Meraih Rezeki Yang Sudah Tersaji

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Natin melintas didepan kantin yang letaknya dibelakang gedung perkantoran mewah itu. Sempat lega karena kali ini, orang-orang yang biasa nongkrong disitu sudah tidak ada lagi. Mungkin mereka sudah sadar bahwa rezeki mesti diperjuangkan, sedangkan waktu sangat terbatas adanya. Kegembiraan Natin tidak berlangsung lama. Karena sesaat kemudian satu persatu orang itu pada berdatangan. “Gila,” kata salah seorang dari mereka. “Boss gue lagi di kantor,” lanjutnya. Disambut dengan kalimat ‘Iya, boss gue juga’ oleh orang-orang yang lainnya. Kemudian mereka kembali bergerombol seperti biasanya. Rupanya, mereka masih mengimani bahwa rezeki setiap orang sudah ditentukan Tuhan. Jadi tidak ada gunanya kerja lebih gigih. Kalau pun keadaan mereka sering kekurangan ya mau gimana lagi? Kan cuman segitu jatah dari Tuhan. Anak dan istrinya pun tidak boleh menuntut lebih. Karena – katanya – hal itu menggambarkan pengingkaran kepada takdir Tuhan.
 
Ayah punya beberapa teman yang kehidupannya sangat baik. Punya mobil bagus. Punya rumah indah. Tapi, sehari-harinya mereka lebih banyak terlihat ada ditempat. Tidak seperti Ayah yang setiap hari, mesti berangkat pagi sekali. Dan pulang sering larut malam. Sampai-sampai Ayah bicara dalam hatinya;”Takdir ini tidak adil. Orang yang kerja keras, dikasih sedikit. Sedangkan orang yang malas, diberi lebih banyak….”
 
Tapi anehnya, Ayah juga tidak berani ambil resiko kalau berhenti berusaha. Karena Ayah percaya jika tidak bekerja maka Ayah tidak akan mendapatkan nafkah.  Jika percaya pada ketidakadilan takdir itu, kenapa Ayah tidak memilih menjadi orang malas saja ya? Tentu saja tidak mau, karena orang-orang yang kerjaannya kebanyakan bergerombol itu pun juga lebih payah lagi kehidupan ekonominya. Jangan-jangan, takdir hanya memihak kepada orang-orang tertentu saja ya? Mungkin begitu sih. Makanya ada beberapa teman Ayah yang makmur meskipun tidak jelas kerjaanya apa.
 
Seandainya Ayah mau diajak Natin untuk bertemu dengan gurunya. Tentu pemahaman Ayah terhadap takdir tidak akan serapuh itu. Kadang Ayah mikir, jika tidak berusaha; bagaimana mungkin bisa mendapatkan hasilnya? Tapi, ketika usahanya tidak kunjung menghasilkan apa yang diharapkan, Ayah jadi teringat bahwa rezeki setiap orang sudah dijatah oleh Tuhan. Semuanya itu menunjukkan kebingungan Ayah yang tidak ada ujungnya.
 
Tidak bakal bingung seperti itu jika Ayah sempat bertemu dengan gurunya Natin. Soalnya, Natin pernah mendatangi beliau dalam kebingungan yang sama. “Guru, benarkah jika usaha kita tidak akan menambah rezeki yang Tuhan jamin untuk kita?” begitu dia bertanya. Yang dijawab oleh gurunya dengan kata ‘benar’.
 
“Dan guru,” kata Natin lagi. “Benarkah meskipun tidak berusaha rezeki kita tetap dijamin oleh Tuhan?” begitu pertanyaannya kemudian.
 
“Benar.” Gurunya memberikan jawaban yang sama.
“Tapi guru,” katanya. Sekali lagi. “Bukankah Tuhan tidak memberikan sesuatu kepada hambanya selain yang dia usahakan?” Lagi-lagi gurunya mengatakan ‘benar”. Seolah beliau tidak memiliki jawaban lain yang lebih kreatif dari sekedar kata ‘benar’. Sungguh sangat membingungkan.
 
Natin semakin tidak mengerti dengan ajaran yang jelas-jelas bertolak belakang itu. Ketiga pertanyaan itu bukan hal sembarangan. Karena semuanya tertera dalam kitab suci. “Kayaknya, Tuhan itu tidak konsisten jika demikian,” begitu terlintas dalam pikirannya.

Selagi bingung itu. Seseorang datang dengan nampan berisi dua cangkir kosong. Dan sebuah poci penuh berisi air perasan jeruk yang dipetik dari kebun pribadi sang guru. Gelas dan poci itu diletakkan diatas meja yang memisahkan tempat duduk mereka. Lalu orang itu pergi tanpa berkata-kata. Sang guru menuangkan minuman menyegarkan itu kedalam cangkirnya sendiri. Lalu beliau meminumnya. Seruput nikmatnya terdengar sangat menggoda. Sepertinya beliau tidak begitu peduli kepada Natin yang hanya bisa menelan ludah. Menyaksikan secangkir air jeruk yang rasanya manis asem itu ludes diminum gurunya.
 
Sang guru kemudian menuangkan kembali isi poci itu kedalam cangkirnya. Lalu meminumnya kembali. Sedangkan Natin hanya menonton saja. Begitu pula ketika sang guru melakukannya untuk kali yang ketiga.
 
“G-guru….” Kata Natin ragu. “K-Kenapa guru tega tidak memberikan minuman itu kepada saya?” protesnya. “Orang yang membawa minuman ini sudah menyediakannya untuk kita berdua,” tambahnya.
 
 “Tapi hanya aku yang mau bersusah payah menuangkannya kedalam cangkir.” Jawab sang guru. “Lalu meminumnya.” Tambahnya. “Sedangkan orang lainnya, hanya menonton saja sambil berharap seseorang menuangkannya untuk dirinya….”
 
Kali ini Natin merasakan jika kalimat itu ditujukan kepada dirinya. Nyindir.
“Seperti itulah Tuhan memberikan rezekinya kepada hamba-hambanya…” begitu sang guru melanjutkan. “Dia meletakkan poci rezeki itu dihadapan semua orang.” Lanjutnya. “Tapi kenikmatannya hanya bisa dirasakan oleh mereka yang mau mengulurkan tangannya untuk menuangkan isinya kedalam gelasnya.” Tambahnya.
 
Natin seperti disentil. Tiba-tiba saja dia menyadari jika gurunya sedang menunjukkan kepadanya bahwa bahkan untuk sekedar mendapatkan secangkir minum pun seseorang harus mau ikhtiar. Sekalipun minuman itu sudah disajikan dihadapannya.
 
Sekarang Natin paham bahwa rezeki Tuhan, memang sudah disodorkan dihadapan setiap orang. Namun, orang itu harus mau melakukan tindakan yang semestinya supaya rezeki itu bisa didapatkannya. Sedangkan manusia sering mengira jika Tuhan tidak memberinya. Padahal, pemberian Tuhan sudah tersaji dihadapan semua orang. Hanya saja. Ada orang yang mau mengambilnya. Dan ada orang yang mengharapkan tangan Tuhan menyuapkan kedalam mulutnya. Jangan-jangan. Rezeki buat kita itu sudah berserakan disekitar kita. Namun, kita tidak mau susah payah untuk menggapainya.
 
Sang guru kemudian menceritakan kisah tentang perempuan agung yang namanya diabadikan Tuhan di langit dan di bumi. Mariam, kitab suci menyebutkan namanya. Bunda Maria, demikian orang-orang mengenalnya. Ketika beliau tengah mengandung dengan susah payah. Terkucil dalam kesendirian. Terpenjara dalam segala kebutuhan. Terjebak diantara lapar dahaga, dengan ketidakberdayaan. Rasa sakit menjelang kelahirannya semakin menguatkan pengharapannya atas pertolongan Tuhan.
 
Lalu Jibril datang. Kemudian dia membisikan pesan dari Tuhan. “Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu. Niscaya dia akan menggugurkan buah kurma yang matang kepadamu……” begitulah adegan yang dikisahkan dalam surah 19 (Maryam) ayat 25.
 
“Kenapa Jibril tidak memetikkan buah kurma itu untuk Mariam?” tanya sang guru.
Natin tidak menjawabnya. Hanya mengangguk kecil tanda paham makna pertanyaannya. Bahkan untuk seorang perempuan agung yang tengah dilanda beratnya beban melahirkan tanpa bantuan, Tuhan menghendaki ikhtiar. Apalagi untuk orang-orang seperti kita.
 
Natin segera meraih poci berisi air jeruk itu. Lalu menuangkannya kedalam cangkirnya. Kemudian dia meneguknya hingga tetes demi tetesnya terasa menyegarkan kerongkongan sampai meresap kesetiap urat dan sendiri-sendi tubuhnya. Aaaah… segarnya. Bukan hanya raga fisiknya yang merasakan kesegaran itu. Melainkan juga jiwanya. Karena sejak saat itu Natin paham, bahwa ikhtiar itu merupakan jembatan antara poci rezeki yang Tuhan sediakan dihadapan setiap insan, dengan tubuhnya yang siap untuk menikmati kelezatan anugerahnya. Ikhtiar. Itulah yang memisahkan keduanya. Sehingga dengan ikhtiar, rezeki itu akan sampai kepada setiap sel didalam tubuhnya.
 
Natin tidak ingin menasihati orang-orang di kantin itu. Hanya saja, dia berharap semoga sampai kepada mereka kisah tentang Maryam itu kepadanya. Supaya mereka sadar, bahwa setiap lelaki mempunyai keleluasaan yang lebih besar untuk ikhtiar. Karena demikianlah Tuhan menciptakan mereka dalam fitrahnya sebagai pencari nafkah bagi keluarga. Sehingga layak. Jika mereka memiliki kegigihan yang tidak tergoyahkan dalam usahanya mencari karunia untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
 
Semoga kepada mereka sampai pesan utama perintah Jibril kepada perempuan yang sedang hamil itu untuk terus berikhtiar mendapatkan nafkahnya. Meski Tuhan telah menumbuhkan pohon kurma liar yang berbuah lebat lagi matang. Bahwa dalam kondisi yang serba kepayahan pun, kita; diperintahkan untuk terus berusaha. Supaya para lelaki itu menyadari bahwa para perempuan sudah sedemikian tangguhnya memperjuangkan hidup, sementara para lelaki sering menjadi mahluk lemah yang mudah menyerah. Seperti yang dicontohkan oleh ibu tua pemilik warung itu. Yang tetap teguh berusaha menghasilkan nafkahnya. Ditengah-tengah para lelaki yang tidak sadar bahwa permainan membuang-buang waktunya itu, akan menyebabkan rezeki yang sudah Tuhan sediakan dalam poci tidak tertuang kedalam cangkir-cangkir rezeki mereka.
 
Tapi Natin senang. Karena setidaknya sekarang Ayah sudah paham. Bahwa meskipun poci rezeki itu sudah Tuhan siapkan bagi setiap orang, namun dia harus berjuang untuk mendapatkannya. Seperti Mariam yang mulia, menggoyangkan pohon kurma; atas perintah Tuhannya. Seketika itu juga Ayah tahu, bahwa temannya yang makmur namun terlihat santai itu justru mempunyai banyak ikhtiar. Sehingga semakin kuatlah keimanan Ayah bahwa ikhtiar dan kerja kerasnya itu adalah jalan untuk meraih rezeki yang sudah tersaji agar bisa dinikmati. Dengan seijin Ilahi.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 25 Januari 2013

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: