"AKU MENCINTAIMU, MAS."

Cintamu padaku
adalah kerinduan waktu
memeluk bisu di batu-batu
saat gerimis jatuh
 
Cintamu padaku
adalah ketabahan matahari
tatkala menumbuhkan mawar
di nadi sunyi
 
Cintamu padaku
adalah keindahan purnama
kala meneteskan cahaya
pada lara
 
Cinta tanpa musim itu
memberi nafas dan sayap
pada beribu puisi abadi
tentang kita
 
: Pernahkah kusampaikan padamu, Mas?
 
 
Aku mengetahui sosoknya sejak 1994 awal. 
Namun aku baru mengenal alumniFakultas Ekonomi UI itu, 
Oktober 1994. Tiga bulan kemudian kami menikah.
Dan November 1995 anak pertama kami, Abdurahman Faiz lahir.
 
Mas Tomi adalah suami yang saleh, rutin shalat lail 
dan tak pernah tinggal puasa Senin Kamis. Ia tak banyak 
bicara tapi banyak berpikir dan bekerja. Mas Tomi bukan 
lelaki romantis, namun perhatian. Aku takjub karena 
menjelang tahun ke 10 pernikahan kami, ia belum 
pernah sekali pun marah padaku. Ya, ia tak pernah
membentak, apalagi memukul—meski tak keras.
 
Ia juga lelaki yang sangat mudah tersentuh perasaannya. 
Kalau aku bercerita tentang siapa saja yang kurang 
beruntung di sekitar kami, bila masih terjangkau dan 
mungkin, ia selalu mengulurkan tangannya tanpa sempat 
berpikir panjang. “Rezeki gampang dicari lagi, Bunda,” 
katanya sambil tersenyum.
 
Lalu apalagi yang istimewa dengan Mas Tomi? 
Ialah lelaki pertama yang menjadi pendukung FLP! Tentu 
saja, karena ketika gagasan mengenai FLP kulontarkan, 
wartawan televisi ini yang pertama tahu dan ia sangat
antusias.
 
Sejak itu ia merelakanku untuk melakukan yang terbaik 
bersama FLP. Tak pernah sedetik pun ia tak menyokongku, 
baik dari segi dana maupun moril.
Ia juga banyak memberikan pemikiran yang berguna bagi 
kelangsungan FLP. Setiap malam sebelum tidur kami sering 
berdiskusi mengenai perkembangan FLP. Mas Tomi juga 
sering memenuhi undangan memberi pelatihan bagi
teman-teman FLP di tengah kesibukannya yang seabreg.
 
Seiring dengan perkembangan FLP, hampir setiap minggu aku
harus ke luar kota dan sesekali ke luar negeri. 
Mas Tomi tak pernah mengeluh. Bahkan mia sering 
mempersiapkan keberangkatanku, mengecek tiket perjalanan
sampai membantu mengepak pakaian dan barang-barang yang 
akan kubawa dengan rapi. Ya, ia tahu aku selalu 
memasukkan semua pakaian dan barang secara ceroboh, 
berjejalan di kopor. Berbeda dengan Mas Tomi yang sangat
teratur.
 
Ia juga kerap membantu memberi bahan pelatihan penulisan. 
Bila aku menyiapkan bahan-bahan untuk penulisan sastra,
 maka ia menyiapkan bahan untuk pelatihan jurnalistik. 
Bila ada waktu ia selalu menyempatkan mengantarku ke 
Kampung Rambutan, Stasiun Jatinegara, atau ke Bandara,
dan tak berpaling sampai aku benar-benar hilang dari 
pandangannya.
Aku ingat, ia paling resah saat aku pergi ke Banda Aceh,
 tahun 2001.
“Aku mengizinkan Bunda, tapi tetap harus hati-hati,” 
katanya. “Situasi di Aceh belum kondusif.”
 
Maka selama di Aceh, ia meneleponku setiap hari! Ke 
handphone dan ke penginapan. Saat itu aku sempat mengalami
beberapa kejadian yang “mengguncangkan.” Termasuk 
mendengar suara tembakan dan ledakan, bertemu dengan 
para janda dan anak-anak yatim piatu korban DOM, tapi tak
kuceritakan padanya.
“Sudah bertemu anak-anak FLP?”
“Sudah, Mas! Kami malah sempat buat beberapa pelatihan,” 
kataku mengabari.
Sementara ini perjalanan paling jauh yang pernah kutempuh 
adalah ke Mesir dan Amerika. Ketika aku akan berangkat 
ke Mesir ia tenang-tenang saja. Saat itu aku berangkat 
dengan dua wartawan lelaki. “Kamu boleh berangkat, bunda,
karena ini penting, terutama bagi FLP di sana. Kedua,
karena teman seperjalananmu orang baik,” katanya. Maka 
aku pun berangkat. Dua minggu aku meninggalkannya untuk 
menghadiri undangan ICMI Orsat Kairo sekaligus meresmikan
FLP di sana.
Oktober 2003 aku harus berangkat ke Amerika Serikat. 
Mulanya ia sedikit khawatir bila aku akan mendapatkan 
masalah. Maklum saja, peristiwa 11 September menimbulkan
prasangka terhadap kaum muslimin. Apalagi aku berjilbab 
dan harus pergi sendiri! Sendirian! Pada hal aku belum 
pernah sekali pun ke Amerika. Ia mencari berbagai 
informasi tentang situasi dan kondisi terkini di Amerika,
termasuk mengenai instansi yang mengundangku, yaitu 
Universitas Wisconsin dan Universitas Michigan. Sungguh, 
aku sudah siap bila ia tak mengizinkanku berangkat.
“Sebaiknya kamu pergi, Bunda. Ini kesempatan yang baik untuk 
menunjukkan bahwa sebagai penulis muslimah karyamu 
juga tak kalah dengan mereka.”
Aku tak percaya mendengar keputusannya. Aku sempat ragu 
dan tak tahu harus memutuskan apa, tetapi ia segera
memeluk dan menguatkanku. 
“Berangkat, dong! Ingat, kamu diundang sebagai pembicara! 
Kapan lagi kamu berbicara di depan orang-orang Amerika!” 
katanya. “Kan itu yang kamu impikan? Menyampaikan, 
menebar kemaslahatan, di negeri Bush?” sambungnya lagi.
Ia tahu aku sangat geregetan dengan Presiden Amerika
yang satu itu.Aku pun mengangguk pelan.
“Sudah dipersiapkan apa yang akan kamu sampaikan di 
Universitas Wisconsin dan Universitas Michigan?” 
Aku mengangguk lagi. “Di Wisconsin aku akan bicara 
tentang: Writing In Modern Indonesia: Perspectives from 
Muslim Women Writer’s View. Di Michigan mengenai 
Indonesian Islamic Literature: A Case Study on Forum
Lingkar Pena (FLP), A Caderization Program for New 
Writers. Selain itu ada beberapa acara lain juga, 
termasuk mendiskusikan bukuku: Lelaki Kabut dan Boneka.”
 
Dia mengangguk dan kemudian seperti biasa—walau lelah 
dengan pekerjaan yang menguras pikiran dan tenaga di
kantor-- ia kembali mempersiapkan segala sesuatu, 
termasuk membekaliku dengan berbagai alamat dan nomor
telepon teman-temannya di sana. Ia juga memastikan bahwa 
selain panitia,
ada kenalannya yang menjemputku di airport.
 
“Tenang saja, aku akan mengurus Faiz dengan baik,” 
katanya lagi ketika aku masih ragu untuk berangkat. 
“Ingat, biar bagaimana kamu membawa nama
FLP! FLP makin go internasional kan? Bayangkan, 
orang-orang Amerika akan tahu tentang FLP!”
 
Ketika aku benar-benar sudah sampai di Amerika, 
aku tak percaya menerima email darinya setiap hari!
 
Aku mungkin bukan istri yang setiap saat mendapat kejutan
dan bunga mawar segar dari seorang suami atau diajak
pergi ke tempat-tempat romantis yang berakhir dengan 
makan malam disertai cahaya lilin. Tapi aku yakin, bahwa
aku adalah istri yang paling beruntung. Aku memiliki
suami yang sangat mempercayaiku. Yang tak penah berhenti
menunjukkan cintanya, dalam bentuk pengertian dan 
dukungan tak terhingga, atas apapun yang kulakukan di 
jalan kebaikan.
 
Dan kini menjelang milad pernikahan kami ke 10, 28 
Januari 2005, aku Tak jua bisa berhenti untuk berkata, 
“Aku mencintaimu, Mas. Sangat.” 
(Helvy Tiana Rosa)
 

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: