Bab 8 Awalnya dari Niat

Awalnya dari niat. Kelak Allah akan menilainya dan memberikan barakah
sesuai dengan niatmu. Kalau niatmu menikah karena ingin menjawab
pertanyaan Rasulullah tentang apa yang menghalangi seorang mukmin
untuk mempersunting istri, insya-Allah engkau akan mendapati anakanak
yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaha illaLlah. Jika
engkau tidak tahu betul bagaimana mendidik anakmu, Allah yang akan mendidiknya.
Allah yang akan memberikan ilmu melalui kekuasaan-Nya. Banyak cara Allah
membaguskan hamba-hamba-Nya. Banyak cara Allah menjadikan seorang hamba
terangkat tinggi karena niatnya melalui anak-anak yang mereka lahirkan. Padahal
mata kita yang penuh teori, semula memandang proses perkembangan anak-anak itu
sebagai kesalahan.

Sungguh, sangat sedikit ilmu yang dimiliki manusia.
Awalnya dari niat. Maka, atas dasar apakah engkau menikahi istrimu? Jika gadis
yang engkau pinang itu cantik, apakah engkau menikahinya karena mengharap
keindahan dan wajah yang mengesankan? Ataukah, karena khawatir kecantikannya
dapat membuatmu terjerumus kepada maksiat, lalu engkau berusaha dengan sungguhsungguh
untuk segera menikahinya demi menjaga kehormatan farjimu berdua.
Beda sekali antara keduanya. Yang pertama dapat mendatangkan kekecewaan
setelah menikah. Pernikahan sangat sedikit barakahnya. Sedang yang kedua, insya-
Allah akan dipenuhi barakah dari Allah yang terus melimpah.

Ketika engkau melihat calon istrimu memiliki ilmu agama yang bagus, atas dasar
apakah engkau memilihnya? Ketika engkau melihat calon istrimu berkecukupan, atas
dasar apakah engkau meminangnya? Ketika engkau melihat calon istrimu
berkekurangan, atas dasar apakah engkau memintanya kepada kedua orangtuanya.
Awalnya adalah niat. Maka aku bertanya kepadamu wahai istriku, apakah yang
menggerakkan hatimu untuk mempercayakan kesetiaanmu padaku? Aku bertanya
kepadamu karena niat akan menentukan apa yang akan engkau dapatkan kelak setelah
kita menikah, dan kelak setelah kita tiada. Ketika kita sama-sama menjadi jenazah.
Niatmu akan mempengaruhi bagaimana engkau merasakan arti saat-saat
berdekatan, keindahan saat bersama, keadaan hati saat menghadapi masalah, sampai
bagaimana engkau merasakan arti darah setetes ketika melahirkan, juga ketika harus
bangun saat anakmu terbangun dari tidurnya.

Semua berawal dari niat. Niat ketika menerima pinangan, niat ketika memasuki
jenjang pernikahan, niat ketika menghabiskan saat-saat berdua, niat ketika berhias,
niat ketika memuji suami, dan niat ketika akan melakukan berbagai hal. Niat-niat itu
bisa menambah barakah dan memperbaiki kesalahan niat sebelumnya, bisa
mengurangi barakah dari apa yang sebelumnya telah engkau terima atau engkau
berikan kepada suami.

Awalnya dari niat.
Aku mendengar, kata Umar bin Khaththab r.a., Rasulullah Saw. bersabda,
"Sesungguhnya amal perbuatan itu (dinilai) hanya berdasarkan niatnya (innamal
a’malu binniyyati) –di dalam riwayat lain: berdasarkan niat-niatnya– dan sesungguhnya
setiap orang hanya memperoleh apa yang ia niatkan; barangsiapa yang
hijrahnya (diniatkan) kepada Allah dan Rasul-Nya maka (nilai) hijrahnya adalah
kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya (diniatkan) kepada dunia
yang ingin diraihnya atau perempuan yang ingin dinikahinya maka (nilai) hijrahnya
adalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya itu." (HR Bukhari, Muslim, Abu
Dawud, Turmudzi dan An-Nasa’i, shahih).
Innamal a’malu binniyati, kata Rasulullah Saw. dalam hadis tersebut. Mungkin
kita semua sudah pernah mendengar hadis ini. Barangkali malah sudah sangat sering
mendengar. Kadang malah menjadi alasan bagi sebagian orang untuk memaafkan diri
sendiri ketika melakukan perbuatan keliru. Dalilnya, bukankah setiap perbuatan
dinilai berdasarkan niatnya? Aku ingatkan kepada diriku sendiri, bukan demikian itu
yang disebut niat. Bukan. Niat yang sesungguhnya melandasi perbuatan, bukanlah
apa yang dengan mudah engkau ucapkan lalu engkau hapus di saat lain yang engkau
kehendaki. Kalau seorang gadis memintamu untuk memboncengkannya sedangkan
engkau sudah lama sekali menginginkan, maka tidak bisa engkau menyertainya
dengan niat menolong sebagai sesama muslim meskipun niat itu engkau ucapkan
berulang-ulang. Bukankah hatimu sendiri sudah gelisah dan tidak tenang?
Aku ingatkan kepada diriku sendiri dan orang-orang yang aku cintai, mintalah
kepada Allah penjagaan niat dari kotoran-kotoran yang tidak engkau ketahui dan
kebusukan yang tidak mampu engkau hilangkan sendiri saat ini. Semoga Allah
mengampunimu dan memperbaiki niat kita.

Dengarkanlah keterangan Imam Al-Ghazali rahimahuLlah. Beliau mengatakan,
barangkali ada orang bodoh mendengar perkataan kami tentang niat. Lalu ia berkata,
"Aku berdagang karena Allah", atau "Aku makan karena Allah". Jauh, amatlah jauh.
Hal itu hanya perkataan diri dan perpindahan dari satu pikiran ke pikiran yang lain.
Niat jauh dari yang demikian. Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungannya
pada apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya,
baik secara segera maupun ditangguhkan.

Pelacur itu kemudian datang
meminta untuk dinikahi demi membersihkan diri.
Dari pernikahan itu lahir tujuh orang anak yang shaleh. Begitu cerita Zadan dari
Ibnu Mas’ud
dari Salman Al-Farisi.

Selama kecenderungan itu tidak ada di dalam batin, kata Imam Al-Ghazali
melanjutkan, tidak mungkin diusahakan, diciptakan dengan usaha, dan dipaksakan.
Melainkan hal itu, hasilnya kembali kepada perpindahan pemikiran dari sesuatu ke
sesuatu yang lain. Seperti seorang yang kenyang berkata, "Aku telah berniat untuk
lapar," atau "Aku berniat untuk makan disebabkan lapar," Atau orang yang gelisah
berkata, "Aku telah berniat untuk mencintai seseorang," atau "Aku telah berniat
memuliakan seseorang." Hal ini tidak muncul di dalam batinnya, dan itu mustahil.
Selama tidak muncul motif hal itu, maka tidak akan ada kebangkitan jiwa, karena
kebangkitan jiwa merupakan tanggapan (respons) terhadap motif dan tujuan yang
muncul. Contohnya adalah menikah, kata Imam Al-Ghazali. Orang yang dikuasai
syahwat dan ingin menikah, kemudian hendak memaksakan diri berniat mengikuti
Rasulullah Saw. dan sunnahnya, serta berniat mendapatkan anak yang shaleh. Hal itu
tidak mungkin terjadi karena tidak muncul motif-motif ini dari batinnya. Melainkan di
dalam batinnya hanya ada syahwat semata. Demikian penjelasan Imam Al-Ghazali
dalam buku Mutiara Ihya’ ‘Ulumuddin.
Wallahu A’lam bishawab.
Awalnya dari niat. Nikah juga diawali dengan niat. Niat yang baik dan jernih
akan mendekatkan kepada barakah. Semakin baik niat kita, insya-Allah semakin
barakah rumah tangga kita, sekalipun kita tidak bisa menunaikan seluruh perkara
yang kita niatkan dengan sebaik-baiknya. Bahkan kalau kita tidak bisa mengamalkan
apa yang sudah kita niatkan dengan sungguh-sungguh, maka bagi kita apa yang kita
niatkan. Allah menyempurnakan apa yang kita niatkan, sekalipun kita tidak bisa
melaksanakan.
Tetapi beda sekali antara niat yang sungguh-sungguh kuat dengan mengadaadakan
niat. Semoga Allah menyelamatkan kita dari ghurur (ter
kelabui). Kita
menyangka kita punya niat, padahal hanya angan-angan yang kemudian kita jelaskan
dengan akal.

Adapun jika engkau telah berniat dengan niat yang baik, maka berbahagialah,
sebab Rasulullah Saw. bersabda, "Niat orang mukmin lebih baik daripada
perbuatannya. Sementara niat orang fasik lebih jelek daripada perbuatannya."
Maka marilah kita meniatkan satu kebaikan di dalam pernikahan. Niat mendidik
anak dengan sebaik-baik pendidikan. Niat menetapkan satu sunnah hasanah dalam
keluarga. Niat untuk melaksanakan perbuatan yang mendatangkan barakah bagi kita
beserta istri (suami) kita. Niat untuk memuliakan istri dengan perkataan yang lembut,
bukan kasar dan menyakitkan. Serta niat lain.
Satu niat saja yang sungguh-sungguh ingin kita kerjakan, insya-Allah menjadi
pintu barakah, kebaikan berlipat-lipat yang terus berkembang. Hanya Allah yang
berhak menentukan kebaikan apa yang dikaruniakan kepada kita di dunia dan akhirat.
Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Pemberi Kebaikan. Maha Suci Allah dari
segala keburukan yang diangan-angankan oleh akal yang keruh.
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah –dalam apa yang diriwayatkan dari
Rabbnya– bersabda, "Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan
keburukan-keburukan, kemudian menjelaskan hal tersebut (di dalam kitab-Nya);
barangsiapa berniat melakukan kebaikan tetapi dia tidak mengerjakannya maka
Allah menulisnya di sisi-Nya satu kebaikan yang utuh, jika dia meniatkannya
kemudian dia melakukannya maka Allah menulisnya di sisi-Nya sepuluh kebaikan
sampai tujuh ratus sampai berlipat-lipat ganda. Dan barangsiapa berniat
(melakukan) keburukan tetapi dia tidak mengerjakannya maka Allah menulisnya di
sisi-Nya satu kebaikan yang utuh, dan jika dia meniatkannya kemudian dia
mengerjakannya maka Allah menulisnya satu keburukan".
Dalam riwayat lain Ibnu Abbas menambahkan, "Atau Allah menghapuskannya
dan tidaklah berniat jahat kepada Allah kecuali orang yang binasa." (HR Bukhari &
Muslim, shahih).
Akan tetapi,

"Barangsiapa tidur dan dalam hatinya ada niat untuk mengkhianati (menipu)
orang Islam, ia tidur dalam kemurkaan Allah. Ia memasuki waktu subuh juga dalam
kemurkaan Allah kecuali bila ia mati atau bertaubat. Jika ia mati dalam keadaan itu,
maka ia mati bukan dalam agama Islam. Ketahuilah siapa yang mengkhianati kami,
ia bukan golongan kami (Nabi Saw. menyebutkan hal ini sebanyak tiga kali)."
Nah, sekarang ketika akan menikah, apa niat Anda?

NIAT KETIKA MENIKAH
Sebagian pernikahan menjadi penuh barakah karena niat awal ketika
memutuskan untuk menikah. Al-Idris Asy-Syafi’i menikah semata karena ingin
mendapatkan ridha dari pemilik pohon delima atas apa yang ia makan. Ia bersedia
menikah asal delima yang sudah dimakannya diikhlaskan dan pemiliknya ridha. Maka
ia menikah dengan Fathimah, putri pemilik pohon delima itu. Dari rahim istrinya,
lahir Muhammad bin Idris yang kelak dikenal sebagai Imam Syafi’i karena keutamaan
ilmu dan akhlaknya. Pernikahan Al-Idris melahirkan anak yang sangat penuh
barakah. Sampai sekarang kita masih mengambil ilmu dari apa yang diwariskan oleh
Imam Syafi’i, buah pernikahan Al-Idris dan Fathimah yang diridhai.
Ada contoh lain pernikahan karena menjaga diri dari hal yang meragukan,
semata-mata demi mencapai keselamatan akhirat. Imam Bukhari dalam hadis
shahihnya pernah meriwayatkan sebuah cerita dari Rasulullah.
"Seorang laki-laki," kata Rasulullah Saw., "membeli sebidang tanah dan
menemukan sebuah tempayan berisi emas dalam tanah itu. Katanya kepada si penjual,
‘Ambillah emasmu, karena hanya tanah yang saya beli dari engkau dan saya tidak
membeli emas’. Kata yang punya tanah, ‘Tanah itu beserta isinya telah saya jual
kepada engkau’. Keduanya lalu minta putusan kepada seseorang. Kata orang itu,
‘Adakah kamu berdua mempunyai anak?’ Seorang di antara mereka berkata, ‘Ya, saya
mempunyai seorang anak laki-laki’. Kata yang seorang lagi, ‘Ya, saya mempunyai
seorang anak perempuan’. Kata hakim tadi, ‘Kawinkanlah anak perempuan itu dengan
anak laki-laki ini dan belanjailah dengan keduanya dari harta itu dan
bershadaqahlah’." (HR Bukhari dalam shahihnya, hadis No. 1513).
Suatu ketika seorang pemuda ahli ‘ibadah mendatangi pelacur karena desakan
keinginan yang kuat. Setelah berada dalam kamar berdua dengan pelacur itu, ia
merasakan ketakutan yang amat sangat mengingat pengawasan Allah yang tak pernah
lepas serta kedudukannya di hadapan Allah. Maka ia berkeringat dan pucat karena
takutnya. Ia meninggalkan tempat pelacuran itu dan tidak mengambil uangnya
kembali, meskipun pelacur itu berusaha menahannya.
Setelah pemuda itu pergi, pelacur itu merenung. Seharusnya dialah yang lebih
takut kepada Allah mengingat perbuatan-perbuatannya. Maka ia berniat bertaubat dan
mencari pemuda itu agar dinikahi. Tetapi ketika sampai, ia dapati pemuda itu
meninggal seketika karena rasa takutnya saat melihat kedatangan pelacur itu.
Maka ia bertanya, "Adakah ‘Abid (ahli ‘ibadah) ini mempunyai saudara laki-laki
yang belum menikah?"
Orang-orang menunjukkan saudaranya yang juga seorang ahli ‘ibadah, tetapi
sangat miskin. Ia kemudian datang meminta untuk dinikahi demi membersihkan diri.
Dari pernikahan itu lahir tujuh orang anak yang shaleh. Begitu cerita Zadan dari Ibnu
Mas’ud dari Salman Al-Farisi.

Niat banyak mempengaruhi barakah tidaknya pernikahan. Sebagian dari niat
menikah, dijamin akan penuh dengan barakah selama-lamanya. Istri barakah bagi
suami, suami barakah bagi istri.
Allah ‘Azza wa Jalla insya-Allah juga memberi barakah yang sangat besar
kepada seorang wanita yang menyerahkan diri kepada laki-laki yang ia mantap
dengan akhlak dan agamanya, semata karena mengharapkan ridha-Nya atau karena
ingin menjaga diri dari dosa. Apalagi jika laki-laki itu seorang yang masih sendirian.
Rasulullah Saw. menjanjikan, "Kawinkanlah orang-orang yang masih
sendirian di antara kamu, sesungguhnya Allah akan memperbaiki akhlak mereka,
meluaskan rezeki mereka, dan menambah keluhuran mereka."
Sebagian orang menikah karena takut mati dalam keadaan membujang. Ini yang
pernah terjadi pada Mu’adz bin Jabal r.a., salah seorang sahabat utama Rasulullah
Saw. Ketika dua orang istrinya meninggal dunia pada waktu menjalar wabah pes,
sedangkan ia sendiri mulai kejangkitan, maka ia berkata, "Kawinkanlah aku. Aku
khawatir akan meninggal dunia dan menghadap Allah dalam keadaan tak beristri."
Ibnu Mas’ud pernah mengatakan, "Seandainya tinggal sepuluh hari saja dari
usiaku, niscaya aku tetap ingin kawin. Agar aku tak menghadap Allah dalam keadaan
masih bujang."
Ada lagi niat-niat menikah yang insya-Allah dimuliakan dan baginya barakah
yang melimpah sampai yaumil-qiyamah. Anda bisa membaca berbagai sumber atau
bertanya kepada orang yang mempunyai hikmah. Atau, Anda bisa bertanya kepada
hati nurani Anda sendiri.
Niat Ketika Memilih Pendamping
Ada pernikahan yang tidak akan pernah diberi barakah karena niat orangtua
ketika memilih suami bagi anak gadisnya yang salah. Rasulullah Saw. mengingatkan,
"Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki
meski
pun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu akan
dibarakahi-Nya."
Pernikahan yang demikian ini kering dan hampa, kecuali jika istri bersedia untuk
bermujahadah (berjuang) untuk membawa suami kepada kelurusan agama. Ia
"berzuhud" terhadap harta dan kedudukan suami. Tetapi ia menunjukkan kelembutan
saat mengajak suami kepada kejernihan hati. Ia bisa tegas di saat lain dalam
menyikapi apa yang kurang tepat, tetapi tidak menunjukkan sikap keras dan perkataan
yang menyakitkan. Ia berzuhud dari kebaikan suami dalam perkara dunia karena
menjaga agar tidak lemah dan dilemahkan secara fisik maupun psikis. Al-ihsanu
yu’jizul insan. Sesungguhnya kebaikan itu melemahkan (mematikan) manusia.
Masalahnya, adakah wanita yang seperti itu manakala orangtua menikahkan karena
silau terhadap kekayaan seorang laki-laki? Tidak mudah bersikap seperti itu. Apalagi,
kalau semenjak awal tidak disadari.
Wallahu A’lam bishawab.
Dari Anas r.a., Rasulullah Saw. bersabda, "Siapa yang menikahi seorang wanita
karena kedudukannya, Allah hanya akan menambah kehinaan kepadanya; siapa yang
menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan; siapa yang
menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambah kerendahan padanya.
Namun, siapa yang menikah karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau
karena ingin mempererat kasih-sayang, Allah akan senantiasa membarakahi dan
menambah kebarakahan itu kepadanya." (HR Ath-Thabrani).
Dari ‘Abdullah bin Amr r.a., Rasulullah Saw bersabda, "Janganlah kamu
menikahi seorang wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu
membuatnya hina. Janganlah kamu menikahi seorang wanita karena hartanya,
mungkin saja harta itu membuatnya melampaui batas. Akan tetapi nikahilah seorang
wanita karena agamanya. Sebab, seorang wanita yang shaleh, meskipun buruk
wajahnya adalah lebih utama." (HR Ibnu Majah).
Ada hadis yang sangat populer tentang menentukan kriteria wanita yang akan
dinikahi. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda, "Biasanya wanita
dikawini karena empat (hal): karena hartanya, karena kebangsawanannya, karena
kecantikan, dan karena agamanya (akhlaknya). Maka pilihlah yang beragama
(berakhlak) semoga beruntung usahamu." (HR Bukhari & Muslim, shahih).
Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi yang mengkompilasi hadis-hadis shahih yang
disepakati Bukhari dan Muslim dalam Al-Lu’lu’ wal Marjan mengatakan, "Arti taribat
yadaaka (engkau akan rugi dan miskin jika Anda tidak mengikuti tuntunan ini), yakni
jika Anda kawin dengan wanita yang tidak beragama (berakhlak) niscaya akan
menjadi fakir miskinlah Anda, yakni tidak akan bahagia dalam hidup.”
Sebagaimana seorang laki-laki yang akan meminang, seorang wanita yang
berkeinginan untuk menyerahkan diri kepada laki-laki untuk dinikahi juga perlu
memperhatikan niatnya memilih laki-laki itu. Menawarkan diri karena terkesan oleh
kekayaan dan ketampanan, hanya akan melahirkan penderitaan psikis yang
berkepanjangan kelak setelah madunya tak manis lagi.

Kalau Anda menikah, Anda bisa meminang wanita yang masih gadis. Bisa juga
seorang janda. Insya-Allah pernikahan Anda akan barakah jika Anda memilih istri
yang masih gadis atas pertimbangan sunnah Rasulullah Saw. atau apa yang
dimaksudkan dalam sunnah itu, yakni Anda bisa bercanda, bercumbu, saling
menggigit dan tertawa bersama. Anda memilih yang masih gadis karena hatinya
belum pernah terpaut pada orang lain, sehingga kasih-sayangnya lebih penuh.
Pertimbangan-pertimbangan semacam ini bisa Anda lihat pada berbagai hadis.
Di antaranya hadis-hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari maupun
Imam Muslim.
Masih berkenaan dengan gadis, mungkin Anda memilih yang masih belia karena
cintanya lebih hangat, kasih sayangnya lebih tulus dan lebih sedikit tipuannya,
disamping lebih rela terhadap belanja yang sedikit. Mungkin juga Anda memilih
gadis yang sudah beranjak tua usianya untuk menolongnya dan menyelamatkan
kehormatan agama. Yang demikian ini insya-Allah justru besar barakahnya.
Pernikahan yang penuh barakah insya-Allah juga Anda dapatkan ketika memilih
untuk menikah dengan seorang janda karena mengharapkan dia dapat merawat,
mendidik, dan mengasihi anak-anak dan saudara-saudara Anda yang masih perlu
penjagaan dan kasih sayang. Rasulullah Saw. pernah mendo’akan Jabir bin ‘Abdullah
ketika menikahi seorang janda dengan harapan bisa merawat adik-adik perempuannya
yang masih kecil, setelah ayahnya meninggal. Ketika itu Rasulullah Saw.
mendo’akan, "Barakallah (semoga Allah membarakahi)." atau "Khaira (baik saja)."
(HR Bukhari & Muslim dalam Al-Lu’lu’ wal Marjan, hadis No. 930).
Masih ada. Jika Anda memiliki pembantu, insya-Allah Anda akan mendapati
pernikahan yang sangat penuh barakah dengan menikahi pembantu Anda setelah
memberikan pendidikan sehingga dia matang, siap untuk menjadi istri dan ibu.
Khath Arab
Abu Musa r.a. berkata: Rasulullah Saw. bersabda, "Siapa yang memiliki jariyah
(hamba wanita, pembantu), lalu dipelihara dengan baik, kemudian dimerdekakan dan
dikawini, maka ia mendapat pahala dua kali lipat." (HR Bukhari & Muslim,
shahih).
Wallahu A’lam bishawab.
Niat dalam Urusan Pernikahan
Masalah niat tidak berhenti sampai saat memilih pendamping. Sesudah pinangan
datang dan kata sepakat dari dua keluarga sudah tercapai bahwa mereka akan
mengikat tali kekeluargaan melalui anaknya masing-masing, niat masih terus
menyertai dalam berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan.
Mulai dari memberi mahar, menebar undangan walimah, penyelenggaraan walimah
sampai dengan waktu yang dihabiskan untuk menyelenggarakan walimah. Walimah
lebih dari dua hari dekat kepada madharat. Walimah hari ketiga termasuk riya’.
Proses pernikahan dapat mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana
dan mudah, insya-Allah akan mendekatkan orang kepada bersihnya niat.
Memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat yang sebelumnya masih
keruh. Sedang mempersulit dapat merusak niat yang sebelumnya sudah cukup bersih.
Saya kira Anda dapat memikirkan lebih jauh masalah itu. Mudah-mudahan Allah
Ta’ala meluruskan niat kita dalam menempuh urusan pernikahan seluruhnya. Mudahmudahan
Allah membaguskan hati kita dan mengampuni kesalahan-kesalahan hati
kita dalam menempuh pernikahan, khususnya bagi yang telah menikah. Mudahmudahan
Allah memaafkan apa yang belum bersih dan menggantikannya dengan
keikhlasan dan sakinah.

MASIH ADA NIAT SESUDAH AKAD NIKAH
Sesudah akad nikah, ada kesempatan untuk memeriksa kembali niat ketika
hendak melangkah ke pelaminan. Bahtera rumah tangga mulai mengarungi lautnya.
Sebelum berlayar jauh, kita bisa beristighfar bersama-sama atau apa pun yang baik
untuk kejernihan hati. Saya perlu menggarisbawahi tambahan kata-kata "atau apa pun
yang baik" karena perkara ini tidak termasuk perkara yang wajib, sehingga saya
khawatir jika ini dianggap wajib. Istighfar atau apa pun kalimat-kalimat thayyibah itu
tidak wajib, hanya bersifat sebagai ikhtiar untuk mencapai kemaslahatan. Jika
dianggap wajib, saya khawatir justru saya berdosa karenanya.
‘Alaa kulli hal, masih ada niat sesudah akad nikah. N
iat yang baik setelah
mengarungi bahtera rumah tangga, insya Allah dapat memperbaiki kesalahankesalahan
niat sebelumnya. Mudah-mudahan Allah menjadikan rumah tangga kita
penuh barakah.
Masih ada niat sesudah hidup bersama. Niat ketika berhias maupun niat ketika
berhubungan intim. Niat Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu
contohnya. Beliau pernah berkata, "Sungguh aku memaksakan diri bersetubuh dengan
harapan Allah akan mengaruniakan dariku makhluk yang akan bertasbih dan
mengingat-Nya."
Pembahasan lebih lanjut mengenai berbagai hal yang berkenaan dengan
hubungan intim suami istri insya-Allah akan kita bicarakan pada bab Keindahan
Suami Istri di jendela kedua buku kita ini.
Hujan Itu Mensucikan Bumi
Adakalanya niat kita ketika hendak menikah masih belum bersih, kemudian
Allah memberikan kasih sayang-Nya. Allah memberikan berbagai keadaan sehingga
kita mensucikan niat kita. Allah menurunkan peristiwa-peristiwa sehingga kita
mengetahui kekotoran niat kita yang selama ini tersembunyi dari pengetahuan kita
sendiri.
Adakalanya niat seseorang sudah bersih, kemudian Allah menguji kesungguhan
niatnya. Allah memberikan ujian, sehingga tampak apakah ia bersungguh-sungguh
dengan niatnya. Sehingga tampak apakah ia tetap berpegang pada tali-Nya di saat
menghadapi kesulitan. Sehingga semakin kokoh niatnya kalau ia tetap memegangi
niatnya. Yang demikian ini insya-Allah akan membuat niatnya lebih dekat kepada
barakah dan tidak mudah luntur oleh keadaan sesudah menikah.
"Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan
untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati."
(Q.S. Ali ‘Imran: 154).
Sebagian orang ridha terhadap apa yang terjadi, sehingga Allah menambah
kemuliaan dan barakahnya. Sebagian merasa kecewa kepada Allah. Sebagian lagi
merasa kecewa, kemudian memperbaiki hati setelah menyadari kesalahankesalahannya.
Adakalanya Allah mensucikan bumi dengan menurunkan hujan. Dalam hujan
ada kilat dan petir. Sebelum hujan ada mendung tebal yang membuat gerah orangorang
di muka bumi. Sayangnya, seringkali kita salah sangka. Kita sering tidak bisa
membedakan antara panasnya terik matahari dengan gerahnya awan tebal yang
mengawali hujan penuh rahmat.
Pensucian niat bisa juga terjadi karena bertambahnya ilmu. Ketika seseorang
memperoleh pengetahuan yang lebih baik mengenai agamanya, akhirnya ia mengenali
kekeruhan-kekeruhan niat yang selama ini tidak diketahuinya. Oleh karena itu, suamiistri
tetap perlu mencari ilmu setelah berumah tangga. Mudah-mudahan mereka dapat
menjadi suami-istri yang penuh barakah. Mudah-mudahan mereka dapat menjadi
orangtua yang penuh barakah, melahirkan keturunan yang memberi bobot kepada
bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah melalui pernikahan mereka. Allahumma
amin.
Wallahu A’lam bishawab.
Mudah-mudahan Allah memperbaiki niat kita. Mudah-mudahan Allah
melepaskan kita dari ghurur (terkelabui) atas perkara-perkara yang kita sangka niat
kita, padahal hanya angan-angan yang kita jelaskan dengan akal saja.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: