Benarkah Rezeki Itu Tidak Akan Tertukar?

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Anda pasti pernah mendengarnya juga, kan? Rezeki itu tidak akan tertukar, katanya. Jadi ya tenang saja. Rezeki Anda, akan menjadi milik Anda. Sedangkan rezeki saya, akan tetap menjadi milik saya. Maka ketika kita luput dalam mendapatkan sesuatu, kita diingatkan untuk selalu sabar. Lalu kita berkata; ‘oh, itu bukan rezeki kita….’. Begitu kita diajari, bukan? Saya bertanya; “jika itu bukan rezeki kita, lantas mana yang rezeki kita itu dong?” Misalnya saja, Anda sudah dihadapkan pada ‘rezeki Anda’ itu. Namun Anda tidak mau mengambilnya, apakah itu masih jadi rezeki Anda? Saya tidak tahu pasti. Yang jelas, saya percaya bahwa meskipun Tuhan sudah menjatahkan rezeki untuk kita; Tuhan sangat menyukai ketika kita bersedia menggunakan tangan ini meraihnya. Jika tidak, mungkin saja Tuhan akan mengalihkan rezeki itu kepada orang lain, kan? Ya suka-sukanya Tuhan saja dong. Dia kan Yang Maha Kuasa. Betul apa tidak?
 
Sore itu, saya ada jadwal training untuk salah satu klien kami di Jakarta. Kalau acaranya didalam kota, kan enak menyetir sendiri saja. Sudah menjadi kebiasaan kalau menyetir mobil tanpa mengenakan sepatu. Lebih nyaman pakai sandal saja. Sepatu hanya dipakai pada saatnya nanti. Maka seperti biasanya, istri saya menyiapkan sepatu didalam mobil. Namun, saya tidak melihat ada kaus kaki didalamnya. Jadi, saya kembali ke kamar untuk mengambil ‘gulungan’ kaus kaki dari lemari. Setelah itu, kami pun beranjak pergi.
 
Sesampai di lokasi, barulah kami mengganti sandal dengan sepatu formal. Ketika itu juga saya melihat ada gulungan kaus kaki didalam sepatu itu. Tadi sih tidak kelihatan, makanya saya mengambil gulungan kaus kaki lainnya. Karena ingin menghargai istri yang sudah susah payah menyipakannya di rumah, maka saya memutuskan menggunakan kaus kaki pilihan istri saya itu. Namun begitu gulungan dibuka, ternyata kaus kaki itu beda corak di kiri dan kananya. Hadduh. Itulah resikonya kalau punya beberapa pasang kaus kaki. Seseorang bisa salah ‘menggulungnya’ jika dicuci pada saat yang bersamaan. Di rumah, saya punya cukup banyak persediaan kaus kaki. Sama-sama hitam sih. Tapi, warna detailnya sengaja dipilih berbeda-beda. Biar tidak bosan, kan. Namun resiko tertukarnya besar sekali rupanya.
 
Saya tertegun. Kenapa tadi kok didalam hati saya ada bisikan untuk mengambil sendiri gulungan kaus kaki lainnya? Hebat kan scenario Tuhan? Maka saya pun tidak ambil pusing. Segera mengambil gulungan kaus kaki  satunya lagi. Dan membukanya. Ya ampuun… kedua kaus kaki ini pun digulung bukan dengan pasangannya. Wah, kalau begini caranya; saya bisa tampil seperti badut dong. Biarin deh. Belum tentu juga peserta training saya memperhatikan sampai ke kaus kaki segala kan? Mau gimana lagi? Namun, sebelum melakukan kenekatan itu, saya perhatikan bahwa ternyata; kedua gulungan kaus kaki itu saling berpasangan secara bersilangan. Artinya, kami membawa 2 pasang kaus kaki yang komplit, namun tertukar dalam gulungan.
 
“Kita ini disayang Tuhan….” Begitu istri saya bilang sambil tersenyum manis.
Ya… kami yakin demikian. Selama ini, hidup kami memang diliputi oleh kasih sayang Tuhan. Tapi, saya masih bertanya; kenapa kok tertukarnya pas sekali. Kenapa saya mengambil gulungan ini sehingga gulungan yang disiapkan oleh istri saya tadi menjadi sempurna? Kenapa saya tidak mengambil gulungan lain dari lemari? Atau kenapa kaus kaki ini tidak tertukar dengan pasangan lain dari gulungan yang tidak saya ambil? Dan sejuta kenapa lainnya.
 
Tiba-tiba saja tumbuh pemahaman baru dalam hati saya. Rupanya, seperti itu jugalah rezeki kita. Jika sudah Tuhan tetapkan akan menjadi milik seseorang, maka rezeki itu tidak akan lari kemana. Akan tetap menjadi milik orang itu dengan cara yang tidak diduga sekalipun. Sahabatku, rezeki Anda itu sudah ditentukan menjadi milik Anda. Saya tidak bisa mengambilnya, atau merampasnya dari Anda. Begitu juga sebaliknya. Seperti kedua pasang kaus kaki saya yang tertukar itu, kita berpasangan secara tepat dengan rezeki kita. Jika pun sempat ‘tertukar’ maka cepat atau lambat; akan terjadi pertukaran lain yang menyebabkan milik Anda kembali kepada Anda. Dan milik saya, kembali kepada saya.
 
Tenteraaaaam rasanya ketika saya memahami hal itu. “Betul kan Bunda, rezeki itu tidak akan pernah tertukar.” Begitu sapa lembut saya kepada istri tercinta. Maka mari kita syukuri semua yang kita dapatkan. Dan tidak usah bersedih hati, jika ada sesuatu yang luput. Karena rezeki kita itu sudah ada takarannya masing-masing. Maka dengan begitu, kita akan terus berbahagia dengan apa yang ada pada kita. Tanpa sedikitpun rasa takabur yang menodainya. Dan kita pun akan tetap lapang dada ketika sedang dihadapkan kepada berbagai macam kesempitan.
 
Tapi…
Sebentar dulu.
Saya masih memikirkan sesuatu.
Jika rezeki itu sudah ditakar untuk masing-masing orang; apa yang menjadi dasar atau pertimbangan Tuhan dalam menentukan takarannya? Kebutuhan hidup? Kita semua kan sama-sama butuh rumah bagus, tapi tidak semua orang dapat rezeki yang cukup untuk membeli rumah bagus. Kita kan sama-sama butuh mobil, tapi tidak semua orang mendapatkan rezeki untuk membeli mobil. Kita semua kan juga sama-sama membutuhkan pelayanan kesehatan yang baik, tapi kenyataannya; tidak semua orang mendapatkan rezeki yang menjadikannya mampu untuk membiayai pelayanan kesehatan yang terbaik. Jadi apa dong pertimbangan Tuhan dalam menentukan jatah dan takaran rezeki itu sesungguhnya? Tidak terlalu jelas lagi, apakah ini pertanyaan. Atau gugatan.
 
Sudahlah, tidak usah terlalu jauh memikirkannya. Begitu kata orang. Anehnya, orang juga tidak berhenti untuk mengeluhkan; “Tuhan, kenapa kami selalu berada dalam kekurangan…..” Merintih, jika penghasilannya tidak kunjung cukup menutupi biaya hidup seperti keinginannya. Bukankah itu mengindikasikan ada sesuatu yang bertolak belakang dengan keyakinan yang selama ini diimaninya?
 
“Sekalipun kita tidur, Tuhan tetap akan memberikan rezekiNya kepadamu kok!” ada juga yang menasihatkan seperti itu. Benar? Benar. Jika konteks kita hanya dalam lingkup untuk bertahan hidup. Benar. Kita tidak akan mati sekalipun cuman berdiam diri. Pasti ada saja kok rezeki yang datang entah darimana atau bagaimana. Nyatanya demikian. Tapi anehnya, orang-orang ini percaya juga kok bahwa kehidupan ini ‘bukanlah semata-mata soal bertahan hidup’.
 
Menurut pendapat Anda, apakah saya akan mendapatkan dua pasang kaus kaki komplit, jika yang mengambil gulungan kaus kaki itu hanya istri saya saja? Meskipun setiap helai kaus kaki itu sudah ada pasangannya masing-masing, namun hanya dengan usaha yang benar saja masing-masing akan ketemu dengan pasangannya yang tepat. Dimulai dari petugas cuci setrika di rumah kami. Kemudian istri saya. Dan saya sendiri. Tuhan memang menjamin rezeki setiap mahluknya. Ada tertera dalam kita suci. Namun konteksnya, untuk menjaga agar tetap hidup. Sedangkan untuk bisa menapak kepada tingkatan yang lebih tinggi dari ‘sekedar hidup’ itu; kita wajib berikhtiar.
 
Gampangnya, kita boleh mengumpamakan bahwa rezeki yang Tuhan siapkan itu ada 2 macam. Pertama, rezeki untuk menjamin kelangsungan hidup mahluk-mahluknya. Itu tidak akan tertukar. Karena standarnya sama, yaitu; jaminan Tuhan bahwa setiap ciptaannya akan Dia hidupi. Antara saya dengan Anda, syarat untuk hidupnya kan sama. Kita dengan orang lebih kaya atau lebih miskin dari kita pun sama, yaitu; bisa makan untuk terus hidup. Itu Tuhan jamin. Sampai kapan? Sampai tiba saatnya bagi kita untuk pulang ke rumahNya sesuai batas waktu dalam ketentuanNya. Tuhan berikan kepada semua. Yang beriman. Yang ingkar. Yang beribadah. Yang membantah. Dapat jatah yang sama.
 
Namun selain jenis pertama itu, ada jenis rezeki yang kedua, yaitu: floating rizc, kalau saya boleh menyebutnya demikian. Maksudnya, rezeki yang Tuhan taburkan dialam semesta ini yang boleh diperoleh siapa saja yang bersedia berjerih payah untuk menggapainya. Itulah jenis rezeki ‘beyond our basic need fulfilment’. Rezeki yang untuk mencicil rumah. Rezeki untuk mengkredit kendaraan. Rezeki untuk menabung. Untuk liburan, sesekali makan di restoran, menonton bioskop dan sebagainya. Tuhan berikan kepada siapapun yang gigih usahanya, serta tepat cara menggapainya. Setinggi apapun tingkat keimanan kita, jika tidak ikhtiar; Tuhan tidak kasih jenis rezeki ini. Meskipun ingkar hingga berani mendustakan keesaan Tuhan, jika seseorang gigih dan mahir teknik memetiknya; maka Tuhan akan berikan rezekinya yang floating ini. Kenapa? Karena Tuhan adalah Maha Rahman. Maha Rahim. Pengasih. Lagi penyayang.
 
Jadi sahabatku, jika selama ini kita masih sering luput dalam meraih rezeki; hendaknya tidak lagi buru-buru mengatakan ‘itu bukan rezeki kita’. Tetapi mulailah menyadari bahwa cara dan tingkat kegigihan kita belum cukup untuk meraihnya. Sungguh sahabatku, Tuhan telah berfirman dalam surat 53 (An-Najm) ayat ke 39. Mari renungkan bunyinya; “Dan sungguh, tidak ada sesuatupun yang akan diperoleh seseorang kecuali apa yang telah diusahakannya….”. Jika kita berusaha, tentu berpeluang lebih besar untuk mendapatkan rezeki yang lebih banyak daripada kita diam saja. Meskipun dengan diam itu rezeki kita masih tetap dijamin oleh Allah. Namun, bukankah kita semua tertarik untuk mendapatkan bagian dari ‘floating rizc’ yang Tuhan taburkan itu?
 
Maka mari sahabatku, temani saya untuk melanjutkan ikhtiar ini. Supaya kita bisa kebagian. Dan jika kita maaaasih juga gagal mendapatkan rezeki itu, maka mulailah belajar menyapa Sang Pencipta: “Tuhan, terimakasih telah Engkau berikan kesempatan kepada hamba untuk berusaha hari ini. Namun hamba belum berhasil yaaa robbi. Tolong ajarkan kepada hamba Tuhanku, cara mendapatkannya. Agar pada kesempatan yang lain, hamba berhasil meraihnya.”
 
Dengan pemahaman yang baru ini, kita bisa membangun harapan untuk memperbaiki keadaan. Kita tetap punya semangat untuk terus berikhtiar. Dan kita, berkesempatan untuk mendapatkan seperti yang bisa diperoleh orang lain yang sudah terlebih dahulu terampil meraihnya. Memang rezeki tidak akan tertukar. Tetapi, kini sudah bukan saatnya lagi untuk hanya berorientasi pada rezeki jenis pertama itu. Saatnya untuk menggapai rezeki jenis kedua. Kita ubah paradigmanya.  Kita tambah kegigihannya. Dan kita perbaiki caranya. Maka kehidupan dan pencapaian kita, akan meningkat lebih baik lagi. Insya Allah.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 4 April 2013

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: