Resolusi Pribadi Tahun Ini

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Entah kapan dimulainya. Saya tidak begitu ingat awalnya. Namun, setiap akhir tahun selalu muncul sebuah kata yang tiba-tiba saja naik daun. Resolusi. Demikian kata itu berbunyi. Kata itu punya pengaruh besar bagi banyak orang. Jika Anda terbiasa membuat resolusi tahun baru, atau – minimal – ikut memikirkan soal resolusi tahun baru, maka Anda termasuk orang yang terpengaruh itu. Tenang saja, itu bukan sebuah kejahatan kok. Jadi santai saja. Saya pun termasuk orang yang terpengaruh. Khususnya ketika saya bertanya; apa sih arti resolusi itu? Anda sudah tahu artinya resolusi itu apa?
 
Kita tidak akan menemukan arti kata resolusi terkait dengan tahun baru dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Dalam kamus istilah laboratorium juga ada kata ‘resolusi’, namun artinya tidak berhubungan dengan tahun baru. Begitu juga dengan teknologi gambar baik gambar dinamis maupun gambar statis yang sama-sama punya istilah resolusi, tetapi maksudnya berbeda lagi. Arti umum dari resolusi itu sendiri berkaitan dengan keputusan rapat atau tuntutan tertulis terhadap sesuatu. Kalau Anda ingat, dulu ketika zaman jaya-jayanya TVRI, kita sering  mendengar istilah ‘resolusi dewan keamanan PBB’. Maksudnya, keputusan dari hasil rapat dewan keamanan PBB. Sedangkan arti kata resolusi dalam urusan pribadi adalah; the firm decision to do or not to do something…. Maksudnya, kita membuat komitmen pribadi untuk melakukan sesuatu, atau tidak melakukan sesuatu. Begitulah yang tertera dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary.
 
Dalam perjalanannya kemudian, makna resolusi itu berkembang menjadi ‘harapan’ atau ‘cita-cita’ yang ingin kita capai. Maka jadilah kita ramai-ramai membuat resolusi setiap kali pergantian tahun terjadi. Pertanyaannya adalah; kenapa sih kita perlu paham makna resolusi itu apa? Supaya kita tidak sekedar ikut-ikutan. Memangnya selama ini kita hanya ikut-ikutan? Itu menuduh namanya. Saya tidak tahu persis jika Anda sekedar ikut-ikutan atau tidak. Yang jelas, coba ingat-ingat kembali; apakah daftar resolusi yang Anda buat selama ini benar-benar Anda perjuangkan? Atau diingat dengan kuat selama bulan January. Diperjuangkan selama February. Dan dianggap mustahil di bulan maret. Lalu, mulai bulan April, dilupakan begitu saja. Lantas…. Bulan desember…, dibikin lagi resolusi yang baru? Jika indikasi seperti itu yang Anda alami, mungkin – ini baru mungkin lho ya – Anda belum benar-benar memahami apa sih makna resolusi itu.
 
Keputusan bulat. Tekad kuat. Komitmen. Itulah makna utama dari resolusi. Kita berkomiten, artinya sudah ada niat. Namun, niat saja kan sering tidak bisa membawa kita ke tempat yang dituju. To do or not to do something, itulah kata kunci yang kedua. Lakukan atau tidak melakukan sesuatu. Itulah tindakan yang mesti mengikuti keputusan itu.
 
Saya niat berhenti merokok. Tetapi, saya masih merokok dengan alasan ‘pelan-pelanlah berhentinya,’ misalnya. Maka itu menunjukkan bahwa resolusi kita tidak dibarengi dengan komitmen untuk tidak melakukan yang kita katakan tidak akan kita lakukan itu.
 
Sekarang, mari kita lihat kertas berisi resolusi yang biasa Anda buat. Bentuknya seperti daftar belanjaan, bukan? Ada sederet keinginan Anda. Saking banyaknya, Anda sendiri sampai tidak ingat lagi apa saja. Bayangkan saja deh; ingat pun tidak. Bagaimana kita bisa memperjuangkannya? Aneh kan kita ini. Ah, tenang saja; ‘semesta akan mendukung kok.’ Begitu kita berkilah. Benar, semesta itu akan mendukung. Tetapi hanya mendukung mereka yang bersedia memperjuangkan apa yang dicita-citakannya. Kalau hanya sekedar menulisnya? Itu mendikte semesta namanya.
 
Maka mulai tahun ini, berhentilah membuat daftar belanjaan seperti itu. Tidak ada gunannya. Jadi, Kang Dadang ini anti resolusi? Bukan begitu. Saya ingin mengajak Anda menemani saya membuat resolusi yang lebih baik. Yang bukan seperti daftar belanjaan berisi list semua keinginan kita. Saya ingin belajar untuk fokus kepada satu atau dua cita-cita saja di tahun depan.
 
Lho, Kang, bukankah kita dianjurkan untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit? Betul. Tapi bukan bercita-cita sebanyak bintang dilangit. Boleh, menuliskan resolusi yang banyak. Tetapi, itu untuk jangka waktu yang panjang hingga ke masa depan. Khusus untuk satu tahun ke depan, cukuplah memfokuskan kepada satu, dua atau maksimal tiga hal penting saja. Tidak usah lebih dari itu. Kenapa? Karena kalau daftar belanjaan Anda terlampau banyak hingga melampaui kemampuan belanja Anda, maka itu hanya akan menjadikan Anda orang yang banyak hutang janji dan cita-cita. Janji doang tahun depan bakal begini dan begitu. Kenyataannya, ah sudahlah lupakan saja. Toh selama ini juga sudah terbiasa membuat resolusi yang tidak jadi kenyataan. Begitu kan kita?
 
Untuk tahun 2013, saya hanya punya 2 resolusi. Satu resolusi yang berkaitan dengan karir bisnis dan pekerjaan saya. Sedangkan satu lagi berkaitan dengan kehidupan kelurga, anak-anak dan istri saya. Jika Anda tidak keberatan, saya akan terbuka menginformasikan resolusi nomor satu saya. Selain bisa menjadi contoh bagi Anda yang ingin membuat resolusi, juga bisa menjadi deklarasi bagi saya supaya lebih terdorong untuk benar-benar memperjuangkannya. Begini resolusi nomor satu saya untuk tahun 2013 nanti:
 
MEMULAI BISNIS PENERBITAN SENDIRI
DENGAN MINIMAL 4 BUKU TERBIT
DARI NASKAH SENDIRI
 
Tidak ada pakem khusus untuk membuat resolusi. Jadi, Anda pun bisa merumuskan resolusi Anda sendiri. Sesuai dengan keinginan terdalam dari dalam diri Anda. Namun, resolusi yang baik antara lain ditandai oleh adanya tiga unsur ini: Pertama, definisi yang jelas atas apa yang ingin kita capai. Kedua, ada ukuran yang jelas secara kuantitatif. Dan ketiga, ada paparan spesifik yang menjelaskan lebih dalam. Misalnya, dalam resolusi saya diatas itu.
 
Unsur pertamanya menjelaskan apa yang ingin saya capai melalui komitmen pribadi yaitu; “Memulai Bisnis Penerbitan Sendiri”. Selama ini naskah buku saya diterbitkan oleh pihak lain. Saya selalu bergantung kepada keputusan pihak penerbit, apakah menerima atau menolak naskah saya. Mulai tahun depan, saya ingin mengambil alih kontrolnya. Sehingga keputusannya tidak ditangan orang lain. Melainkan ditangan saya sendiri. Dari sudut pandang itu, kemudian saya melihat bahwa soal penerbitan ini bisa menjadi ladang bisnis yang menjanjikan. Simak misalnya Gramedia, Mizan, dan berbagai penerbit lainnya. Tidak mungkin mereka sampai sebesar itu jika peluang bisnisnya jelek.
 
Unsur kedua menggambarkan alat ukur yang akan saya gunakan di tahun pertama itu, yaitu: “Dengan Minimal 4 Buku Terbit”. Dari pernyataan ini saya tahu bagaimana menentukan apakah saya sudah berhasil mewujudkan resolusi ini atau tidak. Dan saya tahu, berapa banyak yang harus saya hasilkan. Hanya 4 judul buku? Tidak masalah. Karena ini baru sebuah permulaan. Bukankah tidak ada orang yang lahir langsung menjadi pria atau perempuan dewasa? Semuanya mulai dari yang kecil. Lalu tumbuh menjadi besar. Lagipula, poin pentingnya bukanlah soal berapa banyak atau seberapa besar, melainkan ada sesuatu yang jelas untuk diperjuangkan, dan diukur tingkat keberhasilannya secara kuantitatif.
 
Unsur ketiga, menggambarkan kriteria spesifik yang menentukan bobot dari hasil yang kita capai, yaitu; “Dari Naskah Sendiri”. Mencari naskah dari luar itu gampang lho. Karena, banyak sekali orang yang ingin karya tulisnya terbit. Tapi menulis dengan naskah sendiri, merupakan sebuah tantangan tersendiri. Artinya, itu menuntut saya untuk menghasilkan 4 naskah yang siap diterbitkan. Dengan penjelasan yang lebih spesifik ini, maka saya punya alat ukur lain. Jika sanggup menerbitkan 4 judul buku, tapi tidak semuanya naskah saya sendiri – misalnya – maka nilai keberhasilan resolusi itu tidak sebaik seandainya saya bisa mencapainya melalui naskah sendiri sesuai dengan kriteria spesifik yang sudah saya tentukan.
 
Gampang, kan? Iya. Memang gampang kok, kalau hanya membuat resolusi. Segampang membuat daftar belanjaan. Bahkah Anda mungkin bisa membuat resolusi yang jauh lebih baik dari contoh yang saya tunjukkan diatas. Tapi, menjalankannya dengan komitmen penuh; itu tidak gampang. Buktinya, kebanyakan orang hanya berjuang untuk mewujudkan resolusinya sampai bulan februari saja kok. Begitu masuk bulan maret, bubar jalan. Kita tidak ingin mengalami hal seperti itu lagi kan? Kalau begitu, mulai sekarang; mari pahami dengan baik apa sih artinya resolusi itu. Lalu, fokuslah pada satu, dua atau maksimal tiga resolusi saja. Kemudian, kita sama-sama saling mendoakan dan mengingatkan; sudah sejauh mana resolusi kita diperjuangkan. Insya Allah, jika kita bersungguh-sungguh; Tuhan akan memerintahkan kepada semesta agar mendukung kita.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 27 Desember 2012

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: