Ikhtiar Dan Rezeki Yang Ditakar

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Natin baru saja melintas di warung kopi. Sekelompok orang sedang bermain gaple. Padahal mestinya orang dewasa seperti mereka dijam begini sibuk bekerja. Bukan nongkrong begitu. Mereka kan punya kewajiban menafkahi keluarga. Tapi selalu ada saja argumentasinya. “Rezeki itu sudah ada yang mengatur, Mpooook….” Kata mereka. “Kita tidur juga Gusti Allah tetap ngasih rezeki kok…” timpal yang lainnya. Lalu yang lainnya lagi menambahkan;”Kerja lebih keras juga nggak bakal menambah rezeki kita kalau takdir Tuhan berkata lain…..” Natin, tersenyum mendengar celoteh mereka. Lalu bergegas meninggalkan majlis gaple itu.
 
Suara mereka sudah tidak terdengar lagi. Namun Natin masih senyum-senyum juga. Bukan senyum karena mentertawakan mereka. Melainkan teringat ketika bertemu dengan gurunya zaman dahulu. Natin bertanya kepada gurunya perihal urusan rezeki itu. Ada kebingungan kronis mengiritasi hatinya. Katanya sudah ditentukan takarannya oleh Tuhan. Dan jika takaran itu sudah ditentukan, maka penyerahannya tidak lagi bergantung kepada orang itu. Tetap akan diberikan meski dia tidur sepanjang hari. Dan jika takaran itu sudah ditentukan, maka usaha sekeras apapun tidak akan menambah jatahnya.
 
Hari itu, sabtu. Sebagai bukti menerima tantangan itu, Ayah langsung pergi ke toko yang menjual alat-alat pancing. Abang kegirangan mendapati Ayah pulang membawa alat pancing. “Besok, kita pergi memancing Bang.” kata Ayah.
 
“Hari ini aja Yaaah…., please” manja Abang.
“Wah, kalau kita pergi sekarang udah kesorean Bang.” Jawab Ayah. “Besok kita berangkat pagi-pagi, oke….”
 
Keesokan harinya, minggu yang mendung. Tapi Ayah dan Abang sudah berniat untuk pergi mancing. Mama pun sudah menyiapkan umpan istimewa yang dibuat dari campuran bahan-bahan pembuat kue donat. Dengan kompoisisi rahasia plus telur ekstra dan terasi. Meskipun Mama ragu jika umpan itu bakal dimakan ikan, tapi Ayah meyakinkan Mama jika usahanya tidak akan sia-sia. Di rumah, kue bikinan Mama selalu ludes. Ikan bawal pun pasti tidak sanggup menahan godaan kelezatannya.  
 
Sesampai di kolam pemancingan, Ayah membayar tiket masuknya. Kemudian pemilik kolam menambahkan ikan hidup kedalam kolam. Lalu. Mereka pun ikut bergabung dengan para pemancing lain yang sudah pada duluan tiba.
 
Sudah setengah hari. Masih nihil. Padahal, pemancing lain sudah berkali-kali mendapatkan ikannya. “Kenapa kita belum dapat juga Yah?” Abang bertanya dengan harapan yang hampa.
 
“Kalau mancing itu, ya harus sabar Bang…” jawab Ayah. Sebuah jawaban yang bisa menenangkan anak kelas 3 SD itu. Setidaknya untuk sementara waktu. Nyatanya, setiap kali pemancing lain dapat ikan, Abang kembali menanyakan hal yang sama. Hingga sore. Keadannya tidak berubah juga.
 
“Kalau kita sabar ternyata tidak mendapatkan ikan, Yah….” Kata Abang. Entah curhat. Entah protes karena nasihat kesabaran Ayah tidak menghasilkan apa-apa.  
 
Natin bisa melihat jelas wajah Ayah yang tengah berusaha mencari jawaban yang cocok untuk pertanyaan itu. Lalu… “kita coba lagi minggu depan ya….” Dari wajahnya, Natin tahu persis jika Ayah sendiri tengah mempertanyakan arti kesabaran itu kepada dirinya sendiri. Jika semua pemancing sama sabarnya, kenapa hasilnya berbeda? Keimanan Ayah, kayaknya sudah mulai goyah. Buat Abang yang masih kecil, ini hanyalah soal memancing ikan. Tapi buat orang dewasa seperti Ayah, ini nggak sesederhana itu. Dalam mencari nafkah, Ayah sering sekali mendengar orang mengajak bersabar. Bagus sih bersabar itu. Tapi, kalau tidak ada hasilnya untuk ongkos dapur, sampai kapan bisa bersabar?
 
Minggu berikutnya. Ayah benar-benar memenuhi janjinya kepada Abang. Mereka pergi mancing lagi. Kali ini di kolam ikan Mas. Umpannya, khusus Ayah beli yang paling bagus, karena kelihatannya lidah ikan belum biasa dengan adonan kue bikinan Mama.
 
Sudah 2 jam. Ayah dan Abang belum juga menarik ikan. Sementara pemancing lain sudah berkali-kali menangkapnya. “Kalau mancing mesti sabar ya, Yah…..” kata Abang. Setengah menggugat.
 
Ayah terhenyak. Tidak bisa lagi mengatakan untuk sabar. Karena, semakin terbukti bahwa sabar itu tidak menghasilkan apa-apa. Natin terenyum melihat Ayah manggut-manggut. Dari wajah Ayah, Natin tahu kalau sekarang Ayah sadar bahwa sabar itu tidak tepat ditempatkan disitu. Ayah, telah menihilkan makna ikhtiar ketika bersembunyi dibalik kata sabar.
 
Tapi….,
Bukankah melemparkan kail itu juga merupakan ikhtiar? Bukan hanya pemancing lain yang melempar kail. Ayah juga sama. Kenapa hasil beda? Bukan hanya orang lain yang gigih bekerja mencari rezeki. Kita juga sama. Tapi kenapa diantara orang-orang yang sama-sama ikhtiar itu hasilnya tetap beda. Ada yang dapat banyak. Ada yang hanya sedikit. Bahkan ada yang tidak dapat apa-apa sama sekali. Sabar, sudah. Ikhtiar, juga sudah. Kenapa hasilnya tetap beda juga?
 
“Hati-hati sama dia Pak,” tiba-tiba seorang pemancing bicara. “Semua ikan bisa diembat habis…” katanya. Dia menunjuk kepada pemancing lain disamping Ayah. Pemancing yang sudah berkali-kali menaikkan ikan. “Orang kayak dia itu mestinya mancing dilaut, bukan dikolam cetek kayak gini….” Ledek orang itu lagi.
 
Ayah menanggapinya dengan tertawa. Tapi Natin tahu, jika tawa Ayah itu hanya kamuflase belaka. Ayah sekarang sadar bahwa selain sabar dan ikhtiar, ada hal lainnya. Orang yang dibercandain oleh pemancing lain itu terkenal jago memancing. Dia tahu kapan saat yang tepat untuk menarik pancingnya. Karena, jika terlalu dini, kail itu tidak akan terkait di mulut ikan. Dan kalau terlambat, ikan keburu kabur menggondol umpannya. Sekarang Ayah sadar. Bahwa ikhtiar, tanpa keterampilan hanya akan menghasilkan kesia-siaan.
 
Tak lama kemudian, terjadi kehebohan seperti sebelum-sebelumnya. Pemancing dipojokan kembali menarik ikan. Dalam waktu singkat, mungkin dia sudah menarik lebih dari 5 ikan. Abang hanya menonton drama tarik menarik kail pancing itu sambil menikmati pemandangan indah berupa joran yang melengkung menahan perlawanan ikan. Abang nggak bertanya lagi kepada Ayah. Mungkin dia tahu jika Ayah tidak akan punya lagi jawaban lainnya.
 
Natin mendengar Ayah bertanya kepada pemancing sebelahnya. “Kenapa disebelah sana sering sekali dapat ikan, Pak?” Lalu orang yang ditanya itu menjelaskan bahwa gerombolan ikan itu sedang berada disebelah sana. Oh. Jika Tuhan mengarahkan semua ikan ke sebelah sana. Tidak ada artinya sabar bagi pemancing sebelah sini. Bahkan, meskipun pemancing sebelah sini ini paling jago mancing sedunia. Tuhan sudah menakar jatah rezeki semua orang. Pencerahan itulah yang kemudian Ayah sampaikan kembali kepada Abang.
 
Natin geli melihat Ayah menjelaskan hal itu kepada anaknya. Karena Natin tahu, bahkan ketika menjelaskan kalimat itupun sebenarnya Ayah sendiri bingung. Antara iman dan keraguan. Semua bercampur aduk. Dalam hati Ayah memohon;”Ya Allah, berikan anakku pengalaman menarik ikan. Sekaliiiii saja Tuhan….” Tapi percuma saja berdoa jika keputusan tentang rezeki itu sudah ditentukan. Maaf, ikan ini untuk orang lain. Bukan buat kamu. Maka sabar, ikhtiar, keahlian dan doa sudah tidak ada pengaruhnya lagi.
 
Melihat Ayah, Natin seperti melihat dirinya sendiri; dulu ketika berhadapan dengan gurunya. Kegundahan Ayah. Keraguan Ayah. Keimanan Ayah yang sering bertengger dibibir jurang kekufuran, khususnya ketika uang Ayah sudah habis sama sekali. Padahal kebutuhan hidup sedang banyak-banyaknya. Dan Ayah tidak tahu lagi mesti berusaha seperti apa lagi. Kepulan asap didapur ternyata tidak bisa dinyalakan hanya dengan doa. Kesabaran. Bahkan keimanan kepada kuasa Tuhan dalam mengatur kepada siapa Dia memberi kelapangan rezeki, dan kepada siapa Dia menyempitkannya. Iman, berat dijalani dalam perut kosong seperti itu.
 
“Bekerjalah untukku selama sebulan penuh….” Demikian respon gurunya ketika Natin bertanya perihal itu. “Sebagai upahnya, kamu akan diberi makan secukupnya….” Tambah beliau. Sebuah jawaban yang tidak nyambung dengan pertanyaan. Atau, mungkin beliau tidak tahu mesti menjawab apa. Jadi, mending mengalihkan topik pembicaraan itu.
 
Natin pun menurut saja. Bagaimana pun juga, sudah menjadi kewajiban murid untuk mematuhi gurunya. Dihari pertama Natin bekerja di sawah gurunya. Tengah hari, ada kiriman makan siang seperti yang dijanjikan gurunya. Nikmat rasanya menyantap makanan lezat ditengah sawah selepas bekerja seharian itu. Porsinya pas benar dengan ukuran perutnya. Alhamdulillah. Kerja kerasnya terbalaskan dengan sempurna.
 
Di hari kedua, Natin bekerja lebih giat. Sambil berharap siapa tahu upah makan siangnya semakin banyak. Namun ketika jatah makan siang itu datang. Natin tidak melihat adanya perubahan. Porsinya pas benar dengan ukuran perutnya. Subhanallah. Takaran Tuhan atas rezeki seseorang itu sudah sedemikian sempurna. Kerja lebih keras pun tidak bisa mengubah takarannya.  
 
Di hari ketiga. Natin kecapean. Lelah dicampur elusan angin sepoi membuatnya tertidur seharian. Dia terjaga ketika pengantar makanan membangunkannya. “Celaka,” begitu pikir Natin. “Bisa-bisa hari ini aku tidak mendapatkan jatah makan…” batinnya terus menerawang. Tapi, kekhawatirannya tidak terbukti. Jatah makan itu tetap saja diberikan kepadanya. Allahu Akbar. Jika Allah sudah berkehendak, maka tidak ada seorang pun yang sanggup menolak atau menghalanginya.
 
Demikianlah hari demi hari dijalaninya. Selalu dia berada dalam siklus 3 harian itu. Hari pertama bekerja biasa. Hari kedua bekerja lebih keras. Dan hari ketiganya ketiduran. Terus begitu hingga genap tiga puluh hari dalam bulan itu.
 
Diakhir siklus 30 hari itu, sang guru memanggil Natin. “Sudah menemukan jawabannya, mengapa takaran Tuhan atas rezeki seseorang tidak berubah?”
 
Natin menggeleng. Sambil terpaksa mengatakan ‘belum guru…’ hanya untuk menjaga kesantunan saja. Sementara didalam hatinya berbisik ‘mestinya kan guru yang tahu jawabannya….’
 
Gurunya tersenyum lalu…”Ini bonus bagi kamu untuk bekerja selama 10 hari….”
Natin yang sama sekali tidak menduga akan mendapatkan bonus itu terperanjat. Dia senang alang kepalang. Namun, dia merasa jika ada kesalahan perhitungan gurunya. “M-Maaf guru,” katanya. “Bukankah… guru menugaskan saya bekerja selama 30 hari?” lanjutnya. “Mengapa guru menyebutkan hanya 10 hari?” Sekalipun begitu, tangan Natin terulur untuk menerima bonus dari gurunya.
 
Sang guru memandangnya dengan bijak. “Aku tahu itu,” katanya. “Kamu ditugaskan untuk bekerja selama 30 hari. Tapi…” beliau melanjutkan. “Hanya sepuluh hari kamu bekerja lebih banyak dari yang semestinya.”
 
“Bagaimana dengan pekerjaan baik saya selama 10 hari lainnya?” Tanya Natin. Siapa tahu gurunya mau berbaik hati menambah sedikit bonus lagi.
 “Untuk sepuluh hari itu, kamu sudah bekerja dengan semestinya. Dan imbalannya pun sudah kamu dapatkan berupa jatah makan sesuai perjanjian yang sudah kita sepakati, bukan?” Demikian gurunya menjelaskan.
 
Natin. Hanya bisa mengangguk-angguk saja. Tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya. Karena dia pun sadar sudah mendapatkan upah sesuai perjanjian.
 
“Oh, ya…” kata gurunya. “Kamu tidur di 10 hari lainnya, kan? Lanjut beliau.
“M-mhhh…” Natin yang tidak menyangka akan ditanya begitu jadi gelagapan. Dia tidak menyangka jika gurunya tahu soal itu. Dikiranya hanya Tuhan yang Maha Tahu. Ternyata Tuhan pun memberitahu gurunya soal itu. Tapi, tak apalah. Karena selama tidur itupun dia tetap mendapatkan upah berupa jatah makan siangnya.
 
“Ketika kamu tidur itu,” Sang guru melanjutkan. “Kamu sudah mengurangi perjanjianmu. Kamu bekerja dibawah standar. Padahal kamu mendapatkan upah seperti biasanya.” Katanya. “Jangan begitu lagi ya…”
 
Natin lega karena guru tidak memarahinya. “Baik guru. Saya mengerti.” Katanya. Dia senang karena ditangannya sekarang sudah teronggok sejumlah hadiah sebagai bonus dari kerja bagusnya selama 10 hari. ‘Lumayan’, begitulah pikirnya.
 
Sang guru beranjak pergi. Namun, langkah beliau terhenti. Lalu, “Ah. Ya. “ katanya. Beliau membalikkan badannya. Mendekati Natin. Kemudian mengambil kembali semua hadiah yang tadi sudah diberikannya. Lalu pergi meninggalkan Natin yang melongo sendirian.
 
“G-guru….” Kata Natin. “Mengapa guru mengambil kembali hadiah itu?”
“Untuk membayar hutang-hutangmu selama 10 hari tidur disaat mesti bekerja itu”. Begitulah jawab gurunya sambil berlalu tanpa menoleh lagi.
 
Sudah lama sekali sejak pertemuan dengan gurunya itu. Sekarang. Natin menyaksikan Ayah yang sedang berada dipersimpangan jalan. Antara keyakinannya bahwa rezeki setiap orang sudah ditentukan Tuhan. Nggak bakal tertukar. Dan keraguan didalam hatinya. Yang mempertanyakan apakah Tuhan sungguh-sungguh adil dengan membiarkan semua usahanya sia-sia? Keimanan Ayah tengah diuji. Dan ketakwaannya sudah berada diujung tanduk, sekarang.
 
Natin tidak ingin menasihati Ayah didepan anaknya yang masih kecil. Apalagi sambil ditonton oleh para pemancing lainnya yang rata-rata sudah berhasil menangkap ikan. Natin hanya menitipkan kisah pertemuan dengan gurunya itu kepada angin. Sehingga lamat-lamat, Ayah bisa mendengar nasihatnya. Lembut terasa buaian angin itu hingga Ayah dimanjakan diantara tidur dan terjaganya. Saat frekuensi otak Ayah memasuki rentang gelombang alfa itu. Ayah menemukan bahwa Tuhan tetap akan memberi rezeki kepada mahluknya. Sekalipun dia tidak mau bekerja. Meskipun kerjaan hanya tidur saja.
 
Tetapi kerja keras orang itu, akan membuka pintu rezeki lain. Yang khusus Tuhan berikan kepada mereka yang mau berikthiar lebih gigih. Lebih ulet. Dan lebih terampil dalam menjalani hari-harinya. Seperti tengah mengaji. Angin sepoi itu melantukan firman Tuhan dalam surah 37 (As-Shoffat) ayat:39: “Dan kamu tidak diberi balasan, melainkan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.”  Masih adakah keraguan dihatimu atas firman mulia itu? Sepertinya Ayah mendengar pertanyaan itu. Natin beranjak pergi. Meninggalkan Ayah yang masih mencari-cari jawabannya dari dalam dirinya sendiri.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 11 January 2013

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: