Bab 12 Saat Tepat untuk Berhias

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu biasa membaca Al-Qur’an, kata

Al-Qasim bin Abdurrahman. Jika sudah selesai membaca dia bertanya,

“Mana orang-orang yang masih bujangan?” Kemudian ia berkata lagi,

“Mendekatlah ke sini, kemudian katakan, ‘Ya Allah anugerahilah aku

seorang wanita yang apabila kupandang dia membuatku senang, jika kusuruh dia

menurutiku, dan jika aku meninggalkannya dia menjaga dirinya dan hartaku’.

Adalah kebahagiaan seorang laki-laki ketika Allah menganugerahkan kepadanya

seorang istri yang apabila ia memandangnya, ia merasa semakin sayang. Kepenatan

selama di luar rumah, terkikis ketika memandang wajah istri yang tercinta.

Kesenangan-kesenangan di luar, tak menjadikan suami merasa jengah di rumah.

Sebab surga ada di rumahnya. Baiti jannati. Rumahku surgaku.

Kebahagiaan ini lahir dari istri yang apabila suami memandangnya, membuat

suami semakin bertambah kuat jalinan perasaannya (‘athifah). Wajah istri adalah

keteduhan, telaga yang memberi kesejukan ketika suami mengalami kegerahan.

Barangkali ungkapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhahu tentang

istrinya, Fathimah binti Rasulullah, merupakan gambaran sempurna tentang istri yang

apabila dipandang membuat suami merasa semakin sayang. Kata Sayyidina Ali,

“Ketika aku memandangnya, hilanglah kesusahan dan kesedihanku.”

Lalu apakah yang ada pada diri seorang istri, sehingga ketika suami

memandangnya semakin besar rasa sayangnya? Konon, seorang laki-laki akan mudah

terkesan oleh kecantikan wajah. Sempurnalah kebahagiaan seorang laki-laki jika ia

mempunyai istri yang wajahnya cantik memikat.

Tetapi asumsi ini segera dibantah oleh dua hal. Pertama, bantahan berupa faktafakta.

Kedua, bantahan as-Sunnah dari Rasulullah Muhammad Saw.

Konon, Christina Onassis mempunyai wajah yang sangat cantik. Ia juga

memiliki kekayaan yang sangat besar. Mendiang ayahnya meninggalkan harta

warisan yang berlimpah, antara lain kapal pesiar pribadi dan pulau milik pribadi juga.

Telah beberapa kali menikah, tetapi Christina harus menghadapi kenyataan pahit.

Seluruh pernikahannya berakhir dengan kekecewaan. Terakhir, ia menutup kisah

hidupnya dengan satu keputusan: bunuh diri.

Christina memiliki kecantikan wajah yang memikat. Banyak laki-laki yang

mengaguminya. Tetapi perkawinannya tak pernah lama. Mereka yang dulu sangat

mengaguminya, menyudahi perkawinan Christina dengan bercerai. Kecantikan wajah

tidak membuat suaminya semakin sayang ketika memandangnya. Jalinan perasaan

(‘athifah) antara Christina dan suami-suaminya tidak semakin kuat.

Kasus Christina memberi pelajaran bagi kita bahwa bukan kecantikan wajah

secara fisik yang dapat membuat suami semakin sayang ketika memandangnya. Ada

yang bersifat psikis, atau lebih tepatnya lebih bersifat qalbiyyah.

Christina Onassis tidak sendirian. Ada kasus-kasus lain, baik yang mencuat ke

permukaan maupun tidak. Tetapi bukan bagian kita saat ini untuk mengkompilasi

kasus-kasus seperti yang dialami oleh putri Onassis ini. Cukuplah kasus Christina

Onassis sebagai bantahan pertama. Rasa cinta dan ‘athifah (jalinan perasaan) bukan

tumbuh dari wajah yang mempesona.


“Engkau tak mungkin

dapat mencukupi kebutuhan semua orang

dengan hartamu;

karenanya, cukupilah mereka semua

dengan wajahmu yang gembira

dan watak yang baik.”


Dalam bentuk sederhana, kita mendapati di sekeliling kita bahwa orang lebih

mudah tersentuh hatinya oleh keramahan dan kelembutan daripada keelokan wajah.

Sikap yang baik meluluhkan hati manusia sehingga di hatinya tumbuh kasih-sayang.

Sedang kecantikan wajah segera sirna pesonanya ketika ia menampakkan sikap

kurang bersahabat, keras hati, dan meninggikan diri. Allahu A’lam bishawab.

Dari bantahan pertama yang berupa fakta, marilah kita memeriksa bantahan

kedua, yaitu hadis Nabi Muham-mad Saw. Rasulullah al-ma’shum pernah bersabda,

 

“Janganlah kamu menikahi seorang wanita karena kecantikannya, mungkin saja

kecantikannya itu membuatnya hina. Janganlah kamu menikahi seorang wanita

karena hartanya, mungkin saja harta itu membuatnya melampaui batas. Akan tetapi

nikahilah seorang wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang

shaleh, meskipun buruk wajahnya, adalah lebih utama.” (HR Ibnu Majah).

 

Ada lagi hadis yang sangat populer di kalangan kita tentang kriteria wanita yang

akan dinikahi. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda, “Biasanya wanita

dikawini karena empat (hal): karena hartanya, karena kebangsawanannya, karena

kecantikannya, dan karena agamanya (akhlaknya). Maka pilihlah yang beragama

(berakhlak) semoga beruntung usahamu.” (HR Bukhari & Muslim).

Lalu, apakah hadis-hadis tersebut tidak bertentangan dengan sebuah hadis yang

diriwayatkan oleh Al-Khathib? Al-Khathib meriwayatkan sebuah hadis yang

berbunyi, “Memandang wajah yang tampan atau cantik dapat menjernihkan mata,

sedangkan memandang wajah yang jelek mengakibatkan wajah masam dan

cemberut.”

 

Sebelum berbicara lebih lanjut, mari kita dengarkan penjelasan pakar hadis

zaman ini, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Dalam Silsilah Hadits Dha’if

dan Maudhu’, Al-Albani menyatakan bahwa hadis itu maudhu’. Palsu. Dengan

demikian sama sekali tidak tidak bisa dipakai sebagai argumentasi (hujjah) yang

dapat diterima.

Al-Albani lebih lanjut menegaskan, “Umumnya perawi ini meriwayatkan haditshadits

munkar, bahkan saya yakin bahwa dialah yang memalsu hadits ini. Demikian

pernyataan Ibnu Adi.”

 

Ada hadis-hadis serupa dengan ini, tetapi kedudukannya juga maudhu’ (palsu).

Karena itu, saya kira saya tidak perlu menambahkan di sini. Cukuplah penjelasan

tentang kemaudhu’an satu hadis di atas sebagai penguat bahwa kesejukan ketika

memandang sehingga perasaan ini semakin sayang, letaknya bukan pada keelokan

rupa secara zahir. Ada yang lebih bersifat bathiniyyah. Lebih bersifat psikis. Lebih

lanjut tentang masalah ini bisa Anda baca pada bab Ada Keindahan Yang Lebih

Besar.

 

Sekalipun demikian, perhatian terhadap kecantikan yang bersifat psikis

hendaknya tidak melalaikan wanita untuk merawat kecantikan fisiknya. Seorang

wanita shalihah insya-Allah akan merawat kecantikannya dan berdandan untuk

suaminya, justru karena rasa sayangnya yang sangat besar terhadap suami dan

terutama karena kesadarannya tentang kewajiban untuk menjadikan pandangan mata

suaminya sejuk ketika memandangnya. Dengan demikian suami tak tergerak untuk

memandang yang lain. Ia mencukupkan diri dengan hanya memandang istrinya.

Saya jadi teringat kepada sebuah hadis Nabi. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Ad-

Dailami meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, “Sebaik-baik istri kamu ialah

yang menjaga diri lagi pandai membangkitkan syahwat, yaitu keras menjaga

kehormatannya, pandai membangkitkan syahwat suaminya.”

 

Muhammad Utsman al-Khasyat menulis di dalam buku Muslimah Ideal Di Mata

Pria tentang penampilan fisik bagi wanita. Kata al-Khasyat, “Setiap wanita sangat

membutuhkan penampilan fisik. Ia juga mesti bertingkah-laku wanita dan berusaha

menampakkan kelembutan dan daya tariknya. Wanita seperti ini menunjukkan

penghormatan kepada kewanitaannya dan memperlihatkan keinginannya untuk

menarik perhatian suaminya.”

Seorang istri shalihah yang mencintai suaminya akan berusaha merawat

kecantikannya untuk menyejukkan pandangan mata suami, sehingga tidak

memandang wanita ajnabi yang bukan haknya. Ia berhias ketika di rumah, dan tidak

melakukannya ketika keluar rumah. Di saat ia berada di samping suaminya, ia bisa

memakai parfum yang menghangatkan penciuman suami. Tetapi tidak memakainya

ketika keluar, karena untuk ke masjid saja ia harus membersihkannya sampai tak

tercium baunya kalau pada saat itu ia sedang berparfum.

Lebih lanjut silakan periksa kembali bab Memasuki Malam Zafaf pada

pembahasan tentang sebaik-baik perhiasan bagi laki-laki dan perempuan.

Berhias bagi seorang istri untuk suaminya termasuk perbuatan yang mempunyai

nilai ‘ibadah. Demikian juga bagi suami, sunnah berhias bagi istrinya sekalipun ada

perbedaan antara berhias bagi laki-laki dan berhias bagi wanita. Mengharumi tubuh

merupakan salah satu sunnah dalam berhias bagi seorang laki-laki.

Rasulullah Saw., kata Muhammad Abdul Halim Hamid dalam buku Bagaimana

Membahagiakan Istri (Citra Islami Press, Solo, 1996), adalah orang yang paling

wangi baunya. Beliau mencintai wewangian dan memerintahkan sahabat-sahabatnya

untuk memakainya. Bau wewangian juga merupakan faktor penguat ikatan cinta

suami-istri dan menjauhkan dari rasa sebal.

Wallahu A’lam bishawab.

Seorang istri bisa berhias untuk suaminya kapan saja, sejauh tidak menyebabkan

kewajibannya terlalaikan. Tetapi ada tiga waktu yang insya-Allah tepat untuk berhias,

yaitu ketika suami akan pergi, ketika suami pulang, dan ketika berangkat ke

pembaringan. Tiga waktu ini memberi kesan khusus bagi suami, sehingga lebih

berarti dibanding waktu lain kecuali saat berjima’ dan saat suami sedang manja.

Wallahu A’lam.

 

Ketika Suami Akan Pergi

Pada awal berumah-tangga, seorang istri mungkin bisa berhias secara sempurna.

Tetapi ketika anak sudah banyak, agaknya repot bagi istri untuk berhias secara

sempurna setiap pagi ketika akan melepas suaminya berangkat bekerja. Urusan

dengan anak, terutama ketika anak masih balita, cukup menyita waktu dan perhatian.

Sekalipun demikian, hendaklah istri bisa menyisakan waktu untuk berhias bagi

suaminya agar ketika suami berangkat yang terakhir dilihatnya adalah wajah istri

yang cantik dan menyejukkan.

 

Berhias ketika suami akan berangkat kerja, tidak mesti harus mempercantik diri

dengan alat kosmetik. Di saat sangat repot mengurusi anak, agaknya menjaga

kebersihan muka yang berseri-seri telah cukup untuk merawat jalinan perasaan suami

kepada Anda. Ini terutama ketika Anda menemaninya di meja makan, saat-saat yang

berarti bagi suami sebelum berangkat kerja.

Suasana di meja makan, kata Muhammad Abdul Halim Hamid, dapat digunakan

untuk menunjukkan rasa kasih-sayang, demikian juga ketika Rasulullah Saw. sedang

menyantap hidangan dengan istrinya. Ia mengambilkan makanan, menyuapkannya

dan demikian pula sebaliknya. Ia meminum di tempat istrinya dan demikian pula sang

istri berbuat yang sama. Begitu Muhammad Abdul Halim Hamid menulis di bukunya.

Dari Aisyah r.a., ia berkata, “Suatu saat ketika saya haid saya minum dengan

gelas Rasulullah Saw., kemudian beliau meminum di tempat saya meletakkan mulut.

Ketika saya haid dan tubuh saya berkeringat, saya memberikan gelas kepada

Rasulullah dan beliau meminumnya di tempat mana saya meminum.” (HR Muslim).

Sekali lagi, dalam kehidupan sehari-hari istri Anda mungkin tidak bisa berhias

dengan sempurna setiap Anda akan berangkat kerja karena banyaknya kesibukan

yang harus ia jalani sebagai istri, ibu dan kepala rumah-tangga (sedang Anda sebagai

kepala keluarga). Apalagi jika anak sudah banyak, sebagian masih kecil dan

membutuhkan banyak perhatian. Sedangkan yang ada dalam kandungan sudah

mencapai usia tujuh bulan.

Ia mungkin tidak sempat memakai ghumrah (pemerah pipi dari za’faran),

padahal Anda termasuk suami yang menyukai melihat wajah istri yang memerah

lembut. Dan Anda pun termasuk suami yang mengharapkan dapat merasakan aroma

mewangi ketika mengecup istri menjelang berangkat kerja atau pergi jauh.

Ia mungkin juga tidak sempat untuk memberi khidhab (pewarna telapak tangan),

jika sebelumnya ia biasa memakai untuk Anda. Ia juga tidak mempercantik dirinya

dengan sesuatu yang sangat Anda sukai. Semua itu bukan karena cintanya kepada

Anda telah berkurang. Tetapi karena besarnya perhatian dan tanggung jawab istri

Anda terhadap anak-anak. Dalam hal ini, Anda perlu memahami dan menerima istri

Anda.

Ada satu catatan. Pagi hari merupakan stressful-time (waktu yang paling mudah

menimbulkan stres) bagi hampir semua anggota keluarga, terutama keluarga yang

tidak memiliki pembantu. Apalagi pada masa sekarang, ketika pendidikan anak

umumnya diserahkan kepada lembaga pendidikan formal, sejak dari TK (bahkan

play-group) sampai dengan SLTA, stres “pagi hari” lebih mudah muncul. Ibu sibuk

memandikan si kecil yang baru menginjak usia satu setengah tahun sambil tetap

menjaga agar nasinya tidak hangus. Sementara kakaknya yang usia 5 tahun bersiapsiap

untuk pergi ke TK bersama kakaknya yang akan belajar di SD. Belum lagi harus

mengurusi Anda yang kadang juga meminta perhatian hampir sama besarnya dengan

anak yang sudah duduk di SMP. Praktis, istri tidak bisa setiap hari berhias secara

sempurna.

 

Meskipun demikian, seorang istri ada baiknya untuk tetap mengusahakan agar

dapat kelihatan berseri-seri ketika menemani suami makan dan melepasnya pergi.

Menata rambut secara sederhana (kalau di hadapan suami kan nggak apa-apa

melepas jilbab) dan membersihkan muka sekedarnya dengan air (tanpa lotion

pembersih muka), cukuplah. Asal tidak awut-awutan. Apalagi kalau setiap pagi

begitu.

Adapun kalau Anda ingin membahagiakan suami dengan berhias secara

sempurna, maka yang demikian ini lebih baik. Insya-Allah pandangan mata suami

Anda akan lebih terjaga, sehingga hatinya juga ikut terjaga. Tetapi Anda tetap perlu

memperhatikan siapa suami Anda. Sebab Anda berhias untuk suami Anda seorang.

Sebagian suami senang melihat istri yang memakai kosmetik. Sebagian ada yang

senang kalau istrinya polos. Tidak menggunakan alat-alat kosmetik apa pun meskipun

hanya untuk di rumah. Bahkan bedak pun tidak, karena kecantikan memancar dari

jiwa. Sebagian senang melihat istrinya memakai ghumrah (pemerah pipi) dan lipstik

saat di rumah. Tetapi ada juga yang tidak suka kalau istrinya memakai lipstik karena

merasa seronok.

 

Nah, Anda perlu memperhatikan masalah-masalah se-macam ini disamping

memperhatikan kesukaan Anda sendiri. Biarlah sekali waktu suami Anda tertegun

ketika melihat Anda.

Masih ada satu catatan lagi. Seorang istri hendaknya menjaga diri agar tidak

berlebihan dalam berhias, baik dalam pemakaian alat kosmetika dan perhiasan

maupun waktu yang dihabiskan untuk berhias. Terkadang ada wanita yang karena

kurang percaya diri atau karena kecenderungan untuk mengagumi kecantikan dirinya

secara berlebihan, menjadikan dirinya tidak dapat mengendalikan keinginan untuk

menggunakan berbagai alat kosmetik. Begitu juga terhadap mode-mode pakaian,

tidak terkecuali busana muslimah. Juga, terkadang ada wanita yang senang berlamalama

mematut diri di depan cermin untuk berhias. Begitu lamanya ia berhias sampai

ia tertegun kagum memandang dirinya. Sementara suami bosan menunggu dan

sampai menyebabkan dirinya merasa jengkel.

Hal semacam ini perlu dihindari oleh seorang istri shalihah. Berhias untuk suami

itu baik. Berhias itu fithrah. Apalagi bagi seorang wanita. Ia bisa memperoleh

kebahagiaan di dalamnya. Tetapi ia harus memperhatikan agar tidak sampai

berlebihan. Selebihnya, bagi Anda yang ingin membaca lebih jauh silakan periksa

buku Muslimah Ideal Di Mata Pria karya Muhammad Utsman al-Khasyat.

Sebaliknya, seorang suami juga perlu belajar memahami istrinya. Kalau Anda

cukup lima atau sepuluh menit saja untuk berhias, maka tidak demikian untuk istri

Anda. Perawatan tubuh pada laki-laki berbeda dengan wanita. Kecenderungan

alamiah maupun proses belajar antara Anda dan istri Anda juga berbeda. Jumlah

penampang penghasil bau badan juga berbeda. Wanita memiliki apocrine yang

Kado Pernikahan 173

menghasilkan bau badan khasnya, 70% lebih banyak dibanding laki-laki, meskipun

ada sebagian laki-laki yang apocrinenya cukup besar.

Jadi pahamilah istri Anda kalau ia membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk

berhias. Terimalah istri Anda. Insya-Allah Anda akan mendapati istri Anda semakin

sayang kepada Anda. Dan Anda pun merasa semakin sayang ketika memandang

wajahnya yang bersih dan bola matanya yang memancarkan rasa cinta dan kerinduan

halus kepada Anda.

 

Ketika Suami Pulang

“Engkau,” kata Rasulullah Saw., “tak mungkin dapat mencukupi kebutuhan

semua orang dengan hartamu; karenanya, cukupilah mereka semua dengan wajahmu

yang gembira dan watak yang baik.” (HR Al-Hakim dalam Mustadrak).

Rumah bukan hanya rumah, kata Ruqayyah Waris Maqsood. Rumah adalah

tempat berlindung, tempat yang memberikan ketenteraman, kedamaian, tempat

berbagai hal, dan tempat rizki. Ketenteraman dan keteduhan jiwa bagi istri. Juga

tempat suami menemukan ketenangan. Rumah adalah surga bagi penghuninya

(mudah-mudahan Allah menjadikan rumah kita termasuk yang demikian. Amin).

Ketika seorang suami mengalami kepenatan selama di luar rumah, terutama

kepenatan-kepenatan yang bersifat psikis, maka ia mendapatkan kegairahan dan

semangat baru ketika bertemu dengan istrinya di rumah. Sambutan yang hangat

disertai senyum mesra dan pandangan mata yang menampakkan kerinduan,

meluluhkan rasa capek dan mungkin juga gumpalan-gumpalan emosi di luar rumah.

Apalagi jika suami sedang menghadapi pekerjaan yang memeras energi psikis, maka

yang dapat menyejukkannya adalah wajah yang gembira dan watak yang baik. Begitu

pelajaran yang bisa kita tarik dari hadis riwayat Al-Hakim di awal sub bab ini. Atau

pada saat tertentu suami harus mencari pangkuan istri untuk menemukan kedamaian

ketika merebahkan kepalanya. Suatu ketika mungkin Anda akan benar-benar

menjumpai suami Anda berharap bisa merebahkan kepalanya di pangkuan Anda

(sebagaimana, Anda akan mencari dada suami di saat ada air mata yang harus

ditumpahkan dan luapan perasaan yang ingin Anda bagi tanpa dinyatakan secara

lisan).

Inilah salah satu manfaat perkawinan yang barakah: menghidupkan kembali

semangat dan kekuatan saat bertemu istri di rumah. Imam Al-Ghazali menulis, “Salah

satu manfaat perkawinan adalah kenikmatan mempunyai pendamping dan

memandangnya dan dengan berbagi kegembiraan bersamanya membuat hati

disegarkan kembali dan diperkuat untuk mengabdi kepada Allah; karena jiwa

cenderung mengalami kebosanan dan cenderung untuk mengelak kewajiban sebagai

sesuatu yang tak wajar. Jika jiwa dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tak

disukainya, maka ia akan mengeluh dan mundur, tetapi jika dihidupkan kembali

dengan kesenangan dari waktu ke waktu maka ia akan memperoleh kekuatan dan

semangat baru.”

Sempurnalah perkawinan dan kebahagiaan yang dirasakan ketika rumah

memberi kedamaian dan penuh kasih-sayang (sehingga anak-anak kelak tak ingin lari

dari rumah). Sempurnalah kebahagiaan ketika suami semakin sayang setiap

memandang wajah istrinya yang semata wayang.

“Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki,” kata Rasulullah Saw., istri

shalihah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi

membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu;

kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang

damai yang penuh kasih-sayang. Tiga perkara yang membuatnya sengsara adalah

istri yang tidak membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa menjaga lidahnya

juga tidak bisa membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak bisa menjaga

kehormatan diri dan hartamu; kendaraan rusak yang jika dipakai hanya membuatmu

lelah namun jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi; dan rumah yang

sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya.”

Di saat suami pulang dari bepergian (terutama bepergian jauh), istri diharapkan

dapat menyambutnya dengan kegembiraan wajah, kehangatan senyuman, dan diri

dalam keadaan berhias. Barangkali, dibanding berhias saat suami akan pergi, berhias

ketika suami pulang jauh lebih besar maslahat dan manfaatnya. Kepercayaan dan rasa

cinta yang mendalam, bisa disuburkan dari sini. Kepercayaan dan rasa sayang suami

kepada istri, juga kepercayaan dan kesetiaan istri kepada suami, insya-Allah akan

berkembang dari sini.

Begitu pentingnya berhias dan menampakkan kehangatan sikap ketika suami

pulang, sehingga Rasulullah Saw. melarang suami pulang mendadak di malam hari

agar istri berkesempatan untuk membersihkan diri dan merapikan dandanan terlebih

dulu. Yang demikian ini juga dimaksudkan agar kepulangan suami yang

mengagetkan, tidak menumbuhkan bibit rasa tidak suka dalam diri istri terhadap

suami.

Khath Arab

Dari Jabir r.a., sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda, “Bila salah seorang

dari kalian bepergian untuk waktu lama, janganlah pulang menemui istri pada

malam hari.” (Muttafaqun ‘alaih).

Mengapa suami yang habis bepergian jauh untuk waktu yang lama tidak

diperkenankan pulang mendadak? Ada tujuannya. Dari Jabir r.a., Rasulullah Saw.

bersabda:

Khath Arab

“Apabila kamu datang dari bepergian, janganlah kembali kepada istrimu pada

malam hari, agar ia dapat mencukur rambut kemaluannya lebih dulu dan merapikan

dandanannya serta lakukanlah jima’.” (HR Imam yang Lima kecuali An-Nasa’i).

Berhias semenarik mungkin ketika suami pulang dari bepergian jauh, apalagi jika

seminggu tidak pulang, barangkali lebih mudah dilakukan istri. Tanpa diminta pun,

istri insya-Allah akan menyambut suaminya dengan penuh kecantikan dan

kehangatan. Perasaan kangen yang besar dan cinta yang meluap, akan menjadikan

pertemuan dengan suami begitu berarti. Inilah saatnya istri menyambut suami dengan

dandanan yang rapi, kening yang harum dan (maaf) kemaluan yang tercukur bersih

rambutnya.

Kata Rasulullah Saw., “Sebaik-baik istri kamu ialah yang menjaga diri lagi

pandai membangkitkan syahwat, (yakni) keras menjaga kehormatan kemaluannya,

pandai membangkitkan syahwat suaminya.” (HR Ad-Dailami dari Anas r.a.).

 

Tapi istri barangkali tidak bisa selalu menyambut suami dengan dandanan

sempurna setiap hari. Mungkin hari itu ia kelelahan karena banyaknya pekerjaan

rumah-tangga yang menumpuk, si kecil yang rewel seperti bapaknya (he hmmm) dan

tamu bulanan yang datang beserta sindrom menstruasinya yang menyebabkan istri

mudah letih. Mungkin hari itu ia lagi teringat orangtua dan saudara-saudaranya yang

sudah lama tak berjumpa. Begitu kangennya dengan orang-orang yang ia cintai

(meskipun ia sangat mencintai Anda), sehingga ia menjadi lamban. Dan ia tak sempat

berhias ketika menyambut kedatangan Anda.

Hal-hal semacam ini perlu Anda pahami. Tanpa kesediaan untuk memahami,

keindahan rumah-tangga sulit tercapai. Nasehat Ruqayyah Waris Maqsood mengenai

masalah ini patut kita simak. Jika seorang laki-laki tiba di rumah lebih awal dari

biasanya, kata Ruqayyah, sebaiknya ia menunggu, sehingga istri yang belum

berpakaian secara layak mempunyai waktu untuk merapikan diri.

Sekali waktu, mungkin istri tidak bersikap seperti yang Anda kehendaki. Padahal

saat itu Anda ingin sekali melihat istri Anda tampak anggun dan menyenangkan.

Anda juga ingin sekali mencium aroma wangi dari ma’athif (antara leher dan

geraham) istri Anda tersayang.

 


“Sebaik-baik istri kamu ialah yang menjaga diri

lagi pandai membangkitkan syahwat,

yaitu keras menjaga kehormatannya,

pandai membangkitkan syahwat suaminya.”

 

Jika suatu saat Anda mengalami, dengarkan nasehat Ruqayyah Waris Maqsood.

Kata Ruqayyah, “Jangan merasa bersedih karena istri Anda tidak bersikap seperti

yang Anda kehendaki. Bicaralah! ‘Sayang, aku senang sekali kalau kau mengenakan

baju yang bersih dan parfum untukku seorang. Aku tahu kau merasa lelah hari ini,

tetapi jika kau mau melakukannya untuk menyenangkan hatiku, aku tahu kau masih

menyayangiku’.”

“Perhatikanlah kata-kata penting pernyataan Anda,” kata Ruqayyah

mengingatkan, “ungkapkan kekecewaan Anda, akuilah kerja keras dan pengorbanan

mereka, nyatakan kebutuhan Anda akan cinta dan kehormatan –dan lihatlah

hasilnya.”

Ketika Suami Harus Pulang Mendadak

Salah satu saat yang penting lainnya adalah saat datangnya fitnah, kata

Muhammad Abdul Halim Hamid, yaitu ketika seorang istri merasakan perubahan

jiwa pada diri suaminya yang diakibatkan oleh pengaruh para pesolek jalanan yang

menggoda. Maka hendaklah ia segera berdandan secantik mungkin. Hal ini dilakukan

untuk memagarinya dari fitnah nafsu dan menghindarkan matanya dari melirik wanita

lain.

Ada saatnya ketika pulang menemui istri menjadi keharusan. Mungkin tidak

lama setelah suami Anda berangkat kerja. Mungkin ketika suami Anda sedang

bepergian santai untuk menikmati suasana. Dan ia tiba-tiba pulang menemui Anda

karena mengingat nasehat Rasulullah Mu-hammad Saw., “Jika salah seorang di

antara kamu melihat wanita cantik dan hatinya menjadi cenderung kepada wanita

itu, maka ia harus langsung pulang dan menemui istrinya dan mendatanginya di

tempat tidur supaya ia terhindar dari pikiran yang kotor.” (HR Muslim).

Maka jika suatu saat suami Anda pulang mendadak dan mengajak Anda untuk

melakukan jima’, berbahagialah. Karena suami Anda memelihara cinta dan

kesetiaannya kepada Anda. Suami Anda masih menjaga agama dan kehormatan

Kado Pernikahan 177

seksualnya. Rasa cintanya kepada Anda mencegah dia dari membiarkan pikirannya

terkotori oleh fantasi yang bukan-bukan.

Karena itu, jika suatu ketika suami Anda harus pulang mendadak untuk

memperoleh kehangatan dari Anda, segeralah membersihkan diri dan merapikan

dandanan. Mintalah suami Anda untuk menunggu Anda berhias sejenak dengan sikap

yang mesra, hangat dan menggemaskan. Atau, kalau suami Anda tidak sabar untuk

memandangi wajah Anda, biarlah ia tertegun memandangi Anda ketika berhias. Akan

tetapi kalau suami Anda tidak sabar menunggu Anda berhias, maka Anda lebih

bijaksana. Jangan biarkan ia kecewa karena hasratnya tersendat beberapa saat. Dorongan

seks laki-laki memang berbeda dengan dorongan seks wanita!

Ekspresi keinginan untuk melakukan hubungan seks antara Anda dan suami

Anda memang berbeda!

Khath Arab

Dari Abu Ali Thalaq bin Ali r.a., sesungguhnya Ra-sulullah Saw. bersabda,

“Apabila seorang suami mengajak istrinya, maka penuhilah segera meskipun ia

sedang berada di dapur.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Abdullah bin Mas’ud r.a. mengatakan bahwa dia mendengar Rasulullah Saw.

bersabda,

Khath Arab

“Seorang istri yang diajak oleh suaminya ke tempat tidurnya, tetapi dia

menangguhkannya hingga suaminya tidur, maka istri tersebut dalam keadaan

laknat.”

Begitulah. Maka ketika suami Anda harus pulang mendadak demi

menyelamatkan agama, kehormatan seksnya, serta kesetiaan cintanya kepada Anda,

segeralah menyambut suami Anda dengan kehangatan yang lain daripada hari-hari

biasanya. Tunjukkanlah kerinduan Anda kepadanya dan tatapan mata cinta yang

menggemaskan, sehingga ia semakin kuat hasratnya. Atau, (kalau anak-anak tak

melihat) berikan kecupan hangat yang menggairahkan dan kemanjaan yang

membuatnya dekat dengan Anda.

Kado Pernikahan 178

“Sebaik-baik istri kamu,” kata Rasulullah Saw., “ialah yang menjaga diri lagi

pandai membangkitkan syahwat, (yakni) keras menjaga kehormatan kemaluannya,

pandai membangkitkan syahwat suaminya.” (HR Dailami dari Anas r.a.).

Sesudah itu, segeralah berhias secantik mungkin hanya untuk suami Anda

seorang. Kalau perlu Anda bisa memakai ghumrah untuk mengharumkan pipi

sekaligus menjadikannya bersemu merah. Anda juga bisa memakai pengharum

kening dan nashiyah (ubun-ubun) sekaligus menjadi-annya tampak menarik. Pakailah

gaun yang paling menyenangkan suami. Sebagian suami akan merasa begitu bahagia

ketika melihat istrinya menggunakan gaun tertentu. Ia begitu terkesan olehnya.

Berhiaslah secantik mungkin. Tetapi jangan terlalu lama mematut di depan

cermin, sehingga menjadikan suami Anda kesal menunggu. Apalagi ia pulang

mendadak untuk menemui Anda karena desakan untuk menjaga kehormatan seks dan

kesetiaan cintanya!

O ya, jangan lupa wewangian yang menghangatkan semangat. Berilah

wewangian pada daerah-daerah lipatan, yaitu lipatan telinga, lipatan jari-jemari,

ma’athif (antara leher dan geraham), ketiak, lipatan payudara serta kemaluan (kalau

sempat). Atau, Anda juga bisa memberi wewangian pada tempat-tempat yang Anda

harapkan suami bersemangat mengecupnya. Sebagian istri, sangat menikmati usapan

dan kecupan pada tempat-tempat tertentu dibanding bagian lain tubuhnya.

Jika Anda masih menyimpan wewangian yang Anda pakai pada malam pertama,

Anda bisa memakainya sekarang sehingga perasaannya semakin terbangkitkan dan

mengingatkan pada keagungan jima’ di malam pertama. Jadikanlah saat ini seperti

malam pertama atau lebih indah lagi. Semoga Allah memberikan kenikmatan yang

paling besar barakahnya pada jima’ yang Anda lakukan saat ini. Semoga Allah

semakin menguatkan jalinan perasaan (‘athifah) antara Anda dan suami Anda

sehingga mencapai ulfah (keharmonisan). Dan semoga, kelak Anda berdua

memperoleh keutamaan di akhirat disebabkan oleh besarnya keinginan Anda untuk

membantu suami melaksanakan perintah Rasulullah Muhammad al-ma’shum, yaitu

segera pulang dan mengajak istri berjima’ ketika hatinya tergoda di tengah perjalanan.

Mudah-mudahan dari sini Allah memberikan keturunan yang memberi bobot kepada

bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah (ya Allah, karuniakanlah kepada kami

keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah).

Sebagai penutup sub judul ini cukuplah saya tandaskan, jadikanlah diri Anda

sebagai istri yang paling pandai membangkitkan syahwat suami ketika ia harus

pulang mendadak menemui Anda.

Ketika Berangkat Ke Pembaringan

Umamah binti Al-Harits pernah berwasiat kepada putrinya ketika menikah

dengan Raja Kendah. Ada sepuluh nasehat yang diberikan. Salah satunya adalah

nasehat untuk memeriksa urusan makan dan tidur suami. Karena, kata Umamah,

sesungguhnya panasnya lapar begitu membakar, dan kurangnya tidur memicu

kemarahan.

 

Saya tidak tertarik untuk membahas bagaimana kurangnya tidur dapat

menyebabkan seseorang mudah tersulut kemarahannya (padahal ketika marah,

pikiran orang jarang yang jernih). Saya lebih tertarik untuk mengajak Anda

mengetahui bagaimana berhias akan menjadikan suami Anda merasa lebih sejuk dan

teduh ketika berdekatan dengan Anda di pembaringan. Sedang Anda pun insya-Allah

akan merasakan ketenteraman berada dalam satu selimut dengannya.

Banyak suami maupun istri yang senang untuk berintim-intim ketika berangkat

tidur, meskipun tidak melakukan jima’. Mereka bercakap-cakap ringan menjalin

keakraban sebelum menutup mata dengan do’a. Sebagian senang membicarakan

masalah-masalah ringan dalam keluarga, tentang harapannya terhadap anak misalnya.

Sebagian suka apabila suami atau istri mengajak berbicara tentang diri mereka,

sehingga mereka merasa memperoleh perhatian dari orang yang dicintai dan

mencintainya.

Sebagian suami (juga istri) berkeinginan untuk saling berintim-intim ketika

berangkat ke pembaringan. Sebagian berkeinginan untuk menjalin keakraban dengan

kedekatan fisik: berpegangan tangan, mengusap rambut istri, mengecup kening atau

sekedar mengusap-usap pergelangan tangan. Kadang ini dilanjutkan dengan

bercumbu dan jima’. Tetapi kadang mereka menutupnya dengan tidur lelap yang

nikmat.

Di antara para suami, ada juga yang berkeinginan agar istrinya menggunakan

pakaian-pakaian yang menarik dan seksi ketika beristirahat di tempat tidur. Ia senang

kalau istrinya mau memakai pakaian dalam saja1 dan bertingkah laku manja saat

berdekatan di pembaringan, meskipun ia ketat terhadap hijab istri saat di luar. Dan ini

merupakan perkara yang boleh saja dilakukan. Wallahu A’lam bishawab.

Allah Swt. telah mengisyaratkan tentang waktu-waktu aurat, waktu ketika Anda

bisa menanggalkan pakaian luar. Apalagi buat suami Anda. Firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak yang kamu miliki

dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu meminta izin kepadamu tiga kali

(dalam satu hari), yaitu sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian

(luar)mu di tengah hari, dan sesudah shalat isya’. Itulah tiga aurat bagi kamu.” (QS.

An-Nuur: 58).

Begitu pentingnya berhias saat berangkat ke pembaringan bersama suami,

sampai-sampai Syaikh Muhammad bin Umar an-Nawawi al-Bantani menulis dalam

bukunya, Uquudullujain, “Seorang istri wajib memiliki rasa malu (membiasakan) di

hadapan suaminya dan menyedikitkan pertengkaran dengannya. Wajib merendahkan

pandangannya di hadapan suaminya, menaati perintahnya, tidak berbicara ketika

suaminya sedang berbicara dan wajib berdiri (menyambut) ketika suaminya datang

dari perjalanan atau dari mana saja. Demikian pula ketika suaminya berangkat dari

rumah, memperlihatkan rasa cinta ketika dekat suami dan memperlihatkan

kegembiraan ketika melihat suami. Wajib menyerahkan dirinya kepada suami ketika

hendak tidur dan memakai wewangian hanya untuk suami, harus memakai wangiwangian

pada mulutnya dengan misik atau lainnya yang wangi. Mengenakan pakaian

yang bersih dan rapi, dan selalu mengenakan perhiasan di hadapan suami serta tidak

memakai wewangian ketika suami tidak ada.”

Tentu saja berhias ketika berangkat ke pembaringan berbeda dengan berhias di

waktu-waktu lain. Anda tak perlu memakai ghumrah atau lipstik, apalagi kalau Anda

biasa tidur dengan lampu dimatikan. Cukuplah wewangian dan kebersihan tubuh.

Kecuali jika Anda akan melakukan jima’. Atau, barangkali suami Anda sedang manja

saat itu.

 

Selama berada di tempat tidur, keinginan untuk berintim-intim dan mendapat

perhatian bisa jadi bukan dari suami. Seorang istri boleh saja meminta perhatian dan

kehangatan belaian suami. Jika suami kurang bisa menangkap isyarat keinginan Anda

untuk memperoleh perhatiannya, bantulah ia untuk memahami keinginan Anda

dengan menyampaikan maksud Anda secara lisan. Katakanlah, “Mas, aku kangen

sekali padamu.” (padahal Anda bertemu setiap hari). Atau katakan secara lebih jelas

jika ia belum menangkap maksud Anda. Bagaimana mengungkapkannya? Saya kira

Anda lebih mengenal suami Anda dibanding saya.

Dalam masalah ini, Ruqayyah Waris Maqsood mengingatkan kepada para suami.

Kata Ruqayyah, “Jika seorang laki-laki bersikeras menolak untuk mengabulkan

permohonan istrinya untuk diberi perhatian, ia harus menyadari bahwa nantinya di

hari pengadilan ia akan mendapatkan pertanyaan yang sulit dijawab. Buku catatannya

akan dibuka untuk mengungkapkan segala perbuatannya, betapapun memalukannya

itu! Mungkin ia telah merasa sebagai Muslim yang terbaik, tanpa menyadari

kebenaran nasehat dari ajaran Rasulullah Saw.: “Yang terbaik di antara kalian adalah

yang terbaik kepada istri dan keluarganya.” Bayangkanlah kekagetannya pada akhir

kehidupan agama dengan shalat dan perbuatan baik, ketika mendapati bahwa

sebenarnya Anda telah bersalah dengan bersikap kejam terhadap istri di tahun-tahun

itu, dan kini dipanggil untuk mempertanggungjawabkannya!”

Rasulullah Saw. bersabda:

“Ada dua dosa yang akan disegerakan Allah siksanya di dunia ini juga, yaitu albaghyu

dan durhaka kepada orangtua.” (HR Turmudzi, Bukhari dan Thabrani).

Al-baghyu, kata K.H. Jalaluddin Rakhmat, adalah berbuat sewenang-wenang,

berbuat zalim dan menganiaya orang lain. Dan al-baghyu yang paling dimurkai Allah

ialah berbuat zalim terhadap istri sendiri. Termasuk al-baghyu ialah menelantarkan

istri, menyakiti hatinya, merampas kehangatan cintanya, merendahkan

kehormatannya, mengabaikannya dalam mengambil keputusan, dan mencabut haknya

untuk memperoleh kebahagiaan hidup bersama Anda. Karena itulah, kata Kang Jalal,

Rasulullah Saw. mengukur tinggi-rendahnya martabat seorang laki-laki dari cara ia

bergaul dengan istrinya. Nabi Saw. bersabda:

“Tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Tidak merendahkan

wanita kecuali laki-laki yang rendah juga.”

Karena itu, wahai istriku, ingatkanlah aku jika aku ternyata telah menyakiti

hatimu atau merampas kehangatan cinta yang menjadi hakmu dariku, sementara aku

tidak menyadari. Maafkanlah suamimu karena tidak peka terhadap kerinduanmu

untuk memperoleh kehangatan dan perhatian. Sampaikanlah apa yang menjadi

kerinduan dan keinginanmu agar suamimu dapat menunjukkan perhatian yang

menyejukkanmu. Yang demikian ini juga agar tidak ada fitnah yang bisa mendekat

kepadamu maupun kepadaku. Insya-Allah.

Bicaralah, Sayang, agar aku mengerti.

‘Alaa kulli hal, kepada sidang pembaca silakan memeriksa kembali tulisan ini.

Apa-apa yang salah, itu semata karena kesalahan dan kekurangan saya. Ingatkan

dengan cara yang ma’ruf agar saya lebih terbuka dan dapat menerima. Adapun kalau

ada yang benar, itu semata karena hidayah Allah ‘Azza wa Jalla. Mudah-mudahan kita

bisa menerapkan semampu kita.

Ya Allah, tolonglah kami. Berikanlah barakah atas kami dan bagi kami.

Allahumma amin.

Catatan Kaki:

1. Ada dua pengertian tentang pakaian dalam. Pertama, secara umum masyarakat

mengartikan pakaian dalam adalah sejenis celana dalam, BH, kaos dalam dan

rok dalam. Kedua, pakaian dalam berarti pakaian yang dipakai setelah pakaian

dalam menurut pengertian umum sebelum jubah dan jilbab. Pakaian dalam pada

tulisan ini mencakup kedua pengertian tersebut.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: