyadaran diri. Hingga kita tersadar bahwa masalah yang kita hadapi itu sengaja Tuhan kirimkan untuk membuat kita naik kelas menjadi pribadi yang derajatnya lebih tinggi. Atau, memang mungkin Tuhan hanya ingin menguji. Jika kita lulus melewati ujian itu, maka Tuhan menganggap kita layak mendapatkan kepercayaan dan tanggungjawab yang lebih besar lagi. Nanti. Jika saatnya untuk itu sudah tiba.
 
Memangnya ilmu yang kita miliki ini masih belum cukup? Saya tidak tahu pasti. Yang jelas sih, ada beberapa indikasi yang menunjukkan jika saat ini ilmu kita belum cukup, atau belum sepenuhnya diamalkan. Buktinya? Begini: Dengan semua pencapaian ini. Kita belum merasa cukup juga. Kita merasa bahwa ada begitu banyak hal yang kita inginkan dalam hidup, namun masih belum bisa kita raih. Hingga saat ini.
 
Saya, misalnya. Termasuk orang yang beruntung. Meskipun pendapatan saya belum tinggi-tinggi amat, tapi masih lebih tinggi dibandingkan kebanyakan professional lain seusia saya. Tetapi, sampai sekarang; ada begitu banyak hal yang belum bisa saya raih. Anda pun demikian kan? Kita, sama-sama punya banyak keinginan yang masih belum bisa diwujudkan. Dan itu menunjukkan bahwa sehebat apapun kita sekarang, ternyata ilmu hidup yang kita miliki ini belum benar-benar sampai ke puncaknya. Kita, belum sampai kepada puncak pencapaian tertinggi yang semestinya bisa kita gapai.
 
Kita masih sering merintih begini;”Tuhan, kenapa ya pendapatan saya kok masih segini-gini saja. Kenapa Tuhan, orang lain bisa mencapainya sementara saya tidak. Kenapa Tuhan, semakin hari, semakin besar kekhawatiran saya. Kenapa Tuhan, semakin bertambah usia saya, semakin gamang saya dengan masa depan yang bakal saya jalani setelah memasuki masa pensiun nanti……” dan seribu satu ‘kenapa Tuhan’ lainnya.
 
Dari peserta training yang menolak cokelat itu saya belajar bahwa, diusia yang sudah tidak muda lagi inilah justru sebenarnya kita sangat membutuhkan untuk menambah ilmu. Peserta training yang lebih memilih buku itu telah memberi saya sebuah penyadaran bahwa; untuk menjalankan hal-hal teknis, ilmu yang didapat dibangku sekolah pun sudah cukup. Tapi untuk menjalani hidup, kita membutuhkan ilmu yang hanya bisa kita tuntut sambil menjalani hidup itu sendiri. Pengingat dari sahabat saya itu sejalan dengan nasihat Rasulullah dalam sabdanya; “Tuntutlah ilmu, hingga ke liang lahad…” Sehingga kita, hanya boleh berhenti menuntut ilmu; ketika sudah tidak bisa bernafas lagi.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 22 April 2013

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: