Kenapa Anak Buah Malas Belajar Lagi?

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Sebagai atasan, kita mempunyai kewajiban untuk selalu mendorong agar anak buah kita terus mengembangkan diri. Supaya kemampuan kerja mereka meningkat. Dan mereka pun bisa mendapatkan lebih banyak reward. Demi kepentingan mereka sendiri, kan? Sebenarnya sih, kita juga untung dong. Kan enak banget kalau punya anak buah yang hebat-hebat. Kita, tidak usah diribetin oleh masalah-masalah yang muncul karena ketidakmampuan anak buah menangani pekerjaannya. Pokoknya, rugi sendiri deh kalau sebagai atasan kita tidak mau membantu anak buah mengembangkan diri mereka. Makanya wajar dong, kalau sebagai atasan kita terus mengingatkan anak buah agar tidak henti mengembangkan diri. Tapi, apakah anak buah kita bisa disuruh terus belajar dengan semudah itu? Tidak semudah itu ternyata ya? Anda tahu kenapa?
 
Saya punya dua teman dekat. Hubungan kami sangat dekat sekali sehingga saking dekatnya itu, bolehlah kalau saya sebut kedua teman saya itu sebagai ‘sisi kanan’ dan ‘sisi kiri’ diri saya. Boleh ya? Terimakasih. Keduanya sekarang sedang terlibat dalam diskusi alot. Mereka mempertanyakan; apa yang kita lakukan untuk mengembangkan diri kita sendiri? Padahal kita sering berbusa-busa memerintahkan anak buah kita supaya serius belajar. Gigih mempelajari hal baru. Dan sebagainya.
 
Kenyataannya, kita sering melihat atasan yang hanya pandai menyuruh anak buah untuk terus mengasah kemampuan dirinya. Namun sering lupa, bahwa sebagai atasan; kita pun mesti terus mengasah kemampuan yang kita miliki. Sambil menyuruh anak buah berlatih, kita bersembunyi dibalik kata ‘sibuk’, bahkan untuk sekedar membaca buku tentang bagaimana cara mengasah kemampuan kepemimpinan kita. Soalnya, kita merasa bahwa kemampuan kepemimpinan kita memang sudah tinggi. Meskipun kenyataannya, kita sering kesulitan untuk menangani anak buah.
 
“Ya nggak gitu-gitu amat kali. Kita juga sering kan ikut training? Toh kantor punya budget untuk mengirim kita ke berbagai macam event training. Kita juga belajar terus kok.” Begitu sisi kiri batin saya memprotes.
 
Dan sisi kanan jiwa saya menimpali;”Iya sih.” Katanya. “Tapi coba aja elo pikir-pikir lagi.” Tambahnya. “Apa elo benar-benar mempelajari sesuatu di kelas training jika setiap sesi elo datang telat melulu.” Tampaknya sisi lain saya menggugat balik. “Pembukaan telat.” Katanya. “Habis coffee break telat.” Cecarnya. “Setelah istirahat makan siang juga elo kembali ke kelas dengan telat…..”
 
“Halah Mas Bro, gue kan Manager. Banyak kerjaan yang mesti dilakukan….” Begitu sisi kiri berkilah. Padahal, yang manager sibuk itu kan sebenarnya bukan kita aja ya. Tapi, kenapa cuman kita yang doyan bersembunyi dibalik alasan kesibukan ya?
 
“Well…” sisi kanan menarik nafas. “Didalam kelas juga elo lebih sering baca blackberry daripada mendengarkan curahan ilmu yang dipaparkan oleh pembicara di kelas elo….”
 
“Hadeuh… hari gini kagak ngecek BB? Please dong Bro! This is for business my man! Business…..!!!!” Tentu saja sisi kiri punya alasannya sendiri. Padahal, pastinya kan bukan cuman kita saja yang punya BB. Dan setiap pengguna BB tahu betul, bahwa sebagian terbesar pesan-pesan yang masuk ke BBnya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Yang sudah pasti ada hubungannya adalah ‘keriduan’ kita menantikan bunyi durirang di gadget kesayangan kita itu. Atau sekedar getarannya yang menggairahkan. Atau, cukup dengan kedap kedip display sinyalnya saja. Lantas alam bawah sadar kita mengingatkan bahwa pesan itu tidak bisa ditunda-tunda. Mesti dibaca sekarang. Kalau tidak. Maka itu artinya kita tidak update! Hari gini enggak update? Rasanya gimanaaaa gitu.
 
“Kesimpulannya.” Begitu sisi kanan merespon. “Elo cuman bisa menyuruh anak buah elo untuk terus belajar, dan mengembangkan diri. Sementara elo sendiri….. NOL BESAR.” Sepertinya saya melihat sisi kanan itu mengacungkan logo ‘O’ yang dibentuk dari jari telunjuk dan jempolnya.
 
“Sudahlah Mas Bro…” balas sisi kiri. “Nggak bisa gue belajar dari trainer yang gayanya membosankan begini…..” Duh. Seandainya sisi kiri itu menyadari bahwa meskipun trainer yang sekarang sedang berdiri di depan kelas itu membosankan, tapi… dia tidak lebih membosankan daripada diri kita sendiri ketika menceramahi anak buah kita soal pengembangan diri. Trainer itu, cuma dua jam berdiri disitu. Atau paling lama ya dua hari saja berceloteh didepan kita. Mungkin cuma itu satu-satunya momen pertemuan kita dengannya seumur hidup kita. Sedangkan kita? Setiap hari bertemu dengan anak buah kita. Dan kita. Menceramahi mereka dengan kata-kata yang sama. Nada yang sama. Tingkah polah yang sama. Lalu kita masih menganggap diri kita ini tidak membosankan ya. Oh….
 
“Siapa yang lebih membosankan?” kata sisi kanan saya. “Trainer itu dimata elo? Ataukah diri elo dimata anak buah elo….?” Kalau kita pinter, mestinya kita bisa memilih trainer yang cocok dengan kita. Banyak pilihannya kok. Ada yang pinter tapi serius banget. Ada juga yang lucu, tapi ilmunya pas-pasan. Ya tak apa dong. Kita tidak butuh ilmu selangit kok untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ada yang main sulap melulu. Tidak apa juga, karena sulap bisa membuat orang tidak tertidur di kelas training. Emang ada juga sih trainer yang beneran punya ilmu tinggi, sekaligus juga cara membawakan materinya pun bagus. Jadi, asyik banget kalau ikut kelas dia. Ada macam-macam deh pokoknya. Terserah kita aja mau memilih yang mana. Yang penting, kita bisa mempelajari sesuatu yang bermakna darinya, kan?
 
“Tapi apa iya di level kita masih butuh training ya?” sisi kiri saya berguman. Seolah pertanyaan itu hanya untuk dirinya sendiri. Yaaa… kalau kita tidak merasa butuh, mana bisa kita bisa sepenuh hati menjalaninya kan? Dan kalau kita memang tidak butuh, kenapa mesti ikut training yang tidak kita butuhkan?
 
“Tidak. “ jawab sisi kanan. “Kita tidak butuh training kok.” Tambahnya. Mantap dan lugas. Sebenarnya saya merasa sedikit terkhianati. Saya tidak berharap sisi kanan bicara begitu.
 
“Hnnaaah… kan elo udah tahu soal itu Mas Bro!” jingkrak sisi kiri. “Maaasak sih di level kayak kita ini masih butuh training segala?!” Kayaknya kita memang tidak membutuhkan training kok. Sebab, training; hanya merupakan satu dari sekian banyak proses pembelajaran untuk terus meningkatkan diri. Tidak usah ikut training kok, kalau kita mempunyai cara dan metode lain untuk terus mengembangkan diri. Lagi pula, dalam setahun Anda sanggup mengikuti berapa kali training sih? Selain berbiaya tinggi, training kan juga menyita banyak waktu.
 
“Proses apapun bisa elo tempuh…” jawab sisi kanan saya. “Bebas aja kok pren.” Lanjutnya. “Yang penting elo pastikan tuch mulut elo nggak cuman bisa memerintah anak buah elo doang. Elo. Gue. Mesti bisa melakukannya buat diri sendiri.” Oh, sekarang saya seneng lagi karena bisa memahami apa yang tadi dimaksudkan oleh sisi kanan.
 
“Ohoho… so pasti dong Mas Bro!” timpal sisi kiri. “Gue. Nggak pernah berhenti belajar.” Katanya. “Istilahnya: terus belajar, belajar terus.” Sekarang, pernyataan itu bagi saya terdengar lebih menyerupai jargon. Yaa….. jargon. Soalnya, saya tahu persis apa yang selama ini dilakukan oleh diri saya sendiri. Jadi, saya tahu persis kalau sisi kiri saya itu melakukan apa yang dikatakannya atau hanya indah dimulut saja.
 
“Tidak ada masalah…” timpal sisi kanan. “Yang penting, ada bukti nyata dari proses yang elo bilang elo terus menerus lakukan itu.
 
Sekarang saya tercenung. Bukan lagi sekedar sisi kiri saya yang merasa tertohok. Ini saya. Sekujur tubuh saya yang tercenung. Sambil bertanya kepada diri saya sendiri; “Bukti apa yang bisa saya tunjukkan bahwa selama ini saya memang benar-benar terus berusaha untuk belajar meningkatkan diri?” Sebagai atasan, selama ini saya sudah terlalu sering menasihati anak buah untuk ini dan itu. Tetapi diri saya sendiri…..?
 
Benar kata sisi kiri saya. Apa buktinya kalau selama ini saya terus mengembangkan diri? Adakah skill saya yang bertambah? Atau masih hanya bisa yang itu-itu saja? Adakah ilmu saya semakin tinggi? Adakah wawasan saya semakin luas? Adakah keberanian saya mengambil resiko semakin terukur? Adakah kemampuan saya dalam mengambil keputusan semakin akurat? Jika tidak ada aspek dalam diri saya yang lebih baik dari sebelumnya dalam menjalankan tugas kepemimpinan ini, maka itu menunjukkan bahwa sebenarnya; selama ini, saya tidak belajar apa-apa.
 
Padahal jelaaaaaas sekali nasihat Rasulullah kepada umatnya. “Tuntutlah ilmu, hingga engkau berangkat ke liang lahad.” Hanya maut yang boleh membuat kita berhenti belajar. Begitulah nasihat beliau. Tetapi sebagai atasan, saya sering merasa jika ilmu saya sudah cukup tinggi. Sehingga sekarang, giliran anak buah saya yang giat berlatih dan belajar. Sehingga tanpa disadari, diri saya sendiri; sudah sejak lama berhenti bertumbuh kembang.
 
Sebenarnya… siapa sih yang mesti terus mengembangkan diri itu? Anak buah saya. Iya. Teman-teman saya. Juga iya. Sedangkan diri saya sendiri? Lebih iya lagi. Sebab dalam perjalanan karir saya kemudian, saya menemukan bahwa ceramah saya kepada anak buah tentang pentingnya untuk terus menuntut ilmu itu sama sekali tidak berguna. Mereka tidak mau menuruti kata-kata saya. Sudah saya sediakan training yang bagus dan mahal bagi mereka. Namun tidak ada bekas-bekasnya. Saya ragu jika mereka mempelajari sesuatu dari training itu. Lalu saya berhenti berceramah. Lantas mulai mengajari diri sendiri untuk terus belajar. S-a-y-a yang mesti terus belajar.
 
Tahukah Anda teman-teman? Saya tidak usah lagi berbusa-busa menyuruh. Karena sekarang, ada perubahan yang saya rasakan dari mereka. Ketika saya rajin menjinjing buku, dan membacanya. Beberapa anak buah saya menjadi lebih sering terlihat membaca buku. Bahkan ada yang datang kepada saya mengusulkan judul-judul buku yang layak untuk dibaca. Ada juga yang mengirimkan kembali kepada saya buku yang kami hadiahkan untuk mereka sambil berkata;”Pak, saya lebih suka buku yang judulnya blablabla, apakah boleh saya tukar?” Bahkan ada yang membaca buku bagus yang para manager pun belum tentu pernah membacanya.
 
Ketika saya mencoba melakukan sesuatu dengan cara yang baru sekaligus memaksa diri keluar dari zona nyaman. Saya melihat beberapa anak buah saya berani melakukan sesuatu yang selama ini tidak mau dilakukannya. Ada yang datang kepada saya, dengan gagasan yang selama ini tidak pernah saya pikirkan. “Pak, bagaimana kalau kita mencobanya dengan cara seperti ini?”
 
Ketika saya mengambil cuti untuk mengikuti training dengan biaya sendiri. Team member saya datang ke ruang kerja saya untuk mengatakan “Dang, gimana kalau teman-teman kita dikasih training tentang blablabla….”
 
Sejak saat itu. Saya memahami bahwa yang menjadi penyebab betapa sulitnya menjadikan proses pembelajaran dan peningkatan diri sebagai budaya bagi anak buah saya adalah karena saya; ‘menyuruh’ mereka melakukannya. Saya, tidak ‘melakukannya’. Dan sekarang, saya menemukan begitu banyak fenomena yang sama dihadapi oleh para atasan. Sulit untuk menyuruh anak buahnya terus mengembangkan diri. Sahabatku, jika Anda menghadapi masalah yang sama. Mungkin, Anda bisa mencoba menggunakan resep saya ini; “Tunjukkanlah, bahwa diri Anda sendiri terus menerus mengembangkan diri”. Jika Anda berhasil melakukannya, maka Anda tidak usah lagi menyuruh mereka. Karena mereka, akan mengikuti Anda dalam melakukannya. Insya Allah. Dicoba ya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 2 April 2013

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: