Sindrom Sibuk Dari Hong Kong

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Aaaaaarrrggh! Rasanya kok pekerjaan tidak kelar-kelar. Selesai yang ini. Muncul yang itu. Tuntas yang itu, bermunculan lagi urusan-urusan lainnya. Seperti hujan di bulan desember saja. Nggak ada yang bisa membendungnya, meskipun sudah menggunakan payung. Jika demikian. Waktu, rasanya seperti mengerut. Seolah jumlah detiknya lebih sedikit daripada yang dimiliki oleh orang lain. Anda mengalami hal seperti itu? Bagaimana dengan kolega-kolega Anda? Enak ya, mereka. Kerja gampang gitu aja sudah dapat bayaran besar. Bikin iri di hati saja.
 
Dulu sekali ketika masih bekerja. Saya punya sahabat. Sibuk sekali. Saking sibuknya, setiap kali saya bertemu dengannya, sahabat saya ini mengatakan;”Gue pusing banget deh Dang. Kerjaan setumpuk-tumpuk begini!” kira-kira begitulah. Memang di meja kerjanya berbagai buku, kertas, dan dokumen bertumpuk-tumpuk. Sering kali jam 9 malam masih dikantor. Memelototi meja kerjanya yang nyaris doyong karena kelebihan beban. Mungkin Anda hanya melihatnya dalam gambar kartun, kalau saya sih melihatnya dalam situasi nyata.
 
Dulu sekali juga. Saya punya sahabat. Sama sekali nggak sibuk. Meskipun bekerja di perusahaan yang sama. Dan menduduki jabatan tinggi yang kira-kira levelnya sama. Dia tidak sibuk. Buktinya, kalau kebanyakan orang jam 8 pagi sudah berada di kantornya. Sedangkan orang ini masih berada entah dimana. Ruang kerjanya masih gelap. Jika makan siang tiba, keluar kantor cepat-cepat dan kembali masuk lagi lambat-lambat. Kalau saya ditanya kemana dia; saya pun akan menjawab ‘au ah elap….’
 
Mari memastikan bahwa Anda memahami situasi yang saya ceritakan ini sama persis seperti yang saya maksudkan. Begini. Orang yang saya ceritakan itu bekerja di perusahaan yang sama. Jabatan yang levelnya sama. Tanggungjawab yang sama. Tugas yang sama. Semuanya sama. Tapi situasinya berbeda. Sekarang saya ingin bertanya kepada Anda; orang pertama atau kedua kah yang – menurut pendapat Anda – paling enak kerjaannya?
 
Sekali lagi, dalam cerita pertama saya mengisahkan orang yang sibuknya minta ampun. Dan dalam kisah kedua menceritakan orang yang ‘nyantainya’ minta ampun. Tapi boleh dibilang gaji dan fasilitas apapun dari kantor diterimanya sama. Bonus juga sama. Penilaian dari atasan, sama juga. Tidak ada bedanya. Anda pilih jadi orang pertama atau kedua? Kunci jawaban Anda.
 
Kebanyakan orang memilih untuk menjadi orang kedua. Ngapain kerja susah-susah kalau hasilnya sama dengan orang lain yang kerjanya nyantai kan? Jarang yang memilih menjadi orang pertama. Lagian, siapa juga yang mau hidupnya dikungkung oleh pekerjaan yang tidak selesai-selesai. Jawaban Anda seperti itu juga? Tidak usah ragu untuk berpendapat. Karena, normal aja kalau Anda memilih menjadi orang kedua. Tidak ada orang yang boleh mempertanyakan pilihan Anda. Lantas, apa hubungannya kesibukan mereka dengan Hong Kong?
 
Begini. Saya, akan memberitahukan sebuah rahasia besar kepada Anda. Rahasia itu berbunyi begini; tokoh yang saya sebutkan dalam kedua cerita diatas adalah tentang orang yang sama. Hanya ada satu orang dalam kedua cerita saya diatas. Lho, kok bisa? Oh, bisa sekali. Tapi… bukankah kedua situasi itu sangat bertentangan? Memang. Tetapi, jika Anda bisa mengingat kembali pelajaran IPA di SMP tentang magnet batang, maka Anda akan paham pahwa situasi yang saling bertolak belakang itu bisa menyatu sedemikian rupa dalam perilaku seorang pekerja professional. Sama seperti kutub utara dan kutub selatan menjadi satu kesatuan utuh dalam sebuah magnet batang.
 
Sekarang Anda paham. Bahwa kita, tidak sedang menceritakan orang lain. Kita, sedang membicarakan sebuah ironi tentang diri kita sendiri. Yang sering merasa terlampau banyak pekerjaan. Kekurangan waktu dan sumber daya untuk bisa menyelesaikan semua penugasan dengan baik. Namun disisi lain, kita masih menyia-nyiakan waktu kita. Memecah belah perhatian kita. Membuang-buang tenaga kita. Dan menghambur-hamburkan sumber daya lainnya yang kita miliki. Dan kita, masih mengatakan diri kita ini sibuk bukan kepalang. Maka pantas jika kepada orang seperti kita ini dikatakan; “Sibuk? Sibuk dari Hong Kong!
 
Paling enak memang jika menggunjingkan orang lain, ya. Padahal, tanpa kita sadari jika sebenarnya perilaku orang yang kita gunjingkan itu melekat didalam diri kita sendiri. Seperti pergunjingan yang saya dalangi dalam kedua kisah nyata diatas. Sepertinya saja saya ngomongin orang lain. Padahal, sifat-sifat orang itu sebenarnya ada dalam diri saya sendiri. Bagaimana dengan Anda? Apakah mempunyai situasi seperti yang saya ceritakan itu? Syukur, jika Anda tidak demikian. Namun, jika ternyata kedua situasi itupun menjadi ironi Anda…. Semoga mulai sekarang kita bisa menyadari ironi itu. Lalu, memperbaikinya. Sebab, jika kita terus menerus seperti itu; maka, kita akan terus sibuk. Tanpa hasil yang signifikan.
 
Apa yang terjadi pada sahabat saya yang saya ceritakan tadi? Begini kejadiannya: akibat mengalami ironi itu – sibuk tapi nyantai – muncullah serangan ‘keteteran’. Setelah keteteran, kemudian terkena sindrom mengeluh berkepanjangan. Setelah kena sindro mengeluh  itu, lalu mengalami kekesalan. Sejak kesal itu muncul, mulai hitung-hitungan – digaji dua kali lipat juga rasanya nggak bakal sepadan. Dengan sikap hitung-hitungan itu, kemudian dihantui kemalasan. Lalu kemalasan itu membawanya kepada kemauan untuk mengerjakan hanya sedikit saja. Karena kejanya sedikit maka pekerjaan yang tertunda semakin bertumpuk. Karena pekerjaannya semakin bertumpuk maka… siklus itu dimulai dari awal lagi.
 
Demikian terus sehingga terjadi akumulasi energy dan sikap buruk yang terus menerus bertumpuk-tumpuk. Saya tidak akan menceritakan akhir dari kisah ini. Karena, saya yakin. Nalar Anda akan sanggup untuk memperkirakan berbagai kemungkinan skenario yang cocok atas akhir karir eksekutif seperti itu. Lagi pula, tujuan kita kan bukan menceritkan orang lain. Melainkan menengok kedalam diri kita sendiri, dan menemukan bahwa ternyata; kita masih memiliki sifat-sifat seperti itu. Dengan begitu, kita masih punya kesempatan untuk melakukan perbaikan bagi diri sendiri dan perusahaan yang telah memberikan amanah dan kepercayaan ini.
 
Dari mana perbaikan itu mesti kita lakukan? Itu pertanyaan yang bagus. Supaya pembahasan kita ini tidak hanya menjadi kudapan teoritis yang mengawang-awang. Gampang. Sahabatku. Mulailah merenungkan firman Tuhan dalam surah 103 ayat 1: “Demi waktu!” Demikian bunyinya. Singkat tapi padat. Melalui firman itu Tuhan mengisyaratkan kepada kita cara memperbaiki sindrom ‘Sibuk Dari Hong Kong!’ itu. Yaitu; dengan memanfaatkan waktu yang kita miliki. Memastikan bahwa waktu berharga kita digunakan untuk melakukan hal-hal baik dan produktif.
 
Mari kembali mengingat waktu kerja, karena didalamnya ada kewajiban. Mengingat waktu istirahat karena didalamnya ada hak kita. Dan mengingat, bahwa hidup kita; dibatasi oleh waktu. Dengan begitu, kita bisa menyeimbangkan antara hak dan kewajiban secara adil supaya dalam hidup yang waktunya terbatas ini; kita bisa benar-benar mengoptimalkan potensi diri. Dan memaksimalkan hasil yang mungkin bisa kita raih. Insya Allah.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 10 Januari 2013

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: