Berhentilah Bekerja Sekarang Juga

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Bagaimana menurut pendapat Anda tentang kalimat yang saya gunakan untuk tema pembahasan kita kali ini? Ya, saya memang sengaja menyarankan agar Anda berhenti bekerja sekarang juga. Sederhana saja sih alasannya. Dengan bekerja keras itu, Anda hanya mendapatkan sedikit saja. Tidak sepadan antara hasilnya, dengan pengorbanan yang Anda lakukan. Perlu Anda ketahui juga bahwa saya ini bukan tipe hanya menyuruh orang lain, sementara diri sendiri tidak melakukannya. Sebelum mengatakan itu, saya sudah melakukannya sendiri. Memang, saya ‘memensiunkan diri sendiri’ sekitar 4 tahun lalu. Namun, sebenarnya; saya sudah berhenti bekerja sejak belasan tahun sebelumnya. Pertanyaan; apakah Anda merasakan ada hal aneh dalam 2 terakhir kalimat saya itu?
 
Tidak mengherankan jika banyak penolakan untuk menerapkan gagasan berhenti bekerja itu. Khususnya para professional yang sudah sedemikian lamanya bergelut dengan pekerjaan. Terlebih lagi mereka yang nafkah sehari-harinya sangat bergantung kepada penghasilan bulanan sebagai karyawan. Sedangkan para pebisnis makin senang bahwa pada akhirnya ada juga orang yang nyadar kalau berbisnis itu lebih baik daripada menjadi karyawan. Kalau saya pribadi sih – mohon maaf nih sebelumnya – berpendapat bahwa kedua kubu dengan pikirannya masing-masing itu merupakan contoh dari orang-orang yang mengenakan kaca mata kuda. Dengan sudut pandang yang hanya satu arah, kita memang hanya mampu melihat satu sisi dari sedemikian luasnya sudut pada dunia yang bentuknya seperti bola ini.
 
Berbeda dengan orang-orang yang bersedia membuka wawasan dan sudut pandangnya seluas mungkin. Orang-orang yang berkenan mengadopsi sudut pandang lain yang berbeda dari cara dirinya sendiri melihat sesuatu selama ini. Ketika mendengar ajakan ‘berhentilah bekerja sekarang juga’ itu; mereka mencari tahu makna yang tersembunyi dibalik kalimat itu. Para pebisnis yang punya pandangan luas, misalnya; akan sepakat bahwa berbisnis atau berprofesi sebagai karyawan itu sama pentingnya. Tahu kenapa? Karena mereka sadar bahwa bisnis mereka tidak akan bisa berjalan dengan baik, jika tidak bisa mendapatkan karyawan-karyawan yang handal dan berdedikasi penuh kepada pekerjaannya. Maka, pebisnis seperti itu akan sangat menghargai karyawannya. Memuliakan mereka. Dan memperlakukan karyawan sebagai asset bagi bisnisnya.
 
Bagaimana dengan para professional yang berwawasan luas? Berhentilah bekerja, sekarang juga. Nah, ketika mendengar kalimat itu; mereka bertanya, maksud ente apa? Karena mereka percaya bahwa kalimat itu tidak berhenti hanya sampai disitu. Maka mereka pun mengolah daya pikirnya untuk menemukan jawaban yang komprehensif atas pertanyaan yang diajukannya sendiri. Anda, punya pertanyaan ‘maksud ente apa’ seperti mereka? Jika ya, berarti Anda termasuk professional yang punya cara berpikir yang jernih itu. Kepada Anda, saya akan mengajak menjelajahi cerita dibalik ajakan untuk berhenti bekerja itu.
 
Begini. Sejak pertama kali memulai karir sebagai salesman. Saya melihat sedemikian banyak senior-senior yang mengakhiri karir masa pensiunnya dengan posisi atau keadaan yang kira-kira sama seperti mereka memulainya. Lantas saya bertanya; apakah sepadan pengorbanan bekerja selama belasan bahkan puluhan tahun itu jika seorang karyawan memulai dan berakhir di titik yang sama? Menurut saya, tidak. Apalagi kami bekerja dengan menghadapi resiko yang tidak kecil. Beberapa rekan kami bahkan meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas saat menjalani hari-hari kerja itu. Sama sekali tidak sepadan. Maka sejak melihat kenyataan itu, saya memutuskan untuk berhenti bekerja.
 
Lantas bagaimana penghasilan kita bisa tergantikan jika berhenti bekerja? Itu kan pertanyaan yang paling sulit dijawab selama ini? Alhamdulillah, loh. Penghasilan saya malah bertambah besar sejak keputusan berhenti bekerja itu diambil. Gimana caranya? Jadi pengusaha? Nah, kalau jadi pengusaha itu merupakan rumus umum; kalau berhenti bekerja, jadi pengusaha. Saya, tidak langsung menggunakan rumus umum itu. Lantas, melakukan apa? Ini jawabannya: saya, berhenti bekerja. Dan mulai berkarir.
 
Yeee…. ini sih sama aja!
Mungkin ada yang berpendapat begitu. Tak masalah. Biasa. Itu reaksi spontan yang normal. Memang kebanyakan orang begitu. Tapi khusus untuk Anda, saya ingin mengajak untuk berhenti sejenak dari pikiran spontan itu. Lantas merenungkan seruan saya ini; berhentilah bekerja, dan mulailah berkarir.
 
Anda boleh memulainya dengan berusaha menemukan jawaban atas pertanyaan ini; apa sih bedanya bekerja dengan berkarir? Saya tidak akan membatasi pencarian Anda itu dengan memberikan jawabannya sekarang. Karena jawaban yang tersedia sering menjadi penjara bagi kemampuan berpikir Anda yang nyaris tidak terbatas kemampuannya. Silakan renungkan; apa bedanya bekerja dan berkarir. Sementara Anda merenung, saya akan mencatatkan beberapa temuan selama mengamati orang-orang yang berorientasi pada pekerjaan dan orang-orang yang berfokus kepada karirnya. Silakan terus merenungkan selama saya menuliskan temuan-temuan itu.
 
Diantara para professional itu, ada orang yang datang ke kantor hanya untuk sekedar menyelesaiakan pekerjaan atau tugas-tugas yang dipikulnya. Ketika tugas sedang banyak-banyaknya, mereka sibuuuuuk melakukan ini dan itu. Wajah mereka kusyut. Senyum mereka sirna. Jantung mereka berdebar-debar. Sehingga tekanan darahnya pun tidak stabil. Dan orang yang sedang sibuk banget punya kebiasaan yang sama, semisal; cepat marah. Cepat lelah. Mudah kesal. Hal itu terjadi selama bertahun-tahun. Dan ujung-ujungnya, mereka menderita penyakit psikosomatik, yaitu penyakit yang dirasakan oleh penderitanya namun tidak bisa didiagnosis oleh dokter yang memeriksanya.
 
Untungnya, pekerjaan kan tidak selalu banyak seperti itu. Seringnya sih cuman pekerjaan rutin biasa saja sehingga di kebanyakan hari kerja, kita bisa santai. Nah disaat pekerjaan lagi sedikit itu; apa yang dilakukan orang dikantor-kantor? Ya nyatai aja dong bro! Membiarkan kehidupan di dunia ini berjalan lambat. Dan untuk sedikit mempercepatnya, bisa didorong oleh berbagai games online di computer dan sebangsa gadget. Atau nongkrong di kantin. Atau, boleh juga jalan-jalan di shoping mall. Nggak apa-apa dong, kan kerjaan lagi sedikit. Jadi selama jam kantor itu, mereka tenggelam dalam suatu proses yang stabil bernama; kesibukan yang tidak bisa didefinisikan secara transparan. Makanya, sering terkejut dan sport jantung kalau boss tiba-tiba memergoki apa yang sedang dilakukannya.
 
Diantara para professional yang kita kenal juga ada yang sikap dan perilakunya di kantor berbeda sama sekali. Mereka datang ke kantor bukan sekedar untuk menyelesaikan pekerjaan atau tugas-tugas yang mereka pikul. Oleh karenanya, irama kerja mereka tidak didikte oleh sedikit atau banyaknya pekerjaan. Tidak dikendalikan oleh ada atau tidaknya hal-hal yang mesti mereka kerjakan. Tahu kenapa? Karena mereka menyadari sepenuhnya bahwa kantor adalah laboratorium paling lengkap untuk melakukan uji coba terhadap kemampuan dirinya. Gratis pula. Maka mereka menggunakan waktu yang dimilikinya selama jam kantor itu untuk melakukan berbagai macam eksperimen sehingga bisa menginventarisasi setiap kemampuan diri yang selama ini belum diketahuinya.
 
Dikala pekerjaan sedang banyak, mereka fokus untuk menyelesaikan tugas-tugas pokoknya hingga tuntas. Sedangkan dikala pekerjaan sedang sedikit, mereka memanfaatkan waktu untuk mengaktualisasikan kemampuan dirinya hingga melampaui sekat-sekat job descriptionnya. Jadi selama jam kantor itu, mereka konsisten dalam suatu proses yang stabil bernama; kesibukan produktif. Mereka, tidak menyia-nyiakan sedikitpun waktu untuk hal-hal yang sama sekali tidak menjadikan dirinya lebih paham, lebih terampil, dan lebih berdaya saing. Mengobrol di jam kerja, misalnya; tidak menjadikan kita professional yang lebih handal. Maka mereka, tidak ikut nongkrong di amigos kecuali pada jam makan siang. Bermain games di jam kerja? Mereka tahu jika itu merupakan kegiatan yang rakus melahap waktu. Sehingga mereka hanya melakukannya di rumah, atau di hari libur saja. Terkoneksi untuk sesuatu yang tidak bermakna? Oh, what a waste! Maka, gadget pintar pun hanya diaktifkan pada waktu-waktu tertentu.
 
Dalam pengamatan saya, orang-orang yang berada di kelompok pertama; kebanyakan berakhir di posisi-posisi yang tidak terlampau penting. Memang sih, ada juga yang tetap mendapatkan perbaikan karir. Tapi, jumlahnya lebih sedikit. Dan pola kerjanya masih sama seperti dulu. Stress setiap akhir bulan. Sibuk hanya ketika sedang banyak pekerjaan. Lantas nyantai ditanggal muda, karena mungkin pada tanggal-tanggal itu pelanggan di luar sana sedang pada senang. Jadinya tidak terlalu rewel. Boss disini juga masih heppi dengan laporan yang baru disubmitnya akhir bulan kemarin. Semua orang dalam lingkaran itu, berada dalam ritme yang paling lamban dalam siklus monoton bulanannya.
 
Sedangkan orang-orang di kelompok kedua; kebanyakan berhasil membangun karir yang lebih baik. Sehingga tentu saja; reward yang mereka dapatkan pun lebih baik. Memang, perbaikan karir itu tidak selalu berarti naik jabatan saja. Penambahan ilmu, keterampilan, dan pengalaman dalam berbagai project pun bisa merupakan perbaikan bermakna. Sehingga semakin hari, nilai mereka semakin bertambah. Dan ‘harga’ pasar mereka semakin meningkat. Sehingga ‘harga diri’ mereka pun semakin membumbung tinggi.  Semakin merasakan manfaatnya, semakin gigih mereka membangun karirnya. Sehingga mereka berada dalam ritme paling cepat dalam siklus dinamis bulanannya.
 
Oh, ya. Bagaimana. Apakah Anda sudah selesai merenungkan perbedaan antara ‘bekerja’ dan ‘berkarir’ itu? Nah kalau sudah, silakan bandingkan temuan Anda dengan uraian saya tentang dua jenis professional diatas.  Samakah temuan saya itu dengan hasil perenungan Anda? Kenyataannya memang begitu ya? Orang-orang yang hanya fokus untuk bekerja biasanya dipenjara oleh pekerjaannya. Selama di kantor, hanya menjadi budak bagi pekerjaan. Hidupnya baru bisa leluasa, jika pekerjaan yang menjadi ‘majikannya’ itu sedang sepi. Maka ketika mereka sedang senang, mereka akan bekerja dengan riang. Dan ketika mereka sedang kesal, mereka menjalani kehidupan kerjanya dengan segudang gerutuan. Keluhan tentang gaji yang tidak sepadan. Atau gunjingan tentang atasan dan managemen yang kurang perhatian.
 
Sedangkan orang-orang yang berfokus kepada karirnya, menjadikan pekerjaan dan tugas-tugas harian sebagai sarana untuk mewujudkan karir yang lebih baik dimasa depan. Maka mereka mengerjakan tugasnya sebaik-baiknya agar kelak mendapatkan tugas yang tingkatannya lebih tinggi, dan lebih menantang. Dan mereka tahu, bahwa tugas yang lebih besar itu hanya layak diberikan jika tugas-tugas pokoknya selama ini sudah bisa ditangani dengan sangat baik. Jika tidak, maka tidak mungkin mereka mendapatkan kepercayaan yang lebih tinggi. Mereka menjadi tuan bagi pekerjaannya. Oleh karenanya, mereka selalu berusaha keras untuk memastikan hanya menghasilkan sesuatu dengan kualitas terbaik. Berperilaku baik. Serta terus menerus meningkatkan kemampuan pribadinya agar menjadi lebih baik.
 
Saya senang jika hari ini hasil perenungan itu membawa Anda kepada pemahaman yang sama dengan temuan-temuan saya. Sehingga sekarang, saya bisa mengajak Anda dengan sepenuh keyakinan untuk berpindah, dari pola pikir dan sikap mental sekedar bekerja, menjadi berkarir. Karena bekerja hanya akan menjadikan Anda ‘pelaksana’ dari tuntutan-tuntutan kerja dengan mendapatkan sejumlah upah. Anda hanya akan end-up sebagai budak dari pekerjaan. Sedangkan ‘berkarir’ akan menjadikan Anda sibuk bereksperimen menuju kepada kemampuan dan pencapaian yang lebih tinggi. Then you will be the master of your own future life. Mana yang lebih baik menurut pendapat Anda? Kita semua tahu jawabannya kan? Maka izinkan saya untuk berkata kepada Anda : berhentilah bekerja, dan mulailah untuk berkarir.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 1 April 2013

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: