Menjual Diri Kepada Anak Buah

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Soal ‘menjual diri’, tidak diragukan lagi jika konotasi kita sudah terbangun dengan baik, sehingga konteks yang ada didalam benak kita sudah langsung menuju kepada hal-hal positif. Kita, memang mesti pandai menjual diri. Agar keberadaan kita dihargai, kualitas kita diakui. Dan kepada kita diberikan kepercayaan yang selayaknya kita terima sebagai seorang pribadi yang berkualitas tinggi. Tapi… menjual diri kepada anak buah? Apakah tidak salah? Biasanya kan menjual diri itu kepada perusahaan atau pihak-pihak yang bisa mengambil keputusan. Tapi kepada anak buah. Haruskah kita menjual diri juga? Bagaimana menurut pendapat Anda?
 
The Voice. Anda tentu mengenal acara tivi spektakuler itu. Beda sekali gaya kompetisinya dibandingkan dengan reality show lainnya. Dalam The Voice, ada tahapan dimana ke-4 juri berebut untuk mendapatkan talenta terbaik yang ada. Dan untuk mendapatkan talenta itu, mereka mesti menjual dirinya kepada sang talenta. Jika ada peserta yang bagus, tentu lebih dari satu juri yang menginginkannya masuk kedalam teamnya. Namun itu juga berarti bahwa para juri itu mesti bersaing satu sama lain agar sang talenta memilih dirinya sebagai pelatihnya. Bayangkan. Bukan pelatih yang memilih murid. Tapi murid yang memilih pelatih. Dalam kondisi tertentu, murid menolak gurunya.
 
Seandainya di kantor kita ada seorang karyawan yang punya talenta atau potensi diri yang tinggi. Apakah Anda menginginkan orang itu untuk bergabung di team Anda? Normalnya begitu ya. Dan boleh jadi, leader lain pun menginginkannya pula. Maka sekarang pilihannya tidak berada di tangan Anda. Melainkan ditangan karyawan itu. Karena dialah yang bisa memutuskan, dengan team siapa dia hendak bergabung. Bayangkan seandainya dimata orang itu; Anda hanyalah seorang manager atau boss yang biasa-biasa saja. Mungkinkah dia memilih Anda? Itulah yang sedang terjadi di kontes The Voice. Setiap juri berlomba menunjukkan kualitas dirinya masing-masing. Agar bisa memikat sang talenta itu untuk bergabung dengan teamnya. Sekarang bayangkan. Jika dikantor Anda, setiap supervisor – manager – maupun direktur berlomba untuk menunjukkan kualitas tinggi kepemimpinannya dihadapan para karyawan. Apa jadinya?
 
“Lah, dikehidupan kantor, mana ada karyawan yang memilih atasan? Yang ada kita terima saja apa adanya,” mungkin ada yang berkilah begitu.
 
Insya Allah. Saya mengatakan yang sebenarnya begini;”Saya pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi karyawan yang diperebutkan oleh beberapa atasan.” Dan saya yakin benar, bahwa dibanyak perusahaan lainnya. Banyak juga karyawan yang diincar dan diperebutkan oleh para atasan. Jadi, jika Anda belum mengalaminya; maka Anda mesti belajar bagaimana cara mencapainya.
 
Maka pertanyaan saya tadi tidak berlebihan, bukan? Apa jadinya jika para leader di perusahaan Anda berlomba untuk menunjukkan kualitas pribadinya dihadapan para karyawan? Minimal suasana kerja disana bakal bagus sekali. Dijamin. Karena tidak ada pemimpin yang melecehkan anak buahnya. Tidak ada boss yang cuman omong doang. Dan tidak ada atasan yang kerjaannya hanya marah-marah melulu. Suasana kerja disana tentu akan semakin membaik. Dan para karyawan akan semakin kerasan.
 
“Halah, para pemimpin di perusahaan gue nggak bisa diharapkan bersikap seperti itu,” mungkin Anda juga berpikir begitu.
 
Well. Mengapa pusing dengan pemimpin yang lain. Jika Anda juga sudah menjadi seorang atasan, maka mulailah dengan sikap dan cara Anda sendiri memimpin orang-orang. Malah bagus. Karena ketika Anda berhasil menjual diri kepada anak buah Anda melalui tata laku dan cara memimpin yang baik itu; Anda akan dengan sendirinya kelihatan menonjol. Dan percayalah; orang akan berebut untuk menjadi team member Anda. Mereka ikut kemana pun Anda pergi mungkin. Itu karena mereka tahu bahwa Anda adalah pemimpin yang layak untuk diikuti dan pantas untuk dijadikan panutan. Jadi, berhenti pusing dengan perilaku tak patut pemimpin-pemimpin lainnya. Bagusin saja cara Anda memimpin. Maka Anda, akan bisa membuat sebuah perbedaan bermakna.
 
Jika Anda beruntung bisa menyaksikan tayangan babak pemilihan talenta ketika Cassadee Pope tampil untuk pertama kalinya. Itu adalah salah satu momen yang paling bisa mewakili bagaimana para juri berebut talenta itu agar masuk ke teamnya. Cee Lo Green, Chistina Aguilera, Adam Levine, dan Blake Shelton berebutan memamerkan diri mereka sendiri untuk menujukkan bahwa mereka adalah pelatih yang tepat untuk sang talenta cemerlang itu. Kata-kata saya tidak mungkin bisa menggambarkan bagaimana cara mereka menjual diri. Tapi, hal itu menegaskan betapa para atasan mesti belajar menjual diri mereka kepada para anak buahnya. Kita mesti menunjukkan kepada mereka, bahwa kita ini memang orang yang paling tepat untuk menjadi pemimpin bagi mereka.
 
Perhatikanlah betapa banyak anak buah yang gerah kepada atasannya. Perhatikan juga betapa banyak karyawan yang membicarakan para pemimpinnya di toilet kantor, di kantin. Di warung kopi. Dan ditempat-tempat rumpi lainnya. Itu menunjukkan betapa banyaknya atasan yang belum bisa menjual diri kepada anak buahnya. Hampir tidak mungkin menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dikantor, jika antara atasan dan bawahan tidak terdapat hubungan emosional yang sehat. Tentu, hubungan seperti itu hanya bisa dibangun dua arah. Anak buah harus bisa menjual dirinya kepada atasan. Dan kita tahu, bahwa semua anak buah berusaha agar disukai oleh atasannya. Diperhatikan. Dikembangkan. Secara alamiah, seorang bawahan akan melakukannya. Pertanyaannya adalah; apakah para atasan juga sudah melakukannya secara alamiah pula?
 
Saya tidak tahu jawaban pastinya. Karena, Anda sendirilah yang paham benar apakah sebagai seorang atasan Anda sudah berhasil mengupayakan untuk menjual diri kepada anak buah Anda? Jika sudah. Bagus tentu saja. Lanjutkan hingga menanjak ke tahap berikutnya. Namun jika belum. Maka mulailah sadari saat ini juga bahwa sebagai atasan, Anda mesti belajar menjual diri kepada anak buah Anda. Agar anak buah Anda berada di team yang Anda pimpin itu dengan sepenuh hati mereka. Bukan terpaksa karena tidak ada pilihan lain. Jika Anda bisa membangun hubungan sedemikian, maka Anda tidak lagi perlu khawatirkan loyalitas mereka. Tidak perlu ragukan kepatuhan mereka. Dan tidak usah ketar-ketir lagi soal kinerja mereka.
 
Sahabatku. Jabatan yang kita sandang ini, punya efek samping. Antara lain perasaan bahwa harkat derajat kita lebih tinggi daripada orang-orang yang kita pimpin. Disadari atau tidak, memang dasarnya begitu. Padahal, jabatan kita yang lebih tinggi itu. Bukan harkat derajat kita. Karena siapapun dan apapun jabatan kita, setara sebagai manusia. Sekalipun demikian, setiap orang bisa melakukan sesuatu hingga masing-masing memiliki nilai pribadi yang berbeda. Dan itu, pun berlaku dalam konteks diri kita sebagai seorang leader. Bisakah kita menunjukkan nilai yang tinggi dihadapan anak buah kita. Sehingga mereka tertarik untuk menjadi team member kita yang sesungguhnya?  Insya Allah.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 14 Februari 2013

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: