Biar ‘Dianggap’ Sama Atasan

Anda, termasuk orang yang ‘dianggap’ oleh atasan atau tidak? Kita perjelas sedikit konteksnya. Jika Anda merasa disepelekan oleh atasan. Atau tidak dihargai. Atau tidak diperhatikan. Atau tersisihkan diantara anak buahnya yang lain. Maka kemungkinan, Anda tidak dianggap oleh atasan Anda. Sebentar. Agar tidak salah paham nih, izinkan saya untuk menegaskan bahwa kalimat saya itu bukanlah sebuah hasutan. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa ada indikasi-indikasi tertentu dalam kehidupan kerja kita yang dengan jelas sekali menunjukkan apakah kita ‘dianggap’ oleh atasan kita atau tidak. Ciyus, masyalah buat eloh? Bagi saya sih tidak masalah. Karena sekarang saya sudah bukan karyawan lagi. Tapi bagi setiap orang yang masih berstatus sebagai karyawan, soal penilaian atasan ini tentu sangat penting. Tahu kenapa? Tidak sesederhana itu lho.
 
EGP!
Emang Gue Pikirin!
Itu adalah respon dari orang yang paling tangguh ketika merasa jika dirinya tidak dianggap oleh atasannya. Dia melawan. Ciri khas orang yang mandiri dan percaya diri memang begitu.
 
Nangis. Berkeluh kesah. Curhat. Mutung.
Itu adalah respon orang yang sensi banget. Perlakuan atasannya yang kurang menyenangkan sangat mempengaruhi kestabilan emosinya. Kalau bisa melawan, dia melawan. Tapi biasanya sih nggak bisa, sehingga akhirnya hanya sanggup menumpahkan kekesalan hatinya lewat rumpian dikantin. Atau di kamar mandi ketika sedang berdandan rame-rame di depan cermin toilet kantor setiap pagi.
 
Respon manakah menurut pendapat Anda yang paling baik? Saya tidak bisa mengetahui secara pasti jawaban Anda. Tapi, mari kita lihat beberapa fenomena berikut ini:
 
Seorang sahabat. Percaya diri banget. Seorang pribadi yang indipenden. Jika dia laki-laki, maka dia bisa disebut sebagai cowok macho. Dan jika perempuan, mungkin juga cocok kalau disebut sebagai cewek gagah berani. Tidak ada rasa takutnya. Dan salah satu ciri utamanya adalah; dia tidak terlalu ambil pusing dengan pendapat orang lain tentang dirinya. Termasuk, bagaimana atasannya memperlakukannya. Gak ngaruh sama sekali. Maka ketika atasannya tidak ‘nganggep’ pun dia nyantai aja. “Keciiil…” katanya.
 
Siapa takut?  Dia sanggup kok menghadapi siapapun. Maka keseharian kerjanya pun dijalani dengan keberanian yang luar biasa untuk menunjukkan kepada atasannya bahwa dia, tidak bisa mengendalikan perasaannya. Gue nggak takut! Begitulah prinsip hidupnya. Disisi lain, atasannya makin merasa ditantang. Lalu, dengan kekuatan jabatan alias position powernya, dia semakin memperlihatkan arogansi khas seorang pejabat mabuk kepayang. Maka, hasil akhir yang mereka berdua dapatkan adalah; kekalahan total. Kenapa? Karena mereka memainkan zero some up game, alias permainan yang tidak menguntungkan siapapun. Loose-loose solution, jika Anda ingin menyebutnya demikian.
 
Di sisi ekstrim lainnya. Ada sahabat kita yang lain. Setiap hari, air matanya nyaris tertumpah hanya gara-gara perlakuan atasan yang tidak layak diterimanya. Sekalipun dia sudah berusaha untuk kuat menerima perlakuan itu, tapi tetap saja; matanya berkaca-kaca juga. Sekali dua kali, dia masih bisa curhat pada temannya. Tapi lama kelamaan, tidak ada lagi teman yang punya waktu luang sedemikian banyaknya untuk selalu mendengar keluh kesahnya. Walhasil, semuanya sekarang dipendam sendirian. Merasa tidak dianggap oleh atasan. Dan merasa ditinggalkan oleh teman-teman. Maka tidak heran jika bekerja, tidak lagi memberikan nuansa yang menyenangkan bagi dirinya. Jika bukan karena kebutuhan, dia sudah sejak lama memilih berhenti saja. Dia, membiarkan diri menjadi korban dari ketidakberesan perlakuan seorang atasan.
 
Sekarang, Anda sudah bisa menilai; apakah pilihan Anda tadi sudah tepat atau belum. Lebih baik sikap yang ditunjukkan oleh orang pertama, atau orang kedua? Tetapi, ada jenis orang ketiga yang belum saya ceritakan. Yaitu, orang yang menyadari atasannya menyepelekan dirinya. Tidak menganggap keberadaan dirinya. Dan tidak peduli kepadanya. Lantas orang itu bertanya kepada dirinya sendiri; “Apa yang menjadi penyebab atasan gue memperlakukan gue seperti ini?”
 
Dari pertanyaan itu, dia bisa menemukan banyak jawaban. Namun, semua jawaban itu bisa dikategorikan kedalam dua kelompok besar. Pertama, jawaban yang berkaitan dengan atasannya sendiri. Misalnya, atasan yang di rumahnya tidak bahagia, memang sulit untuk membuat suasana kerja yang menyenangkan. Atasan yang hubungannya dengan pasangannya – istri atau suami mereka – tidak harmonis, memang sangat mudah menciptakan konflik di kantor. Atau, boleh jadi atasannya sedang setress sehingga dia tidak bisa berperilaku layaknya seorang pemimpin. Itu hanya contoh-contohnya saja. Ada banyak latar belakang – underlying causes – lainnya yang bisa menyebabkan seorang atasan berperilaku tidak patut. Dan sahabat kita yang memahami hal ini sadar, bahwa; itu semua, tidak ada sangkut paut dengan dirinya. Sehingga kondisi emosi, jiwa dan mentalnya bisa tetap terjaga. Seperti ikan laut yang dagingnya tetap tawar meskipun selama hidupnya direndam oleh air garam. Dia, tetap fokus pada kinerja terbaiknya.
 
Kedua, jawaban yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Misalnya, memang selama ini dia merupakan anggota team yang kinerjanya paling lemah. Ya pantaslah atasannya nggak ngangep. Atau dia tidak bisa memenuhi target-target yang telah menjadi komitmen bersama. Atau laporannya telat terus. Atau, belum bisa menunjukkan ‘kualitas kerja’ dan kualitas pribadi terbaiknya. Wajar dong jika atasannya lebih menganggap orang lain yang lebih baik daripada dirinya. Sahabat kita yang menyadari hal itu menyikapinya dengan introspeksi diri. Lalu dia menemukan satu demi satu hal yang perlu perbaikan. Tahun demi tahun konsistensinya untuk terus memperbaiki diri itu pada akhirnya membawa dirinya kepada sebuah pembuktian. Bahwa dia, mempunyai lebih banyak kebaikan yang belum digali. Sehingga di akhir karirnya, dia berhasil menjadi pribadi yang cemerlang.
 
Apakah Anda mengira cerita saya tentang ketiga jenis manusia itu kisah rekaan belaka? Hmmh…, boleh saja jika Anda ingin mengiranya demikian. Tetapi ketahuilah, bahwa kisah itu benar-benar terjadi. Seandainya Anda sendiri mendapatkan atasan yang tidak ‘nganggep’ itu, maka jenis orang yang mana yang akan Anda pilih? Orang pertamakah? Orang keduakah. Atau Anda memilih untuk menjadi orang yang terus membuka hati dan pikiran. Sehingga berhasil menjadi pribadi yang tetap positif. Dan terus bertumbuh dari hari ke hari. Silakan pilih sendiri.
 
Namun demikian, izinkan saya membekali Anda dengan sebuah firman dalam surah 13 (Ar-Ra’du) ayat 11: Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka sendiri mengubahnya.” Jelas sekali jika Tuhan menyatakan bahwa baik dan buruknya hidup kita, tidak ditentukan oleh orang lain. Sekalipun orang itu adalah atasan kita sendiri. Kita sendirilah yang menentukannya. So, never let anyone else take control your life. Karena kitalah orang yang paling bertanggungjawab terhadap hidup kita sendiri. Jika bisa begitu, Insya Allah; kita bakal dianggap sama atasan.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: