Kehilangan Jabatan

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Orang bilang, semakin tinggi jabatan itu semakin enak. Gaji, tunjangan, dan gengsinya juga lebih tinggi kan? Makanya, kita semua saling berlomba mengejar jabatan. Boleh? Boleh saja. Tapi pertanyaannya adalah; apakah kita juga sudah siap jika kehilangan jabatan itu? Mungkin kita tidak pernah membayangkannya. Namun hal itu bisa terjadi kapan saja, dan dialami oleh siapa saja. Termasuk Anda. Dan juga saya. Sehingga jika kita tidak mempunyai kesiapan mental menghadapi situasi yang tidak menyenangkan itu, maka kehilangan jabatan bisa menimbulkan resiko yang berdampak besar bagi hidup kita. Kalau kita sudah siap secara mental? Meskipun kecewa, tapi kita bisa tetap berbahagia kan.
 
Saya ingat betul peristiwa belasan tahun yang lalu. Ketika itu, salah seorang senior saya mendapatkan promosi jabatan. Sebelumnya pun beliau sudah bertitel ‘manager’. Namun kemudian mendapatkan kepercayaan berupa tanggungjawab yang lebih besar, dengan level jabatan yang lebih tinggi. Ditangannya, sudah ada surat keputusan top management. Bahagia? Oh, pastinya dong. Siapa juga yang tidak bahagia mendapatkan promosi ke posisi bergengsi. Keluarganya bahagia. Teman-temannya pun ikut berbahagia pula. Sayangnya, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tahu kenapa? Karena beberapa hari kemudian, top management meralat surat keputusan itu. Sahabat saya itu, tidak jadi dipromosi.
 
Dalam jarak ratusan kilometer dari tempat itu, saya mempunyai sahabat lain. Kalau yang ini, sudah menjadi pesohor dengan jabatan yang tinggi. Dihormati, dan dipuja puji oleh orang-orang diseluruh sudut dan setiap sisi organisasi. Senang? Tentu dong ya. Siapa yang tidak senang menduduki posisi terhormat dengan segala priviledge yang menyertainya. Setelah bertahun-tahun dalam posisi ini, rupanya terjadi restrukturisasi dan mutasi. Orang lain kemudian ditunjuk sebagai pengganti beliau. Dengan penggantian itu, beliau tetap bekerja disitu. Namun kali ini, tidak disertai dengan jabatan maupun kewenangan sebesar yang dimilikinya sebelum reorganisasi dan mutasi itu berlangsung.
 
Anda baru saja membaca kisah tentang dua orang yang kehilangan jabatan. Orang pertama kehilangan jabatan yang ‘baru saja’ didapatkannya. Sedangkan orang kedua kehilangan jabatan yang ‘sudah bertahun-tahun’ dinikmatinya. Sekarang, mari membayangkan bagaimana seandainya salah satu dari kedua peristiwa itu menimpa kepada diri Anda?  Jika Anda keberatan untuk berandai-andai, boleh juga Anda sekedar berempati kepada yang mengalaminya; kira-kira, seperti apa ya rasanya.
 
Memang tidak mudah untuk memahami orang lain, khususnya jika kita sendiri tidak pernah mengalaminya. Tetapi, kita sungguh mesti belajar memahami hal itu karena kita  tidak bisa menghindari kejadian serupa itu. Hanya caranya saja yang akan berbeda. Tapi intinya sama yaitu; ‘kehilangan jabatan’. Entah dengan pensiun, ataupun salah satu dari kejadian yang menimpa kedua teman saya itu. Atau mungkin dengan cara lain yang sama sekali tidak bisa kita duga. Faktanya, kita akan kehilangan jabatan yang saat ini kita sandang. Tidak peduli seberapa suka, senang, atau cintanya kita pada jabatan ini. Kita – cepat atau lambat – harus melepaskannya juga. Maka pertanyaannya adalah; apakah Anda sudah siap untuk melepaskan jabatan itu atau tidak?
 
“Tenang saja mas bro. Umur gue masih muda….” Mungkin para eksekutif muda berpikir demikian. Hey. Jangan salah loh. Tidak ada jaminan jika kita masih mendapatkan kepercayaan itu hingga pensiun. Pernah mengenal orang-orang yang khilangan jabatan pada usia yang justru sedang ‘semangat-semangatnya’? Makanya, menghindari sifat takabur itu perlu Mas Bro….
 
Bagaimana pun juga, tidak mudah untuk berlapang dada menyikapi kehilangan jabatan itu. Khususnya ketika kita sedang sangat menginginkannya. Maka siapa saja yang sangat menginginkan suatu jabatan, harus memiliki kesiapan untuk kehilangan jabatan itu kapan saja. Seperti teman saya yang pertama itu. Sebagai manager yang gigih dan hebat, tentu dia kecewa ketika surat pengangkatannya itu hanya ‘berlaku’ beberapa hari. Namun karena sudah siap mental. Maka beliau tidak terlalu bersedih hati. Ketika kembali lagi ke posisinya semula, beliau tidak mengurangi kualitas kerjanya sama sekali. Tetap tampil sebagai professional yang unggul.
 
Sebaliknya, jika kita tidak punya kesiapan mental untuk kehilangan jabatan itu. Bukannya mengharapkan, tetapi jabatan kita itu memang tidak langgeng kan? Sulit untuk tetap berlapang dada jika hati kita tidak siap kehilangannya, bukan? Bayangkan saja; semua kenikmatan sebagai pejabat seperti direnggut begitu saja. Misalnya, teman saya yang kedua itu. Sejak kehilangan jabatan itu, binar cerah yang selama ini senantiasa menghiasi wajahnya mulai pudar. Semakin hari, kinerjanya semakin menurun drastis. Dan yang lebih berat lagi, semakin sering mengeluhkan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Sakit, yang sudah diobati oleh berbagai macam cara. Namun tidak kunjung sembuh juga.  Untuk sahabat saya itu, saya hanya mempunyai sebuah resep yang terdiri dari satu kata, yaitu;” “Relakanlah.” Karena kerelaan kita untuk melepaskan jabatan yang hilang itulah yang bisa membuat hati kita tetap sabar. Senantiasa tenang. Dan selamanya tenteram.
 
Sahabatku. Jika gairah muda Anda saat ini mendorong Anda untuk terus mengejar jabatan. Maka lakukanlah. Karena tidak salah kok mengejar jabatan itu. Tetapi bersamaan dengan perburuan Anda kepada jabatan itu, tumbuhkanlah juga kesiapan mental Anda untuk menghadapi situasi yang tidak terduga, berupa kehilangan jabatan itu.  Agar jika hal-hal tidak terduga terjadi juga, maka jiwa kita; tidak akan terlampau terpengaruh. Kita bisa segera pulih. Dan bangkit lagi. Untuk terus berusaha dengan gigih.
 
Sahabatku. Jika saat ini Anda tengah mengalami situasi sulit berupa terenggutnya jabatan yang Anda cintai; hiasilah lidah Anda dengan kalimah indah yang Allah dalam surah 2 (Al-Baqarah) ayat 156 ini; “Sesungguhnya, kami berasal dari Allah. Dan kepadaNya jugalah kami kembali…..” Dengan begitu sahabatku, kebahagiaan kita akan tetap utuh. Meskipun kita tengah didera oleh kehilangan yang tidak menyenangkan itu. Insya Allah.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 8 April 2013

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: