Memperbaiki Cara Memimpin Kita

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Saya yakin Anda sepakat dengan pernyataan bahwa ‘percaya diri’ merupakan salah satu kualitas penting bagi seorang pemimpin. Tanpa rasa percaya diri itu, mana mungkin kita bisa memimpin orang lain, bukan? Namun, rasa percaya diri juga bisa menyebabkan hal-hal penting lainnya luput dari perhatian kita. Misalnya, kita percaya diri sekali bahwa team kerja yang kita pimpin itu baik-baik saja. Sehingga kita tidak menyadari jika sebenarnya mereka mengeluhkan cara kita memimpin mereka. Saya tidak tahu; apakah Anda mengetahui bagaimana pendapat anak buah Anda tentang cara Anda memimpin mereka? Jika belum tahu, ada baiknya Anda mencari tahu deh. Supaya Anda paham, apakah sudah memimpin dengan cara yang tepat atau belum. Bagaimana jika Anda yakin kalau cara memimpin Anda itu sudah baik? Hmmmh, saya kira; ada baiknya jika Anda menguji keyakinan Anda itu. Berani menerima tantangan itu?
 
Kalau saya sih, sudah lumayan banyak menyaksikan para pemimpin yang merasa sudah memimpin dengan baik itu ternyata tidak demikian dimata anak buahnya sendiri. Banyak pemimpin yang ke-GR-an. Mengira sudah menjadi pemimpin yang oks banget. Tapi nyatanya tidak. Kalau sekarang Anda sudah menjadi atasan di kantor – maaf – mungkin Anda juga begitu. Tapi Anda sebaiknya tidak sakit hati dengan pernyataan saya itu. Karena sebenarnya saya tidak sedang menceritakan tentang kepemimpinan Anda kok. Saya sedang menceritakan kekurangan diri saya sendiri ketika memimpin orang lain. Sejauh yang saya ingat, kinerja team yang saya pimpin baik-baik saja. Bahkan boleh dibilang extra ordinary dalam beberapa aspek. Hal itu membuat saya percaya diri. Dan mengira, semua team member saya merasa happy.
 
Saya baru menyadarinya ketika mengetahui bahwa beberapa team member saya itu justru mengeluhkan tentang kempimpinan saya. Dan mereka, mengadukannya kepada atasan saya. Bagaimana pun juga, saya merasa beruntung mereka menyampaikan pendapatnya tentang kepemimpinan saya itu kepada orang yang tepat. Karena orang itu bisa menyampaikan keluhan tersebut kepada saya. Bayangkan jika mereka mengeluhkan saya  kepada teman makan siang di kantin. Atau kepada sesama penikmat momen-monen khusus didepan cermin toilet.
 
Faktanya, kantin dan toilet kantor merupakan tempat favorit bagi para karyawan untuk mengeluhkan soal perilaku atau perlakuan atasannya. Itulah sebabnya, banyak atasan yang mengira jika team kerjanya baik-baik saja. Sementara orang lain yang tidak berkepentingan paham benar bahwa kenyataannya berbeda seratus delapan puluh derajat. Dan itu artinya, jika sebagai atasan Anda tidak pernah mendengar anak buah mengeluhkan tentang kekurangan cara Anda memimpin; maka itu tidak berarti bahwa selama ini Anda telah memimpin mereka dengan selayaknya.
 
Ketika atasan saya memberitahukan bahwa ada anak buah saya yang menghadap beliau, lalu mengeluhkan cara saya memimpin; saya langsung merasa menjadi orang yang sangat beruntung. Karena, saya jadi tahu apa yang terjadi didalam team yang saya pimpin itu. Sejak saat itu saya menyadari bahwa kinerja team yang bagus belum menggambarkan cara memimpin yang bagus. Maka hanya fokus kepada hasil, bisa melenakan. Kita mengira jika hasilnya bagus mengindikasi jika anak buah kita baik-baik saja. Padahal ternyata tidak.
 
Manager sales, misalnya. Fokusnya memang mencari sales. Sampai setiap hari dia menelepon anak buahnya, hanya untuk menanyakan ; “salesnya sudah berapa?”. Manager non sales juga sama terjebaknya dengan berfokus hanya kepada hasil. Sehingga proses dan isi komunikasinya dengan anak buahnya tidak lebih dari sekedar tuntutan pada hasil. Padahal, ternyata manusia-manusia yang kita pimpin itu sangat sensitif dengan cara kita memimpin mereka untuk meraih hasil itu. Artinya, proses juga sangat penting bagi mereka. Bukan hanya hasilnya saja. Padahal, sebagai atasan kita punya tanggungjawab yang sangat besar untuk memastikan kinerja kita memenuhi target-target perusahaan.
 
Salahkah kita jika fokus pada hasil? Tidak. Karena mencapai hasil yang telah ditargetkan itu merupakan amanah paket jabatan yang kita sandang. Namun, selain bertanggungjawab kepada perusahaan itu kita juga bertanggungjawab kepada anak buah kita untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan pemenuhan terhadap hak-haknya. Keliru, jika kita mengira hak-hak anak buah itu hanya sebatas pemenuhan materi belaka. Yang penting gaji dibayar, bonus digelontorkan. Selain aspek-aspek material itu, ternyata anak buah kita mempunyai hak atas pemenuhan kebutuhan emosinya. Misalnya, perasaan dihargai dan diperhatikan. Dan ternyata, perasaan-perasaan seperti itu bisa menciptakan bonding atau ikatan yang lebih kuat antara atasan dengan bawahan, sesama kolega, dan oraganisasi secara keseluruhan.
 
“Gue punya gaya  kepemimpinan yang unik,” mungkin Anda merasa demikian. “Ya beginilah gue apa adanya. Anak buah gue mesti bisa menyesuaikan diri dengan cara memimpin gue!” Boleh juga begitu. Saya tidak akan memvonis cara pandang Anda itu. Saya, hanya ingin mengajak Anda untuk kembali mengingat bahwa setiap individu memiliki keunikan seperti hanya Anda sendiri yang unik itu. Maka itu berarti bahwa suatu cara atau prinsip yang Anda rasa cocok dan tepat untuk diri Anda belum tentu sesuai dengan kepribadian atau keunikan orang-orang yang Anda pimpin.
 
Seorang pemimpin yang terampil, ternyata adalah pemimpin yang mampu  mengelola anak buahnya secara berbeda. Makanya, kita mengenal istilah ‘different folks, different strokes’. Orang-orang yang kita pimpin itu punya karakter yang berbeda. Maka, cara memimpin mereka juga mesti berbeda. Dampak dari cara memimpin seperti itu adalah; kita bisa diterima oleh anak buah dari jenis dan karakteristik manapun. Dan kita bisa mendorong mereka yang berbeda-beda itu, untuk mengerahkan seluruh kemampuannya agar bisa berdedikasi kepada pekerjaannya semaksimal mungkin. Bukankah situasi seperti itu yang bisa membawa team yang kita pimpin kepada hasil dan pencapaian tertingginya?
 
Jadi, sahabatku; mari senantiasa mengevaluasi cara memimpin kita. Supaya kita selalu bisa menemukan ruang. Untuk melakukan perbaikan. Dan Insya Allah. Cara seperti itu bisa membawa kita menjadi pemimpin yang semakin baik dari hari ke hari. Karena seperti disabdakan Rasulullah SAW: “Engkau adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinanmu….” Pertanggungjawaban kepada perusahaan dilakukan dalam business review meeting, untuk mengevaluasi hasil dan kinerja team. Sedangkan pertanggungjawaban terhadap cara kita memperlakukan anak buah akan dilakukan di dalam sebuah forum yang bernama; ‘hari perhitungan segala amal perbuatan’. Sudah siapkah Anda menghadapi forum itu?
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 31 January 2013

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: