Sibuk Hingga Ke Ubun-Ubun

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Kali ini, sibuk beneran. Bukan sibuk dari Hong Kong. Sudah berusaha disiplin soal waktu. Sudah berusaha bekerja seefisien mungkin. Dan, sudah berusaha untuk fokus kepada tugas-tugas yang mesti diselesaikan tepat waktu. Tapi, memang pekerjaannya sangat banyak. Jadi, bagaimana pun gigihnya bekerja, tetap saja hari-hari kerja kita selalu dikejar-kejar oleh tugas demi tugas yang mengalir terus tanpa henti. Kita, benar-benar sibuk. Tidak dibuat-buat. Tidak berpura-pura. Dan tidak ada waktu yang disia-siakan. Bagaimana bisa menjaga perasaan tetap positif jika demikian?
 
Dalam salah satu periode karir prosefesional saya, ada masa dimana saya memegang 3 jabatan berbeda. Bukan sementara waktu karena – misalnya – orang yang mestinya bertugas sedang cuti hamil 3 bulan. Bukan karena sedang merekrut professional, dan bukan juga sekedar sebuah test. Hampir setiap pagi saya tiba di kantor sebelum jam 7. Tidak berat sih kalo soal itu. Karena saya termasuk ‘orang pagi’. Terbiasa bangun subuh dan beraktivitas seawal mungkin. Jadi, soal itu tidak jadi masalah. Tapi kadang saya harus bekerja sampai larut malam. Bahkan, makan siang pun di pantry kantor. Saya tahu jika orang lain pun sangat sibuk di kantor kami. Tapi, mungkin orang lain tidak sesibuk itu. Pada awalnya, saya juga khawatir tidak bisa menjalaninya dengan baik. Namun ternyata, hal itu sangat mengasyikan. Tahukah Anda darimana saya mendapatkan energy dan semangat setinggi itu? Begini.
 
Setiap kali pulang atau pergi dari kantor, saya melintasi sebuah jembatan layang. Jembatan itu melintasi jalan toll yang berada dibawahnya. Dikedua sisinya, jembatan itu dilengkapi dengan pembatas terbuat dari lempengan logam yang dianyam. Semacam jaring untuk menjaga keamanan para pelintasnya. Selain dinding jarring yang kokoh, jembatan itu dilengkapi dengan semacam trotoar. Meskipun jarang sekali ada orang yang menyeberang dengan berjalan kaki disitu. Sekalipun demikian, jembatan itu selalu ramai dengan sejumlah orang. Saya kira, tidak berlebihan jika saya mengatakan ‘selalu’. Karena, tidak peduli jam berapapun Anda melintas dijalan itu. Anda akan selalu menemukan sejumlah orang disitu. Termasuk, jika Anda pulang dari kantor jam satu pagi. Orang itu pun masih berasa disitu. Siapakah gerangan orang-orang itu?
 
Daripada mencari identitas mereka, saya lebih tertarik dengan ‘apa yang mereka lakukan’ disitu. Rupanya, mereka menantikan ‘siapa tahu’ ada pekerjaan ‘melintas’ kesana. Ya. Mereka menantikan pekerjaan mendatangi mereka. Kadang-kadang, truk pasir berhenti disana jam sebelas malam. Lalu mengijinkan dua atau tiga orang naik, untuk kemudian menuju ke tempat pasir diangkut. Sementara orang-orang yang tidak kebagian pekerjaan itu, mesti menunggu truk lainnya datang. Itu pun, jika masih ada truk lainnya itu. Kadang-kadang. Mobil pribadi pun berhenti. Untuk memberikan pekerjaan membersihkan selokan didepan rumah. Atau pekerjaan apa saja yang bisa mereka lakukan dengan cangkul dan sekop.
 
“Ini Jakarta lho…” begitulah saya membatin.
Orang rela standby selama 24 jam dengan hanya duduk atau berbaring beralaskan kardus untuk menantikan pekerjaan melintas disana. Meski Jakarta panas, tapi kalau malam hari ya tetap dingin juga. Belum lagi dengan hembusan angin hasil terpaan mobil-mobil besar yang melintasi jalan tol dibawahnya. Mereka hanya menutupi tubuhnya dengan kain sarung. Jangan tanya lagi seperti apa keadaannya jika musim hujan seperti sekarang ini. Demi menantikan pekerjaan melintas disana, mereka rela melakukan apa pun yang tidak akan sanggup dilakukan oleh orang kantoran seperti kita.
 
Orang kantoran, eh?
Kursi empuk. Ruang ber-AC. Gaji bulanan yang sudah pasti. Pekerjaan yang sudah jelas. Namun. Masih mengeluhkan betapa pekerjaan ini tidak selesai-selesai sih!
 
Saya tidak tahu apakah pekerjaan Anda sebanyak pekerjaan yang mesti saya selesaikan. Jam 12 malam, kadang saya masih berada di conference room untuk melakukan video conference dengan boss atau kolega yang berjarak 12 jam di belahan dunia lain. Atau, jam 11 malam boss saya kembali ke kantor untuk menanyakan ‘how is the progress?’ karena dia pun sedang ditunggu boss besarnya di New York. Hari sabtu tengah malam telepon saya berbunyi lalu suara diseberang terdengar ‘Dadang, could you give me a favor, please….?’ Saya tidak tahu apakah kesibukan Anda sampai seperti itu. Atau mungkin lebih dari itu. 
 
Tapi. Saya menemukan di jembatan layang itu. Orang-orang yang merindukan pekerjaan sedemikian kangennya sehingga mereka rela menanti. Truk demi truk dengan penuh harap. Menatap langsung ke mata setiap pengemudi mobil pribadi; siapa tahu orang kaya yang melintas disitu punya masalah dengan selokan depan rumahnya yang mampet. Atau, sedang terganggu kenyamanan hidupnya dengan tumpukan sisa bongkaran rumah yang baru direnovasi. Apa saja deh. Yang penting ada pekerjaan. Karena setiap pekerjaan, berarti sesuap nasi.
 
Saya?
Punya begitu banyak pekerjaan.
Mereka. Punya begitu banyak kerinduan terhadap pekerjaan.
Menangis mereka dalam ketiadaan pekerjaan setiap hari yang mesti mereka alami.
Kita? Bagaimana pun juga. Hidup kita dengan tumpukan pekerjaan yang saat ini tengah kita keluhkan itu jauuuuuuuuuh…. lebih baik dari pada kehidupan orang-orang yang mencari-cari pekerjaan.
 
Itulah yang membuat energy saya ketika bekerja itu nyaris tidak pernah ada habis-habisnya. Kepada istri saya mengatakan;’izinkan saya untuk menguji sampai dimana batas tertinggi kemampuan saya dalam bekerja.’ Saya meminta izin kepadanya untuk mengeksplorasi, hingga dibatas mana kita bisa bekerja. Dan sungguh. Saya tidak menemukan batas itu. Sehingga hanya kesadaran bahwa tubuh kita punya hak sendiri untuk beristirahat. Sama seperti keluarga kita berhak untuk mendapatkan perhatian kita. Itulah yang menyebabkan saya pulang ke rumah. Untuk berangkat lagi dikeesokan paginya.
 
Ini bukan tentang saya. Ini adalah tentang kita. Tentang orang-orang yang sudah memutuskan untuk memilih menjadi pekerja professional. Tentang sebuah penemuan bahwa; ketika kita menyadari betapa berharganya pekerjaan kita, maka kita tidak akan tega mengeluhkannya. Ketika kita menemukan betapa bernilainya pekerjaan kita, maka semakin banyak dia semakin bahagia kita. Maka jika Anda masih mengeluh tentang pekerjaan kita, barangkali; Anda perlu sesekali melintasi jembatan layang itu. Perhatikanlah. Dan renungkanlah. Sampai Anda temukan bahwa; diantara anugerah tertinggi yang Anda dapatkan dalam hidup adalah; pekerjaan yang saat ini Anda miliki.
 
Jika dari perenungan itu saya menemukan tambahan energy yang tinggi untuk terus mengeksplorasi diri. Maka saya yakin Anda pun akan menemukan hal yang sama. Namun jika Anda belum menemukannya juga, izinkan saya menyampaikan sebuah resep rahasia lainnya. Resep itu adalah sebuah kalimat sederhana yang bunyinya begini; “…. Setiap waktu, Dia dalam keadaan sibuk….” Demikianlah Tuhan menggambarkan dirinya sendiri dalam surah 55 (Ar-Rahman) ayat 29. Tuhan pun sibuk sekali. Lalu didalam ayat 30 berikutnya, Dia mengatakan “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang hendak engkau ingkari?”
 
Sahabatku. Saya paham benar jika Anda sangat sibuk. Sebab saya pernah berada dalam kesibukan seperti yang sekarang Anda alami. Orang lain pun. Mungkin ada yang tidak kalah sibuknya, atau bahkan lebih sibuk daripada kita. Melelahkan memang. Mengesalkan kadang. Menjengkelkan mungkin. Namun jika kita menyimak orang lain yang tidak punya pekerjaan itu. Dan jika kita merenungkan firman Tuhan itu. Maka kita akan menemukan bahwa kesibukan kita, merupakan salah satu nikmat tak ternilai. Karena dengan kesibukan itu. Kita. Bisa menjalani kesibukan bersama Tuhan. Bayangkan. Tuhan itu maha sibuk. Maka beruntunglah orang-orang yang sibuk. Karena orang sibuk yang hatinya dipenuhi cahaya Ilahi, tahu bahwa dia; berkerja bersama Tuhannya.  Jadi, meskipun sibuk hingga ke ubun-ubun; hatinya tetap saja bersih. Dan hari-harinya, tetap saja indah. Insya Allah ya. Cobain deh.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 14 Januari 2013

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: