Memarahi Bawahan

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Anda pernah kesal kepada anak buah? Pernah ya. Makanya, pada situasi tertentu; kita marah kepada mereka. Jika tidak pernah kesal kepada anak buah, maka ada dua kemungkinan. Pertama Anda belum lama menjadi atasan. Kedua, Anda tidak peduli dengan perilaku atau kinerja team Anda. Dengan kata lain, kesal kepada anak buah itu merupakan suatu kondisi yang normal. Sah. Manusiawi. Yang kemudian menjadi penentu dampaknya berikutnya adalah; bagaimana cara kita mengekspresikan kekesalan itu. Ada yang tertekan. Ada yang marah-marah. Dan tidak sedikit juga yang sampai memaki-maki anak buahnya. Apalagi jika kita melihat orang-orang yang jabatannya lebih tinggi dari kita pun – a.k.a atasan kita – gampang memaki orang lain. Maka kita pun tergoda untuk gampang memaki anak buah kita. Pertanyaannya adalah; apakah dengan memaki itu kemudian masalahnya atau sumber kekesalan Anda bisa tuntas?
 
Kita tahu jika masalah tidak tuntas dengan makian itu. Bahkan cenderung menimbulkan masalah baru. Tapi, kenapa yang kok sulit sekali untuk berhenti memaki anak buah. Malahan tidak jarang juga dengan kata-kata yang tidak sepatutnya sehingga anak buah merasa terhina. Dan semakin memperburuk tingkat kepercayaan mereka terhadap kepemimpinan kita. Apakah fenomena atasan tukang memaki ini banyak atau sedikit? Ah lihat di face book, misalnya. Rupanya banyak juga ya anak buah yang membalas makian atasannya dengan menumpahkan unek-unek mereka di facebook. Ada yang pake sindiran. Nama samaran. Dan, ada juga yang vulgar. Sekalipun begitu, orang yang berani bicara di facebook tentu tidak akan bisa mewakili populasi sesungguhnya dari para anak buah yang sakit hati terhadap perlakukan atasannya yang suka memaki-maki itu. Jadi, boleh diperkirakan sih jika atasan yang suka memaki tidak patut itu jumlahnya banyak.
 
Maaf ya, saya tidak sedang membicarakan tentang Anda. Karena, pertama saya mungkin tidak mengenal Anda. Kedua, saya tidak mengenal anak buah Anda. Dan ketiga, saya tidak mengetahui cara anda memimpin dan mengekpresikan kekesalan Anda kepada anak buah. Jadi, tulisan ini bukan soal sikap dan cara memimpin Anda selama ini. Tulisan ini adalah tentang fenomena atasan yang merasa berhak untuk memaki dan melontarkan kata-kata merendahkan terhadap anak buahnya. Mungkin, saya pun tanpa disadari pernah melakukannya. Saya lupa, tapi anak buah saya tetap mengingat sedetail-detailnya. Mana tahu?  Mungkin, Anda juga begitu. Saya pun tidak tahu. Tapi, dengan spirit introspeksi diri; marilah berandai-andai jika kita ini menjadi pemimpin yang seperti itu juga. Maka ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk menghentikan kebiasaan itu. Belajar menahan diri yuk. Saya juga ikutan proses belajar itu. Tidak pantas kok. Kalau pun tidak pernah, kita bisa belajar untuk semakin sadar bahwa hal itu memang tidak sepatutnya dilakukan.
 
Semoga kita semakin sadar bahwa untuk mengungkapkan kekesalan kepada anak buah selalu ada cara yang lebih baik dari sekedar kata-kata kotor kita. Bayangkan kembali anak buah yang Anda maki-maki itu. Di kantor, Anda merendahkannya. Tapi boleh jadi, dia adalah imam masjid lho. Mungkin juga dia adalah seorang penggembala yang rutin ceramah di mimbar gereja. Atau, mungkin juga dia adalah seorang biksu yang mengajari para pencari cahaya di vihara. Bagaimana mungkin kita membiarkan mulut ini menghina seorang manusia yang dihadapan Tuhan, dia adalah suci. Siapa kita ini sehingga sedemikian beraninya merendahkan orang yang dimuliakan oleh para jemaah dan pengikutnya? Berhenti deh. Sekarang juga.
 
Orang yang kita maki-maki itu, tidak memiliki jabatan tinggi dikantor. Tapi di rumah? Boleh jadi dia adalah seorang suami yang sangat dihormati oleh istrinya. Raja di rumahnya. Seorang istri yang dicintai oleh suaminya. Ratu diistana sederhananya. Seorang ayah yang dibangga-banggakan oleh anak-anaknya. Seorang ibu. Yang selalu dirindukan peluk kasih dan sayangnya oleh buah hatinya. Dimata orang rumah. Mereka adalah pribadi mulia yang dengan gigih berjuang demi nafkah yang mungkin tidak seberapa, namun berkah. Bagaimana mungkin lidah kita ini diumbar untuk merendahkan orang yang mempunyai kedudukan sedemikian tinggi dirumah mereka? Hanya gara-gara mereka adalah bawahan kita? Berhentilah. Sekarang juga.
 
Anak buah yang kita hina dinakan itu. Boleh jadi adalah anak semata wayang yang sedemikian dimanjanya oleh mama dan papa mereka. Dilarang bekerja karena orang tuanya pun sanggup memberi mereka segala kecukupan hidup. Tapi anak muda itu ingin belajar mandiri. Belajar hidup. Belajar bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri. Dia, sama seperti kita ketika dulu memulai karir ini.  Bagaimana mungkin lisan kita ini dibiarkan mengucapkan kata-kata nista kepada seorang anak muda yang sedemikian dikasihi oleh ayah bundanya. Hanya karena kita atasannya? Berhenti deh. Sekarang juga.
 
Iya. Tapi orang-orang tak becus itu tidak bisa menyelesaikan pekerjaan seperti yang seharusnya! Begitu mungkin pembelaan kita. Benar. Orang-orang yang kita pimpin itu melakukan kesalahan. Punya kekurangan. Tetapi. Bukankah Anda juga bukan manusia yang sempurna? Tunjuk tangan jika Anda merasa tidak pernah melakukan kesalahan. Sadarkah Anda bahwa Anda itu bukan malaikat dan mereka bukan syetan? Selama kita semua sama manusianya, maka kita sama pernah melakukan kesalahannya. Oleh karenanya, sesama mahluk tidak sempurnya baiknya sih dilarang saling merendahkanlah. Kesalahan, bisa diperbaiki justru dengan pendekatan yang baik. Bukan dengan cara menginjak-injak harga dirinya. Jadi jika kita ingin melihat anak buah melakukan perbaikan untuk dirinya sendiri, maka kita; mesti menunjukkan contoh perilaku yang baik itu seperti apa.
 
Kinerjanya buruk! Benar. Kinerja buruk itu tanggungjawab kita untuk memperbaikinya. Tetapi. Tidak menjadikan kita berhak untuk memaki-makinya. Atau melontarkan kata-kata kotor kepadanya. Jika Anda pemimpinnya, maka tugas Anda adalah membimbingnya ke jalan yang lurus dengan cara yang baik. Dan. Jika Anda percaya kepada fiman Tuhan, bagus juga untuk selalu mengingat titahNya yang satu ini; “Serulah mereka ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Dan bantahlah mereka, dengan cara yang lebih baik.” Anda, bisa membaca firman itu dalam surah 16 (An-Nahl) ayat 125. Mungkin, kadang kita kesal kepada anak buah. Dan pada situasi tertentu, kita perlu marah juga. Tapi ternyata, ada tuntunanNya. Oleh karenanya sahabatku, ayo bersama saya; kita belajar lagi mengeskpresikan kekesalan kepada anak buah dengan cara yang lebih baik. Mulai sekarang.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: