Tuan Dan Hamba Gadget

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Semoga Anda tidak salah baca. Tuan. Bukan Tuhan, yang saya maksudkan. Soalnya, kalau Tuhan kan mutlak. Tidak ada tandingannya. Tidak ada pesaingnya. Dan tentu saja, tidak ada yang memperbudaknya. Jadi, Tuhan; tidak menghamba kepada siapa pun. Beda dengan Tuan. Seseorang yang kita sebut sebagi tuan, boleh dipastikan menjadi hamba bagi orang lain yang posisinya lebih tinggi darinya. Jadi posisi Tuhan itu mutlak. Sedangkan posisi tuan, relatif. Maka tuan dan hamba itu seperti keping mata uang. Yang saling menyatu, dan tidak bisa dipisahkan. Contoh. Mungkin Anda adalah tuan bagi anak buah Anda, atau office boy dikantor. Tapi bagaimana pun juga, Anda sendiri pun punya tuan. Yaitu, atasan atau big boss Anda. Kita, ya… kadang-kadang jadi tuan. Kadang juga jadi hamba. Bukan hanya dalam hubungan dengan sesama manusia, melainkan juga hubungan kita dengan gadget. Lho, kok bisa? Menghamba kepada gadget, begitulah fakta berbicara. Lantas siapa tuannya?
 
Sudah bertahun-tahun istri saya menggunakan smart phone canggih. Meski disuruh, saya kukuh tidak mau membelinya juga karena belum sanggup menjadi tuan bagi gadget keren itu. Apalagi melihat perilaku orang lain di rumah. Di restoran. Di kantor. Di masjid. Di ruang meeting. Di ruang training. Saya tidak mau menjadi hamba gadget itu. Makanya, saya sering mengingatkan istri saya. Dan teman-teman yang saya kenal. Atau peserta training saya; please belajarlah untuk menjadi tuan bagi gadget canggih Anda. Jangan sampai menjadi sebaliknya.
 
Kemudian saya disadarkan bahwa selama ini saya hanya bisa omdo. Omong doang. Ngomong begini begitu, padahal diri saya sendiri tidak pernah mengalami atau menjalani apa yang saya omongkan itu. Maka nasihat saya kepada istri saya pun menjadi kosong melompong. Gara-gara saya ngomong doang. ‘Harus dibuktikan saya sendiri pun sanggup mengelola diri jika ingin punya nasihat yang berkualitas tinggi.’ Begitulah yang saya katakan dalam hati. ‘Jangan sampai menasihati orang lain, padahal diri sendiri pun belum tentu mampu mengatasi jika menghadapi situasi yang sama….’ Begitu hati saya menggugat sekali lagi.
 
Maka, saya pun pergi ke toko smart phone. Untuk menguji apakah kata-kata saya mempan kepada diri sendiri. Atau hanya indah dinasihatkan kepada orang lain. Saya berbulat hati hendak membeli smart phone yang sama seperti istri saya dan orang-orang itu miliki. Jangan-jangan, saya pun mengalami nasib yang sama jika memilikinya. Yaitu, menjadi hamba bagi smart phone saya. Maka saya pun melangkah mantap ke toko smart phone itu. Toko resmi yang menjual dengan garansi dan kartu membership eksklusif.
 
Tapi saya tidak jadi membelinya. Tahu kenapa?
Karena saya lihat semua petugas di toko itu tidak menggunakan smart phone yang dijualnya. Jika mereka sendiri tidak pake, kenapa mesti saya beli? Benar kan?
 
“Maaf Mbak, saya nggak jadi beli smart phone-nya…” begitu saya bilang.
“Baiklah Pak.” Sapanya. “Tapi… bolehkah saya tahu alasannya?” lanjutnya.
“Orang-orang disini saja nggak mau pake smart phone ini kok,” jawab saya. “Pastinya ini barang yang jelek.” Lalu saya bersiap untuk pergi.
 
Layaknya penjual professional lainnya, sang petugas tentu tidak menyerah begitu saja. Dia berusaha meyakinkan saya bahwa ini adalah produk yang bagus. Terbukti sudah menjadi produk nomor wahid di kelas smart phone. Dan orang-orang, seperti terkena demam yang mewabah sedemikian cepatnya.
 
Sayang sekali. Semua argumennya tidak bisa mengubah keputusan saya. Sampai ketika orang itu menemukan poin terpenting dari keberatan saya. “Kami semua juga pake kok Pak….” Katanya.
“Oh ya?” tanya saya. “Benarkah Anda menggunakan smart phone itu juga?”
“Iya.” Jawabnya.
“Teman-teman Anda di kantor ini juga?” selidik saya sekali lagi.
“Semua orang disini…” dia bilang.
 
“Saya tidak percaya,” begitu saya katakan. Sekarang Anda tahu ya. Seorang trainer, kalau menjadi pelanggan bisa sangat menyebalkan. Yaaaa… begitu saya aselinya. “Saya tidak melihat satu pun dari Anda yang menggunakan smart phone ini.” Lanjut saya. “Jadi, ngapain saya beli…..”
 
Cerdas. Punya banyak argumen. Bersikap kritis. Gerak motorik yang dinamis. Dilengkapi dengan kemampuan mengolah kata dan intonasi dengan sangat baik. Juga pernah menjadi juara kontes debat. Itulah yang menjadikan saya seorang trainer handal, sekaligus pelanggan yang bikin penjual merasa sebal.  
 
”Kami tidak boleh menggunakan smart phone kami selama bekerja….” Begitulah sang petugas menjelaskan. Karena tidak ada hal lain lagi yang bisa meyakinkan saya.
 
Sungguh. Kalimat terakhir yang saya sampaikan kepada Anda itu adalah benar-benar yang saya dengar dari petugas penjualan di toko resmi smart phone terkenal itu.
 
“Jadi, smart phone Anda tidak berguna dong?” begitu saya bilang. “Ngapain Anda pake smartphone canggih kalau dilarang menggunakannya?”
 
“Kami menggunakannya ketika jam istirahat….” Jawabnya. Lugas sekali.

“Anda tidak merasa keberatan?” tanya saya.
“Tidak, Pak.” Jawabnya. “Kan kami mesti fokus kepada pekerjaan,” jawabnya.
“Karena itu, ataukah karena dilarang oleh perusahaan?” kenakalan saya semakin menjadi.
“Ya karena dua-duanya sih Pak….”  Sembari mesam-mesem.
 
Hmmh. Lega saya mendengar jawabannya. Ternyata. Gadget itu memang bisa menjadikan seseorang menjadi hambanya. Atau tuannya. Bergantung posisi yang hendak diambil oleh sang pemiliknya saja. Saya beruntung memahami hal itu tepat sebelum saya membelinya. Sehingga ketika memutuskan untuk membelinya. Saya mengatakan kepada gadget yang saya beli itu; “Kamu. Saya beli untuk menjadi hamba saya. Dan saya, adalah tuan bagimu. Mengerti?”
 
Maka sejak saya punya gadget keren itu. Saya hanya mengaktifkannya di saat saya memang sedang bisa melakukannya. Jika kebanyakan orang harus charging tiap hari. Saya tidak. Baterenya sering masih banyak karena aktif disaat-saat tertentu saja. Jika kebanyakan orang sering terpecah fokusnya karena bunyi ‘durirang’, saya tidak. Karena sepanjang waktu gadget itu saya silent-kan. Jika kebanyakan orang selalu bergegas menyambus setiap pesan yang masuk kedalamnya, saya tidak. Karena saya sendiri yang memutuskan kapan akan saya baca pesan-pesan yang masuk. Jika kebanyakan orang gelisah menanti pesan-pesan dari contact, saya tidak. Karena saya yakin semuanya ada waktunya masing-masing. Alhamdulillah. Saya berhasil menjadi tuan atas gadget saya. Bukan sebaliknya. How about you? Tentu saja ya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 12 February 2013

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: