Disepelekan Oleh Anak Buah

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Anda sudah punya anak buah? Bagus jika sudah. Lantas, bagaimana sikap para anak buah itu kepada Anda? Apakah mereka menaruh rasa hormat, ataukah mereka menyepelekan Anda? Mungkin ada yang menghormati Anda, khususnya anak buah yang masih yunior sekali ya. Memang biasanya mereka begitu. Tapi mungkin juga ada yang menyepelekan Anda. Misalnya, anak buah yang usianya lebih tua  atau masa kerjanya lebih lama dari Anda. Baiklah. Apakah Anda sudah dapat mengatasinya? Eit, bagi Anda yang belum punya anak buah jangang pergi kemana-mana dulu dong. Karena boleh jadi pembahasan kita kali ini pun akan berguna bagi Anda. Kelak ketika Anda sudah menjadi atasan juga. So, stay tune here….
 
Banyak lho, atasan yang diremehkan oleh anak buahnya. Bahkan ada anak buah yang secara terbuka menolak untuk dipimpin oleh orang yang dianggapnya anak kemarin sore. Tidak terkecuali anak buah yang merasa dirinya lebih mampu daripada atasannya. Dan ada juga anak buah yang merasa dirinya lebih berhak atas jabatan itu. Jika sudah begitu, duduk di kursi suatu jabatan tidak terasa empuknya. Yang ada adalah perasaan panas saja kan? Bukan hanya soal perasaan sebenarnya. Karena itu merupakan salah satu resiko menjadi atasan. Yang paling serius adalah dampaknya kepada kinerja team. Sehingga jika hal itu terus dibiarkan, maka kinerja perusahaan menjadi taruhannya. Anda mengalami hal itu? Bagus jika tidak. Tapi seandainya iya, bagaimana? Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar bagaimana mengatasi anak buah yang menyepelekan, saya ajak memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:  
 
1.      Membangun reputasi pribadi. Kebanyakan atasan yang disepelekan oleh anak buahnya adalah mereka yang belum punya reputasi tinggi. Gampangnya begini. Jika Anda dikenal oleh orang lain sebagai professional yang jago dalam suatu bidang. Maka anak buah Anda pun akan secara otomatis respek jika Anda diangkat sebagai pemimpin di bidang itu. Sekarang Anda bekerja di bidang apa? Sales, misalnya. Jika Anda selalu bisa menaklukkan pelanggan yang paling sulit sehingga selalu bisa menutup target penjualan dengan baik. Anda juga terkenal tidak pernah menyerah meskipun dihadang oleh cuaca buruk. Selain itu, Anda juga pandai sekali mengatur teman-teman sales yang lain. Membatu mereka menemukan solusi atas masalah yang dihadapinya. Dengan cara itu, Anda membangun reputasi pribadi yang tinggi. Maka ketika Anda diangkat menjadi sales supervisor atau sales managar; reputasi Anda akan membuat orang-orang yang Anda pimpin lebih respek kepada Anda. So, bangunlah reputasi Anda setinggi-tingginya. Agar Anda, mendapatkan rasa hormat dari orang-orang yang Anda pimpin.
 
2.      Membangun bidang keahlian yang relevan. Seorang atasan sering disepelekan juga karena tidak memiliki keahlian yang relevan. Misalnya, seseorang yang diangkat menjadi sales manager. Padahal dia belum pernah menjadi salesman. Maka wajar jika anak buahnya bertanya;”Emangnya elo bisa jualan?” Lho iya dong. Nantinya kan kita akan menuntut anak buah untuk bisa menyelesaikan pekerjaannya. Kalau sebagai atasan kita sendiri tidak punya kehalian dalam bidang itu, maka bagaimana kita bisa memastikan mereka bekerja dengan baik?. Dan tidak mungkin juga kita menunjukkan cara bekerja yang baik itu seperti apa kepada mereka, kan. Setidaknya, kita paham bagaimana mekanisme atau proses kerja di bidang itu. Maka tentukan sekarang, Anda ingin menjadi pemimpin dalam bidang apa? Lalu bangunlah keahlian di bidang itu. Maka orang lain akan respek kepada Anda. Sehingga tidak ada kesempatan bagi anak buah untuk meremehkan Anda.
 
3.      Membangun keselarasan antara kata dan perbuatan. Anda tentu sebal kepada orang yang ngomong A, tapi perilakunya sendiri B. Menyuruh orang lain berdisiplin, tapi dirinya sendiri semau gue. Memerintah orang lain supaya begini, eh dia sendiri malah begitu. Ada atasan yang seperti itu? Banyak. Tak masalah sih. Asal jangan kita yang begitu. Karena jika sebagai atasan Anda berperilaku seperti itu, maka Anda akan sepelekan oleh anak buah Anda. Well, harus diakui bahwa saya sendiri tidak respek kepada atasan yang seperti itu. Dan saya yakin Anda pun tidak akan respek kepada saya, jika sebagai atasan Anda  saya tidak sanggup menyelaraskan antara kata dan perbuatan saya kan? Sebagai atasan, Anda pasti dituntut untuk mencapai sesuatu oleh perusahaan. Dan sebagai atasan, pasti Anda berkewajiban memastikan anak buah Anda bekerja dengan sebaik-baiknya, serta berdisiplin tinggi. Pertanyaannya adalah; apakah Anda sudah seperti itu? Ataukah baru sebatas memerintah saja? Sederhana kok untuk meraih rasa hormat dari anak buah. Yaitu menjadikan diri kita sebagai orang yang berada di garis terdepan dalam pelaksanaan atas segala hal yang kita inginkan dari anak buah kita. Itu disebut sebagai keteladanan. Dan jika kita sudah bisa menjadi teladan, maka dengan sendirinya anak buah kita akan sangat menghormati kita. Dan itu, bisa kita mulai dengan menyelaraskan antara kata dan perbuatan.
 
4.      Membangun kedekatan hubungan personal. Saya juga melihat atasan yang disepelekan itu disebabkan karena mereka tidak punya kedekatan hubungan dengan anak buahnya. Memang sih setiap hari kita berinteraksi. Tapi isi komunikasi itu hanya sebatas pekerjaan. Mungkin memang kinerja team kita sesuai target. Tapi, boleh jadi dibelakang kita diomongin oleh anak buah “Lah, dia kan bisanya cuman nyuruh-nyuruh doang..” Atau, “Kita yang kerja kerasnya, eh dia yang dapat pujiannya…” Kenapa demikian? Karena manusia itu pada dasarnya adalah mahluk social. Produktivitas mereka justru akan meningkat jika mereka berada dalam lingkungan yang memungkinkan terpenuhinya kebutuhan emosinya. Dan dengan kedekatan hubungan personal itu, maka yang didapatkan oleh seorang atasan dari anak buahnya bukanlah semata-mata produktivitas. Melainkan juga rasa hormat, karena dengan kedekatan itu mereka merasa dihargai sebagai manusia. Diuwongke. Kalau teman saya yang orang jawa bilang. Diangken. Kalau orang sunda menyebutnya. Being treated as a human being. Jika Anda lebih suka menyebutnya seperti bule-bule. Dan, perasaan diperlakukan sebagai manusia itulah yang melahirkan rasa hormat kepada atasan. Sudahkah Anda mempunyai kedekatan hubungan personal itu?
 
5.      Membangun kepedulian kepada bawahan. Apa yang Anda pikirkan tentang anak buah? Kinerja mereka ya, tentu saja. Bagaimana dengan kualitas kehidupan mereka sendiri, apakah Anda memikirkannya juga? Percayalah, anak buah kita mungkin sedang pusing memikirkan hal lain terkait pemenuhan kebutuhan hidupnya. Seperti kita sendiri yang memikirkan keluarga, maka mereka pun sama. Seperti kita yang ingin ini dan itu dari perusahaan, mereka pun begitu. Maka sebagai pemimpin, kita tidak cocok lagi hanya memikirkan diri sendiri. Kita, perlu peduli dengan kebutuhan mereka juga. Pendapatan kita saja sering pas-pasan. Apalagi pendapatan mereka kan? Maka kita punya tanggungjawab untuk memastikan mereka dibayar wajar. Lalu mengajak mereka meningkatkan kualitas kerjanya, agar kontribusi mereka semakin tinggi. Supaya lebih memungkinkan perusahaan memayarnya lebih tinggi lagi. Bahkan mungkin, mendapatkan kepercayaan yang lebih tinggi atau promosi. Nah, soal kepedulian ini saya sudah cukup banyak menemukan bahwa atasan-atasan yang peduli kepada anak buahnya biasanya jauh lebih dihargai daripada atasan yang cuek bebek dan mementingkan dirinya sendiri. So, jika Anda ingin lebih dihormati oleh anak buah. Maka Anda perlu lebih banyak lagi menunjukkan kepedulian Anda kepada mereka. Kepada pemenuhan kebutuhan dasarnya. Dan kepada pemenuhan kebutuhan akan perbaikan karir masa depannya.
 
Bagaimanapun juga, memang enak kok menjadi atasan itu. Tapi kenikmatan menjadi atasan itu bisa berkurang drastis, jika kita diremehkan oleh orang-orang yang kita pimpin. Kursi empuk kita bisa berasa panas. Dan pujian dari big boss menjadi terdengar hambar. Tapi, semua kelezatan menjadi atasan itu bisa benar-benar kita nikmati hingga ke ‘tetes terakhirnya’, manakala kita juga dihormati oleh anak buah kita kan? Tentu, bukan hormat karena merasa takut. Melainkan rasa hormat karena anak buah kita menilai bahwa kita memang layak untuk menjadi pemimpin mereka. Raihlah rasa hormat itu dari anak buah Anda. Maka Anda, akan menjadi atasan yang bukan hanya bangga. Namun juga merasa tenteram dan tenang didalam hati. Karena tenteram hati, merupakan salah satu penanda jika kita sudah menjalankan amanah ini. Dengan sebaik-baiknya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 5 Februari 2013

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: