Bernilaikah Pekerjaan Ini?

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Sudah berapa lama Anda bekera? Baru sebulan? Wah, tentu masih semangat-semangatnya ya? Oh, sudah setahun. Masih asyik kan? Sudah bertahun-tahun? Dengan pekerjaan yang itu-itu saja? Anda tidak bosan dengan pekerjaan itu? Saya sendiri tidak tahu persis, apakah kita harus bosan pekerjaan yang sudah terlalu lama kita jalani ini ataukah mestinya kita semakin menyukainya. Yang saya ketahui secara pasti adalah; kita tidak lagi bisa bekerja dengan rasa senang jika merasa bosan terhadap pekerjaan kita. Lah, itu mah semua orang juga tahu ya. Kalau bosan, pasti nggak asyik lagi. Kalau nggak asyik, ya sudahlah asal jalan saja. Formalitas. Yang penting ngabsen. Ada disitu. Duduk. Dan menyelesaikan pekerjaan apa adanya. Cukup dong. Tidak lebih dari itu. Ohya, satu lagi; mengerjakannya sengaja dilambat-lambatin. Y-yyaaaa…begitulah…..
 
Kartijah, anggap saja begitu namanya. Ibu rumah tangga di kampung. Harus membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Maka meski tidak terbilang muda lagi, dia bekerja banting tulang. Pekerjaannya? Memanggul gelondongan kayu milik boss dari tengah hutan hingga ke pinggir jalan raya. Jika sedang tidak ada penebangan, dia pergi ke pinggir kali dimana boss lain sedang beraksi. Dipikulnya batu-batu kali itu dari dasar sungai, naik hingga ke ujung tebing. Kemudian dimuatkannya kedalam truck besar yang menunggunya disana. Ketika matahari tepat diubun-ubunnya, Kartijah berteduh sambil membuka bekal makan siangnya berupa nasi putih berlauk sepotong ikan asin. Setelah itu, dia melanjutkan pekerjaannya hingga hari hampir gelap. Untuk pekerjaannya itu, Kartijah mendapatkan upah dua puluh ribu rupiah saja.
 
Kira-kira beberapa puluh kilometer kearah kota, ada pusat bisnis yang gemerlapan. Didalamnya, ada banyak orang bekerja digedung-gedung mentereng yang deretannya begitu rapat seperti hutan tanpa tangkai, dahan, atau pun dedaunan. Semilir angin diganti dengan hembusan udara sejuk dari air-conditioner canggih. Baju bersih dan pakaian perlente mendandani semua pekerjanya. Setiap beduk dhuhur tiba, semua orang berhamburan menuju kantin dan warung-warung nasi yang meriah. Pilihan lauknya, beraneka ragam. Tepat jam 5 sore, mereka pun bubaran. Untuk pekerjaannya itu, mereka mendapatkan imbalan beberapa juta sebulan.
 
Keesokan harinya, Kartijah bangun pagi sekali. Menyiapkan apapun adanya untuk anak dan suaminya. Lantas bergegas pergi ke hutan atau pinggir kali tempat dia meraih rezekinya sehari-hari. Tidak sekalipun dia merasa berat hati untuk melangkahkan kaki. Karena dia percaya, bahwa rezekinya sudah menunggu disana. Dan dia, akan dengan senang hati memetiknya meski dengan kerja keras dan tetesan keringat dibawah terik matahari. Dia tidak akan membiarkan dirinya terlambat datang, karena bisa kehilangan kesempatan yang mungkin hanya satu-satunya itu. Jika terlambat, orang lain akan mengambil pekerjaannya. Atau, boss hutan dan boss sungai tidak mau lagi menggunakan tenaganya.
 
Keesokan harinya, para pekerja di gedung-gedung tinggi itu bangun pagi. Mematikan alarm bawel itu. Menguap sebentar. Kemudian menarik selimutnya lagi. Rasanya beraaaaat sekali untuk pergi ke kantor hari ini. Tidak seperti hari pertama ketika mereka diterima bekerja di tempat itu. Dulu sih, mereka semangat sekali. Senang. Gembira. Bangga. Dan penuh antusias. Hari ini. Sudah beberapa tahun mereka bekerja disana. Kayaknya, ada yang tidak beres. Entah apa. Pokoknya tidak terasa lagi asyiknya. Makanya, ada saja alasan untuk menghindari pekerjaan. Kalau perlu, tinggal menelepon saja. Dan mengatakan;’hari ini, saya sedang tidak enak badan….’ Mereka, tidak perlu khawatir kalau pendapatannya berkurang. Karena diakhir bulan, gaji mereka akan ditransfer secara utuh.
 
Dengan tuntutan pekerjaan dan imbalan seperti itu, Kartijah masih bisa menunjukkan senyum yang cerah diwajahnya. Dengan tuntutan pekerjaan dan imbalan seperti itu, orang-orang di gedung perkantoran mewah itu masih saja sering menggerutu. Cemberut-cemberutan. Berselisih dengan temannya. Menggunjingkan atasannya. Dan, mengeluhkan tentang suasana kerja di kantornya yang semakin hari semakin tidak nyaman.
 
Kartijah, menjaga keberlangsungan pekerjaannya seperti dia merawat sumber penghidupannya. Merindukannya. Dan mendedikasikan dirinya dengan sepenuh kesungguhan. Dia sadar betul atas betapa berharganya gelondongan kayu dan bongkahan batu itu untuk diri dan keluarganya. Sehinga dia, selalu tersenyum setiap kali ada beban yang harus diangkutnya. Semakin banyak beban itu, semakin senang dia rasanya. Dan semakin gigih usaha kerasnya. Seolah-olah, dia merupakan orang yang paling beruntung dimuka bumi ini.
 
Di ujung lain, di gedung perkantoran itu. Orang-orang intelek yang beruntung itu bergerombol sambil merumpi. Padahal mereka tahu bahwa dijam itu, mestinya mereka sudah kembali sibuk mengerjakan tugas-tugasnya. Boro-boro merasa rindu pada pekerjaannya. Yang mesti dikerjakan pun masih ditunda-tundanya. Semakin banyak pekerjaan, semakin gundah gulana hatinya. Semakin manyun. Sambil membayangkan betapa beratnya hari-hari kerja yang mesti dijalaninya. Mereka selalu cemberut, setiap kali ada beban pekerjaan yang harus dilakukannya. Seolah-olah, mereka diposisikan sebagai orang yang paling tertindas dimuka bumi.
 
Kartijah, tak henti bersyukur atas pekerjaan yang diperolehnya. Mereka yang berada di gedung perkantoran itu pun bersyukur juga sih. Dan rasa syukurnya itu sudah dijadwal, yaitu di tanggal 25 setiap bulannya. Mereka ‘bersyukuuuur sekali’. Mmmmh…maksudnya, bersyukurnya hanya sekali dalam sebulan. Beda dengan Kartijah yang bersyukur setiap hari. Makanya, Kartijah bisa senang hati setiap hari. Sedangkan koleganya digedung-gedung tinggi hanya senang hati sebulan sekali. Itu pun tidak sehari penuh. Rasa senang mereka hanya berlangsung beberapa menit saja. Karena setelah upah itu diterimanya, hampir di menit yang sama langsung ‘dikasih’ lagi kesana. Dan dikasih juga kesini. Langsung berhamburan kesana-sini. Lalu mereka merengut lagi…..
 
Apakah Kartijah tidak pernah menangis? Sering. Ada momen-momen syahdu dimana dia menitikan air mata. Khususnya ketika memikirkan anak-anaknya. Bagaimana masa depannya kelak jika tidak terus sekolah? Tapi bagaimana caranya agar anak-anaknya bisa terus bersekolah? Dia menangis. Namun tangisnya disimpan untuk disaat-saat sunyi. Dan dengan tangis itu, dia memotivasi diri sendiri untuk bekerja gigih serta penuh dedikasi setiap hari. Kartijah, benar-benar memahami nilai pekerjaan ini. Sehingga meski upahnya kecil, dia tetap mensyukurinya. Meski tugas-tugasnya sangat berat – baik dalam pengertian fisik, maupun non fisik – dia tetap menjalaninya dengan tabah. Tekun. Dan tanpa keluhan.
 
Orang-orang keren di kantor besar itu. Mesti sesekali mengambil cuti. Lalu mengemas pakaian secukupnya, dan memasukkannya kedalam ransel. Kemudian menyandang ransel itu menuju ke terminal bis antar kota. Disana mereka boleh membeli tiket untuk berlibur. Mereka, boleh memilih tujuannya kemana saja. Ke barat, atau ke timur. Utara atau selatan. Terserah kemana saja. Karena kemanapun arah yang mereka tempuh itu, akan membawanya untuk bertemu dengan Kartijah dalam bentuk, rupa, dan penampakannya yang berbeda-beda. Di pelabuhan, ada Kartijah. Di pegunungan, ada Kartijah. Di proyek-proyek bangunan ada Kartijah. Disawah ada Kartijah. Dimana saja, pasti ada Kartijah.
 
Orang-orang keren di kantor besar itu. Mesti mengambil jatah cuti. Agar bisa bertemu dengan Kartijahnya sendiri. Supaya mereka sadar bahwa pekerjaannya sungguh jauuuh lebih baik dari itu. Mereka perlu menemui Kartijah agar bisa lebih mensyukuri pekerjaannya. Dan mereka perlu menjumpai Kartijah, agar paham bahwa Tuhan sudah memberinya begitu banyak kenikmatan. Beragam kemudahan. Serta beraneka ragam anugerah. Hanya saja, mereka terlalu sering mengabaikannya.
 
Dengan menemui Kartijah itu, semoga saja mereka bisa kembali ke kantornya masing-masing dengan kesadaran baru. Semangat yang lebih menggebu-gebu. Antusias tertingginya. Untuk mengeksplorasi puncak kemampuan dirinya. Dan menghidupkan semangat juangnya, tanpa perlu lagi mengeluhkankan tentang ini dan itu. Karena hanya dengan cara itu, karir yang lebih baik  bisa mereka raih. Namun hal itu, hanya bisa dimulai; jika kita menyadari. Bahwa. Pekerjaan ini. Sungguh. Sangat. Bernilai.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 11 April 2013

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: