Bab 15 Biarlah Engkau yang Tercantik di Hatiku

Setelah menikah, ada amanah untuk saling menjaga pandangan.

Antara lain untuk menjaga pandangan suami sehingga tidak

memandang dengan perasaan yang besar kecuali terhadap istri.

Sehingga ia tidak mengangankan orang lain kecuali istrinya sendiri. Tidak

menginginkan yang lain kecuali istrinya. Tidak ada yang lebih cantik, kecuali

istrinya.

Jadi, Anda para istri, hendaknya berusaha membuat pandangan mata

suami hanya tertuju kepada diri Anda seorang. Tidak ada kesempatan baginya

untuk memandang yang lain, apalagi sampai membayang-bayangkan, apalagi

lebih dari sekadar membayangkan. Mata suami banyak bergantung kepada

wajah Anda. Jika wajah Anda membawa kesejukan, insya-Allah ia tidak akan

tergerak untuk memalingkan pandangan.

Kesejukan wajah, sungguh tidak berhubungan dengan kecantikan. Bagi

seorang yang belum menikah, kecantikan wajah boleh jadi begitu penting atau

bahkan terpenting, sehingga ada yang menikah atas dasar kecantikan wajah.

Akan tetapi seorang yang sudah menikah, atau seorang yang sudah menghayati

sebuah pernikahan, kecantikan wajah terasa demikian tidak pentingnya.

Kecantikan wajah terletak di urutan nomor kesekian. Jauh lebih penting

daripada kecantikan wajah adalah kesejukan wajah Anda ketika suami

memandang.

Alhasil, hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘alaa alihi wasallam

mengenai seorang istri yang apabila dipandang membuat suami semakin

sayang, tidak hanya berlaku bagi mereka yang memiliki kecantikan luar biasa.

Boleh jadi mereka yang menurut penilaian umum sangat tidak cantik, justru

menyimpan keteduhan jiwa yang luar biasa sehingga dapat menghapus

kepenatan psikis dan fisik suami saat datang. Sebaliknya, bisa jadi kecantikan

wajah yang dikenang-kenang dan diangan-angankan sebelum menikah, tampak

demikian membosankan dan melelahkan mata.

Selengkapnya bunyi hadis Nabi Saw. itu berbunyi:

“Tiga kunci kebahagiaan laki-laki adalah istri shalihah yang jika

dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu

merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu; kendaraan

yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang damai

yang penuh kasih-sayang.

Tiga perkara yang membuatnya sengsara adalah istri yang tidak

membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa menjaga lidahnya, juga

tidak membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak bisa menjaga

kehormatan diri dan hartamu; kendaraan rusak yang jika dipakai hanya

membuatmu lelah dan jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi;

dan rumah yang sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya.”


Kecantikan wajah

terletak di nomor kesekian.

Jauh lebih penting daripada kecantikan wajah

adalah kesejukan wajah Anda

ketika suami memandang.


Saya teringat kepada Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Dalam bukunya yang

berjudul Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Ibnu

Qayyim berkata, “Allah menjadikan penyebab kesenangan adalah keberadaan

istri. Andaikan penyebab tumbuhnya cinta adalah rupa yang elok, tentunya

yang tidak memiliki keelokan tidak akan dianggap baik sama sekali.

Kadangkala kita mendapatkan orang yang lebih memilih pasangan yang lebih

buruk rupanya, padahal dia juga mengakui keelokan yang lain. Meski begitu

tidak ada kendala apa-apa di dalam hatinya. Karena kecocokan akhlak

merupakan sesuatu yang paling disukai manusia, dengan begitu kita tahu

bahwa inilah yang paling penting dari segala-galanya. Memang bisa saja cinta

tumbuh karena sebab-sebab tertentu. Tetapi cinta itu akan cepat lenyap dengan

lenyapnya sebab.”

 

Perkatan Ibnu Qayyim ini berarti, jika Anda menikah dengan seorang

gadis disebabkan oleh tingkah lakunya yang menggemaskan, maka tiga bulan

setelah menikah boleh jadi rumah tangga akan penuh dengan ketegangan

psikis karena di saat nyidam ia tidak menggemaskan lagi. Pembawaannya

kuyu dan lusuh, seperti kain sarung yang tertumpuk di kotak cucian. Apalagi

kalau pembawaannya di masa nyidam itu menyebalkan sekaligus bikin risih.

Kasus pernikahan Christina Onassis adalah contoh yang tepat untuk

memahami penjelasan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah ini. Konon, Christina adalah

perempuan yang memiliki kecantikan luar biasa. Ia juga pandai membawakan

diri di kalangan selebritis, sehingga tidak malu-maluin kalau diajak menghadiri

berbagai pertemuan. Justru di kalangan selebritis, Christina adalah orang yang

sangat dikenal. Sementara itu, untuk soal kekayaan, cukuplah saya kabarkan

kepada Anda bahwa dari mendiang ayahnya saja ia sudah mewarisi kapal

pesiar pribadi, pulau pribadi, danau, sejumlah bangunan, perusahaan realestate,

pesawat terbang pribadi, deposito milyaran dolar, serta armada kapal (di

luar kapal pesiar pribadi itu). Akan tetapi, pernikahan-pernikahannya selalu

berakhir dengan kekecewaan dan kegetiran. Ia tak menemukan kebahagiaan

dalam pernikahannya. Usahanya untuk menemukan kebahagiaan pernikahan

ini akhirnya ia hentikan dengan bunuh diri di Argentina. Begitu menurut

shahibul hikayat.

 

Apa artinya? Kecantikan dan kepandaian mempercantik diri tidak dapat

menjamin utuhnya cinta dalam pernikahan. Kita merasa tenteram saat

memandang, lalu perasaan sayang kita kepada istri semakin besar, bukan

karena kecantikan dan kepandaian berhias.

 

Lalu, apa yang membuat suami merasa semakin dekat ketika

memandangnya sedangkan ia telah bergaul lama? Wallahu A’lam bishawab.

Saya tidak tahu persis bagaimana menjelaskannya, di samping saya juga tidak

tahu persis persoalan ini sampai ke akarnya yang terdalam. Hanya saja, secara

kasar dapat kita pahami bahwa itu bukan terletak pada wajah. Bukan.

Melainkan apa yang memancar dari wajah itu. Hati kita menjadi hidup jika

wajah yang kita pandang memberikan keramahan, memancarkan kerinduan,

dan menebar kehangatan. Hati kita semakin terpaut jika kehadiran kita

diharap-harapkan dan ditunjukkan dengan pancaran wajah yang hidup dan

tidak kaku beku.1 Boleh jadi Anda saat itu sakit, akan tetapi Anda bisa

memancarkan pandangan mata yang menggambarkan bahwa cinta dan

kerinduan Anda tidak sakit; Anda menampakkan melalui pandangan mata

Anda bahwa kehadiran suami sangat berarti.

 


Banyak peristiwa komunikasi

yang lebih bertujuan untuk

memenuhi kebutuhan jiwa

daripada informasi.


 

Alangkah letihnya suami jika ia bergegas-gegas pulang, diterpa panas

yang menyengat atau hujan yang menyiramkan rasa dingin, tetapi sesampai di

rumah tak ada senyum hangat yang menyambut, tak ada mulut yang bicara,

dan tak ada mata yang membalas pandangan dengan penuh keinginan. Tubuh

yang telah letih akan terasa semakin letih ketika beban psikis yang hendak

ditumpahkan ternyata tidak tertampung karena istri tak tertarik mendengarkan.

Beban psikis boleh jadi berupa problem-problem yang ia jumpai selama

berada di luar rumah, bisa jadi persoalan-persoalan serius yang ia pikirkan

sejak lama, tetapi bisa juga “hanya sekadar” kejadian-kejadian ringan yang

ingin ia ceritakan kepada istri. Kejadian ringan ini mungkin berupa

pengalamannya merasakan semangkuk kecil rujak gobet, mungkin

pertemuannya dengan teman sekolah semasa SD, atau mungkin

kegembiraannya karena tadi menerima surat dari ibunya.

Kisah-kisah yang ingin diceritakan oleh suami barangkali tidak begitu

penting substansinya. Pengalaman-pengalaman itu tidak memiliki isi yang

dapat mempengaruhi jalannya sejarah, misalnya. Katakanlah, apa pentingnya

kisah semangkuk rujak gobet yang pedas bagi kemajuan pendidikan anakanak?

Tidak ada. Apa pentingnya kisah rujak gobet itu untuk kemajuan

masyarakat? Tidak ada.

Namun demikian, persoalannya bukan pada substansi semata-mata.

Persoalannya lebih kepada bagaimana memperhatikan dan diperhatikan.

Persoalannya lebih kepada bagaimana mendengarkan dan didengarkan. Sebab

setiap kita butuh memperhatikan dan diperhatikan. Sebab setiap kita butuh

mendengarkan dan didengarkan.

Lihatlah orang-orang yang baru usai melihat pertandingan sepak bola

bersama-sama. Kadang-kadang malah duduk bersama-sama dalam satu kursi.

Mereka juga minum dari gelas yang sama ketika sedang menyaksikan

pertandingan. Akan tetapi, begitu pertandingan selesai, mereka saling

bercerita. Kadang malah sambil menggambarkan detail peristiwa, misalnya

peristiwa masuknya gol ke gawang lawan. Padahal mereka sama-sama

menyaksikan. Lalu, apa yang diharapkan dari cerita itu? Apakah mereka

bermaksud ingin memberitahu, ingin menyampaikan informasi kepada

rekannya? Jelas tidak, sebab mereka melihat bersama-sama. Apakah mereka

mendiskusikan sepak bola demi meningkatkan mutu persepakbolaan Indonesia

di masa mendatang? Juga tidak. Banyak di antara mereka yang tidak memiliki

ilmu persepakbolaan, sehingga pembicaraan mereka tidak mencukupi untuk

merumuskan strategi persepakbolaan yang bisa berkelit dari praktek sepak bola

gajah. Apakah mereka hendak melakukan renungan bersama mengenai

pelajaran yang bisa diambil dari sebuah pertandingan sepak bola? Lagi-lagi

tidak. Lalu apa, kalau semua kemungkinan di atas tidak tepat? Kebutuhan

untuk mendengar dan didengarkan; kebutuhan untuk mengungkpkan apa yang

menarik dan mengesankan kepada orang yang tepat, sekalipun sama-sama

sudah tahu.

 

Banyak komunikasi sehari-hari ytang dimaksudkan untuk berbagi cerita

dan kebahagiaan. Peristiwa-peristiwa menarik biasanya cenderung mendorong

kita untuk menceritakan tidak hanya satu kali kepada satu orang. Padahal

dalam kesempatan lain, kadang bukan sekadar sebagai dorongan naluriah,

melainkan telah melalui proses pemikiran, menceritakan satu episode cerita

beberapa kali kepada orang lain. Ini terutama ketika kita menganggapnya ada

yang perlu diambil pelajaran dalam cerita tersebut.

Singkat cerita, banyak peristiwa komunikasi yang lebih bersifat

pemenuhan kebutuhan jiwa daripada untuk memperoleh informasi. Di sisi lain,

seringkali kita butuh mendengar sesuatu dua-tiga kali untuk bisa menyadari

makna pentingnya. Kadang kita diingatkan atau diberi cerita tentang sesuatu

tanpa bisa mengambil pelajaran apa-apa, akan tetapi ketika mendengar untuk

yang keempat kali kita merasa mendapatkan pelajaran yang sangat berharga.

Namun demikian, alangkah seringnya kita takabbur. Kita mementahkan

orang yang menceritakan sesuatu lebih dari satu kali. Kita takabbur terhadap

diri sendiri (‘ujub) sehingga memastikan diri kita bisa mengingat dengan jelas

satu cerita yang pernah sampai kepada kita; kita juga takabbur terhadap orang

lain sehingga menganggap tidak perlu mendengarkan cerita yang disampaikan

dua kali. Padahal banyak peristiwa komunikasi yang memerlukan perulangan

cerita untuk bisa mengkomunikasikan suatu perkara dengan baik.

Bentuk tindakan mementahkan pembicaraan orang yang menceritakan

suatu kejadian lebih dari satu kali, misalnya bertanya, “Kamu itu mengalami

itu berapa kali?”

“Satu kali.” Jawaban ini diberikan sudah dengan menyimpan kekecewaan

psikologis. Besar-kecilnya tingkat kekecewaan bergantung kepada seberapa

besar nilai cerita itu untuk diungkapkan kepada Anda. Kekecewaan ini

semakin besar ketika Anda menukas dengan perkataan, “Satu kali? Kok kamu

menceritakannya berkali-kali?”

Komunikasi semacam ini mudah memancing konflik, lebih-lebih jika

terjadi antara suami-istri. Istri atau suami yang pernah merasakan kekecewaan

yang teramat sangat karena pembicaraannya dimentahkan dengan cara seperti

itu dapat mencari kesempatan untuk mementahkan pasangan hidupnya.

Masalah bisa timbul. Misalnya dalam kesempatan membahas suatu peristiwa,

suami tidak ingat cerita yang pernah dikemukakan istrinya. Ketika ia bertanya,

istrinya menukas, “Apakah harus diceritakan lagi? Saya sudah pernah cerita

dan berita tidak ada yang diulang, kecuali kalau terjadi berkali-kali. Masak

nggak ingat?”

Kalau sudah demikian, pertengkaran bisa meledak. Kalau sudah

demikian, kita bisa jatuh dalam komunikasi kursif (lebih lanjut tentang

komunikasi kursif, silakan baca di bab berikutnya Komunikasi Suami Istri).

Kalau sudah demikian, wajah kita terasa sangat menjengkelkan bagi pasangan

hidup kita. Kalau sudah demikian, engkau bukan yang tercantik di hati suami.


Sambutan ketika suami datang banyak memegang peranan. Lebih-lebih

sambutan ketika suami harus pulang mendadak karena ada yang membuatnya

tergoda di tengah perjalanan. Padahal boleh jadi Anda tidak tahu persis

apakah saat ini ia pulang karena tergoda di jalan ataukah karena sudah saatnya

pulang. Artinya, sambutan hangat sebaiknya diberikan setiap saat.

Memberi sambutan hangat bukan berarti mesti menyelenggarakan acara

yang “gegap-gempita”, misalnya dengan segera memeluk suami tercinta atau

membawakan tasnya. Yang terpenting bagi suami bukan itu. Yang terpenting

bagi suami adalah kabar bahwa istrinya baik-baik saja (sekalipun tidak

dinyatakan secara lisan) atau ada pertanyaan-pertanyaan dan cerita-cerita istri.

Yang juga penting bagi suami adalah bahwa kedatangannya diharapkan istri.

Ini ditunjukkan dengan tidak ada rasa engan memberi senyuman dan

keringanan hati untuk menanggapi pembicaraan suami, meskipun boleh jadi si

istri tidak banyak bicara.

Pada saat-saat tertentu, tidak ada yang lebih diharapkan oleh suami selain

sambutan hangat dan sikap yang menenteramkan dari seorang istri. Seperti

Muhammad yang mencari Khadijah untuk diselimuti sebelum akhirnya

bertandang ke Waraqah bin Naufal, kita kadang pulang dengan harapan segera

disambut istri dengan penuh kehangatan. Pada saat seperti ini, kita mencari

tangan yang dengan penuh perhatian mengusap peluh-peluh kecemasan kita.

Kita tidak siap untuk bercerita sekalipun untuk peristiwa yang paling ringan.

Kita hanya butuh dipahami dan ditenangkan dulu. Nanti setelah hati cukup

siap, suami bisa bercerita banyak tentang apa yang dialami.

Meskipun begitu, jangan terburu-buru mengharap cerita dulu. Adakalanya

suami tidak segera “mampu” menceritakan gejolak hatinya. Ia hanya mampu

mengungkapkan kerisauannya yang paling kuat. Oleh sebab itu, tunggulah

sampai memungkinkan baginya untuk bercerita sebelum Anda menanyakan

apa saja yang terjadi.

Kadang persoalan muncul karena istri mengharapkan suaminya segera

bercerita tentang apa saja yang dia alami selama berada di luar rumah,

sementara suami bergegas-gegas pulang agar segera mendengar apa saja yang

berlangsung di rumah selama ia tidak ada. Persoalan menjadi rumit ketika istri

“menuntut” suami untuk segera bercerita banyak, dan ketika suami tidak

segera bercerita, ia menjadi muram. Padahal ini menjadikan suami justru tidak

bisa bercerita, sekalipun saat itu ia sudah sangat ingin bercerita. Apalagi kalau

saat itu kondisi suami justru membutuhkan “pengertian” dan penenangan.

Persoalan akan lebih runyam lagi sehingga menyebabkan pertengkaran

terbuka di saat suami justru membutuhkan kasih sayang dan kehangatan istri,

Jika istri menuntut suaminya untuk bercerita sekaligus menaruh prasangka

buruk atas sikap suaminya yang tidak segera bercerita. Dalam situasi seperti

ini, keadaan justru jadi serba tidak enak. Kalaupun akhirnya suami bercerita,

itu tidak akan mengubah apa-apa. Istri mendengar tidak dengan kelegaan dan

kepercayaan penuh, dan suami pun –sebagai konsekuensi logis– tidak bisa

bercerita dengan hati lapang. Ujung-ujungnya akan timbul kecurigaan dan

perasaan tidak puas terhadap pasangan hidupnya. Jika tidak diredakan, hal ini

dapat menjadi sebab terjadinya keretakan rumah tangga yang parah.

Na’udzubillahi min dzalik.

Menjalin hubungan suami-istri yang saling pengertian dan penuh

perhatian memang membutuhkan usaha dan cara-cara yang tepat. Hubungan

suami-istri merupakan cermin bahwa dua orang atau lebih yang mempunyai

kehendak searah, yang sama-sama menginginkan kebaikan dan keindahan,

yang sama-sama menginginkan kemuliaan dan keselamatan (dunia-akhirat)

bisa mengalami perselisihan karena adanya kesalahan dalam komunikasi dan

menempatkan sikap. Jika masing-masing bersikukuh dengan persepsinya,

kebaikan bisa jadi akan segera lari menjauhi mereka. Alhasil, apa yang mereka

usahakan bersama-sama harus kandas bukan karena keduanya tidak memiliki

komitmen yang sama, melainkan lebih dikarenakan tidak adanya komunikasi

yang baik dan penempatan sikap yang tepat.

 

Mendidik anak juga demikian. Boleh jadi anak ingin melakukan sesuatu

yang baik. Akan tetapi karena tidak tahu bagaimana cara mencapainya, ia

melakukan dengan cara yang salah. Boleh jadi Anda sebagai orangtua tidak

menanyainya lebih dulu dan hanya memberi cap (judgement) bahwa ia nakal

dan bandel. Ini membuat anak berontak. Alhasil, iktikad anak untuk

melakukan perbuatan-perbuatan bajik harus kandas hanya karena orangtuanya

tidak mau mencoba memahami jalan pikiran anak.

Jika dalam menjalin hubungan suami-istri sulit untuk duduk bersama

meluruskan persepsi dengan lapang dada, maka sulit untuk melakukan hal

semacam ini terhadap anak. Suami-istri sudah memiliki pengalaman hidup,

ilmu, dan kedewasaan. Anak belum memiliki itu semua. Padahal kesemuanya

merupakan bekal penting untuk bisa mendudukkan persepsi masing-masing

pada tempatnya.

 

Akhirnya, persoalan mendidik anak ternyata banyak berhubungan dengan

bagaimana kita membina hubungan suami-istri. Banyak persoalan pendidikan

anak yang tidak berhubungan langsung dengan proses mendidik anak, namun

lebih kepada bagaimana kita menjalin suami-istri, bagaimana kita menjalin

hubungan dengan orang lain, tetangga, tukang becak, sopir, sampai dengan

pengemis. Dan yang terakhir ini, seingat saya belum pernah dibahas dalam

seminar-seminar, buku-buku, atau berbagai kesempatan lain. Perkara semacam

ini sering dianggap tidak penting karena “tidak memiliki pijakan ilmiah”,

kecuali oleh kiai-kiai di pesantren-pesantren kecil yang tersembunyi

tempatnya.

 

Sungguh, perkara-perkara itu memiliki pijakan ilmiah yang kuat jika kita

mau berpikir dengan sungguh-sungguh, dengan hati yang jernih dan bekal

yang memadai. Repotnya, kita umumnya tidak dituntut untuk memiliki

kematangan sebagai syarat “lulus” atas ilmu yang kita pelajari.

Ah, kok ngelantur sampai ke sana.

 

Engkau yang Tercantik di Hatiku

 

Dari pembicaraan kita semenjak awal bab ini, kita mendapati bahwa

kecantikan tak dapat menjamin bahwa yang tercantik di hati suami adalah istri

semata. Ada yang lebih penting daripada sekadar kecantikan, yaitu keramahan,

kehangatan, dan rasa cinta yang tulus. Ada yang bisa menyuburkan perasaan,

yaitu perhatian dan penerimaan yang tulus terhadap kekasih. Ada yang bisa

memperindah, yaitu canda yang menyenangkan. Rasulullah Saw. pernah kejarkejaran

–lomba lari– dengan istrinya, ‘Aisyah radhiyallahu’anha. Sampai

sekarang, saya tidak pernah mendengar ada orang yang kejar-kejaran dengan

istri untuk bercanda, sehingga istrinya sangat terkesan dan menaruh rasa cinta

yang sangat dalam. Sebaliknya, yang pernah saya dengar adalah istri yang lari

ketakutan karena dikejar-kejar oleh suaminya yang sedang marah.

Jika ‘Aisyah hanya mampu menangis dan berkata, “Ah, semua

perilakunya mengesankan bagiku (kana kullu amrihi ajaba)” saat ditanya

tentang perilaku Rasulullah yang peling mengensankan; maka saya ragu

apakah istri yang lari ketakutan karena dikejar-kejar oleh suaminya akan

berkata seperti itu ketika suaminya telah meninggal.

Singkat cerita, bukan wajah yang membuat suami terkesan sehingga yang

tercantik di hatinya adalah istrinya semata, melainkan apa yang memancar dari

wajah itulah yang paling mempengaruhi perasaan suami.

Sekalipun demikian, Anda tidak bisa meninggalkan masalah merawat

kecantikan dan berhias untuk suami tercinta. Dalam hal ini yang terpenting

adalah menunjukkan iktikad untuk memberikan yang terbaik bagi suami,

bukan pada kesempurnaan Anda berhias. Berhias dengan sempurna tetapi

suami merasa bahwa istri tak pernah berhias untuknya, maka apa yang Anda

lakukan tidak mempunyai nilai apa-apa. Sebaliknya, sesederhana apa pun

engkau berhias, jika suami merasa apa yang engkau lakukan itu disebabkan

oleh cintamu kepada suami, maka tak ada yang lebih cantik di hatinya kecuali

engkau.

 

Yang menjadi pertanyaan kemudian, kapan seorang suami merasa bahwa

istrinya berhias untuk suami, kapan suami memandang istrinya berhias untuk

orang lain di sepanjang jalan atau majelis-majelis, serta kapan suami

memandang istrinya berhias untuk kepuasan diri sendiri saja? Wallahu A’lam

bishawab. Saya tidak tahu. Silakan Anda bertanya kepada diri Anda sendiri

ketika sedang berhias: apakah Anda berhias demi menjaga pandangan suami

ataukah Anda berhias semata karena itu telah menjadi kebiasaan Anda ataukah

karena yang lainya lagi…(yang saya tidak tahu apa itu)? Kalau Anda bisa

menjawab pertanyaan ini dengan jernih, insya-Allah juga bisa menjawab

pertanyaan sebelumnya. Anda bisa memahami kapan suami merasa Anda

berhias sama sekali bukan untuknya. Sama sekali.

Alhasil, di samping mengetahui saat tepat untuk berhias, Anda juga perlu

mengetahui apa yang dapat merawat perasaan suami kepada Anda.

Termasuk dalam kategori merawat adalah menjaga lisan untuk tidak

menceritakan kecantikan wanita lain sehingga suami seolah-olah

memandangnya sendiri. Meskipun kecantikan bukan segala-galanya, namun

orang mudah dipengaruhi oleh kesan-kesan visual. Orang mudah terpengaruh

oleh keindahan pandangan dan suara. Orang mudah terpengaruh oleh kesan

sekilas, sehingga banyak peristiwa serong terjadi hanya karena suami terkesan

oleh perhatian yang “tulus” dari rekan sekerjanya karena sering mengingatkan,

“Maaf, Pak…. Itu krah bajunya kurang pas.” Setelah mereka menikah, suami

mendapati rekan sekerja yang sekarang menjadi istrinya itu sama saja dengan

istrinya yang terdahulu.

 

Kembali ke soal larangan menceritakan kecantikan wanita lain. Sebelum

beranjak lebih jauh, mari kita temui Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam

bukunya Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Menurut

Ibnu Qayyim, ada tiga pendorong cinta yang datang dari diri orang yang

dicintai. Salah satunya adalah, “Pandangan dengan menggunakan mata atau

hati, jika boleh diistilahkan begitu. Betapa banyak laki-laki yang mencintai

wanita, hanya karena mendengar ciri-ciri wanita itu dan belum pernah

melihatnya. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang

seorang wanita memberitahukan sifat-sifat wanita lain di hadapan suaminya,

hingga seakan-akan suaminya melihat wanita itu.”2

 

Dalam bahasa kita sekarang, pandangan dengan hati sebagaimana yang

dimaksudkan oleh Ibnu Qayyim barangkali adalah fantasi atau imajinasi.

Secara sederhana, bayangan yang kita ciptakan mendorong perasaan kita untuk

menyukai, merindukan, memiliki, membenci –meskipun kita sama sekali

belum pernah melihat secara langsung. Jika ini terus berlangsung, maka ada

beberapa keadaan yang mungkin terjadi. Tetapi kali ini, cukuplah dua di antara

berbagai kemungkinan itu saja yang kita bahas di sinsi.

 

Pertama, suami akan membanding-bandingkan istrinya dengan

kecantikan yang dibayangkannya berdasar cerita istrinya. Membandingkan

istri dengan fantasi akan selalu berakhir dengan kenyataan bahwa istri sangat

jauh dari yang diharapkan, berbeda sekali dengan yang diangan-angankan

suami. Ini memicu kekecewaan dan ketidakpuasan perkawinan. Sehingga

secantik apa pun istri berhias, ia tidak akan pernah menjadi yang tercantik di

hati suami.

 

Kedua, jika fantasinya semakin kuat sehingga perasaannya terhadap

wanita yang diceritakan oleh istri semakin besar, maka perasaan yang meluapluap

itu tidak bisa tidak akan mendorongnya untuk bertindak. Keinginan yang

besar terhadap wanita yang diceritakan oleh istri inilah yang dapat membuka

pintu fitnah. Bahkan seandainya pun suami sempat bertemu dengan wanita

yang diceritakan dan ternyata secara objektif jauh dari yang digambarkan oleh

istrinya, ia tetap memiliki harapan positif terhadap wanita tersebut.

Apa ini artinya? Silakan Anda renungkan sendiri dengan jernih.

Yang juga termasuk merawat perasaan suami adalah memberi sambutan

hangat di saat ia harus pulang mendadak karena hatinya tergoda oleh

kecantikan wanita lain di perjalanan. Barangkali sudah tiga atau empat kali

saya menyampaikan kepada Anda tentang masalah ini di sepanjang buku Kado

Pernikahan untuk Istriku ini. Meskipun demikian, saya masih harus

menjelaskannya lagi dari sisi lain, mengingat pentingnya soal meredakan

gejolak suami karena ketertarikan terhadap apa yang dilihatnya. Sebelum

membahas lebih lanjut, mari kita perhatikan sekali lagi hadis Nabi tentang

perkara ini.

 

Dari Jabir r.a. berkata, Rasullullah Saw. Bersabda, “Seorang wanita itu

datang dalam bentuk syaithan, maka ketika salah seorang dari kalian melihat

wanita yang memikatnya, segeralah mendatangi istrinya, karena itu bisa

meredam gejolak yang ada dalam dirinya.” (HR. Muslim)

Ketika suami harus pulang mendadak ingin menjaga syahwatnya, maka

hendaknya istri memberi sambutan dengan sebaik-baiknya sehingga

persetubuhan yang dilakukan itu berakhir dengan mengesankan. Bukan justru

meninggalkan kekecewaan, sehingga gejolaknya semakin meluap-luap. Istri

yang sangat bergairah akan dapat meredakan gejolak suami yang sedang

memuncak.

 

Masalah yang kemudian bisa terjadi adalah, di saat sedang penuh gairah,

suami boleh jadi tidak mampu lagi menahan dirinya untuk bersegera

melakukan hubungan seks. Ia terlalu panas untuk menunggu. Pada saat seperti

ini boleh jadi suami akan terdorong untuk melakukan quickie (hubungan seks

kilat) sebagaimana telah saya jelaskan pada bab Keindahan Suami Istri.

Karena itu ia perlu disambut dengan penuh gairah dan rasa cinta yang

membakar.

 

Persoalan bisa muncul karena satu di antara dua hal ini. Pertama, istri

memandang remeh karena tak mampu berempati. Seorang akhwat pernah

bertanya, “Laki-laki itu kok aneh, sih. Lihat pisau berkilat saja bisa

membangkitkan syahwat.” Gejolak suami diremehkan karena istri

memandangnya berdasarkan dinamika syahwatnya sendiri. Karena istri tidak

empatik, ia tidak memberi pelayanan dengan gairah yang hangat. Akibatnya,

suami merasakan kekecewaan yang berat, meskipun ia dilayani istrinya di

tempat tidur.

 

Kedua, istri tidak memberi sambutan yang hangat dan penuh gairah ketika

suaminya pulang mendadak karena ia sedang tidak berminat sama sekali untuk

berjima’. Dinginnya syahwat istri ini karena suaminya termasuk memiliki

dorongan seks yang tinggi sehingga frekuensi jima’ di antara mereka sangat

tinggi. Padahal saat pulang mendadak, jima’ perlu disegerakan dengan penuh

gairah.

 

Di sinilah kita melihat salah satu hikmah poligami. Pembagian masa gilir

memungkinkan istri untuk tidak jenuh terhadap hubungan seks, sehingga

setiap masa gilir tiba istri selalu dalam keadaan bersemangat dan syahwatnya

bangkit saat berdua dengan suami di tempat tidur.

Sebaliknya bagi suami, terutama yang gairahnya sangat tinggi, pembagian

masa gilir itu lebih menjamin keteraturan dalam menjaga syahwatnya.

Maslahat lainnya, suami lebih terjaga agar tidak terlalu panas saat berkumpul

bersama istrinya, sehingga lebih menjamin kebahagiaan seksual istri. Wallahu

A’lam bishawab.

Tentu saja, pernikahan poligamis bukan hanya sekedar (meskipun itu juga

bukan sekedar) untuk memberi kepuasan seks bagi suami maupun istriistrinya.

Ada hal yang lebih penting. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut

mengenai poligami, silakan periksa bab Poligami di bagian akhir buku kita ini.

Begitu.

 

Catatan Kaki:

1. Silakan periksa Bagaimana Membahagiakan Suami karya Muhammad

Abdul Halim Hamid, Citra Islami Press, Solo, 1993, pada bab Sambutan

yang Menyenangkan.

2. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan redaksi, “Janganlah wanita

bergaul dengan wanita lain, lalu dia memberitahukan sifat wanita itu

kepada suaminya seakan-akan dia dapat melihatnya.” Hadis ini juga

diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Imam Ahmad.

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: