Ketika Kegiatan Kantor Terkendala Banjir

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Dalam keadaan darurat bencana seperti banjir yang tengah melanda Jakarta ini, banyak kantor yang terpaksa mesti tutup untuk sementara waktu. Pabrik-pabrik berhenti berproduksi. Tenaga penjualan tidak bisa kemana-mana. Padahal, kewajiban perusahaan kepada karyawan mesti jalan terus. Tidak ada pilihan lain, kan? Karyawan juga bukannya tidak mau bekerja. Tapi kondisinya memang begitu, ya mau bagaimana lagi? Justru pada situasi seperti itulah peran kita sebagai pemimpin sangat diperlukan. Kondisinya tidak normal, nih. Maka kita pun mesti berpikir ekstra untuk memastikan karyawan tetap berkontribusi kepada perusahaan. Apakah ini tidak termasuk pemaksaan? Ya tidaklah. Jika kita tahu caranya. Paham takarannya. Dan tepat menentukan tindakannya. Emang ada yang seperti itu? Ada. Maukah Anda mengetahuinya seperti apa? Baiklah. Lanjutkan saja membaca uraiannya.
 
Tahun 2002 dan 2007 merupakan momen bersejarah dalam karir professional saya.  Jakarta nyaris tenggelam ketika itu. Saya sungguh terharu ketika menyaksikan teman-teman di kantor pada menyingsingkan lengan baju. Mereka mengganti kemeja dengan kaos dan jas hujan. Lalu bertebaran menuju lokasi-lokasi bencana. Untuk apa? Untuk melakukan apa saja dalam membantu korban. Kompak dengan management di kantor kami yang sigap menyediakan berbagai macam keperluan. Lalu dengan antusias kami menggantikan aktivitas kerja di kantor dengan berbagai kegiatan kepeduliaan kepada kemanusiaan. Kantor kami memang tutup. Tapi, kami terus bekerja dengan cara yang berbeda. Tahun 2013 ini, mungkin menjadi bagian dari siklus banjir 5 tahunan itu. Kantor Anda pun mungkin tidak bisa beroperasi seperti biasanya. Lantas, apa peran Anda sebagai atasan untuk memastikan agar semua orang yang Anda pimpin tetap bekerja dalam kondisi seperti itu? Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar bagaimana memimpin dalam keadaan darurat banjir, saya ajak memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:  
 
1.      Memastikan semua anak buah Anda aman. Mementingkan keselamatan diri sendiri? Itu bukan kualitas seorang pemimpin sejati. Karena termasuk kedalam tugas kepemimpinan adalah memastikan bahwa orang-orang yang dipimpinnya terhindar dari dampak buruk bencana. Sebagai pemimpin, kita mesti belajar untuk menjadikan keselamatan dan keamanan anak buah sebagai prioritas utama. Tentu, mesti menyelamatkan diri dan keluarga terlebih dahulu. Karena tanpa itu, kita tidak akan bisa menolong orang lain. Namun, setelah keluarganya aman; seorang pemimpin tidak berdiam diri dan mengira semuanya baik-baik saja. Tugas ini mesti dituntaskan hingga sudah didapatkan kabar tentang setiap orang yang berada dibawah kepemimpinannya. Kepedulian atasan kepada keselamatan dan keamanan bawahannya bukan hanya terkait soal pekerjaan, melainkan juga aspek-aspek kemanusiaan. Meskipun punya jabatan tinggi, namun kita tetaplah manusia yang mempunyai hati nurani, bukan? So, pastikan semua anak buah Anda aman.
 
2.      Mengambil langkah-langkah antisipatif. Antisipasti berarti melakukan sesuatu sebelum terjadi. Ini adalah inti dari prinsip crisis management, yaitu melakukan tindakan yang diperlukan ‘sebelum’ terjadinya krisis. Termasuk didalamnya adalah melatih karyawan mengenai tindakan apa saja yang mesti mereka lakukan jika terjadi bencana. Misalnya, segera melapor kepada atasan atau petugas-petugas khusus jika ada. Dengan demikian, atasan dan perusahaan bisa segera mengetahui status atau situasi yang dihadapi karyawan. Di lokasi-lokasi tertentu bencana sudah bisa diprediksi. Misalnya, wilayah-wilayah tertentu di Jakarta. Juga bisa mengacu pada siklus banjir besar 5 tahunan. Boleh dikatakan, sebagian besar lokasi bencana banjir sudah bisa dipetakan. Dari pemetaan itu, kemudian dilakukan persiapan yang relevan. Hal ini memungkinkan untuk dilakukannya langkah-langkah antisipatif. Jika Anda belum melakukan itu, maka mulailah sejak sekarang. Karena kita, tidak tahu pasti apa yang akan terjadi besok. Jika perlu, latih anak buah Anda dalam bentuk simulasi.
 
3.      Menyelamatkan aset-aset kritis. Banjir boleh datang kapan saja. Namun asset kritis perusahaan mesti tetap terjaga semaksimal mungkin. Data, merupakan salah satu asset yang termasuk kedalam kategori itu. Sedangkan mesin-mesin dan alat kerja – meskipun sifatnya juga sangat penting – namun proses penyelamatannya bisa jadi tidak memungkinkan. Kita tidak mungkin mengendong mesin produksi, kan? Namun dokumen penting dan data-data kritis masih bisa kita selamatkan. Dengan demikian, kita bisa meneruskan pekerjaan di lokasi lain. Atau paling tidak, data-data itu terselamatkan dari dampak banjir yang lebih buruk lagi. Dan, kita selalu bisa menggunakannya ketika diperlukan kapan saja, meskipun banjir belum surut. Sekalipun demikian, tetap mesti menempatkan faktor keselamatan sebagai prioritas pertama. Jika keadaan sudah sedemikian gentingnya, maka keselamatan jiwa harus didahulukan tentu saja. Karena jiwa, adalah asset kritis pertama. Kemudian data dan aspek-aspek terkait pekerjaan lainnya. Pastikan Anda menyelamatkannya untuk perusahaan.
 
4.      Mengajak karyawan untuk peduli kepada sesama. Aktivitas kantor mungkin berhenti secara total. Namun, hal itu tidak berarti kita tidak bekerja sama sekali. Hanya saja, jenis pekerjaannya yang berbeda. Dalam keadaan darurat bencana, kita bisa mengajak karyawan untuk peduli kepada sesama. Setelah keluarga mereka aman, hendaknya mereka tidak diam saja di rumah. Setidaknya selama jam kerja dihari kerja; mereka mesti keluar rumah seperti biasanya. Lalu pergi bukan ke kantor, melainkan ke posko-posko bencana untuk memberikan bantuan sebisanya. Lebih baik lagi jika kantor membuka posko sendiri atau membuat kesepakatan untuk bekerjasama dengan posko yang sudah ada. Dengan demikian, kepedulian itu bisa disalurkan secara terorganisir. “Oke team,” kita bisa bilang begitu. “Aktivitas kantor memang terhenti. Namun kita akan terus bekerja.” Kan gitu. “Di jam kerja, saya meminta Anda semua untuk berbagi kepedulian dengan para korban bencana. Ayo, berangkat seperti biasa….” Dan tentunya, kita mesti menjadi pelopornya.
 
5.      Menyediakan sarana untuk menyalurkan kepedulian. Tugas karyawan adalah bekerja di jam kerja melalui berbagai kegiatan kepedulian kepada korban bencana. Sedangkan tugas perusahaan adalah menyediakan sarananya. Keluarkanlah sejumlah dana untuk menjalankan misi kepedulian itu. Dengan begitu, karyawan tidak perlu mengeluarkan uang mereka. Cukup waktu dan tenaga saja, karena uang mereka mungkin akan sangat diperlukan untuk berjaga-jaga bagi keluarganya sendiri. Jika mereka ingin secara sukarela menyumbangkan hartanya ya baik saja. Tapi, sumbangan utamanya sebaiknya datang dari kas perusahaan. Jika perusahaan Anda mengenal prinsip CSR, maka dalam situasi darurat bencana itulah Coprorate Social Responsibilty itu akan sangat nyata sekali dampaknya. Jika keadaan tidak memungkinkan untuk melakukan koordinasi, maka Anda bisa membuat kebijakan khusus. Misalnya, memberikan kewenangan kepada setiap karyawan untuk belanja makanan instan senilai Rp. 100,000.- lalu menyerahkan kepada korban bencana atas nama perusahaan. Kemudian belanja itu bisa diklaim dan mendapat penggantian dari kantor. Banyak cara bisa ditempuh, kan?
 
Bencana, kadang tidak bisa dihindarkan. Dan kantor kita kadang terkendala hingga tidak bisa beroperasi untuk sementara waktu. Namun, hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Siapa lagi yang bertanggungjawab untuk memastikan para karyawan tetap menunaikan tugasnya selain atasan seperti kita? Bayangkan anak buah Anda berkumpul dengan sejumlah sumbangan yang difasilitasi perusahaan berupa makanan siap saji, selimut, dan pakaian layak. Kemudian dengan menggunakan kendaraan kantor menyebar ke berbagai lokasi bencana. Mulai berkumpul jam 08.00 pagi. Lalu pulang dari lokasi masing-masing jam 17.00 sore. Kantor Anda mungkin tutup. Tapi karya nyata seluruh elemen di perusahaan tidak pernah berhenti. Seperti itulah hakekat dari bisnis yang keuntungannya terus mengalir. Yaitu bisnis, yang tidak semata-mata mementingkan laba belaka. Melainkan bisnis yang sejalan dengan firman Tuhan dalam surah 9 (At-Taubah) ayat 111:”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, diri mereka dan harta mereka dengan memberikan surga bagi mereka…”. Dan untuk bisnis yang seperti itu, Tuhan menjaminnya; tidak akan pernah rugi. Meskipun kebanjiran – Insya Allah – kantor Anda akan terus menghasilkan. Jika bersedia memobilisasi karyawannya untuk peduli.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 21 January 2013

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: