Memberi Bukan Membayar

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Didalam mobil yang ditumpangi oleh Natin itu ada Ayah, Mama, Kakak Ayang yang sekolah di SMP, Kakak Aci di SD dan Abang Z yang juga masih SD. Sejak mobil mereka masuk ke gerbang mall itu juga sudah panjang sekali antriannya. Hari libur begini ke mall seperti itu? Cari parkirannya saja sudah menjadi jibaku tersendiri.
 
Ayah terus menuju ke parkir basement. Bukan hanya karena parkiran di halaman mall sudah padet banget. Tapi karena lebih nyaman jika nanti turun hujan. Antrian masih panjang. Padahal di basement parkir sudah banyak yang mengambil posisi parallel. Tak ada ruang lagi tampaknya. Tapi Ayah tetap mengatakan;”Lihat saja nanti. Kita akan dapat tempat parkir.” Entah kenapa. Setiap kali parkiran penuh, Ayah selalu yakin akan dapat parkiran. Dan selama ini, selalu terbukti benar.
 
Setelah berputar sebentar. Ternyata keyakinan ayah kembali benar. Ada sebuah tempat parkir yang tersembunyi. Letaknya agak di pojok. Dan terhalang oleh mobil yang diparkir parallel. Bukan itu saja, sudut putarannya sempit sekali sehingga cukup sulit untuk masuk kesitu. Pada saat itulah petugas parkir datang. Lalu dia mendorong mobil yang menghalang. Kemudian kami pun mempunyai jalan masuk yang lapang.
 
“Kalau nggak dibantu tukang parkir itu Ayah bisa masuk nggak?” Tanya Mama. Sembari memperhatikan tukang parkir yang terus memberi tanda dengan hanya tiga kata ‘ya’, ‘terus’, dan ‘op’ itu.
 
“Bisa sih,” jawab Ayah. “Tapi sulit banget nih.”
“Dikasih uang ya Yah…” Kata Aci.
“Iyyaaa, tenang aja…” jawab Ayah sambil merogoh selembar urang kertas dari lubang kecil di dashboard.
 
“Dikasih berapa Yah?” Tanya Abang Z.
“Dua ribu dong…” Jawab Ayah mantap sekali. Kalau seribu kan nggak manusiawi. Apalagi cuman lima ratus rupiah. Nggak banget deh.
“Diiih…” Begitu respon Kakak Ayang. Seperti biasanya pendek aja. Mungkin juga kalau bunyi ‘dih’ itu ditujukan pada obyek yang lainnya.
“Lima ribu dong Yaaaah…..” Timpal Kakak Aci.
 
“Hah? Besar Amat?” Ayah melongo.
“Ya iyya dong Yah, dia kan udah kerja susah payah…” Mama ikut mengeroyok Ayah.
 
Natin sih diam saja. Tidak ikut komentar. Dia hanya menyaksikan apa yang tengah terjadi didalam mobil itu.
 
“Kita sebenarnya dilarang memberi tips loh disini.” Sergah Ayah. “Dua ribu juga sudah cukup dong? Parkir satu jam saja cuman berapa?” katanya lagi.
 
“Yaah… Ayah nih….” Tegas Aci. “Bayangkan aja dong Yah, dia digajinya kan nunggu sebulan lagi….”
“Iyya ya Ci,” kata Mama. “Berapa juga gajinya….”
“I-iyyya tapi kan dua ribu cukup untuk kerjaan kayak gini. Lagian dia kan sudah digaji. Ini bonus dari pelanggan yang berterimakasih karena dia sudah bekerja seperti seharusnya.” Merasa dikeroyok, Ayah menjadi sibuk menceramahi. Niatnya sih, bela diri.
 
“Ayah….” Kata Aci. “Jangan bayar dia dong Yah….” Katanya.
“Halah, kamu itu Paw!” begitu gaya Ayah kalau sudah kepepet. “Sekarang malah bilang jangan bayar. Maksudnya gimana tuch?”
 
“Ayah jangan bayar dia untuk pekerjaannya,” katanya. “Ayah kasih aja dia sesuai dengan rasa kasih sayang Ayah…..”
 
Deng…..
Natin tertegun. Bersama dengan wajah Ayah yang langsung berubah.
Gagang perseneling yang tadi berada di posisi R, Ayah pindahin ke P. Lalu kedua tangan Ayah melepaskan gagang kemudi. Lantas, tangan kanan Ayah menarik dompet dari saku belakangnya. Lima ribu rupiah pun sekarang sudah berada didalam genggamannya. Setelah itu, barulah Ayah mundur. Sampai mobil mereka terparkir rapi.
 
Ketika turun, Ayah melintasi petugas parkir itu. Lalu tangan Ayah menempel ditangannya. Natin masih bisa melihat senyum senang petugas parkir itu ketika mengucapkan ‘terimakasih’. Sama seperti yang Ayah katakan kepadanya.
 
“Asyik kan Yah?” kata Aci.
 
“Mhhmm.. h—ya. Asyik. Asyik…..” Jawab Ayah.
 
Natin menyaksikan. Betapa asyiknya ketika melakukan sesuatu untuk orang lain; bukan semata-mata berdasarkan ‘berapa harga’ pekerjaannya itu. Melainkan berdasarkan kasih sayang kita kepadanya. Natin tahu jika Ayah keluar uang lebih banyak untuk mengikuti dorongan kasih sayang itu. Tapi Natin juga tahu, bahwa ‘keasyikan’ yang Ayah dapatkan atas tindakannya itu jauh lebih bernilai daripada uang itu…….
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 24 Desember 2012

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: