Agar Didengar Oleh Anak Buah

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Tidak ada satu orang pun atasan yang bisa bekerja secara efektif, jika anak buahnya tidak mau mendengar kata-katanya. Logis ya? Tentu dong. Jika tidak mau mendengar kata-kata atasannya, bagaimana mungkin seseorang bisa bekerja sesuai dengan harapan atasan? Tidak mungkin, bukan? Oleh karena itu, setiap atasan ingin anak buahnya mendengarnya. Karena seseorang yang yang suaranya didengar, menunjukkan jika orang itu dihormati. Lebih dari itu, seseorang yang suaranya didengar punya peluang kata-katanya dituruti oleh orang lain. Sehingga, dalam konteks kepemimpinan; hal itu sangat menentukan kualitas kepemimpinan itu sendiri. Pertanyaannya adalah; apakah semua anak buah Anda bersedia untuk mendengar Anda?  Oh, tentu saja.
 
Seorang sahabat bertanya; “Gimana caranya agar anak buah mau mendengar kata-kata saya?”. Wajahnya menampakkan kegelisahan. “Tenang saja. Tidak usah terlampau cemas.” Begitu komentar saya. “Masih banyak atasan yang kondisinya lebih buruk dari Anda.” Sahabat ini menampakkan wajah seolah tidak percaya. “Yaitu para atasan yang mengira anak buahnya mau mendengarnya, padahal tidak. Anda? Beda. Lebih baik. Karena Anda tahu bahwa anak buah Anda tidak mau mendengar Anda….”  Saya tidak bermaksud menghiburnya. Memang bagus kok, jika kita sadar bahwa anak buah kita tidak mau mendengarkan kata-kata kita. Karena dengan kesadaran itu, kita bisa mencari cara untuk memperbaiki keadaan itu. Jika kita tidak sadar, bagaimana bisa tertarik mencari solusinya, kan? Lantas, kalau sudah menyadari kondisi itu; apa yang mesti kita lakukan? Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menjadi atasan yang didengar oleh anak buah, saya ajak memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:  
 
1.      Sejalan antara kata dan perbuatan. Salah satu penyebab utama mengapa seseorang tidak didengarkan kata-katanya adalah; perilaku sehari-hari dirinya tidak sejalan dengan perkataannya. Tidak tertarik kan kita mendengar kata-kata orang seperti itu. Sebaliknya, kita akan dengan senang hati mendengar orang yang selaras antara kata dan perbuatannya. Kenapa ya? Mungkin karena hanya orang yang tindak tanduknya sesuai dengan apa yang dikatakannya saja yang pantas untuk didengarkan. Maka jika kita ingin didengar oleh anak buah, hal pertama yang perlu kita pastikan adalah; tindak tanduk kita, sejalan dengan perkataan kita. Jika tidak, maka anak buah akan kehilangan selera untuk mendengar kata-kata kita. Contohnya, kepada anak buah kita berkata;”gunakan jam kerjamu sebaik-baiknya…”  Tapi, mereka pernah memergoki Anda bermain game computer di jam kerja. Wah… sulit sekali tuch untuk membuat anak buah Anda mendengar kata-kata Anda. Tapi jika mereka pun tahu bahwa Anda sendiri sangat menghargai waktu kerja Anda, maka mereka akan menyesuaikan diri dan mengikuti apa yang Anda katakan dan lakukan.
 
2.      Mendengar pendapat anak buah. Paling males kalau  punya atasan yang merasa serba tahu, serba ahli, dan serba sempurna. Jadi hanya pendapat dia saja yang paling benar. Ada atasan seperti itu? Banyak. Padahal, tidak seorang pun yang punya sudut pandang sempurna. Tahu kenapa? Karena sudah fitrah setiap orang untuk tidak bisa melihat semua hal sendirian. Sesuatu yang terang benderang bagi seseorang, bisa merupakan titik buta bagi orang lain. Hal itu, berlaku sebaliknya. Oleh karenanya, kesempurnaan sudut pandang hanya bisa diperoleh jika setiap orang berkesempatan untuk melakukan ‘laporan pandangan mata’ dari posisinya tentang suatu subyek. Makanya, penting untuk mendengar pendapat anak buah. Selain berguna untuk membuat keputusan yang lebih baik, juga menjadikan anak buah bersedia mendengar kata-kata kita. Jika sebagai atasan kita tidak mau mendengar pendapat mereka, maka wajar dong kalau mereka juga tidak mau mendengar kita kan? Jadi, belajarlah untuk mendengarkan pendapat anak buah.
 
3.      Menjadi orang pertama yang melakukan. Bicara itu mudah. Melakukannya itu yang susah. Padahal, keinginan kita untuk lebih didengar oleh anak buah saja sudah menunjukkan bahwa kita banyak bicara. Makanya ada istilah NATO. Jelek banget deh atasan yang cuma bisa ngomong doang. Berbeda dengan atasan yang bukan hanya sekedar bicara, tapi dia sendiri menjadi orang pertama yang melakukannya. Lho, bukankah pekerjaan kita berbeda dengan anak buah? Iya, kalau kita hanya fokus pada hal-hal teknis. Tapi jika kita melihat fungsi sebagai professional; maka pada hakekatnya, atasan pun punya kesamaan kewajiban dalam menyelesaikan tugasnya. Jadi, cara kita mengerjakan tugas-tugas kita sendiri, menunjukkan jika kita melakukan atau tidak melakukan apa yang kita katakan. Jika kita suka bikin susah atasan kita misalnya, maka anak buah kita tidak akan mau mendengar kata-kata kita untuk membuat mereka patuh kepada kita. Jadilah orang pertama yang melakukan apa yang kita katakan. Maka anak buah kita, akan mau mendengar kata-kata kita.
 
4.      Memenuhi janji-janji yang pernah diucapkan. Sebel banget kan berurusan dengan si tukang obral janji. Tapi janji-janjinya sering menguap seperti spiritus dijemur. Anda, pernah ketemu atasan yang gampang sekali berjanji kepada anak buahnya? Demi membuat anak buahnya patuh. “Kalau kamu blablabla, nanti saya akan blablabla….” Begitu anak buahnya melakukan seperti yang dikatakan, eh sang atasan mencari-cari alasan untuk mengelak dari janjinya. Satu kali saja janji tidak dipenuhi, maka maaf. Janji elo, nggak bisa dipegang! Hancooor deh kepercayaan anak buah jika demikian. Selalu atasannya yang salah? Kadang tidak juga. Ingkarnya dari janji itu kadang disebabkan karena keputusan tidak 100% berada ditangannya. Perlu otorisasi dari pejabat yang lebih tinggi. Makanya, jangan menjanjikan sesuatu yang tidak bisa dikontrol sepenuhnya. Lebih baik, cari cara lain untuk memotivasi anak buah. Dan jika pun harus berjanji, hanya dengan sesuatu yang jelas berada dalam kewenangan penuh kita. Supaya janji-janji kita bisa ditunaikan, sehingga anak buah selalu bersedia mendengarkan kata-kata yang kita ucapkan.
 
5.      Peduli kepada kehidupan mereka. Anak buah kita pada umumnya berangkat dari rumah ke kantor dengan seribu satu permasalahan didalam benaknya. Porsi terbesarnya biasanya soal keuangan, urusan anak sekolah, kebutuhan dapur, serta hutang yang jatuh tempo. Jadi, sering kali fokus pikiran mereka itu bukan pada pekerjaan. Melainkan pada masalah yang mereka bawa dari rumah. Pernahkah Anda menanyakan keadaan anak istrinya? Jika tidak, mungkin mereka tidak merasa Anda memperdulikannya. Pernahkah Anda bertemu dengan keluarga mereka? Hmmh… Faktanya, atasan yang mengenal keluarga anak buahnya; punya hubungan yang lebih baik dengan anak buahnya. Dan tentunya, punya kualitas komunikasi yang lebih baik dibandingkan dengan atasan yang hanya fokus pada pekerjaan dan memenuhi isi komunikasinya dengan urusan mengejar target-target pekerjaan belaka. “Sudah kelas berapa anak elo sekarang?” coba Anda tanyakan hal itu kepada staf Anda yang sudah punya anak. Lalu lihat responnya. Anda akan tahu, bahwa kepedulian Anda kepada mereka, meningkatkan kesediaan mereka untuk mendengar kata-kata Anda.
 
Kata-kata, merupakan perangkat penting untuk meningkatkan efektivitas kepemimpinan seseorang. Maka membuat anak buah kita mau mendengar kata-kata kita merupakan salah satu keterampilan yang sangat esensial dalam karir kepemimpinan kita. Karena tugas kepemimpinan ini mewajibkan kita untuk membawa kebaikan kepada orang-orang yang kita pimpin, maka kita pun berkewajiban memastikan setiap perkataan kita bermanfaat bagi mereka. Mengajak mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dan mengingatkan mereka tentang anugerah serta kesempatan yang Tuhan berikan. Agar semakin tebal rasa syukur mereka. Dan semakin berkobar semangat  mereka, dalam memperjuangkan hidup.
 
Kepada setiap atasan seperti kita, Rasulullah menasihatkan begini; “Setiap ucapan anak Adam itu mencelakakannya, bukan menguntungkan. Kecuali ajakan untuk melakukan kebaikan, mencegah orang lain dari melakukan keburukan, serta berdzikir kepada Allah.” Maka jika ingin didengar oleh anak buah, kita perlu memastikan bahwa pembicaraan kita memenuhi ketiga kriteria itu. Sehingga perkataan yang kita ucapkan, akan membawa kebaikan. Bagi kita. Maupun bagi orang-orang yang kita pimpin. Insya Allah.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 5 Maret 2013

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: