Menanti Hasil Kerja Kita

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
“Mau gajian bulan ini? Ya maulah. Mau dapat bonus? Mau. Kerja dong yang bener!” Sepertinya tidak cocok ya kalimat itu dikatakan kepada orang dewasa seperti kita. Kalau anak kecil ditanya begitu masih wajar. Tapi kalau orang dewasa? Kemungkinan orang yang bertanyanya saja yang tidak tahu tata karma. Tidak sopan sama sekali. Itu kalau kita memandang ‘ujungnya’. Tapi kalau kita memandang ‘pangkalnya’, maka kita akan bisa memahami alasan mengapa ada orang yang sampai bertanya seperti itu. Kata orang, zaman sekarang ini banyak sekali manusia yang kepingin mendapatkan gaji besar, tapi kerjanya asal-asalan. Maunya kerja gampang. Susah sedikit sudah mengeluh ini dan itu. Sulit sedikit sudah ribut begitu dan begini. Makanya, sulit mengharapkan mereka bisa bekerja dengan standar yang seharusnya hingga tuntas. Apa benar begitu ya?
 
Sebenarnya, sikap dan perilaku kerja yang kurang rajin itu sudah terjadi sejak zaman dahulu kala. Hanya saja, zaman sekarang mungkin kita lebih mudah saja mengkomunikasikannya. Makanya orang tua kita sudah sejak dulu mengajarkan tentang etika dalam bekerja. Jangan sampai mau enaknya saja, katanya. Di tatar Sunda,  pelajaran moral seperti itu antara lain dikisahkan dalam dongeng Kabayan. Si Kabayan ini digambarkan sebagai tokoh yang malasnya minta ampun. Mau dapat hasilnya, tapi tidak mau mengusahakannya. Kalau pada akhirnya mau juga bekerja, tapi kerjanya ya asal-asalan saja.
 
Kalau saya perhatikan, di tatar Sunda itu cukup banyak orang yang mau enaknya saja. Ingin terima hasilnya. Tapi jerih payahnya ogah. Waktu saya pergi ke daerah lain, ternyata disana juga banyak yang begitu. Ketika bertugas di tempat lainnya lagi, saya menemukan juga orang-orang yang seperti itu. Saat mengamati perilaku orang didunia kerja, saya lebih banyak lagi menemukan orang-orang yang tidak berkomitmen terhadap pekerjaannya, namun selalu menuntut untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak. Semakin modern zaman kita, rupanya semakin banyak yang perilaku kerjanya seperti si Kabayan. Tidak hanya ditatar Sunda ternyata. Dimana pun selalu bisa kita temui orang-orang yang malas bekerja seperti si Kabayan. Jika ada orang yang mengamati keseharian kerja saya, mungkin orang itu juga bisa menemukan sifat malas si Kabayan didalam diri saya. Siapa tahu, kan? Di dalam diri Anda? Saya tidak berani berkata apa-apa.
 
Sekarang, saya paham. Mengapa zaman dahulu para sepuh tatar Sunda tidak bosan-bosannya mengingatkan generasi muda agar tidak meniru kemalasan si Kabayan. Misalnya, melalui kisah ketika si Kabayan disuruh memetik buah nangka oleh Ibu mertuanya. Boleh ya saya ceritakan kembali? Dengan cara saya sendiri, dan menggunakan bahasa Indonesia tentu saja.
 
Si Kabayan yang gemar memakan buah berasa manis itu heran, kenapa mertuanya tidak lagi menyuguhi buah nangka pagi ini. Rasa penasaran mendorongnya untuk bertanya. Lalu, tahulah dia alasannya. Persediaan buah nangka di rumah mertuanya sudah tidak bersisa. “Kalau mau makan buah nangka, kamu harus memetiknya dulu di kebun,” demikian kata mertuanya.
 
“Kenapa mesti dipetik atuh Ambu, nangka teh?” jawab si Kabayan. “Kan biasanya juga sudah ada diatas meja makan….”  Maklum, selama ini dia hanya tinggal terima hasilnya saja. Tidak mau kerjanya.
 
“Iya sekarang giliran kamu yang kerja,” kata Ibu mertuanya.”Sana pergi ke kebun.” Perintahnya. “Petik nangka yang besar dan sudah tua ya….”
 
Akhirnya Kabayan pergi juga dengan gerutuan dan gayanya yang malas-malasan. Sesampai di kebun, dia mencari-cari nangka yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh Ibu mertuanya. Besar dan sudah tua. Dapat tentu saja. Ada nangka yang besar. Dan sudah tua. Maka si Kabayan pun memetiknya.
 
Bedebum!
Buah nangka itu pun jatuh dari pohonnya. Dari bunyi bedebumnya itu sudah bisa dibayangkan betapa beratnya dia. Kabayan segera turun dari pohon lalu dilihatnya nangka besar dan tua itu tergolek di tanah. ‘Euleuh-euleuh ini nangka meni segede ujubilah,’ gumam Kabayan. Sambil membayangkan betapa berat dan susah payahnya jika mesti memanggulnya sampai ke rumah. Dia pun memutar otaknya untuk mendapatkan jalan keluarnya. THING! Lampu di kepalanya menyala. Dia sudah menemukan solusinya.
 
Maka si Kabayan pun menyeret nangka itu ke pinggir sungai untuk dihanyutkan. Kepadanya, si Kabayan berpesan; “Kamu pulang saja duluan ke rumah Ambu,” katanya. “Ingat ya, jangan mampir-mampir dulu. Ambu sudah nungguin kamu!” Maka buah nangka itu pun memulai perjalanan pulangnya.
 
Setelah itu, si Kabayan pun bergegas pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Ibu Mertuanya bertanya; “Mana buah nangkanya, Kabayan?” katanya. “Bukankah seharian ini kamu pergi ke kebun untuk memetik nangka?”
 
“Loh, belum sampai kerumah nangkanya Ambu?” si Kabayan malah balik bertanya.
“Bagaimana mau sampai, kalau kamunya sendiri baru sampai?” balas Ibu Mertuanya. “Kamu itu sebenarnya jadi memetik buah nangka apa tidak?”
 
“Ooooh, tentu saja Ambu. Saya kan menantu yang giat bekerja.” Jawabnya.
“Ya terus mana nangkanya?” Tanya mertuanya.
 
“Itulah Ambu, saya juga bingung.” Balasnya sambil garuk-garuk kepala. “Kenapa jam segini eta si nangka teh belum juga sampai ke rumah….”
 
“Lah, kebanyakan alesan.” Jawab ibu mertuanya. “Dasar kamu itu hanya mau enaknya saja!” tambahnya.
 
Tentu saja Kabayan protes. “Bener Ambu, saya tadi ke kebun memetik nangka besar dan sudah tua…” katanya.
“Iya tapi mana nangkanya?” ibu mertuanya tidak juga percaya.
“Tadi teh sama Kabayan dihanyutkan di sungai…” jawab Kabayan.
 
“Kabayaaaan, Kabayan…” kata ibu mertuanya. “Mana bisa nangka itu sampai di rumah kalau kamu hanyutkan di sungai?”
 
“Ya bisa atuh Ambu,” jawab si Kabayan. “Kan nangkanya sudah tua. Masa sih tidak tahu caranya sampai ke rumah Ambu….”
 
Seperti cerita rakyat dari daerah lainnya, sebagai tokoh utama, si Kabayan itu adalah tokoh rekaan. Sebuah cara cerdas para sepuh menasihati generasi mudanya. Dibalik kisah-kisah jenakanya yang terkesan absurd itu tersimpan pesan moral yang mampu menembus batas-batas zaman, dan melintasi rintangan-rintangan zona wilayah. Kisahnya ketika memetik buah nangka ini misalnya. Sangat relevan untuk menjadi bahan renungan kita. Pesannya jelas sekali, jika ingin mendapatkan hasil seperti yang kita inginkan; maka kita harus mau menyelesaikan pekerjaan kita hingga tuntas.  Semakin banyak hasil yang kita inginkan, mesti semakin rajin, dan semakin gigih kita dalam menuntaskan setiap penugasan. Hal ini sejalan dengan firman Tuhan dalam surah 94 (Alam Nasyrah) ayat 7 ; “Maka jika Engkau sudah menuntaskan suatu pekerjaan, tetaplah bekerja untuk menuntaskan pekerjaan yang lainnya”.
 
Memang, ada kalanya sudah gigih pun hasilnya belum juga sesuai harapan. Namun kegigihan kita, memberi peluang yang lebih besar untuk mencapainya. “Dan hanya kepada Tuhanmu, hendaknya Engkau menggantungkan harapan….” Demikian kelanjutan firman itu dalam ayat selanjutnya. Maka ketika kita giat bekerja. Gigih menutaskan setiap pekerjaan, kelak Allah akan melunakan hati para pengambil keputusan untuk memberi kita imbalan yang sepadan. Kenyataannya kan demikian. Kepada orang-orang yang berkinerja tinggi, biasanya para pemilik usaha atau pengambil keputusan itu sayang sekali. Tuhan telah melunakkan hati mereka.
 
Tapi jika mereka tetap saja tidak mau berbaik hati? Tenang saja, Tuhan punya banyak cara untuk menghargai setiap pribadi yang berkualitas tinggi. Jika kita benar-benar tangguh dan bersungguh-sunguh, pada saatnya kelak Tuhan akan membukakan jalan yang lebih baik. Dan lebih tepat untuk kita tempuh. Namun sebelum itu, ayo kita membiasakan diri untuk bekerja hingga tuntas terlebih dahulu. Setelah itu, kita serahkan dampaknya, kepada Sang Maha Bijak. Insya Allah, hasil yang kita nanti-nantikan itu pada akhirnya akan datang juga.  
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: