Bab 11 Tinggal di ManaSetelah Menikah?

Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu

bertempat tinggal menurut kemampuanmu…”

(Al-Qur’an 65: 6)

Setelah menikah, suami mempunyai kewajiban untuk menyediakan

tempat tinggal bagi istri sesuai dengan kemampuannya. Para Imam

Mazhab1 sepakat, dengan beberapa perbedaan kecil, bahwa seorang

suami wajib menempatkan istri di tempat tinggal yang layak. Sehingga

istri terjaga kehormatannya dan merasakan kedamaian dalam kehidupan

berumahtangga bersama suami.

Kalau suami mempunyai kewajiban untuk menyediakan tempat tinggal yang

memberikan kedamaian, rasa aman dan privacy2 bagi istri, maka secara seimbang istri

mempunyai kewajiban untuk tinggal di tempat yang telah disediakan oleh suaminya.

Kewajiban untuk tinggal di rumah suami, betapa pun sederhananya tempat tinggal itu,

merupakan ketetapan syari’at. Syari’at menjadikan kewajiban sang istri itu sebagai

salah satu hak laki-laki yang menjadi suaminya. Suami berhak menuntut istrinya agar

tinggal di rumah dan tidak meninggalkannya, kata Dr. Musa Kamil menjelaskan.

Sekarang, ketika Anda telah mengikat perjanjian berat (mitsaqan ghalizha)

bersama istri, pikirkanlah di mana Anda tinggal. Kalau sekarang Anda dihadapkan

pada beberapa kemungkinan tempat tinggal, Anda bisa mempertimbangkan maslahat

dan madharat pada masing-masing tempat dengan tetap mengingat bahwa

menyediakan tempat tinggal bagi istri merupakan kewajiban Anda.

Masalah ini juga bisa Anda musyawarahkan dengan istri, wanita yang insya-

Allah telah mengikhlaskan kesetiaan dan kasih-sayangnya untuk mendampingi Anda

sepanjang hidupnya. Apakah sebaiknya Anda tinggal di rumah kontrakan sederhana,

kredit rumah KPR/BTN, membangun sendiri rumah tinggal secara berangsur-angsur,

atau memenuhi permintaan mertua untuk tinggal bersama mereka?

TINGGAL DI RUMAH SENDIRI

Ada kelebihannya tinggal di rumah sendiri, baik kontrakan maupun hak milik,

bagi mereka yang baru saja membangun rumah-tangga. Dengan tempat tinggal yang

terpisah sehingga kita bisa mengatur sendiri roda rumah-tangga, kita bisa belajar

secara lebih leluasa untuk saling mengenal, memahami secara lebih baik dan

sekaligus membina kepekaan. Ketika suami-istri merasakan peluh perjuangan dalam

meletakkan fondasi keluarga, insya-Allah akan dapat mengokohkan arah dan misi

perkawinan. Perkawinan melahirkan kekuatan jiwa pada masing-masing anggotanya,

kecuali jika masing-masing tidak memiliki kedewasaan yang cukup. Darinya lahir

orang-orang yang memiliki kejelasan arah dan keberanian berjuang. Inilah yang

dibutuhkan untuk masa depan masyarakat yang lebih mulia.

Sepanjang sejarah, orang-orang besar yang membawa kemuliaan bagi umat

manusia lahir dari keluarga yang memiliki kekuatan jiwa. Jiwalah yang menyimpan

kekuatan dan kekayaan. Jiwa yang besar dan kokoh mampu mencairkan gununggunung

batu yang keras. Tetapi, jiwa yang kerdil justru menyembunyikan kelemahan

di balik apa-apa yang tampak sebagai kekuatan. Lihatlah Baghdad setelah masa

Nizamul Mulk lewat. Bangsa yang besar dengan sejumlah kemajuan peradaban itu,

segera jatuh dan habis oleh serangan Tartar yang waktu itu masih belum berbudaya.

Dan dengan tempat tinggal yang terpisah dari orang lain, insya-Allah kita bisa

lebih menghayati bagaimana membangun kekuatan jiwa untuk membentuk orientasi

yang kokoh. Dalam rumah sederhana yang kita atur sendiri kita mempunyai

kesempatan untuk menguati dan melengkapi. Melengkapi secara fisik dengan

perabot-perabot rumah-tangga yang diperlukan, maupun melengkapi secara psikis

dengan hati yang menerima, jiwa yang rela dan kesediaan untuk berjuang bersamasama.

Jika kita mau menengok sejenak ke masa Rasulullah Saw dan para sahabat, kita

melihat bahwa keluarga-keluarga yang baru saja terbentuk memulai kehidupan

berumah-tangga dalam rumah yang terpisah dari orangtua. Fathimah putri

Rasulullah, tinggal di rumah sederhana bersama suaminya Ali bin Abi Thalib dengan

perabot rumah tangga yang dibeli dari sebagian mahar. Padahal mahar yang diterima

Fathimah dari Ali bin Abi Thalib tidak terlalu besar untuk ukuran waktu itu maupun

untuk ukuran waktu sekarang. Barangkali keseluruhan yang dikeluarkan untuk kepentingan

tersebut tidak lebih besar dibanding sebuah prosesi perkawinan yang sangat

sederhana di negeri kita yang jarang lahir orang besar ini. Wallahu A’lam bishawab.

Ketika menikah, Ali tidak memiliki sebuah rumah yang akan ditempati untuk

hidup berumah-tangga. Fathimah meminta sebuah rumah pada ayahnya, kata

‘Abdurrahman Asy-Syarqawi dalam buku Muhammad Sang Pembebas. Tapi ayahnya

menolak keras permintaannya. Lalu datanglah seorang laki-laki kaya dari kalangan

Anshor yang bermaksud untuk memberikan sebuah rumah yang mungil di antara

rumah yang dimilikinya pada kedua suami-istri yang masih muda belia. Ali dan

Fathimah tidak mau menerima pemberian laki-laki tersebut. Akan tapi laki-laki itu

bersumpah tak akan memasuki rumah itu selama-lamanya. Laki-laki itu tetap bersikap

keras untuk memberikan rumahnya, hingga akhirnya Muhammad Saw. membolehkan

mereka berdua menerima pemberian itu dengan cara jual-beli. Tidak dengan cara

hibah.

Begitu Fathimah putri Rasulullah dan Sayyidina Ali membangun rumahtangganya.

Bagaimana dengan pengantin baru lainnya? Mari kita tengok Asma’ binti

Abu Bakar yang baru saja menikah dengan Az-Zubair. Ayahnya adalah seorang

pedagang kaya yang sukses (kelak kita mengenalnya sebagai khalifah Rasulullah

yang pertama). Ketika mengungsi ke Yatsrib, Abu Bakar membawa kekayaan yang

bernilai empat puluh ribu dirham Makkah, ukuran yang sangat besar waktu itu. Abu

Bakar memang sangat kaya waktu itu. Tetapi bagaimana dengan keluarga Asma’ binti

Abu Bakar dengan Az-Zubair?

Mari kita dengar penuturan Asma’ binti Abu Bakar:

“Az-Zubair mengawiniku,” kata Asma’, “Di bumi ini dia tidak memiliki harta

atau hamba atau apapun kecuali unta dan kudanya. Akulah yang memberi makan

kudanya, menimba air, menjahit timba airnya (yang terbuat dari kulit) serta membuat

adonan…. Aku juga biasa mengangkut biji kurma dari tanah Az-Zubair yang

diserahkan kepadanya oleh Rasulullah Saw. di atas kepalaku. Tanah itu jauhnya kirakira

dua pertiga farsakh (2 mil)… hingga Abu Bakar mengirimkan seorang pelayan

kepadaku setelah itu untuk menggantikanku mengurusi kuda. Dengan demikian seolah-

olah dia memerdekakanku.” (HR Bukhari dan Muslim).

Salah satu manfaat tinggal di rumah sendiri, baik kontrakan maupun hak milik,

adalah istri bisa berusaha melepaskan ikatan-ikatan keluarganya3 untuk memulai satu

warna kehidupan rumah-tangga yang baru bersama suaminya. Ia belajar mengatur

rumah-tangga sekaligus menyelami pikiran, semangat, dan perasaan suaminya.

Sehingga ia bisa betul-betul mengenal suaminya dengan baik. Ini sangat penting bagi

kelangsungan kehidupan rumah-tangga yang sejuk dan penuh kasih-sayang sesuai

dengan keunikan pribadi masing-masing, sejauh tidak melanggar batas-batas agama.

Kondisi ini merupakan fondasi untuk mendidik anak setelah mereka

mendapatkan amanah tersebut dari Allah Swt. Cita-cita melahirkan keturunan yang

memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah sulit untuk tercapai

jika kedua orangtua anak itu belum memiliki bekal jiwa yang mantap dan kokoh.

Bagaimana orangtua harus memberikan pendidikan yang akan menumbuhkan

syaja’ah (keberanian), iffah (kemampuan menahan diri), dan izzah (harga diri) jika

orang tuanya masih berkubang dengan kurangnya kehangatan dalam hubungan

suami-istri?

Wallahu A’lam bishawab wastaghfirullahal ‘azhim.

Dalam rumah-tangga kita menginginkan kedamaian. Kita mengharapkan suasana

keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, sehingga masing- masing anggota keluarga

merasakan rumah mereka sebagai tempat peristirahatan yang memberikan keteduhan

jiwa, kelapangan dan kedamaian. Tetapi adalanya keluarga yang baru belajar

berumah-tangga harus mengalami benturan-benturan sampai menyebabkan mereka

saling mendiamkan.

Situasi semacam ini tidak perlu terjadi. Tetapi adakalanya, situasi konflik yang

lahir karena masing-masing masih kurang mampu menyesuaikan diri, “menuntut”

sikap khusus yang tidak memungkinkan ketika mereka tinggal dalam satu rumah

dengan orangtua atau mertua. Alhasil, mereka harus tampil dengan topeng manis di

depan anggota keluarga lainnya tanpa ada pengendapan masalah secara jernih.

Akibatnya, mereka mengalami konflik-konflik tersembunyi. Na’udzubillahi min

dzalik. Allahu A’lam bishawab.

Saya kira cukup sampai di sini pembicaraan kita tentang manfaat tinggal di

rumah sendiri. Masih ada manfaat lain, yaitu suami-istri bisa belajar bertaba’ul

dengan lebih baik serta lebih memungkinkan terbentuk kedekatan yang lebih erat

antara suami dan istri. Tetapi saya kira lebih baik kita membicarakan beberapa hal

yang perlu kita perhatikan kalau kita akhirnya memutuskan untuk mengontrak rumah.

Adapun bagi Anda yang telah memiliki rumah hak milik, bisa langsung menyimak

bab berikutnya Saat Tepat untuk Berhias. Atau, Anda bisa mempertimbangkan untuk

tinggal bersama orangtua. Tentang ini insya-Allah akan kita bicarakan di bagian akhir

bab ini.

Catatan Ketika Mengontrak Rumah

Sewa-menyewa rumah termasuk salah satu kegiatan muamalah yang

memerlukan perjanjian tertulis. Dalam hukum positif, akta sewa sangat penting untuk

memberi jaminan hukum terhadap transaksi yang terjadi antara penyewa dengan

pihak yang menyewakan sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. Baik secara

perdata maupun pidana.

Persoalan ini penting untuk Anda perhatikan, terutama ketika perjanjian sewa

berlaku untuk jangka waktu beberapa tahun dimana selama masa itu banyak

perubahan dan kemajuan yang mungkin terjadi. Anda perlu membuat perjanjian

tertulis yang memiliki kedudukan di hadapan hukum, sehingga Anda maupun pihak

yang menyewakan dituntut untuk memenuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku antar

kedua pihak. Pelanggaran atas ketentuan yang disepakati bersama dapat berimplikasi

hukum. Sebaliknya, Anda juga akan memperoleh jaminan hukum karena segala

bentuk tindakan pemilik rumah yang menciderai kesepakatan bersama dapat

mendatangkan sanksi hukum.

Keluarga muda kadang harus menghadapi berbagai masalah karena

ketidaksiapan ketika pemilik rumah secara sepihak menciderai perjanjian, sementara

penyewa tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada akta perjanjian yang memiliki

kekuatan hukum. Mereka harus panik ketika pemilik rumah mengambil tindakan

sepihak, misalnya dengan menaikkan harga secara tiba-tiba dan harus dipenuhi dalam

tempo yang singkat semata sebagai strategi untuk mengeruk keuntungan secara

sewenang-wenang. Mereka harus kalut karena tidak siap dalam banyak hal.

Ketidaksiapan psikis untuk pindah, ketidaksiapan finansial untuk membayar atau

mencari kontrakan baru, ketidaksiapan sosial untuk secara tiba-tiba menghadapi

masyarakat yang berbeda, ketidaksiapan dalam masalah pendidikan anak-anak yang

juga berarti proses adaptasi ulang yang mendadak serta ketidaksiapan lainnya yang

riskan. Cukup mahal yang harus dibayar atas berbagai ketidaksiapan, terutama yang

harus dibayar oleh anak bagi perkembangan dan pertumbuhannya di masa-masa

berikutnya. Kepribadian anak bisa menjadi fragile (seperti barang yang mudah pecah)

jika peristiwa semacam ini sering terjadi. Kecuali jika Anda mampu menjadi ibu

seperti Khadijah istri Rasulullah.

Keadaan semacam ini tidak hanya bisa membahayakan kondisi psikis anak.

Orangtua pun bisa mengalami masalah berkenaan dengan interaksi sosial maupun

interaksi antar anggota keluarga. Keadaan tempat tinggal yang tidak stabil dan selalu

dihadapkan pada sejumlah kecemasan untuk melakukan penyesuaian diri kembali

secara total akibat tindakan sepihak, dapat mengubah orientasi keluarga. Sehingga

mereka menjadi pribadi-pribadi yang sulit berempati kepada orang lain, sekaligus

mengembangkan sikap-sikap egois. Mereka juga bisa mengembangkan orientasiorientasi

materialis atau bahkan ketidakpercayaan pada akhlak-akhlak suci. Ini

merupakan predisposisi untuk tumbuhnya ideologi-ideologi yang bertentangan

dengan watak suci aqidah Islam.

Ideologi ini bisa jadi tumbuh sebagai sikap hidup sehari-hari sekalipun mereka

tetap merasa Islam sebagai pandang-an dunianya yang otentik. Bisa jadi secara sadar

mereka mengalami perubahan pandangan. Yang pertama sebagai pandangan dunia

aktual saja, sedang yang kedua menjadi pandangan dunia aktual sekaligus tekstual.4

Karena itu, Anda perlu memperhatikan betul masalah-masalah penting yang

berkenaan dengan sewa-menyewa rumah, baik berkenaan dengan aspek hukum

maupun as-pek psikis dan pendidikan. Perjanjian sewa-menyewa secara tertulis yang

memiliki kekuatan hukum perlu Anda perhatikan sekalipun Anda melakukan

transaksi (muamalah) dengan sesama muslim. Apalagi jika Anda berniat melakukan

sewa selama beberapa tahun sementara bea sewa tidak dapat Anda penuhi sekaligus

dalam satu kali pembayaran.

 

Masalah Anak Ketika Pindah

Keluarga-keluarga muda di masa sekarang semakin banyak yang tinggal di

rumah-rumah kontrakan sampai mereka mempunyai beberapa anak. Bahkan

adakalanya mereka masih tinggal di rumah kontrakan ketika anak-anak mereka sudah

memasuki usia sekolah dasar maupun menengah pertama. Tidak jarang mereka harus

berpindah-pindah karena berbagai alasan, sejak dari pencideraan akad sewa-menyewa

secara sepihak oleh pemilik rumah sampai dengan tuntutan pekerjaan yang

mengharuskan sering berpindah.

Setiap perpindahan ke tempat tinggal baru menuntut penyesuaian diri kembali

secara drastis. Apalagi jika rumah baru yang akan ditempati berada di lokasi yang

sama sekali asing. Tidak ada orang yang telah dikenal sebelumnya.

Keadaan ini dapat menimbulkan masalah, terutama bagi anak usia TK ataupun

awal SD. Karena itu, orangtua perlu mempersiapkan mental anak jauh-jauh hari

sebelum pindah. Kecuali jika Anda terpaksa pindah secara mendadak atau anak Anda

masih bayi (kalau ini, ibunya yang perlu mempersiapkan diri).

Orangtua perlu memberitahukan rencana kepindahan kepada anak beberapa

minggu sebelumnya. Syukur bisa satu atau dua bulan sebelumnya. Selama masa itu,

orangtua bisa memberi gambaran tentang tempat tinggal yang baru dan apa saja yang

bisa dilakukan di sana. Orangtua juga bisa menceritakan mengenai berbagai hal yang

“dapat” menjadi nilai lebih dari tempat tinggal yang baru sehingga menggerakkan

keinginan anak untuk pindah. Ini akan sangat membantu anak untuk mengurangi

stress dan perasaan terasing karena berpisah dari kawan-kawan bermainnya setelah

berpindah.

Keterlibatan orangtua untuk membantu anaknya melakukan penyesuaian diri

sangat diperlukan. Di saat-saat anak masih terasa terasing, orangtua perlu menjadi

kawan yang akrab dan hangat bagi anak-anaknya sehingga mereka tetap bisa

berkembang secara baik. Jika Anda mampu menjadi sahabat yang baik bagi anakanak

Anda, bisa jadi saat-saat seperti ini merupakan kesempatan bagi Anda untuk bisa

menyelami anak Anda secara lebih mendalam dan akrab. Sehingga Anda mengenal

betul anak Anda, dan anak merasa hormat sekaligus sayang terhadap Anda. Ini

membantu Anda menjadi orangtua yang efektif.

Untuk menuju ke arah sana, orangtua dapat melibatkan anak-anak untuk pindah

tempat tinggal sekaligus melakukan penyesuaian diri. Ini dilakukan sejak masa belum

pindah, ketika sedang pindah, sampai dengan awal-awal menjalani kehidupan di

tempat tinggal yang baru. Yang disebut terakhir ini misalnya menemani anak untuk

memperoleh kesempatan bergaul dengan teman sebaya, tanpa menjadikan anak

terhambat proses sosialisasinya. Maksudnya, keterlibatan orangtua jangan sampai

menjadikan teman-teman anak tidak bisa berekspresi sebagai anak-anak karena rikuh

terhadap Anda.

Contoh lain adalah berkenaan dengan proses penyesuaian diri dengan sekolah

yang baru. Orangtua bisa membantu anak melakukan sosialisasi dengan

mengantarkan anak ke sekolah. Membantu anak melakukan penyesuaian diri dan

sosialisasi ini juga bisa Anda lakukan dengan menanyakan perkembangan anak di

Kado Pernikahan 161

sekolah yang baru maupun mengajak anak mengkomunikasikan pengalamanpengalaman

serta perasaannya dalam penyesuaian diri dan bergaul dengan teman

barunya.

Sekali waktu Anda juga bisa memaklumi kebutuhan anak untuk bertemu dengan

teman-teman lamanya di tempat tinggal Anda yang dulu. Anda justru bisa mengajak

anak silaturrahmi ke tetangga-tetangga lama jika memungkinkan.

TINGGAL BERSAMA ORANGTUA

Adakalanya keluarga muda memilih tinggal bersama orangtua, bukan di rumah

kontrakan atau bahkan rumah sendiri. Sebagian memilih tinggal bersama mertua

karena desakan orangtua atau sanak kerabat istri. Sebagian karena desakan ekonomi,

sehingga lebih baik dana yang terbatas dialokasikan untuk kepentingan-kepentingan

lain yang maslahat daripada membayar sewa rumah. Sebagian lagi karena dorongan

untuk berbakti kepada orangtua. Ada juga yang ingin menyenangkan istri dengan

berbagai alasan. Dan mungkin juga ada yang tinggal bersama mertua karena masalah

ini menjadi syarat nikah dari istri ketika suami mengajukan keinginannya untuk

menikahi. Khusus yang terakhir ini, saya tidak membahas di bab ini. Silakan Anda

melihat kembali pada bab “Dimanakah Wanita-wanita Barakah Itu?” di jendela

pertama buku kita ini.

Ada kelebihannya tinggal bersama mertua atau orang-tua5. Mereka telah

memiliki pengalaman hidup yang banyak, sehingga insya-Allah telah cukup arif

untuk memahami masalah-masalah suami-istri yang baru menikah. Mereka dapat

memberi bimbingan kepada anak dan menantunya, sehingga mereka dapat

membangun keluarga dengan kondisi yang lebih baik. Mereka juga bisa memberikan

bantuan-bantuan kepada rumah tangga anaknya, tanpa menjadikan fondasi rumah

tangga anaknya lemah. Sebab kebaikan dapat melemahkan manusia. Al-ihsanu

yu’jizul insan.

Ada sebuah ungkapan yang dinisbahkan kepada Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib6.

Katanya, “Ajaklah bermusyawarah orang yang sudah tua karena mereka telah banyak

pengalaman. Dan mintailah pendapat yang masih muda karena mereka masih jernih.”

Dalam keadaan demikian, tinggal bersama orangtua atau mertua di masa awalawal

menikah bisa justru lebih dekat kepada kemaslahatan. Mereka dapat

membimbing Anda bagaimana menjalankan kehidupan berumah tangga, tanpa

mencampuri perkara-perkara yang mestinya memang diserahkan kepada Anda sendiri

untuk menentukan. Mereka dapat mengarahkan bagaimana Anda harus menjadi suami

dan istri Anda harus mendampingi Anda, tanpa menjadikan Anda berdua mengalami

ketegangan dan konflik-konflik psikis.

Orangtua yang bagus agamanya, insya-Allah dapat bertindak demikian. Mereka

tahu apa yang menjadi hak menantu atas mertua. Juga, mereka insya-Allah dapat

memahami batas-batas kewajiban seorang menantu. Hak menantu atas mertua antara

lain “pembelaan” ketika menghadapi konflik.

Sejauh yang saya pahami, Islam menggariskan bahwa mertua merupakan

pembela bagi menantu ketika menengahi masalah. Mereka membela menantunya,

bukan anaknya. Mereka merupakan sumber rasa aman bagi menantu sekaligus

membantu dalam proses ishlah (perbaikan hubungan) ketika masalah yang ada pada

mereka tidak dapat diselesaikan sendiri. Sekalipun demikian, tentu saja mereka tetap

dituntut untuk adil terhadap anaknya sendiri maupun menantu.

Jadi, orangtua suami merupakan “pembela” sekaligus sumber rasa aman bagi

istri. Sementara orangtua istri merupakan “pembela” bagi suami. Bukan sebaliknya,

menjadi sumber ketegangan dan perasaan tertekan karena adanya berbagai tuntutan

yang ditujukan kepada menantunya.

Ketegangan dan konflik psikis ini rentan muncul ketika orangtua atau saudarasaudara

perempuan suami sudah memiliki sikap “seharusnya seorang istri itu

sikapnya begini atau begitu”. Ketika sikap semacam ini muncul, yang terjadi adalah

pihak keluarga suami mengembangkan tuntutan-tuntutan psikis terhadap istri. Padahal

ketika seseorang memiliki tuntutan psikis untuk memperoleh perlakuan dari orang

lain, ia akan berkurang kepekaannya terhadap kebaikan yang ada.

Masalah ini riskan, terutama jika terdapat dua hal. Pertama, tidak terbangun

komunikasi yang baik antara suami dan istri. Kurang bagusnya komunikasi bisa jadi

karena mereka mengalami kekalutan emosi, sehingga cenderung melihat masalah

dengan satu arah. Bisa jadi karena belum matangnya kedua pihak, terutama suami,

sehingga menghasilkan komunikasi yang cenderung koersif (memaksa)7.

Kedua, orangtua memiliki prasangka yang kurang baik tentang iktikad

menantunya, sehingga dapat menjadi self-fulfilling prophecy (nubuwwah yang

dipenuhi sendiri). Ini bisa membawa ke persoalan psikis yang akumulatif. Orang tua

tetap mengingat “kesalahan-kesalahan” menantunya yang terjadi di masa lalu.

Ada berbagai hal yang dapat menyebabkan terjadinya kondisi yang demikian,

khususnya dampak akumulatif. Salah satunya yang cukup rentan adalah kebiasaan

untuk saling menceritakan kekecewaan dan secara bersama-sama mengembangkan

sikap minor. Dalam keadaan demikian, masing-masing pihak tidak berusaha untuk

memberikan interpretasi terbaik terhadap sikap atau perkataan pihak lain.

Tentang ini, Rasulullah Saw. mengingatkan, “Jika engkau mendengar sesuatu

yang mungkin diucapkan oleh saudaramu, berikan interpretasi yang terbaik sampai

engkau tidak dapat menemukan alasan untuk melakukannya.”

Ketika Imam Ahmad ibn Hanbal ditanya mengenai hadis ini, beliau berkata,

“Carilah alasan untuknya dengan mengatakan mungkin dia berkata begini, atau

mungkin maksudnya begini.”

 

Saya tidak berani meneruskan pembicaraan tentang masalah ini. Hanya kepada

Allah kita berharap, mudah-mudahan Allah memperbaiki lisan kita dan menjaminkan

bagi kita beserta keturunan kita keselamatan dunia akhirat. Allahumma amin.

Selain masalah komunikasi, terutama jika tidak ada budaya tabayyun

(mengklarifikasi informasi), ada beberapa hal yang bisa menyebabkan munculnya

konflik. Konflik ini mungkin bersifat internal, mungkin bersifat eksternal.

Konflik internal lebih bersifat beban psikis. Mereka mengalami konflik batin,

tetapi tidak sampai muncul ke permukaan sehingga tidak menimbulkan pertengkaran.

Namun demikian masalah semacam ini dapat muncul dalam bentuk lain, misalnya

sikap mereka atau salah satu di antara mereka terhadap orang lain. Bisa juga sikap

mereka terhadap anak.

Sebagian sistem perkawinan juga potensial menimbulkan masalah. Hanya saja,

pembicaraan tentang masalah ini perlu tempat khusus agar cukup leluasa untuk

mendalami. Saat ini cukuplah saya garis bawahi bahwa sejauh pemahaman saya,

Islam menetapkan prinsip kesederhanaan dan kemudahan. Sederhana dalam proses,

sederhana dalam pelaksanaan. Mudah dalam proses, mudah dalam pelaksanaan.

Sejauh memenuhi ketentuan minimal; ada kedua mempelai, ada wali, ada saksi, dan

ada mahar, cukuplah. Selanjutnya, suami dapat melaksanakan walimah –meskipun

hanya dengan seekor kambing– setelah memboyong istrinya ke rumah.

Beberapa hal yang bisa menjadi sumber masalah, antara lain:

 

Anak yang Diharapkan

Ada anak yang sangat diharapkan oleh keluarga dan sanak saudara. Ia menjadi

orang yang dibanggakan. Ia menjadi orang yang diperhatikan dan didengarkan.

Keluarga merasa kurang lengkap kalau ia tidak hadir dalam acara yang khas keluarga.

Anak yang diharapkan bisa juga karena keluarga bertumpu kepadanya untuk

melanjutkan garis kehormatan keluarga; untuk melanjutkan klan keluarga –apa pun

istilahnya.

Posisi sebagai anak yang diharapkan dapat menjadikan istri pilihannya lebih

mudah diterima dan dipahami oleh keluarga. Keluarga memberi dukungan yang

penuh dan tulus kepada menantunya, sehingga memudahkan dia dalam penyesuaian

diri. Bisa juga sebaliknya, keluarga bias dengan sikapnya terhadap orang yang

sekarang menjadi suami Anda. Keluarga biasa memperlakukannya sebagai porselen

antik, sehingga mereka mengharapkan Anda memperlakukan suami (juga

keluarganya, barangkali) sebagai porselen antik. Padahal Anda dan suami

menghendaki pola interaksi yang berbeda.

 

Keluarga yang Menuntut

Sikap menuntut kadang menimbulkan masalah. Ini terutama jika tidak diimbangi

dengan kelapangan hati bahwa setiap orang memiliki sejarah hidup dan sejarah

keluarga sendiri. Setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Setiap orang

tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang berbeda-beda keadaannya maupun

kerangka sikapnya. Pola berpikir antara dua orang bersaudara saja bisa berbeda.

Sikap menuntut yang tidak diimbangi dengan penerimaan tentang keunikan

perkembangan setiap manusia, menyebabkan keluarga tidak mau mengerti mengenai

proses belajar. Mereka menuntut menantunya untuk bisa bersikap dan berperilaku

sesuai “standar nilai keluarga” dengan tidak memberi permakluman bahwa untuk itu

orang membutuhkan waktu. Waktu untuk belajar, waktu untuk menyesuaikan diri,

dan waktu untuk mensinkronkan nilai-nilai yang ada dalam dirinya.

Di sinilah perlu komunikasi yang baik. Setiap kita wajar memiliki tuntutan. Yang

kita perlukan adalah mempertemukan tuntutan-tuntutan itu agar tidak menjadi

benturan yang keras.

 

Saudara Perempuan Serumah

Salah satu hal yang riskan ketika saudara perempuan serumah dengan istri adalah

pembandingan. Saudara perempuan membandingkan dengan apa yang ideal

menurutnya terhadap iparnya; membandingkan dirinya atau bahkan ibu dan kerabat

dengan iparnya. Masalah juga bisa muncul jika saudara perempuan memiliki

kecemburuan terhadap iparnya karena “telah mengambil” perhatian saudaranya.

Masalah ini ketika disimak kadang terasa lucu. Akan tetapi, peristiwa semacam

ini acapkali memang terjadi. Meskipun demikian, tentu saja Anda jangan

menggeneralisir sehingga menyamaratakan. Kehadiran saudara perempuan serumah

kadang malah sangat positif karena mau memahami, mendampingi, membimbing ipar

dalam memahami suaminya. Ini memudahkan istri mengenali dan menyesuaikan diri

dengan suaminya.

***

Insya-Allah benturan-benturan tidak akan terjadi seandainya keluarga

memahami agama, sehingga mereka menghormati kedudukan menantu dan saudara

ipar dalam rumah serta memahami batas-batas hak dan kewajiban. Benturan kadang

muncul karena tuntutan maupun penilaian didasarkan pada standar nilai pribadi yang

kadang tidak jelas ukurannya.

Selain itu, peran suami dalam menyelaraskan sikap keluarga dengan istrinya

sangat banyak menentukan. Misalnya berkenaan dengan kecemburuan saudara

perempuannya, ia dapat menetralisir sejak awal.

Kado Pernikahan 165

Pada akhirnya, memang kedewasaan sikap dari kita yang banyak menentukan.

Masalahnya, apakah kita selama ini telah cukup dewasa dalam mengarifi kehidupan

kita? Itulah!

 

PRIORITAS TEMPAT TINGGAL

Setelah menikah, maka yang harus ditaati pertama kali oleh seorang suami

adalah orangtua, terutama ibunya. Sedang bagi istri, yang pertama kali harus dipatuhi

adalah suaminya. Suami berkewajiban menyediakan tempat tinggal bagi istri. Sebagai

imbangan, istri harus bersedia bertempat tinggal di mana pun, sejauh suami tidak

menjerumuskan dengan menempatkannya pada lingkungan yang rusak dan penuh

kefasikan (naudzubillahi min dzalik).

Kalau suatu saat mereka dihadapkan pada pilihan untuk tinggal bersama

orangtua agar bisa berkhidmat kepada mereka, sedangkan orangtua dari kedua belah

pihak menghendaki, maka yang perlu diprioritaskan pertama kali adalah orangtua

suami. Sesudah itu, baru orangtua istri. Meskipun demikian, jalan musyawarah adalah

lebih baik, sehingga tercapai kemaslahatan bersama.

Ada hukum. Ada kearifan (tanpa merusak hukum).

Sampai di sini pembahasan kita tentang tempat tinggal. Semoga bermanfaat.

Semoga Allah Swt. memberikan barakah dan ampunan-Nya. Allahumma amin.

Catatan Kaki:

1. Periksa misalnya dalam buku Suami-Istri Islami karya Dr. Musa Kamil terbitan

Remaja Rosdakarya, Bandung, 1997.

2. Penjagaan terhadap privacy istri ini terutama menonjol pada pandangan mazhab

Hanafi. Menurut mazhab Hanafi, suami harus menyediakan tempat tinggal

untuk istrinya di satu rumah yang terpisah, tidak ada seorang pun keluarganya di

situ, kecuali yang dikehendaki oleh istrinya.

3. Melepaskan ikatan keluarga tidak dalam pengertian mengurangi silaturrahmi,

apalagi sampai memutus. Melepaskan ikatan keluarga berarti melepaskan pola

berumahtangga sebagaimana yang diterimanya dalam keluarga orangtua, untuk

kemudian bisa memulai pola kehidupan berumahtangga sebagaimana

dikehendaki oleh kedua pihak: suami dan istri. Semoga dengan demikian, lebih

mudah mencapai keharmonisan dan kekukuhan. Wallahu A’lam bishawab.

Kado Pernikahan 166

4. Pembahasan mengenai pandangan-dunia aktual dan pandangan-dunia tekstual

silakan lihat pada buku Mendidik Anak menuju Taklif (Pustaka Pelajar,

Yogyakarta, 1996).

5. Dalam bab ini, jika saya menyebut kata mertua dan orangtua secara bersamaan,

maka kata mertua berarti orangtua istri. Sedang kata orangtua berarti orangtua

suami. Ini karena yang berkewajiban menyediakan tempat tinggal adalah suami,

sehingga pembicaraan ini seakan-akan saya tujukan kepada suami. Meskipun

sesungguhnya juga perlu dibaca oleh istri karena istri juga bisa ikut memberi

pertimbangan.

6. Saya belum menemukan sumber tertulis apakah qaul (pendapat, nasehat) ini

memang berasal dari beliau r.a. atau tidak. Karena itu saya tidak memastikan

bahwa qaul ini berasal dari beliau. Meskipun demikian dari isinya, insya-Allah

kita bisa mengambil beberapa pelajaran yang bermanfaat.

7. Coercive-communication adalah pola komunikasi yang memberi efek perasaan

dipaksa atau terpaksa pada orang yang diajak berkomunikasi. Pembahasan lebih

lanjut tentang coercive communication bisa Anda baca pada bab Komunikasi

Suami-Istri di jendela ketiga buku ini.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: