Bab 14Keindahan Tak Sekedar“Itu”

Dr. Achmad Tafsir pernah bercerita bahwa orang sering meremehkan

masalah seksual dalam keluarga, padahal banyak krisis keluarga yang

sebetulnya terjadi dikarenakan adanya masalah-masalah seksual yang

tidak diselesaikan. Kedua belah pihak tidak terbuka. Dalam perkembangan waktu

masalah-masalah itu kemudian terakumulasi, dan akhirnya meledak menjadi krisis

keluarga. Ada sikap-sikap ekstrem terhadap seks itu, yang tidak seluruhnya benar.

Begitu Jalaluddin Rakhmat menulis di dalam makalahnya yang kemudian diterbitkan

bersama makalah dari beberapa penulis lain dalam buku Keluarga Muslim dalam

Masyarakat Modern (Remadja Rosdakarya, Bandung, 1993).

Seks dalam keluarga merupakan masalah suci. Islam memberi tempat bagi

manusia untuk menghidupkan aktivitas seks bagi suami-istri. Allah menyediakan

kemuliaan akhirat ketika suami-istri memenuhi kebutuhan seksnya, sekalipun itu

sekedar untuk memperoleh kesenangan dari kekasihnya yang sah. Ketika seorang

suami memandang istrinya, atau istri memandang suami, dengan penuh syahwat

untuk bercumbu atau berjima’, Allah memandang mereka dengan pandangan rahmat.

Alhasil, seorang muslim yang baik juga perlu memahami tuntunan Islam mengenai

seks agar perilaku dan kebutuhan seksnya mempunyai nilai di hadapan Allah.

Sikap ekstrem dalam masalah seks, sebaiknya dihindari. Menyibukkan dalam

zikir sehingga melalaikan kebutuhan seks istrinya, tidak dipandang sebagai kemuliaan

oleh agama. Begitu juga, tidak benar seorang istri menenggelamkan diri dengan

kesibukan ibadah sehingga mengakibatkan kebutuhan seks suami terlantar.

 

Abu Sa’d menuturkan, Rasulullah Saw. pernah menegur istri Shafwan ibn

Mu’attal karena terlalu banyak beribadah sehingga mengganggu kehidupan

perkawinannya. Wanita itu biasa membaca dua surah yang panjang-panjang dalam

shalat Isya’nya, sehingga membuat suaminya menunggu. Ia juga kerap melakukan

puasa tanpa seizin suaminya, yang membuatnya kelelahan dan menghindari setiap

kesempatan untuk melakukan hubungan intim dengan suaminya di siang hari (karena

hubungan seksual dilarang ketika melakukan ibadah puasa). Rasulullah memberikan

peraturan demi suaminya, kata Ruqayyah Waris Maqsood. Beliau menganjurkan

untuk membatasi bacaannya pada satu surah saja, dan puasa bila diizinkan suaminya.

Hal yang sama juga terjadi ketika Rasulullah Saw. mendengar tentang seseorang

yang suka berkhalwat, yaitu ‘Abdullah ibn ‘Amr. Ia biasa melakukan shalat di

sepanjang malam dan puasa di sepanjang siang. Rasulullah menasehatinya untuk

tidak berlebihan dalam ibadahnya seraya mengatakan, “Matamu mempunyai hak atas

kamu, tamumu mempunyai hak atas kamu, dan istrimu pun mempunyai hak atas

kamu.” (HR Bukhari).

Allah ‘Azza wa Jalla memberikan rahmat bagi suami-istri yang melakukan jima’.

Allah juga memberikan kenikmatan surgawi yang sangat menyenangkan ketika kita

berjima’. Jima’ memberikan kelegaan dan keindahan dalam rumah tangga. Jima’

sangat penting dalam menjaga keharmonisan hubungan suami-istri. Ia bisa

mempererat jalinan perasaan dua orang yang berlainan jenis itu.

Jima’ begitu penting dalam menegakkan kehidupan rumah tangga. Tetapi ada

yang lebih penting dari itu. Manusia membutuhkan ketenangan (sakinah), cinta kasih

dan rahmah. Jima’ hanyalah salah satu wasilah (perantara) untuk mencapai

ketenangan jiwa karena gejolak syahwat dapat disalurkan melalui jalan yang halal dan

dihormati Allah. Karena itu, jima’ secara halal dapat menambah kecintaan suami-istri.

Jima’ hanyalah wasilah. Ketika seseorang melakukan jima’, maka yang paling

penting bukanlah kenikmatan bersetubuh, tetapi ketenangan jiwa, kejernihan hati, dan

kelapangan dada dari beban karena desakan itu bisa disalurkan dengan baik.

Sekalipun demikian, jima’ bukan semata peristiwa biologis. Ia juga merupakan

peristiwa psikis.

 

Ketika jima’ terhenti hanya sebagai peristiwa biologis, maka yang ia peroleh

hanyalah kenikmatan saat inzal (ejakulasi bagi laki-laki, lubrikasi dan keterangsangan

bagi wanita). Sesudahnya tak ada ketenangan hati dan ketenteraman jiwa saat

menjalani kehidupan bersama dalam rumah tangga, saat mendidik anak, dan saat

memperjuangkan komitmen kehidupan. Atau barangkali hal-hal semacam ini sudah

tidak mengusik hati, karena keresahan jiwa sudah menjadikan mereka sibuk terhadap

kenikmatan-kenikmatan periferal (semu).

 

Ketika jima’ hanya merupakan peristiwa biologis yang cuma memberi

kenikmatan inzal, sedang mereka tak menemukan kenikmatan lain yang lebih

menyentuh rasa kemanusiaan (jangan bicara yang lebih tinggi dulu), maka hari ini

kita saksikan orang sibuk membicarakan seks, seks, dan seks tanpa beranjak dari pola

pembahasan yang hampir semuanya cenderung menekankan kepada aspek fisik. Lagi

lagi tidak menyentuh kepada aspek jiwa. Setiap hari orang sibuk berbicara tentang

seks. Media massa memberi porsi yang besar terhadap seks; seks di rumah, seks di

kantor, dan menyegarkan kembali hubungan seks dengan istri (masih untung kalau

begini) melalui perpindahan tempat. Mereka sibuk menawarkan cara, misalnya

suami-istri bepergian ke satu hotel dan melakukan hubungan seks di sana, tanpa

mendengar keceriaan tawa anak-anak yang mengganggu.

 

Pada saat yang sama, manusia juga disibukkan untuk mempercantik diri.

Sebagian dari mereka disibukkan dengan obsesi untuk melakukan rekayasa

kecantikan demi mempertahankan daya tarik seks mereka di hadapan suami. Kita

pernah membaca di media massa, sebagian di antara mereka melakukan operasi

plastik untuk memancungkan hidung dan memontokkan payudara. Di antaranya

berakhir dengan tragis; hidung yang patah, pembusukan payudara, kerusakan wajah

akibat kosmetik yang berlebihan.

 

Ini adalah ironi kemanusiaan. Di saat manusia semakin “terdidik”, mereka justru

mengalami kemerosotan dalam kehidupan psikisnya. Mereka terjebak pada aspek

fisik yang sangat zahir, sehingga keelokan rupa yang menjadi perhatian utama (dan

karena itu cepat membosankan). Padahal sesungguhnya, ada yang lebih berarti.

Adakalanya orang aktif secara seksual, tetapi mereka tidak menemukan

kesejukan dalam rumahnya. Rumah berhenti sebagai bangunan yang beratap dan

berpintu. Mereka aktif bertasabbub, istri melahirkan anak hampir setiap dua tahun

sekali (kadang malah tidak sampai dua tahun), anak mereka sampai lebih dari lima

orang, tetapi tak ada kedamaian di rumah. Hubungan antara suami dan istri tidak

akrab, apalagi mesra (kecuali saat berjima’).

 

Ini berarti, ada yang lebih indah dari jima’. Keindahan di luar jima’ ini memang

bisa semakin menyempurnakan keindahan dan kenikmatan jima’. Tetapi keindahan

itu bukan terletak pada tercapainya inzal saat berjima’. Ada kesenangan hidup dalam

rumah tangga (semoga Allah memberikan kesenangan itu kepada keluarga kita). Dan

kesenangan itu bukan terletak pada kecantikan wajah –yang membuat sebagian orang

merasa cemas dan dilanda ketakutan ketika usia mendekati 40 tahun.

 

Kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, “Allah menjadikan penyebab kesenangan

adalah keberadaan istri. Andaikata penyebab tumbuhnya cinta adalah rupa yang elok,

tentunya yang tidak memiliki keelokan tidak akan dianggap baik sama sekali.

Kadangkala kita mendapatkan orang yang lebih memilih pasangan yang lebih buruk

rupanya, padahal dia juga mengakui keelokan yang lain. Meski begitu tidak ada

kendala apa-apa di dalam hatinya. Karena kecocokan akhlak merupakan sesuatu yang

paling disukai manusia, dengan begitu kita tahu bahwa inilah yang paling penting dari

segala-galanya. Memang bisa saja cinta tumbuh karena sebab-sebab tertentu. Tetapi

cinta itu akan cepat lenyap dengan lenyapnya sebab.”

 

Keberadaan istri (atau suami) itulah yang lebih indah daripada jima’ atau

memandangi kecantikan wajah istri yang tidak terhalangi oleh bedak tebal. Sekalipun

demikian, seorang istri perlu menjaga suaminya agar tidak tergoda oleh kecantikan

wanita lain. Ini dilakukan dengan dua hal, setidaknya baru ini yang saya ketahui.

Pertama, melayani dengan penuh kehangatan (syukur jika mau mengingatkan suami

tentang hal ini) jika suami harus pulang mendadak karena tergoda oleh kecantikan

wanita di perjalanan. Kedua, tidak menceritakan kecantikan wanita lain seolah-olah

suami melihat sendiri. Apalagi imajinasi sering memberi kesan yang lebih kuat

dibanding melihat secara langsung (selengkapnya baca bab Biarlah Engkau yang

Tercantik Di Hatiku di jendela tiga buku ini).

 

Anda bisa memberi izin atau bahkan menganjurkan suami untuk matsna

(menikah lagi untuk yang kedua kali) dengan wanita lain secara sah sehingga bisa

menjadi teman untuk berjuang bersama-sama dengan Anda. Tetapi Anda tidak bisa

memberinya izin untuk membayangkan wanita lain. Anda perlu menjaganya

(disamping suami juga perlu menjaga dirinya sendiri).

Di sinilah keunikan agama kita sekaligus menunjukkan kesempurnaannya dalam

mengatur setiap sisi kehidupan kita. Ada wasilah (perantara), ada ghoyah (tujuan).

Kita hendaknya tidak terjebak pada wasilah sehingga melupakan ghoyah. Tetapi kita

juga sebaiknya tidak melupakan wasilah karena memandang ghoyah.1

Maka mudah-mudahan kita bisa mengikhtiarkan agar keberadaan kita

mempunyai makna bagi teman hidup kita. Jika kehadiran kita tidak bisa dirasakan

maknanya oleh teman hidup kita, maka keluarga akan runyam. Akan terasakan

kekeringan atau kegersangan komunikasi dan selanjutnya membuat jiwa merasa lapar

jika terlalu lama berlangsung. Hubungan dalam keluarga terasa beku tanpa

kehangatan. Hubungan dalam keluarga lebih bersifat peran-peran atau tugas-tugas. Ini

dapat menegangkan. Apalagi kalau sampai terjadi keadaan di mana adanya kita lebih

buruk daripada tidak adanya, maka dapat dibayangkan bagaimana suasana dalam

keluarga itu (naudzubillahi min dzalik).

Saya ingin melanjutkan pembahasan mengenai masalah ini. Tetapi sebelum itu,

marilah kita berhenti sejenak untuk memohon barakah kepada Allah Yang Maha

Pengasih atas keluarga kita, pernikahan kita, dan atas diri kita. Mudah-mudahan Allah

mengampuni kekeliruan kita.

Ketika pernikahan kita barakah (ya Allah, barakahilah pernikahan kami dan

ampunilah kesalahannya), maka kehadiran kita sangat berarti bagi teman hidup kita.

Kehadiran Fathimah Az-Zahra bagi suaminya, Sayyidina Ali karamallahu wajhahu

adalah gambaran paling mempesona. Saya sangat terkesan dengan keindahan

pernikahan mereka, sehingga ingin menuliskan sekali lagi komentar Sayyidina Ali

tentang istrinya. Kata Sayyidina Ali, “Ketika aku memandangnya, hilanglah

kesusahan dan kesedihanku.”

Ah, seandainya para istri seperti Fathimatuz Zahra, maka akan lahir kekuatan

yang sangat besar melalui suami dan anak-anak yang dilahirkan. Suami tidak keder

ketika harus menghadapi benturan di luar. Suami menjadi tegar ketika harus

menegakkan kepala di luar rumah. Suami berani menanggung rasa sakit karena ketika

di rumah, ia temukan surga yang memberi kedamaian. Bukan keadaan yang

mencekam karena harus menghadapi tuntutan istri yang tidak pernah puas dengan

rezeki suaminya.

 

Ya Allah, kami sambat kepada-Mu, penuhilah keluarga kami dengan barakah

Mu. Jadikanlah istri-istri kami sebagai penyejuk mata. Karuniakanlah kepada kami

keturunan yang menyejukkan mata dan menjadi imam orang yang bertakwa.

Jika jalinan perasaan tumbuh subur di ladang keluarga kita, maka perasaan kita

akan mengharap kehadiran teman hidup kita ketika ia sedang jauh dari kita. Di sinilah

keindahan yang lebih mulia insya-Allah akan terbentuk. Suami-istri akan merasa

bermakna dan mengalami keterpenuhan jiwa kita ia merasa ada yang mencintai dan

merindukannya; ada yang menggelisahkan dirinya kalau sesuatu yang kurang

mengenakkan terjadi.

 

Jalaluddin Rakhmat memberi gambaran indah dalam khothbahnya. Ia

mengingatkan kedua mempelai dengan uraian singkat. Kata Jalaluddin Rakhmat,

“Dahulu Anda adalah manusia bebas yang boleh pergi sesuka Anda. Tetapi, sejak

pagi ini, bila Anda belum juga pulang setelah larut malam, di rumah Anda ada

seorang wanita yang tidak bisa tidur karena mencemaskan Anda. Kini, bila berharihari

Anda tidak pulang tanpa berita, di kamar Anda ada seorang perempuan lembut

yang akan membasahi bantalnya dengan linangan air mata. Dahulu, bila Anda

mendapat musibah, Anda hanya mendapat ucapan “turut berduka cita” dari sahabatsahabat

Anda. Tetapi kini, seorang istri akan bersedia mengorbankan apa saja agar

Anda meraih kembali kebahagiaan Anda. Anda sekarang mempunyai kekasih yang

diciptakan Allah untuk berbagi suka dan duka dengan Anda.”

 

Perasaan ada yang menerima, ada yang mencintai dengan tulus, ada yang

memperhatikan dan tidak menginginkan kemarahannya, serta perasaan ada yang

mengharapkannya menjadi baik secara tulus dan ikhlas, jauh lebih indah daripada

kehangatan tubuh dan keharuman pipi saat berjima’. Inilah yang dirindukan manusia

dalam pernikahan.

 

Saya jadi teringat kepada salah satu nasehat Rasulullah. Dari Anas bin Malik r.a.

berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Tidakkah kalian mau saya beritahu tentang

wanita ahli surga?” Kami berkata, “Tentu ya Rasulullah.” Rasulullah Saw. bersabda,

“Setiap istri yang wadud (sayang) dan walud (banyak anak). Apabila ia membuat

marah suami atau menyakiti hatinya atau suami marah kepadanya, ia berkata,

‘Inilah tanganku berada di tanganmu. Saya sungguh tidak bisa menikmati tidur dan

istirahat sehingga engkau ridha kembali.”

Ketika suami mendengar perkataan yang tulus dari istrinya, maka kekerasan

hatinya insya-Allah akan luluh. Kemarahannya akan reda dan berganti dengan

perasaan rahmah dan ingin melindungi. Api akan padam ketika berhadapan dengan

air. Tetapi akan berkobar ketika dihembus angin, kecuali ketika apinya masih kecil.

 


Perasaan ada yang menerima,

ada yang mencintai dengan tulus,

ada yang memperhatikan

dan tidak menginginkan kemarahannya,

jauh lebih indah daripada kehangatan saat berjima’.

Inilah yang dirindukan manusia dalam pernikahan.

 

Maka di sinilah kita perlu belajar. Ketika ada yang meluap emosi negatifnya,

salah satu pihak perlu menahan diri. Ia perlu menjadi air. Kalau keduanya tidak ada

yang bersedia untuk berendah hati mendengar kemarahan dan kekesalan

pasangannya, yang terjadi adalah pertengkaran dan perseteruan. Kalau terus berlanjut,

keduanya bisa mengembangkan sikap mempersalahkan teman hidupnya. Dialah yang

harus begini atau begitu.

Sebaliknya, kelapangan hati untuk meredam emosi insya-Allah akan membawa

kepada kebaikan. Kelembutan akan membawa kepada keindahan dan tegaknya sikap

yang seharusnya. Insya-Allah. Kelembutan akan mencairkan hati yang beku dan

melunakkan gunung yang keras. Setelah kemarahan reda, keduanya bisa melakukan

ishlah. Anda bisa mengoreksi secara bijak. Insya-Allah teman hidup Anda akan lebih

mudah menerima. Lebih bisa menyadari jika memang ada kesalahan yang harus

diperbaiki.

 

Kita mungkin tidak bisa meniru kelapangan hati Rasulullah Saw.. Tetapi ada

baiknya kita mengingat bagaimana reaksi Rasulullah menghadapi kemarahan Aisyah,

istri beliau yang tercinta. Suatu ketika Aisyah pernah marah kepada beliau. Aisyah

berkata, “Engkau ini hanya mengaku-aku saja sebagai Nabi.” Rasulullah yang mulia

hanya tersenyum menghadapi hal itu dengan penuh kesabaran dan keagungan.

Jika suami-istri dapat saling meredakan hati yang bergejolak, maka kehadiran

seorang istri akan lebih bermakna bagi suami. Begitu juga, istri akan merasakan

ketenteraman dan kebahagiaan dengan hadirnya suami di rumah. Sekedar hadir saja.

Tak lebih dari itu. Barangkali hanya untuk duduk-duduk bersama dan bercanda.

Sesuatu yang kelihatan tidak penting dan tidak bermanfaat. Tetapi adakalanya jiwa

kita merindukan saat-saat seperti itu. Anak-anak kadang juga menunggu-nunggu

kesempatan semacam itu. Ketika kebutuhan jiwa itu tak terpenuhi, kadang anak

menderita sakit. Bukan karena ada gangguan fisik, tetapi semata sebagai reaksi

somatis atas kebutuhan jiwanya.

Ah. Kalau berbicara seperti ini saya jadi teringat kepada kehidupan rumah tangga

Rasulullah (kita bisa meniru nggak, ya?). Rasulullah adalah seorang pemimpin besar,

panglima militer yang besar dan sekaligus tokoh panutan masyarakat yang terbesar

sampai zaman ini. Rasulullah juga seorang manusia yang memiliki kesibukan luar

biasa untuk berbagai keperluan, sejak dari melayani masyarakat sampai dengan

mencari ma’isyah (penghidupan keluarga). Tetapi beliau masih sempat bercanda

dengan istri-istrinya dengan canda yang mungkin tidak akan dilakukan oleh seorang

pemimpin tingkat kabupaten.

 

Pernah Rasulullah mengajak istrinya, Aisyah, untuk berlomba lari dengannya.

Rasulullah kalah. Lain kali Rasulullah kembali mengajak Aisyah berlomba lari dan

Rasulullah memenangkannya sehingga beliau tertawa seraya berkata, “Ini pembalasan

yang dulu.” Begitu Imam Ahmad dan Abu Dawud menceritakan dalam hadisnya.

Kata Muhammad Abdul Halim Hamid, hadis ini shahih.

Rasulullah juga menunjukkan perhatian dan kemesraan kepada Aisyah ketika

meminum. Rasulullah meminum dari gelas yang sama dengan Aisyah dan meminum

di bekas tempat Aisyah meminum. Begitu yang diceritakan Imam Muslim dalam

hadisnya.

 

Begitu juga ketika mandi bersama, kadang Rasulullah menunjukkan candanya.

Bercanda dengan istri atau suami insya-Allah membawa kepada kebaikan dan

langgengnya perasaan cinta antara keduanya. Agama ini bahkan menilai canda suamiistri

sebagai tindakan di luar dzikrullah yang tidak termasuk kesia-siaan.

Rasulullah Saw. bersabda, “Segala sesuatu selain dzikrullah itu permainan dan

kesia-siaan, kecuali terhadap empat hal; yaitu seorang suami yang mencandai

istrinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua

sasaran (dalam permainan panah, termasuk juga dalam berlomba), dan seseorang

yang berlatih renang.” (HR. An-Nasa’i. Shahih, kata Muhammad Abdul Halim

Hamid).

 

Begitu dekatnya hubungan Rasulullah dengan istrinya, sehingga beliau dapat

mengenali kapan Aisyah marah dan kapan Aisyah ridha hanya dari perbedaan diksi

ketika berbicara kepada Rasulullah. Padahal Aisyah tidak menampak-nampakkan

emosinya.

Ketika rumah diwarnai dengan kehangatan, penerimaan, perhatian, dan kasihsayang,

maka ia menjadi surga bagi penghuninya. Rumah tidak sekedar bangunan

kokoh dari batu bata dan semen. Rumah memberi arti kedamaian dan keteduhan

psikis. Dan ini lebih indah dari sekedar kenikmatan hubungan seks berhenti sebagai

peristiwa biologis semata-semata. Jika hubungan seks tidak berhenti sebagai peristiwa

biologis semata-semata, ada keindahan yang lebih dari itu.

 

“Banyak orang yakin bahwa ekspresi yang ada dalam pandangan seseorang

dapat mengungkapkan isi hati seseorang,” kata Ruqayyah, “Pasti, pandangan

kekasih adalah hal yang paling menyenangkan dan menenteramkan. Banyak kaum

istri yang mendambakan pandangan semacam itu, sekalipun mereka sudah menikah

selama bertahun-tahun.”

 

“Jika Anda tak dapat membuat diri Anda untuk memandang dan memperhatikan

istri Anda,” kata Ruqayyah lebih lanjut, “maka baginya itu adalah tanda bahwa Anda

tak benar-benar mencintainya. Walaupun tidak menyenangkan dan tampak

berlebihan, banyak wanita merasa tersentuh sekali jika seorang laki-laki benar-benar

mengucapkan bahwa ia mencintainya.”

Rasulullah kadang memanggil Aisyah dengan sebutan humaira’ (wanita yang

pipinya bersemu merah). Ini merupakan panggilan mesra seorang suami kepada

istrinya. Bagaimana dengan kita?

Ungkapan cinta merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi seorang istri.

Mungkin Anda benar-benar mencintainya. Meskipun demikian, jika tidak pernah

Anda ungkapkan melalui kata-kata mesra ketika tidak sedang berjima’, cinta itu bisa

terasa hambar baginya. Begitu juga pandangan mata.

Kebutuhan untuk mendengar dan didengarkan merupakan sesuatu yang penting,

termasuk mendengar perkataan cinta suaminya. Manusia mempunyai kebutuhan

untuk itu.

 

Seorang istri mempunyai kebutuhan untuk didengar perasaannya. Ia butuh ada

orang yang mau menerima ceritanya, tentang kelelahannya, tentang kecemasannya

menunggu Anda, dan isyarat-isyarat yang diberikannya.

Suami adakalanya tidak bisa mendengarkan ungkapan perasaan istri

sebagaimana yang diharapkan. Ketika istri bercerita tentang betapa capeknya ia hari

itu dengan mencuci popok yang bertumpuk dan anaknya yang cerewet (atau cerdas?),

suami segera menanggapinya sebagai persoalan yang perlu segera diselesaikan agar

tidak menjadi masalah. Yang terjadi kemudian, istri justru jengkel. Persoalan ini

terlalu sepele untuk didiskusikan. Yang ia butuhkan adalah kekasih yang mau

mendengarkan. Mendengar inilah yang berharga. Bukan pembahasan mengenai

masalah yang disampaikan.

 

“Keunikan” istri yang semacam ini kadang membingungkan suami. Padahal,

suami juga mempunyai sikap serupa. Hanya obyeknya yang berbeda. Lihat saja

bagaimana para bapak yang baru selesai menyaksikan siaran langsung sepak bola.

Mereka sibuk membicarakan tendangan pemain dari kesebelasan favoritnya dengan

rekan-rekannya yang juga menyaksikan, semeja lagi. Mereka membicarakan, kalau

mau jujur, bukan untuk memberi informasi karena mereka sudah sama-sama tahu.

Mereka juga tidak mendiskusikan untuk memperoleh pemecahan masalah karena

mereka tidak memiliki kompetensi untuk membicarakan. Mereka membicarakan

pertandingan sepak bola yang baru saja selesai sebagai luapan perasaan yang butuh

disampaikan dan butuh ada yang mau mendengarkan.

 

Lain istri, lain pula suami. Di tempat kerja, banyak laki-laki yang lebih suka

memecahkan masalahnya seorang diri, dan membicarakan hanya kepada orang-orang

yang sarannya benar-benar ia butuhkan, kata Ruqayyah. Sebagian orang lebih suka

menjauhkan diri untuk sementara waktu dari permasalahan, dan kembali lagi nanti.

Ketika mereka tiba di rumah, kadang-kadang mereka ingin menyepi –dan inilah yang

tidak diketahui dan kurang dihargai oleh banyak istri.

 

“Sebagian kaum istri kurang pandai menangani kebutuhan suami untuk

mendapatkan kedamaian dan ketenangan,” kata Ruqayyah Waris Maqsood, “Secara

naluriah mereka merasakan ketegangan itu, dan bereaksi dengan mendesak suami

untuk diberitahu semuanya. Mungkin suami merasa malu dan tidak enak bila istri

mengetahui hal tersebut, dan mungkin ia tidak ingin membicarakannya dengan

istrinya. Ia ingin menjaga istrinya dan rumahnya sebagai tempat berlindung dari

semua persoalan. Apalagi menceritakan seluk-beluk masalah itu kepada istri akan

memakan waktu terlalu lama dan ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu malamnya.2

Di sinilah kadang timbul persoalan. Apalagi kalau istri membiarkan sikap curiga

tumbuh dalam hatinya. Konflik bisa muncul, meskipun bersifat internal. Istri merasa

suami tidak mencintainya. Istri merasa suami tidak mempercayainya. Padahal

persoalannya adalah pada bagaimana istri menghadapi suaminya. Jika suami

memperoleh dukungan psikis yang menjadikannya menemukan ketenangan, suami

akan dapat menceritakan kepada istri tanpa perasaan terbebani. Sikap Khadijah binti

Khuwailid ketika suaminya pulang dengan wajah pucat sehabis memperoleh wahyu,

barangkali dapat menjadi pelajaran bagi para istri. Selengkapnya bisa Anda baca

sendiri pada buku-buku yang berbicara tentang kehidupan Khadijah r.a., sirah

Nabawiyah, atau tentang keluarga Nabi Saw..

 

Ketika istri mampu mendampingi dan memberikan perhatian yang ikhlas, maka

suami merasakan kekuatan psikis dan dorongan semangat yang luar biasa. Inilah yang

ada pada diri Khadijah, terutama ketika Rasulullah Saw. berada pada masa-masa sulit.

Karena itu, tidaklah berlebihan jika kedudukan Khadijah di hati Rasulullah tak bisa

digantikan oleh siapa pun, termasuk oleh Aisyah yang usianya jauh lebih muda.

Padahal, ketika itu Khadijah telah lama meninggal dunia.

 

Muhammad Utsman Al-Khasyat pernah menulis, “Tindakan logis yang

dilakukan oleh setiap wanita yang berpikir cemerlang sewaktu berada di samping

suaminya adalah membantunya dengan kata-kata yang baik, memberikan senyuman

yang memotivasi, dan mendorongnya terus-menerus untuk merealisasikan semua

tujuan yang diharapkan. Setiap keberhasilan yang diraih bukanlah milik sendiri,

melainkan milik mereka berdua.”

 

Mendengarkan dan didengarkan secara tulus inilah sesuatu yang sangat berharga,

disamping keberadaan istri. Ada saat-saat di mana kita sebenarnya butuh untuk saling

berbicara, apa saja, dengan teman hidup kita. Seperti bercanda dengan istri, yang

terpenting bukanlah isi dari canda itu melainkan kesempatan untuk bercanda itulah

yang membukakan katup-katup hati. Begitu juga dengan berbicara antara suami-istri,

ada saat-saat di mana yang terpenting adalah kesempatan berbicara itu sendiri. Bukan

isi pembicaraannya. Keakraban dan perasaan dicintai ketika berbicara itulah yang

lebih berharga daripada tema-tema yang dibicarakan. Inilah yang disebut healthy

communication climate (suasana komunikasi yang sehat).

Pada masa sekarang, orang kadang membutuhkan waktu khusus untuk pergi

meninggalkan keluarga dan menikmati kebersamaan berdua di tempat yang jauh dari

hiruk pikuk keluarga. Mereka ingin mengulang bulan madunya dengan merencanakan

secara khusus acara yang memungkinkan mereka berbicara apa saja di luar kesibukan

sehari-hari.

 

Sebenarnya, insya-Allah kita tidak perlu sampai menyediakan waktu khusus

untuk melakukan revitalisasi perkawinan dengan meninggalkan anak-anak di rumah.

Ada waktu-waktu yang jika kita memanfaatkannya, insya-Allah jiwa kita akan

menemukan apa yang dibutuhkan. Hubungan perasaan antara suami dan istri dapat

terjaga. Waktu itu misalnya ba’da Dzuhur.

Tengah hari sehabis shalat Dzuhur, suami-istri bisa menutup pintu kamarnya.

Mungkin ber-qailulah (tidur siang) bersama. Mungkin juga “sekedar” (apa sih yang

sekedar?) untuk berbicara apa saja, tanpa harus ada tema. Mungkin juga sekali waktu

saling merayu dan memberikan pujian yang membesarkan hati. Atau mungkin

bercakap-cakap tanpa kata; saling memperhatikan tanpa banyak mengucapkan katakata

karena mata sudah berbicara banyak. Bisa juga mereka melakukan keintiman

fisik tanpa melakukan jima’.

Wallahu A’lam bishawab.

Ada lagi yang insya-Allah lebih indah dari jima’: kepercayaan. Perasaan bahwa

istri atau suami memberikan kepercayaan merupakan sesuatu yang sangat berharga.

Perasaan memiliki kepercayaan terhadap teman hidup, juga sangat berharga. Ketika

rasa percaya itu ada, suami tidak khawatir ketika meninggalkan istrinya di rumah.

Dan ini termasuk salah satu dari tiga kebahagiaan seorang laki-laki.

Rasulullah Saw. bersabda, “Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki adalah istri

shalihah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi

membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu;

kendaraan yang baik yang bisa mengantar kema-na kamu pergi; dan rumah yang

damai yang penuh kasih-sayang. Tiga perkara yang membuatnya sengsara adalah istri

yang tidak membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa menjaga lidahnya juga

tidak membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak bisa menjaga

kehormatan diri dan hartamu; kendaraan rusak yang jika dipakai hanya membuatmu

lelah namun jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi; rumah yang sempit

yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya.”

Proses menuju pernikahan banyak memberi pengaruh terhadap seberapa jauh

masing-masing memiliki kepercayaan dan merasa mendapatkan kepercayaan dari

orang yang dicintai. Selengkapnya, bisa Anda renungkan kembali bab terdahulu Di

Manakah Wanita-wanita Barakah Itu….

Selain kepercayaan, mendengarkan dan didengarkan, serta perasaan diterima dan

didukung, perhatian dan kelembutan merupakan sesuatu yang berharga. Keintiman

fisik sebagai salah satu bentuk kebersamaan di luar jima’, juga dibutuhkan.

Kedekatan fisik atau mungkin sampai membawa mereka kepada permainan dan

cumbuan, dapat dilakukan misalnya ketika menghabiskan waktu aurat. Pada saat ini

masing-masing bisa beristirahat dengan melepaskan pakaian luar. Selebihnya mereka

bisa saling memandang dan saling menyentuh. Tidak lebih. Kecuali jika Anda

memang ingin melanjutkan ke hubungan seks.

 

Akhirnya, kata Ruqayyah, sedikit “sentuhan” tambahan sebenarnya dapat

memperlancar hubungan. Rasulullah Saw. bersabda, “Menyuapkan sedikit makanan

ke dalam mulut istri adalah sedekah.” (Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan jenis

kelembutan yang harus hadir dalam keluarga Muslim. Remasan, rangkulan, sentuhan

tangan, cubitan kecil di pipi, hadiah kecil yang menunjukkan Anda mengingat istri

selama bekerja –semua itu merupakan sarana penghantar cinta Anda kepada istri.

Begitu Ruqayyah menjelaskan.

 

Kelak ketika Allah telah menganugerahkan seorang anak dalam pernikahan kita,

keindahan itu semakin sempurna jika orangtua memiliki misi terhadap anaknya dan

mampu membina hubungan yang serasi dengan anaknya. Tanpa itu, kita bisa

mengalami kebosanan selama berada di rumah. Yuni Nur Kayati, seorang ibu

berputera satu menulis di dalam bukunya Anakku, Dengarlah Ibu Ingin Bicara

tentang masalah ini. Kata Yuni, “Menjalani rutinitas sehari-hari di rumah akan

menjadi suatu yang membosankan jika kita tidak mampu memaknainya. Untuk itu,

kesadaran bahwa ini adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah sangat penting.

Dan kita akan menjalankan dengan perasaan bahagia.”

Demikian.

 

Keindahan tak sekedar “itu”. Tak sekedar jima’. Mudah-mudahan keindahan ini

ada dalam keluarga kita. Mudah-mudahan Allah membarakahi.

Allahumma amin.

 

Catatan Kaki:

1. Wasilah dalam konteks ini dapat dipahami sebagai perantara, kenikmatan

perantara untuk tercapai kenikmatan yang lebih besar, cara yang

mengantarkan orang kepada tujuan, sesuatu yang memperantarai atau

menjadi mediator tercapai kenikmatan atau kemaslahatan yang besar.

Ghoyah adalah tujuan, kenikmatan yang lebih prinsipil dan lebih langgeng,

lebih menjamin keharmonisan, sesuatu yang memiliki nilai yang lebih

mendasar, kebahagiaan akhir.

Kecantikan wajah dapat menjadikan orang senang. Ini merupakan wasilah.

Tetapi ini bukan ghoyah. Kecantikan dapat menjadikan hubungan seks lebih

indah dan menyenangkan. Mempercantik diri demi membahagiakan suami

merupakan perbuatan sunnah. Ini dapat menjadikan suami lebih dalam

cintanya. Tetapi istri hendaknya tidak melulu disibukkan dengan berhias.

Demikian juga suami hendaknya tidak hanya menyibukkan perhatian

terhadap kecantikan istrinya. Pada saat yang sama istri harus membentengi

suami dari keterjebakan terhadap kecantikan wanita lain. Begitu

rangkaiannya. Prinsip semacam ini juga kita jumpai dalam masalah-masalah

lain. Secara umum ini dijabarkan melalui prinsip-prinsip fiqih.

2. Baca kembali Saat-saat yang Tepat pada bab sebelumnya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: