Cap Jempol Dalam Setiap Pekerjaan

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Masih bisa membaca judul diatas dengan mudah? Maasa sih. Bukankah dulu begitu tjara kita menoelis edjaan seboeah kalimat? Jadul banget ya. Yang jadul itu bukan hanya tjara menoelisnja. Konteksnya pun jadoel joega. Masak sih, gini hari masih ngomongin soal tjap djempol. Sudah diganti dengan tanda tangan kaleee…..
 
Hey, jangan salah. Waktu Anda menikah, Anda kan sudah bisa membuat tanda tangan. Tapi Anda tetap membubuhkan tjap djempol Anda di akta nikah, iya kan? Coba lihat Surat Izin Mengemudi Anda. Ada tjap djempolnya? KTP elektronik yang katanya paling canggih bin mutakhir itu, justru mewajibkan pemiliknya membubuhkan tjap djempol. Nah, sekarang Anda kembali paham bahwa gaya djadoel itoe tidak bisa disoebstitoesi sepenoehnja oleh tanda tangan. Pertanyaannya adalah; Ada apa sih dengan tjap djempol kita itu? Jelas sekali, jika didalamnya ada berjuta rahasia. Sudah tahu rahasianya apa?
 
Sebenarnya jempol itu hanyalah wakil atau utusan dari sebuah komunitas bernama jari jemari untuk menyampaikan sebuah statement atau penyataan dalam bentuk sidik jari. Karena jempol itu dianggap sebagai ‘ibunya para jari’, maka biasanya kalau mau membubuhkan sidik jari, cukup diwakili oleh ‘ibunya’ saja. Namun sang ibu itu, mewakili keseluruhan dari ‘sidik jari’.
 
Ah, kalau soal itu sih semua orang juga sudah tahu. Tidak ada yang aneh soal itu. Anda benar. Mungkin memang tidak ada yang aneh soal itu. Tapi buat saya, hal itu cukup aneh juga lho. Saya lama merenungkan. Kenapa ya, jari setiap orang berbeda satu sama lain? Tidak ada yang sama? Dengan Ayah dan Ibu kita. Bahkan dengan saudara kembar pun.  Jari-jemari kita berbeda. Tidak ada yang sama diseluruh muka bumi, baik yang hidup di zaman yang sama, maupun dengan orang-orang yang hidup di abad atau millennium yang berbeda. Jari jemari kita tidak ada yang sama. Apakah Anda tidak menganggap hal ini aneh? Atau…., mungkin yang aneh itu saya kali ya. Soal begitu saja dianggap aneh. Sayanya yang aneh.
 
Lamaaaa saya merenungkan. Sampai jadwal tadarus saya tiba di ayat ke-4 dalam surah 75 (Al-Qiyamah). Disitu jelas sekali jika Tuhan berfirman seperti ini;”(Kelak setelah manusia dibangkitkan) Kami mampu menyusun kembali jari jemarinya dengan sempurna……”
 
Tubuh saya seperti kesetrum listrik ketika membaca ayat itu. Saya sedang memikirkan tentang jari tangan manusia yang unik, tiada duanya. Sehingga identitas seseorang tidak bisa dipalsukan. Banyak misteri kejahatan yang bisa dipecahkan melalui identifikasi sidik jari. Dan banyak jenasah tidak dikenal bisa diidentifikasi melalui pola garis-garis unik dijari jemarinya. Saya sedang memeras daya pikir; kenapa bisa begitu dan tiba-tiba saja rangkaian tadarus saya sampai kepada ayat itu. Oh, apakah gerangan yang Tuhan inginkan dengan membuat saya membaca ayat itu?
 
Saya tidak tahu. Yang saya pahami adalah bahwa diayat berikutnya Tuhan mengingatkan manusia agar jangan mengira setiap perbuatan buruknya itu tidak akan ketahuan. Jika kita melakukan suatu kemaksiatan. Tingkah yang bejat. Perbuatan jahat. Atau tindakan melanggar hukum. Mungkin memang kita bisa bersembunyi hingga tidak ada seorang pun yang tahu. Sampai meninggal pun semua itu tetap menjadi rahasia kita sendiri. Kalau pun ada orang lain yang tahu, mereka adalah komplotan kita yang sudah bersumpah untuk tutup mulut hingga akhir hayat.
 
Tuhan mengingatkan. Wahai hambaku, ingatlah. Bahwa kelak ketika jasadmu telah hancur menjadi tanah. Ketahuilah bahwa jari jemari tanganmu itu akan dikumpulkan kembali hingga utuh seperti sedia kala. Maka apakah kamu mengira semua perbuatanmu di dunia dahulu akan terlupakan begitu saja?
 
Oh, tidak. Semua perbuatan kita. Yang baik. Dan yang buruk. Tercatat dengan lengkap. Disimpan dalam perpustakaan pribadi yang bernama; sidik jari. Ketika kita meninggal. Maka jemari tangan kita akan ikut hancur menjadi tanah. Tidak ada lagi yang tersisa. Padahal jemari tangan itu merupakan sebuah naskah. Yang mencatatkan semua amal perbuatan kita. Namun, seperti janji Tuhan. Sungguh, jari jemari mu itu akan dikumpulkan kembali dengan sempurna.
 
Firman Tuhan ini disampaikan kepada seorang nabi yang ummi. Tidak bisa baca tulis. Jadi Sang Nabi suci tidak mengutip dari literature manapun. Buku. Catatan di batu. Apalagi internet. Lagi pula, dizaman ketika beliau diutus; manusia belum menemukan pemahaman terhadap fungsi sidik jari. Maka ketika pada akhirnya manusia memahami bahwa sidik jari setiap pribadi itu berbeda dan unik, kita pun menjadikannya sebagai sarana untuk melakukan identifikasi.
 
Seorang penjahat. Bisa membantah ketika diruang sidang ditanya hakim. Ada alibi kuat. Ditambah lagi dengan dukungan para pengacara yang selain hebat. Khususnya dalam soal debat. Juga jago ngotot. Serta piawai dalam memutarbalikkan fakta. Tapi jika didalam sidang itu sang jaksa bisa menunjukkan bukti sidik jari tersangka di TKP, maka semahal apapun bayaran pengacaranya; mereka, tidak lagi bisa membela diri.
 
Di akhirat. Bukankah Tuhan sudah menjamin bahwa setiap orang akan disidang dengan jari jemari tangannya yang sudah kembali lengkap? Itu artinya, kita; tidak bisa menyangkal apapun yang sudah kita lakukan semasa hidup. Semuanya terbuka. Gamblang. Dan terang benderang. Karena sidik jari kita, ada disetiap perbuatan yang kita lakukan.
 
Di ruang sidang pengadilan dunia. Amar putusan bisa ditukar dengan sejumlah uang. Sudah jamak terjadi dizaman ini. Dinegeri ini. Dan di dalam kenyataan hidup ini. Mau bagaimana lagi? Hakim dan jaksa juga manusia. Mereka membutuhkan uang. Tidak mengherankan jika kemudian silau, kalau melihat uang dalam jumlah yang tak terbayangkan bagaimana cara mendapatkannya dengan jalan normal. Tetapi, bukankah Tuhan tidak membutuhkan apapun dari kita? Maka cara seperti itu, tidak akan berhasil lagi di akhirat kelak.
 
Saudaraku. Anda mungkin berbeda agama dengan saya. Ayat yang saya nukil itu pun, mungkin tidak wajib Anda imani. Namun, siapapun Anda. Apapaun agama Anda. Punya beberapa persamaan dengan saya. Yaitu; kita, sama-sama mempunyai jari jemari tangan yang unik. Kita sama-sama akan mati. Kita akan sama-sama hancur menjadi tanah. Lalu, kita pun akan sama-sama menemui hari dimana Tuhan mengumpulkan kembali jari jemari tangan kita hingga sempurna. Dan kita, akan sama-sama dihadapkan pada sebuah persidangan. Untuk mempertanggungjawabkan, bekas-bekas sidik jari tangan yang kita tinggalkan pada setiap perbuatan kita.
 
Bergetar hati saya membaca ayat itu. Jika Anda berbeda keyakinan dengan saya, maka Anda tidak perlu ikut tergetar seperti saya. Cukuplah Anda ikut bersama saya, untuk sama-sama belajar meninggalkan hal-hal buruk yang selama ini kita lakukan. Lalu sama-sama belajar untuk lebih banyak meninggalkan sidik jari pada kebaikan-kebaikan. Agar kelak, ketika jemari tangan kita kembali dikumpulkan hingga sempurna. Kita boleh memasang wajah cerah, sambil mengatakan;”Benar kan Tuhan, sidik jari saya lebih banyak ditemukan dalam kebaikan?” Jika demikian, Insya Allah. Kehidupan abadi kita. Akan penuh dengan hadiah. Dan limpahan kasih sayang Tuhan. Semoga diakhir masa persidangan itu. Tuhan berkenan memberikan tjap djempolnya kepada kita. Pertanda bahwa Dia, senang atas perbuatan kita selama di dunia. “Two thumbs up, hambaku!” Kalimat itulah yang saya harapkan dari Tuhan kelak.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: