Bab 6 Di Manakah Wanita-wanita Barakah Itu?

Rasulullah bersabda,

"Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalah
yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik.
Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya,
sulit menikahinya, dan buruk akhlaknya."

Menikah hampir menyamai kemuliaan agama. Perjanjian nikah disebut
mitsaqan-ghalizhan. Istilah ini tidak pernah dipakai dalam Al Qur’an,
kecuali hanya untuk tiga peristiwa. Satu untuk perjanjian akad nikah, dan
dua kali untuk perjanjian tauhid.
Dalam masalah tauhid, pembelaan terhadap kebenaran agama dari mereka yang
menyerang, bisa dilakukan dengan mubahalah (perang doa). Masing-masing pihak
memohon kepada Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh agar pihak yang salah
mendapat kutukan. Mendapat azab.
Hal yang sama juga kita jumpai dalam pernikahan. Ada yang serupa dengan
mubahalah dalam pernikahan, yaitu li’an. Keduanya merupakan perang doa.
Jika mubahalah disebutkan dalam satu ayat, kita mendapati Al Qur’an
menerangkan tentang li’an tidak cukup satu ayat. Allah Swt. berfirman:

"Dan orang-orang yang menuduh istri mereka (berzina), padahal mereka tidak
mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah
empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah orang-orang
yang benar. Dan (sumpah) yang kelima, bahwa laknat Allah atasnya, jika ia termasuk
orang-orang yang berdusta.
Dan istrinya itu akan dihindarkan dari hukuman, apabila sumpah empat kali
atas nama Allah yang dilakukan suaminya itu adalah dusta. Dan (sumpah) yang
kelima, bahwa laknat Allah atasnya, jika suaminya itu termasuk orang-orang yang
benar." (QS An-Nur [24]: 6-9).

Bila perceraian biasa bisa diakhiri dengan rujuk dan masih terbuka kesempatan
untuk merajut kebahagiaan bersama-sama seperti sebelumnya, maka tidak demikian
dengan li’an. Dua orang yang telah bercerai setelah keduanya saling me-li’an
(melaknat) haram untuk bersatu kembali untuk selama-lamanya.

Rasulullah Saw., bersabda,
Khat Arab
"Dua orang suami-istri yang saling melaknat, apabila telah berpisah (bercerai),
maka tidak akan pernah bertemu lagi selamanya." (Hadis Shahih).

Jadi, tak ada lagi ruang untuk menyatukan hati yang telah berpisah, ketika
penyesalan datang. Apabila sebelumnya keduanya saling melaknat, tidak ada lagi
kesempatan untuk menghayati kebersamaan dan kebahagiaan ketika mereka
menyadari kesalahan-kesalahannya. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita tidak
pernah sedikit pun tergelincir ke dalam prasangka yang buruk kepada teman hidup
kita, karena prasangka yang buruk merupakan bibit li’an.
Pernikahan sedemikian pentingnya dalam pandangan Islam. Pernikahan menjadi
sunnah Rasul. At-Tirmidzi, Imam Ahmad ibn Hanbal, dan Al-Baihaqi pernah
meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Empat macam perkara
termasuk sunnah-sunnah para Rasul, yaitu: memakai pacar, memakai wewangian,
bersiwak, dan menikah."

Pernikahan merupakan bukti kekuasaan Allah Yang Maha Mulia. Ia menciptakan
kasih-sayang dan kerinduan-kerinduan. Ia memberikan ketenteraman yang tidak
pernah bisa dirasakan oleh orang yang belum menikah. Rumah bagi mereka yang
menikah adalah tempat yang menyejukkan. Tiap-tiap anggota keluarga insya-Allah
memperoleh ketenteraman dan terjalin ikatan kasih-sayang.

Pernikahan yang barakah akan menumbuhkan al-‘athifah (jalinan perasaan) yang
demikian. Mereka akan mendapati pernikahan sebagaimana firman Allah Swt. dalam
surat Ar-Rum ayat 21, surat yang paling populer untuk penghias undangan nikah,
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Ia menciptakan untukmu istriistri
dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram dengannya, dan dijadikan-
Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mengetahui."

Dalam pernikahan yang barakah, insya-Allah akan tumbuh sakinah. Antara
suami dan istri, tumbuh perasaan kasih dan sayang. Perasaan ini bukan sejenis luapanluapan
sesaat, sehingga semakin kering ketika pernikahan sudah dimakan usia. Ketika
sebuah pernikahan barakah, suami merasa semakin sayang ketika tertegun
memandang istrinya yang semata wayang. Istri merasakan getaran cinta yang semakin
mendalam saat memandangi wajah suaminya.

Bagaimana keluarga yang sakinah itu? Allahu A’lam bishawab. Hadis berikut
mudah-mudahan dapat memahamkan kita sebagian di antara tanda-tandanya.

"Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki," kata Rasulullah Saw. menunjukkan,
"adalah istri shalihah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika
kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan dirinya
dan hartamu; kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan
rumah yang damai yang penuh kasih sayang. Tiga perkara yang membuatnya
sengsara
adalah istri yang tidak membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa
menjaga lidahnya juga tidak membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak
bisa menjaga kehormatan diri dan hartamu; kendaraan rusak yang jika dipakai
hanya membuatmu lelah namun jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi;
dan rumah yang sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya."
"Akan lebih sempurna ketakwaan seorang Mukmin," kata Rasulullah Saw., "jika
ia mempunyai seorang istri shalihah; jika diperintah suaminya ia patuh, jika
dipandang membuat suaminya merasa senang, jika suaminya bersumpah membuatnya
merasa adil, jika suaminya pergi ia akan menjaga dirinya dan harta suaminya."
Tetapi, tidak semua pernikahan mendapatkan barakah. Adakalanya, indahnya
pernikahan segera kering setelah masa pengantin baru berlalu. Setahun belum berlalu,
tetapi rumahtangga sudah dipenuhi oleh rasa jemu. Anak belum lagi satu, malah istri
baru menjalani kehamilan pertama, tetapi hubungan keduanya justru semakin kaku.
Bahkan lebih kaku dibanding malam pertama, saat keduanya masih belum begitu
kenal.

Apa yang menyebabkan pernikahan tidak barakah? Wallahu A’lam bishawab.
Saya hanya bisa berharap kepada Allah Swt semoga Ia menjadikan pernikahan saya,
juga pernikahan Anda, dibarakahi dan diridhai-Nya. Dengan demikian, pernikahan
semakin mendekatkan kita kepada-Nya. Bukan justru mendatangkan kekecewaankekecewaan
yang membuat kita sulit bersyukur kepada Allah Swt. Betapa banyak
nikmat Allah. Akan tetapi alangkah sulitnya mensyukuri sekian banyak karunia-Nya,
kalau hati penuh kekecewaan.
Tulisan ini merupakan doa saya, mudah-mudahan saya dan Anda mencapai
pernikahan yang barakah. Sejauh yang saya bisa, saya berusaha untuk membahas
beberapa hal yang menjadikan pernikahan tidak barakah atau berkurang
kebarakahannya. Mudah-mudahan, dengan demikian saya dan Anda semuanya dapat
mengambil pelajaran. Sehingga kita bisa menghindarkan diri dari keadaan-keadaan
yang mengurangkan barakah. Apalagi sampai menghilangkan.

Ada pernikahan yang penuh barakah. Ada pernikahan yang sedikit
kebarakahannya. Dan ya
ng paling menakutkan, adalah pernikahan yang tidak akan
pernah ada kebarakahan di dalamnya.
Pernikahan yang bagaimanakah yang tidak akan pernah ada kebarakahan di
dalamnya?
Rasulullah Saw. menunjukkan, "Barangsiapa yang menikahkan (putrinya)
karena silau akan kekayaan laki-laki itu meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka
tidak pernah pernikahan itu akan dibarakahi-Nya."
Sebagian pernikahan kurang barakah karena niatnya yang tidak tepat. Sebagian
disebabkan oleh berbagai hal selama proses berlangsung. Sebagian dipengaruhi oleh
pelaksanaan pernikahan. Sebagian disebabkan akhlak setelah menikah. Tetapi
perubahan akhlak setelah menikah, banyak disebabkan oleh niat orang yang menikah
dan yang menikahkan (karena itu, ajaklah orangtua berbicara). Pernikahan yang
barakah insya-Allah justru menjadikan akhlak keduanya semakin baik. Bila
sebelumnya masih kurang sesuai dengan keutamaan akhlak, insya-Allah setelah
menikah mereka menjadi baik akhlaknya. Ini berdasarkan hadis Nabi:
"Kawinkanlah (zawwajuu) orang-orang yang masih sendirian di antara kamu,
sesungguhnya Allah akan memperbaiki akhlak mereka, meluaskan rizki mereka,
dan menambah keluhuran mereka."
Mengenai niat, insya-Allah kita akan membahasnya tiga bab mendatang.
Sementara beberapa aspek yang mempengaruhi kebarakahan dan sakinah dalam
pernikahan, sudah kita bahas dalam bab-bab sebelumnya, betapa pun masih terbatas.
Pada bab ini, saya ingin mengajak Anda untuk menyelami beberapa peringatan
berikut, dengan segala keterbatasan yang ada pada saya saat ini (semoga Allah
mengampuni kesalahan dalam pembahasan ini dan memberikan petunjukNya).
"Sesungguhnya," kata Rasulullah Saw., "termasuk dari keberuntungan perempuan
adalah mudah lamarannya, ringan mas kawinnya, dan subur rahimnya." (HR
Ahmad).

Sabda Rasulullah Saw.:
Khat Arab
"Wanita yang paling agung kebarakahannya, adalah yang paling ringan
maharnya." (HR Ahmad, Al-Hakim, Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih).

 

Rasulullah juga mengingatkan,
Khat Arab
"Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalah
yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya,
wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya, dan buruk
akhlaknya."

Pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Anas r.a.,
Rasulullah bersabda, "Orang yang menikahi wanita karena kedudukannya, Allah
hanya akan menambahinya kehinaan; yang menikahinya karena kekayaannya, Allah
hanya akan memberinya kefakiran; yang menikahinya karena nama besar
keturunannya, Allah justru akan menambahinya kerendahan. Namun, laki-laki yang
menikahi wanita hanya karena menjaga pandangan mata dan memelihara nafsunya
atau untuk mempererat hubungan kasih-sayang (silaturrahim), maka Allah akan
membarakahi laki-laki itu dan memberi kebarakahan yang sama pada wanita itu
sepanjang ikatan pernikahannya."
Cukup sampai di sini kutipan kita terhadap hadis-hadis Nabi mengenai
pernikahan dan kebarakahannya. Sekarang, marilah kita melanjutkan pembahasan
kita. Mudah-mudahan Allah memberikan taufik dan hidayah kepada kita, kemudian
melimpahkan barakah dan ridha-Nya. Allahumma amin.

Rasulullah tidak pernah
memberikan mahar melebihi
12 uqiyah.

Masalah Mahar
Mahar atau maskawin, kata Shaleh bin Ghanim As-Sadlan dalam buku Mahar &
Walimah, merupakan satu hak yang ditentukan oleh syariah untuk wanita sebagai
ungkapan hasrat laki-laki pada calon istrinya, dan juga sebagai tanda cinta kasih serta
ikatan tali kesuciannya. Maka mahar merupakan keharusan tanpa boleh ditawar oleh
laki-laki untuk menghargai pinangannya dan simbol untuk menghormatinya serta
membahagiakannya.
Mahar disebut juga dengan istilah yang indah, yakni shidaq. Shidaq berarti
kebenaran. Mahar menunjukkan kebenaran dan kesungguhan cinta kasih laki-laki
yang meminangnya. Ia merupakan bukti kebenaran ucapan laki-laki atas
keinginannya untuk menjadi suami bagi orang yang dicintainya. Mahar bukanlah
harga atas diri seorang wanita. Wanita tidak menjual dirinya dengan mahar. Namun ia
membuktikan kebenaran kesungguhan, cinta, dan kasih-sayang laki-laki yang
bermaksud kepadanya dengan mahar.

Jadi, makna mahar atau maskawin dalam sebuah pernikahan lebih dekat kepada
syari’at agama dalam rangka menjaga kemuliaan peristiwa suci. Mahar adalah syarat
sahnya sebuah perkawinan. Juga, sebagai ungkapan penghormatan seorang laki-laki
kepada wanita yang menjadi istrinya. Memberikan mahar merupakan ungkapan
tanggung-jawab kepada Allah sebagai Asy-Syari’ (Pembuat Aturan) dan kepada
wanita yang dinikahinya sebagai kawan seiring dalam meniti kehidupan
berumahtangga.

Kelak, mahar merupakan aspek penting yang banyak memberi pengaruh apakah
sebuah pernikahan akan barakah atau tidak. Kita telah membaca beberapa hadis Nabi
berkenaan dengan hal ini di awal bab. Oleh karena itu, saya tidak membahasnya lagi.
Saat ini, kita lebih baik melanjutkan pembahasan kita mengenai berbagai hal
dalam masalah mahar.

Sebaik-baik Mahar
Ada kenangan indah dalam sejarah. Tak hanya orang-orang di zaman Rasulullah
yang terkesan. Orang-orang yang hidup jauh sesudah Rasulullah tiada, masih sering
menyebut-nyebut dengan penuh penghormatan. Perjalanan hidupnya banyak yang
diabadikan oleh Al Qur’an dan Al-Hadis. Keturunannya menambah keharuman Islam.
Sebuah pernikahan yang benar-benar penuh barakah.
Mengenai pernikahannya, Tsabit berkata, "Belum pernah aku mendengar mahar
yang lebih mulia daripada mahar Ummu Sulaim. Ia hidup rukun bersamanya dan
melahirkan anak."
Apa mahar Ummu Sulaim? Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam Zadul Ma’ad
sebagaimana disebut dalam Mahar & Walimah, mencatat: …. Dan dalam Sunan An-
Nasa’i bahwa Abu Thalhah melamar Ummu Sulaim lalu berkata, "Demi Allah, wahai
Abu Thalhah, orang seperti Anda tidak akan ditolak (melamar wanita), akan tetapi
Anda seorang kafir, sedangkan saya seorang Muslimah. Tidak halal bagiku untuk
kawin dengan Anda.
"Namun jika Anda masuk Islam, maka yang demikian dapat menjadi maharku.
Saya tidak meminta selain itu."
Kemudian Abu Thalhah masuk Islam dan masuk Islamnya itu merupakan mahar
untuk Ummu Sulaim.
Saya tidak tahu, apakah ada seorang mukminah dengan aqidah yang betul-betul
kuat meminta mahar seperti mahar Ummu Sulaim. Kita tidak tahu, adakah wanitawanita
di masa sekarang yang bertindak seperti Ummu Sulaim.

Saat ini, banyak wanita muslimah yang bersedia menikah dengan pemuda nonmuslim
setelah pemuda itu menyatakan masuk Islam. Tetapi, tidak sedikit muslimahmuslimah
kita masih sangat kurang dalam agamanya dan sedikit sekali
pengamalannya. Masuk Islamnya calon suami, agak tragis, sering sekedar legitimasi
atau malah strategi untuk mendapatkan pengesahan sebagai suami-istri. Kelak,
sesudah punya anak satu, suami itu kembali ke agama semula. Sementara itu
wanitanya memiliki dua alternatif pilihan saja: bercerai dengan suami dan anaknya,
atau bercerai dengan Islam yang telah menja
di agamanya sejak bayi.
Ada yang bisa kita catat dari kisah agung pernikahan Ummu Sulaim dengan Abu
Thalhah. Kita mencatat bahwa mahar dapat menjadi dakwah. Mahar menjadi pengikat
kasih-sayang sekaligus untuk syi’ar Islam.
Barangkali untuk tujuan ini, kita mendapati banyak orang memberikan mahar
kepada istrinya berupa mushaf Al Qur’an dan mukena. Jika ini tujuannya, kita dapat
bertanya kembali, apakah mahar jenis ini masih mempunyai kekuatan untuk
menegakkan syi’ar Islam ketika yang demikian ini telah menjadi tradisi dan orangorang
di sekeliling kita sudah banyak yang menggunakan mukena.
Apalagi, kita juga mendapati bahwa mahar yang seperti ini tidak jarang sekedar
sebagai basa-basi formal. Basa-basi sosial atau religi. Sedangkan mahar yang
sesungguhnya, bukan itu. Di atas kertas, mahar yang disebutkan pada saat akad
adalah mushaf Al Qur’an dan seperangkat alat shalat. Tetapi di belakangnya, ada
sejumlah mahar yang atas pertimbangan sosial tidak dinyatakan saat itu, tetapi disebar
berita pada saat lain.
Jika ini yang terjadi, saya khawatir mahar tersebut tidak menjadi syi’ar Islam.
Hari ini, kita merasakan itu. Mahar yang dekat dengan nafas agama itu, justru tidak
membuat kita bergetar. Tidak membuat darah kita berdesir terkesiap karena tertegun
oleh keagungannya, di balik yang tampak bersahaja.
Saya khawatir, mahar yang demikian bukannya menjadi syi’ar, jika di
belakangnya ada yang tidak ditampakkan atas alasan-alasan basa-basi sosial. Janganjangan
tindakan ini mengandung unsur kebohongan, sehingga pernikahan justru
menjadi tidak barakah. Wallahu A’lam bishawab.
Apakah mahar berupa mushaf Al Qur’an tidak bisa menjadi syi’ar? Insya-Allah
masih mempunyai kekuatan syi’ar jika kita meniatkan betul dan menjaga niat itu
ketika menyampaikan mahar.
Selebihnya, syi’ar dalam bentuk-bentuk seperti itu, sifatnya sangat kontekstual.
Kalau dulu, mahar berupa perlengkapan shalat mempunyai kekuatan syi’ar sangat
besar, maka sekarang perlu kita pikirkan kembali. Ketika orang belum begitu
mengenal shalat, mahar berupa perlengkapan shalat membuat undangan terkesan dan
mencatat dalam hatinya tentang sebuah kemuliaan: shalat. Sekarang, ketika
masalahnya berganti, bentuk mahar yang menjadi syi’ar dapat dipilih yang lebih
sesuai dengan semangat yang ingin kita tumbuhkan sekarang. Misalnya, jubah dengan
atau tanpa cadar dan perlengkapannya. Di luar itu, disampaikan mahar lain jika
memungkinkan dan disebut bersamaan dengan penyebutan mahar jubah. Adapun
kalau ada hadiah sebelum atau sesudah akad nikah, maka yang demikian ini tidak
termasuk yang disebutkan.
Selanjutnya, ada yang perlu kita waspadai. Mahar bisa menjadi syi’ar. Tetapi
juga bisa menjadi sarana untuk mendapatkan penilaian sosial. Yang pertama, kita
mengarahkan masyarakat kepada suatu kesan yang baik terhadap agama, dan mudahmudahan
hati mereka tergerak. Yang kedua, penilaian masyarakat mengarahkan kita
untuk menentukan mahar yang disebut layak, baik dan pantas. Atau, penyebutan
mahar malah dalam rangka menunjukkan ketinggian derajat atau kebesaran martabat
keluarga wanita yang menikah, meskipun untuk itu harus dilakukan impression
management (manajemen kesan) sehingga orang mendapat kesan yang lebih dari
sesungguhnya.
Berbeda sekali antara dua hal tersebut, baik dalam makna maupun dalam
akibatnya.
Satu catatan, tidak ada keharusan memberikan bentuk mahar sebagai syi’ar
khusus. Mahar lebih dekat artinya kepada pemberian sebagai bukti kebenaran kasihsayang
dan ketaatan kepada syari’at yang telah ditetapkan oleh Asy-Syari’ (Allah Swt).
Ini yang paling penting.
Pembahasan kita tentang mahar Ummu Sulaim dan tujuan dakwahnya, sekedar
untuk menunjukkan bahwa mahar tidak harus selalu berbentuk harta. Musa diminta
memberi mahar berupa pekerjaan menggembala kambing beberapa tahun. Dan Ummu
Sulaim meminta mahar berupa kesediaan masuk Islam demi meninggikan kemuliaan
Islam.

Tidak Bisa Dinilai Secara Kuantitatif
Kisah mahar Ummu Sulaim menunjukkan pengertian bahwa, mahar tidak dapat
diukur dari sedikit-banyaknya secara kuantitatif. Segenggam tepung bahan roti
(makanan); sebuah cincin besi; dan sepasang terompah dapat dijadikan sebagai mahar
yang menjadikan perkawinan sah karenanya. Begitu pengertian yang bisa kita ambil
dari Shaleh bin Ghanim.
Pernikahan Fathimah Az-Zahra
Siapakah Fathimah Az-Zahra? Kita bisa menjawab, dia adalah putri Muhammad
Rasulullah. Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid, wanita paling agung di
zamannya.
Tetapi ini tidak mencukupi untuk memperoleh gambaran tentang siapa Fathimah
Az-Zahra. Banyak orang yang menulis buku khusus untuk mencoba menggambarkan
keagungan dan kebesarannya. Seandainya kita sempat mengetahui, yang agak
lengkap sedikit saja, tentang bagaimana wanita yang akan pertama kali masuk surga
ini mengatur rumah tangga dan mendidik anaknya, betapa besar pelajaran yang akan
diperoleh oleh kaum muslimin. Seandainya, kita sempat menghayati sedikit saja
bagaimana Fathimah Az-Zahra menjadi madrasah dan masjid pertama bagi anakanaknya,
insya-Allah kita akan mendapatkan kesempurnaan cara mendidik yang
sebaik-baiknya. Sehingga, kelak akan lahir anak-anak yang penuh barakah dan
diridhai Allah sampai keturunan yang lahir jauh sesudah masanya lewat.

Tetapi, sedikit sekali yang kita ketahui, kecuali peristiwa ketika tangan putri
pemimpin besar ini melepuh karena memutar gilingan. Itu pun sering tidak lengkap.
Sangat tinggi keagungan Fathimah Az-Zahra. Ayahnya memberi julukan Ummu
Abiha (ibu yang melahirkan ayahnya) karena besarnya penghormatan dan kebaktian
Az-Zahra kepada Rasulullah. Setiap Rasulullah Saw. datang dari bepergian, beliau
langsung singgah di rumah Fathimah, setelah menunaikan shalat dua raka’at di
masjid. Baru sesudah itu beliau menjenguk istrinya. Kalau Fathimah datang,
Rasulullah segera berdiri menyambut dan menciumnya.
‘Aisyah, istri yang paling dicintai Rasulullah sesudah Khadijah, menceritakan,
"Tidak pernah aku melihat seorang pun yang paling mirip keadaannya dengan
Rasulullah Saw. dalam cara berdiri dan duduknya seperti Fathimah, putri Rasulullah
Saw. Bila dia datang, Nabi Saw. segera berdiri dan menyambutnya, menciumnya, dan
mendudukkannya di tempat duduknya."
Sebagai istri, Az-Zahra juga teladan yang tak habis-habisnya untuk setiap
muslimah. Tidak pernah ia membuat marah suaminya, karena Allah tidak menerima
ibadah seorang istri sampai suaminya ridha.
Tentang Az-Zahra, suaminya mengatakan dengan kalimat singkat, "Ketika aku
memandangnya, hilanglah kesusahan dan kesedihanku."
Fathimah Az-Zahra memang penuh kemuliaan dan kasih-sayang. Ketika
suaminya pulang perang dalam keadaan penuh luka, Fathimah merawatnya dengan
penuh kasih-sayang. Ia bersihkan darah suaminya, Ali bin Abi Thalib, dengan penuh
perhatian.
Dari rahimnya lahir anak-anak yang penuh kemuliaan. Dua orang putranya,
Hasan dan Husain r.a. sudah kita kenal kemuliaannya. Zainab, putri Fathimah, adalah
wanita yang tegar dan penuh kehormatan berani mempertahankan diri di hadapan
penguasa yang telah menghina dan memenggal leher saudaranya, Al-Husain. Ia
melindungi ‘Ali Ausath, putra Al-Husain, setelah dua ‘Ali lainnya mendapati kematian

di ujung pedang yang kejam. Kelak ‘Ali Ausath dikenal sebagai ‘Ali Zainal ‘Abidin,
pemuka ahli ibadah. Dan, dari keturunan laki-laki mulia ini, kita menjumpai orangorang
yang banyak berjuang demi keharuman agama dan kehormatan ummat
manusia, sampai sekarang. Mulai dari Mesir, Yaman, Malaysia, Bandung, Surakarta
hingga bagian timur Indonesia.
Bagaimana Fathimah melahirkan keturunan yang penuh barakah? Anak-anak itu
lahir dari pernikahan yang barakah. Pernikahan yang diridhai Allah. Kemudian
Fathimah mendidiknya dengan keteguhan yang mengagumkan. Sebagai gambaran,
kita dengarkan penuturan Jabir Al-Anshari. Jabir meriwayatkan bahwa, Nabi melihat
Fathimah sedang menggiling dengan kedua tangannya sambil menyusui anaknya.
Maka mengalirlah air mata Rasulullah.
"Anakku," kata Rasulullah, "engkau menyegerakan kepahitan dunia untuk
kemanisan akhirat."

Ketika mendengar ucapan Rasulullah, Fathimah Az-Zahra mengatakan, "Ya
Rasulullah, segala puji bagi Allah atas nikmat-Nya, dan pernyataan syukur hanyalah
untuk Allah atas karunia-Nya."
Begitu sebagian berita yang sampai kepada kita tentang rumahtangga Fathimah
Az-Zahra. Bagaimana pernikahan Fathimah Az-Zahra dengan ‘Ali putra Abi Thalib?
Apa mahar yang diberikan oleh ‘Ali dalam pernikahan yang penuh barakah itu?
Kita sudah sering mendengar berita bahwa, ‘Ali menjual baju besi untuk
membayar maharnya. Konon, baju besi itu dibeli oleh Utsman bin Affan seharga 400
dirham yang kemudian menghadiahkan kembali kepada ‘Ali. Begitu menurut sebagian
riwayat.
Tetapi, apa yang dilakukan setelah memperoleh hasil penjualan baju besi itu? Ia
menyerahkan uang itu kepada Rasulullah Saw. Nabi Saw. kemudian memberikan
sebagian uang itu kepada Asma’ untuk membeli wewangian, sebagian kepada Ummu
Salamah untuk makanan, sebagian kepada tiga orang sahabat, yaitu ‘Ammar, Abu
Bakar, dan Bilal. Ketiga sahabat ini membelanjakan uang untuk membeli
perlengkapan dan perabot rumahtangga Fathimah Az-Zahra. Perabot rumahtangga
yang sederhana. Padahal ayahnya adalah seorang pemimpin, seorang tokoh besar
yang disegani dan dihormati. Andaikan Rasulullah mau yang jauh lebih mewah,
beliau akan bisa mendapatkan dengan cara apa pun. Tetapi Rasulullah tidak
melakukannya. Di sini ada yang bisa kita renungkan.
Inilah mahar pernikahan Fathimah Az-Zahra yang penuh barakah. Darinya lahir
keturunan yang penuh barakah sampai hari ini.
Sekarang ketika kita hendak mencari pernikahan yang barakah, kita bertanya
dimana Fathimah Az-Zahra? Kita membutuhkan teladan yang suci dari wanita agung
ini. Akan tetapi, Fathimah Az-Zahra telah lama tiada menyusul ayahnya ke
rahmatullah. Az-Zahra telah tiada. Entah, teladannya masih kita ikuti ataukah ikut
pergi bersama ketiadaan beliau.

Seperti Apakah Keturunan Kita?
Pernikahan Fathimah Az-Zahra dan Sayyidina ‘Ali yang penuh barakah telah
melahirkan orang-orang yang penuh kemuliaan. Kita mengenal Imam Syafi’i, peletak
dasar ‘ushul fiqih yang melalui jalur ibu bersambung kepada Fathimah Az-Zahra. Kita
mengenal Sayyid ‘Abdullah Haddad, seorang ‘alim yang wara’ dan faqih. Kita juga
mengenal Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani. Mengenai beliau, Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah, mengatakan dalam bukunya Qodho’ dan Qodar,
"Adapun para imam kaum Sufi serta para syaikh terdahulu yang terkenal seperti
Al-Junaid bin Muhammad beserta pengikut-pengikutnya, juga seperti Syaikh Abdul
Qadir Al-Jailani dan orang-orang semisalnya, maka mereka adalah termasuk orang
yang paling memperhatikan perintah dan larangan, termasuk orang yang sering
mewasiatkan (kepada murid-muridnya) untuk mengikuti yang demikian itu, dan
paling sering mengingatkan agar mereka jangan berjalan bersama (memikir mikirkan) takdir, sebagaimana pengikut-pengikut berikutnya berjalan mengikuti mereka."
"Inilah perbedaan kedua yang pernah dikatakan oleh Al-Junaid kepada para
pengikutnya dan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani; perkataan yang semuanya berkisar
pada ittiba’ terhadap perintah, meninggalkan larangan dan sabar menerima takdir.
Beliau tidak pernah menetapkan suatu tarekat-pun yang bertentangan dengan prinsip
di atas sama sekali; baik beliau sendiri maupun pada umumnya syaikh-syaikh yang
bisa diterima kehadirannya oleh kaum Muslimin…."
Orang-orang seperti mereka itulah yang lahir dari pernikahan Fathimah Az-
Zahra! Lalu, seperti apakah keturunan yang akan lahir dari pernikahan kita? Apakah
kelak Allah mengaruniakan kepada kita keturunan yang memberi bobot kepada bumi
dengan kalimat laa ilaaha illaLlah? Kita berharap demikian. Pada saat yang sama,
marilah kita periksa niat dan keadaan hati kita.
Ya Allah, sesungguhnya hati kami dalam genggaman Engkau. Kepada-Mu ya
Allah, kami memohon rahmat, bersihkanlah hati kami yang kami sendiri tidak
sanggup memeriksanya. Betapa pun kami masih banyak melakukan maksiat kepada-
Mu, Ya Allah, kami masih berharap kepada-Mu dengan hak ummat Muhammad,
karuniakanlah kepada kami keturunan yang menyejukkan mata dan meninggikan
kalimat-Mu.
Allahumma amin.

Berapa Ukuran Mahar?
Suatu ketika, seorang wanita datang kepada Rasulullah Saw. Demikian yang
diriwayatkan oleh Asy-Syafi’i dari Malik dari Abu Hazim dari Sahal bin Sa’ad.
Wanita itu menjumpai Rasulullah dan mengatakan, "Ya Rasulullah, sesungguhnya
aku telah merelakan diri untuk engkau nikahi."
Wanita itu berdiri lama. Kemudian seorang lelaki berdiri dan mengatakan, "Ya
Rasulullah, nikahkanlah ia dengan aku, jika engkau tidak berkenan menikahinya."
Kemudian Rasulullah bersabda, "Apakah kamu mempunyai sesuatu untuk
memberinya mahar?"
Lelaki itu pun menjawab, "Aku tidak memiliki apa-apa selain kainku ini."
Rasulullah kemudian bersabda lagi, "Jika engkau berikan kainmu itu, engkau
tidak mempunyai kain lagi. Carilah sesuatu untuk diberikan kepadanya."
Lelaki itu menjawab, "Aku tidak dapat menemukan apa pun."
Akhirnya Rasulullah bersabda, "Carilah sesuatu meskipun hanya sebuah cincin
besi."
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis tentang ini dalam shahihnya,
"Carilah maskawin meskipun hanya sebuah cincin terbuat dari besi." (Muttafaq
‘alaih).

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang membayar dengan satu
dirham, maka ia telah sah nikahnya."
Menurut hadis ini, satu dirham saja telah mencukupi untuk menjadi mahar bagi
sebuah pernikahan yang sah. Satu dirham telah mencukupi. Rasulullah Saw. juga
bersabda, "Mahar yang paling baik adalah mahar yang paling sederhana." (HR An-
Nasa’i).
Sementara, Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis berkenaan dengan
keberuntungan wanita dan mahar pernikahannya. Rasulullah Saw., dalam hadis itu,
bersabda,
"Sesungguhnya termasuk keberuntungan perempuan adalah mudah lamarannya,
ringan maskawinnya, dan subur rahimnya." (HR Ahmad).
Dari hadis-hadis ini, kita memperoleh gambaran tentang kesederhanaan mahar.
Sebuah cincin besi kalau memang tidak memungkinkan untuk memberi yang lebih,
sudah cukup untuk menjadi maskawin yang layak bagi sebuah pernika
han Islami.
Dalam riwayat lain, kita menjumpai kisah wanita Fuzarah menikah dengan
memperoleh mahar berupa sepasang terompah. Lalu Rasulullah Saw. menanyai
kerelaan wanita itu, "Apakah kamu mau menerima pernikahanmu dengan mahar
sepasang terompah?"
Ia menjawab, "Ya saya terima."
Kemudian Rasulullah menyetujui pernikahan itu. Demikian hadis yang
diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dari Amir bin Rabi’ah.

Memberatkan mahar
dapat membuat pernikahan kehilangan barakahnya.
Istri mendapati rumahtangganya penuh kegersangan.
Sedang suami merasakan kehampaan
ketika berada di rumah.

Harta yang sedikit saja, telah layak untuk menjadi mahar meskipun cuma satu
dirham. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah setelah mengemukakan hadis-hadis yang
berkenaan dengan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mahar,
mengatakan:
"Hadis-hadis itu mengandung ajaran bahwa mahar tidak ditetapkan batas
minimalnya; segenggam gandum, sebuah cincin besi, dan sepasang terompah pun
dapat dijadikan sebagai mahar dan sah pernikahannya. Hadis-hadis itu juga
mengandung ajaran bahwa berlebihan dalam mahar makruh hukumnya dalam
pernikahan dan mengurangi barakah perkawinan."
Jika satu genggam tepung telah mencukupi sebagai mahar, kita menemukan
‘Abdurrahman bin ‘Auf memberi mahar satu nawat emas ketika menikah. Satu nawat,
kata Shaleh bin Ghanim As-Sadlan, bagi penduduk Madinah adalah seperempat dinar.
Menurut riwayat, Sayyidina ‘Ali karamallahu wajhahu pernah mengatakan,
"Sungguh, aku benci kepada maskawin yang kurang dari sepuluh dirham. Hal ini
karena jangan sampai menyerupai maskawin pelacur."
Berapa besar mahar yang diberikan oleh Rasulullah kepada istri-istrinya? Abu
Salamah r.a. menceritakan hadis berikut:
Aku telah berkata kepada Siti ‘Aisyah r.a. "Berapakah maskawin yang telah
dibayar oleh Rasulullah Saw.?"
Ia menjawab, "Maskawin yang diberikannya kepada istri-istrinya adalah dua
belas uqiyah dan satu nasy." Ia bertanya, "Tahukah kamu berapakah satu nasy itu?"
Aku menjawab, "Tidak."
Ia berkata, "Setengah uqiyah, jumlah semuanya seharga lima ratus dirham."
(HR Muslim, Abu Daud dan An-Nasa’i).
Berapakah satu uqiyah itu? Syaikh Mansur Ali Nashif menceritakan, satu uqiyah
sama dengan empat puluh dirham. Sehingga 12 uqiyah ditambah satu nasy, total
berjumlah 500 dirham. 500 dirham senilai seperempat dinar, setara dengan nilai
mahar ‘Abdurrahman bin ‘Auf.
Menurut riwayat, Rasulullah Saw. tidak pernah memberikan mahar melebihi
12,5 uqiyah. Hanya Ummu Habibah yang mendapat mahar lebih dari 12,5 uqiyah,
karena Raja Najasyi yang membayar maharnya, bukan Rasulullah Saw. sendiri.
Ummu Habibah menceritakan bahwa, dahulu ia menjadi istri Ubaidillah ibnu
Jahsy. Lalu Ubaidillah mati di negeri Habasyah. Kemudian Raja Najasyi
mengawinkannya dengan Nabi Saw. dan membayarkan maharnya sebanyak empat
ribu dirham. Setelah itu Raja Najasyi mengirimkannya (Ummu Habibah) kepada
Rasulullah Saw. dengan dikawal oleh Syuhrabil ibnu Hasanah. (HR Abu Daud, An-
Nasa’i dan Ahmad).
Baik mahar Rasulullah Saw. maupun mahar ‘Abdurrahman bin ‘Auf, nilainya
mencapai 500 dirham. Sebuah jumlah yang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil.
Meskipun demikian, ada peristiwa yang dapat kita renungkan, ketika seorang sahabat
memberikan mahar kepada istrinya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa, seorang laki-laki datang dan
berkata kepada Nabi Saw., "Aku telah menikahi seorang wanita Anshar."
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sudahkah kamu
melihatnya? Sebab pada mata para wanita Anshar terdapat sesuatu."
Dia menjawab, "Sudah, aku telah melihatnya."
Rasulullah kemudian berkata, "Berapa mahar pernikahanmu?"
Dia menjawab, "Empat uqiyah."
Rasulullah kemudian berkata, "Empat uqiyah? Seolah kamu mengukir perak
pada permukaan gunung ini. Kami tidak mempunyai sesuatu yang bisa kami berikan
kepadamu, akan tetapi mudah-mudahan kami dapat mengutus rombongan
bersamamu yang dapat memberi bantuan." Lalu Rasulullah pun mengirim utusan
kepada Bani ‘Abs untuk pergi bersama laki-laki itu. (HR Muslim, shahih).
Apa maksud hadis ini? Kita dengarkan penjelasan Imam An-Nawawi dalam
Syarh Shahih Muslim:
"Ungkapan ini," kata Imam An-Nawawi, "memberi makna makruh memberi
mahar melebihi kemampuan yang dimiliki suami pada saat pernikahan."
Jadi, berapa ukuran mahar yang sesuai dan layak? Tidak bisa kita menentukan
secara kuantitatif. Kita hanya bisa mengambil pelajaran agar mahar tidak terlalu kecil,
juga tidak terlalu besar.
Berapa ukuran mahar yang disebut terlalu besar?
Pertama, apabila mahar yang diberikan melebihi kemampuan yang dimiliki
suami, seperti dalam kasus pemberian mahar empat uqiyah atau senilai 160 dirham,
meskipun Rasulullah Saw. sendiri maupun ‘Abdurrahman bin ‘Auf memberikan
mahar kepada istrinya sebesar 12,5 uqiyah atau senilai 500 dirham.
Kedua, mahar yang diberikan berlebihan dibanding apa yang biasa berlaku dalam
masyarakat. Sekalipun suami mampu memberikan mahar melebihi mitsil (mahar yang
biasa berlaku dalam masyarakat), ada baiknya untuk menahan diri. Kelak, ia bisa
memberikannya sebagai hadiah kepada istrinya. Ini akan menambah kecintaan istri.
Sementara bermewah-mewah dalam mahar, sehingga masyarakat
membicarakannya, saya khawatir bisa membawa madharat. Awal tradisi adalah
peristiwa-peristiwa semacam ini. Kalau tradisi ini menjadikan orang-orang di
kemudian hari berpengharapan lebih, sementara para pemudanya menjadi takut
menikah, apakah yang demikian tidak termasuk sunnah-sayyi’ah (kebiasaan baru
yang buruk)? Wallahu A’lam bishawab.

Tetapi, apakah himbauan agar mahar tidak melebihi apa yang biasa berlaku
dalam masyarakat tidak bertentangan dengan kisah Umar? Padahal Umar bin
Khaththab telah mengakui kekhilafannya.
Ketika itu, Umar bin Khaththab melarang memberi mahar 40 mata uang perak.
Barangsiapa yang melebihi itu, maka kelebihannya masuk Baitul-Mal. Kemudian
Kado Pernikahan 83
seorang wanita membantah ucapan Umar bin Khaththab sambil menyebutkan ayat 20
surat An-Nisa’. Setelah mendengar teguran itu, Umar berkata, "Wanita ini benar,
Umar salah."
Mengenai kisah Umar bin Khaththab ini, marilah kita dengar penjelasan dari
Shaleh bin Ghanim As-Sadlan. Meskipun begitu populernya kisah ini, kata Shaleh bin
Ghanim, tetapi di sana banyak jalan cerita yang menimbulkan keraguan. Apalagi
munculnya kisah ini jauh setelah masa Umar dan tidak ditemukan di berbagai kitab
yang dapat dijadikan sumber yang kuat. Banyak ulama dan ahli hadis yang tidak
memakai kisah ini sebagai dalil dalam masalah mahar yang berlebihan. Mereka
merasa cukup dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam masalah
mahar. Dan Abu Bakar bin ‘Arabi menegaskan dalam kitab Ahkam Al Qur’an bahwa
riwayat yang masyhur dari Umar adalah yang tidak bertentangan dengan masalah
wanita.
Shaleh bin Ghanim lebih lanjut menjelaskan, sebagian ahli hadis menyebutkan
beberapa riwayat yang membantah adanya interupsi seorang wanita dengan ayat
dan
sikap menerima yang ditunjukkan oleh Umar. Bahkan sebagian di antara mereka
mengajukan dalil tambahan yang menolak interupsi wanita itu terhadap Umar.

Akhirnya, sebaiknya mahar diberikan atas kerelaan kedua belah pihak. Kerelaan
istri dibutuhkan terutama ketika mahar yang diberikan jauh lebih kecil daripada yang
biasa dan layak berlaku, seperti kasus mahar sepasang terompah bagi wanita dari
kalangan Fuzarah. Kerelaan suami untuk memenuhi perintah Allah Swt. dalam surat
An-Nisa’ ayat 4:
Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita-wanita (yang kalian nikahi)
sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan
kepada kalian sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah
(ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS An-
Nisa’ [04]: 4).
Maskawin diberikan penuh kerelaan. Wanita menerimanya penuh kerelaan.
Apalagi masa-masa mendekati akad nikah, sangat sensitif. Tepatlah yang dikatakan
oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a. Kata beliau, "Pernikahan itu sangat sensitif dan
tergantung kepada pribadi masing-masing untuk mendapatkan kemuliaannya."
Berlebihan Menuntut Mahar
"Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah," kata
Rasulullah Saw., "adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya
baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit
menikahinya, dan buruk akhlaknya."

Banyak ulama memperingatkan agar kita tidak berlebihan dalam mahar. Ada
berbagai madharat dan bahkan mafsadat (kerusakan) yang bisa timbul jika urusan
mahar berlebih-lebihan. Apalagi, jika ketentuan besarnya mahar tidak lagi menjadi
urusan wanita yang akan dinikahi dengan laki-laki yang akan menjadi suaminya.
Misalnya, keluarga bermaksud ikut memperoleh bagian dari mahar yang diterima
oleh anak gadisnya, sehingga mereka memberatkan mahar anaknya. Padahal mahar
merupakan hak penuh wanita yang menikah. Ia yang memiliki mahar itu dan baginya
mahar yang dibayarkan suaminya. Bukan bagi keluarga maupun orangtuanya.
Memberatkan mahar dapat membuat pernikahan menjadi kehilangan
barakahnya. Istri mendapati rumahtangganya penuh kegersangan. Sedang suami
merasakan kehampaan ketika berada di rumah. Melihat istri tidak membuatnya
bertambah sayang. Rumah tidak terasa lapang, meskipun secara fisik tampak luas dan
besar.
Di sinilah kita bisa mengingat ulasan Syaikh Yusuf Qardhawi dalam buku
Fatwa-fatwa Mutakhir (Fatawa Mu’ashirah). Ketika seorang pemuda bertanya
mengenai beratnya maskawin yang harus dibayarkan, Syaikh Yusuf Qardhawi
menutup penjelasannya dengan satu peringatan tajam. Ia berkata, "Kepada segenap
kaum muslimin saya berseru, demi Allah, kita diharamkan merintangi perkawinan
dengan cara demikian itu."
Apa yang terjadi jika mahar sudah berlebihan? Wallahu A’lam. Sepanjang yang
saya ketahui, setidaknya ada dua lingkup madharat dan bahkan mafsadat (kerusakan)
yang bisa timbul akibat mahar yang berlebih-lebihan. Pertama, madharat dan
mafsadat bagi istri. Ini bisa terbawa dalam keluarga yang mereka bangun kelak.
Kedua, mahar berlebih bisa mempengaruhi sistem pernikahan masyarakat.
Selanjutnya, ini membentuk persepsi sosial tentang status sosial, stratifikasi sosial,
pola interaksi dan rasa aman kolektif masyarakat, serta prasangka sosial (social
prejudice).
Mengenai yang disebut terakhir, bukan tempatnya untuk dibahas di sini.
Sekarang kita cukupkan pembahasan mengenai madharat mahar yang berlebihan bagi
istri dan keluarga yang akan mereka jalani.
Sayyidina ‘Ali karamallahu wajhahu pernah mengingatkan, "Jangan berlebihlebihan
dengan mahar wanita, sebab hal itu akan menyebabkan permusuhan."
Masalah ini juga pernah diingatkan oleh Sayyidina Umar bin Khaththab. Abu Al-
‘Ajfa As-Sulami mengatakan, "Aku mendengar Umar bin Khaththab radhiyallahu
‘anhu berkata, ‘Jangan berlebihan dalam mahar wanita. Sebab seandainya mahar
berlebihan itu merupakan hal yang mulia dan bagian dari taqwa di sisi Allah,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling berhak
melakukannya. Tetapi Rasulullah tidak memberi mahar istri-istrinya dan tidak pula
putri-putrinya menikah dengan mahar lebih dari dua belas uqiyah.
‘Seseorang berlebihan dalam memberi mahar kepada istrinya sehingga dapat
menimbulkan permusuhan dalam dirinya kepada istrinya itu dan mudah baginya
berkata: aku telah mengeluarkan biaya mahal untuk kamu dalam ikatan keluarga
ini’." (Shahih At-Tirmidzi, An-Nasa’i).
Saya merasa masih terhalang untuk menjelaskan masalah ini. Insya-Allah, saya
akan menjelaskannya di kesempatan yang lain. Saat ini, saya ingin mengutarakan
penjelasan singkat mengenai hikmah di balik urusan mahar ini.
Ketika pernikahan berlangsung melalui proses sederhana dan mahar yang ringan,
insya-Allah yang tumbuh dalam hati suami adalah kasih-sayang dan penerimaan.
Sedang pada wanita adalah ridha dan kesetiaan. Ketika suami membayarkan mahar
yang ringan karena yang dikehendaki istri bukanlah besarnya mahar, suami justru
merasa masih belum banyak berbuat untuk istrinya. Ia perlu menjaga kepercayaan
istri yang diberikan kepadanya. Insya-Allah, ia akan merawat kerelaan istrinya
dengan menyuburkan kasih-sayang, penghormatan, dan kepercayaan.
Pada mahar yang ringan, ada kepercayaan tentang ketulusan cinta istri. Ada
kepercayaan tentang kesediaan istri untuk berjuang bersama-sama. Ketika Ummu
Sulaim mengatakan tidak meminta apa-apa kecuali keislaman Abu Thalhah, yang
terkesan bukanlah keinginan calon istri untuk kepentingan dirinya sendiri. Ada
sesuatu yang lebih besar dari itu: misi. Misi keselamatan bagi keduanya di dunia dan
akhirat. Misi mengibarkan keharuman bendera agama.
Alhasil, di balik ringannya mahar ada kekayaan jiwa. Inilah kekayaan yang
menenteramkan jiwa.

Khath Arab
Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, "Bukanlah kekayaan
itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya akan jiwa." (Muttafaqun
‘alaihi).

Sebaliknya, ketika mahar berlebihan, suami merasa telah memberi ikatan. Ia
telah banyak berbuat untuk mencapai ikatan pernikahan. Sehingga ia tidak begitu
perlu untuk membina ikatan lagi. Sekarang, istrilah yang harus banyak berbuat untuk
membuat suasana rumahtangga seperti yang ia kehendaki. Istri harus memahami
tuntutan-tuntutan suami yang sayangnya sering tidak dikemukakan secara lisan.
Bukankah istri “seharusnya sudah mengerti apa tugasnya"?
Alhasil, pernikahan demikian tidak diikat dengan ikatan jalinan perasaan (al-
‘athifah). Pernikahan semacam ini diikat dengan mahar. Ketundukan istri pada suami
bukan karena semakin dalamnya kecintaan, melainkan karena besarnya kekuasaan
dan wewenang suami. Atau, semata-mata karena syari’at memerintahkan kepatuhan.
Kepatuhan yang pertama bisa semakin menyuburkan jalinan perasaan (al-
‘athifah) istri maupun suami. Sehingga hubungan hatin mereka semakin dekat
sebagaimana ‘Abdurrahman bin Abu Bakar dan Atikah binti Amr. Sedang yang kedua
bisa semakin menjauhkan keduanya dari perasaan saling merindukan dan kasih
sayang. Ikatan mereka bukan lagi al-‘athifah (jalinan perasaan), melainkan serangkaian
kewajiban untuk m
emenuhi tanggung jawab hukum dan sosial.
Wallahu A’lam bishawab wastaghfirullahal ‘adzim.
Biarlah Rasulullah yang Menjadi Wali
Hari ini, ketika Anda sedang mempertimbangkan mengenai mahar dari suamimu,
marilah kita mendengarkan nasehat Rasulullah Saw. Dalam sebuah khotbahnya,
Rasulullah menjanjikan,
Jangan mempermahal nilai maskawin. Sesungguhnya kalau laki-laki itu mulia di
dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali
pernikahannya. (HR Ash-habus Sunan).
Kalau Rasulullah menjadi wali pernikahan, Allah akan melimpahkan barakah-
Nya. Mudah-mudahan pernikahan itu penuh barakah sampai ke anak-cucu. Mudahmudahan
dari pernikahan itu lahir anak-anak yang memberi bobot kepada bumi
dengan kalimat laa ilaha illaLlah.

Rasulullah Saw. bersabda, "Jangan mempersulit wanita-wanita yang dalam
perwalianmu dengan mahar yang tinggi. Mudahkanlah, niscaya akan kamu dapati
barakahnya. Karena dengan meringankan mahar mereka dan memberi jalan mudah
untuk pernikahannya akan memperindah akhlak wanita itu. Namun sebaliknya, adalah
kemalangan yang akan menimpa wanita (yang dalam perwalian)mu jika kamu
memberatkan maharnya dan mempersulit pernikahannya dan itu dapat menyebabkan
akhlaknya menjadi buruk."

Peringatan Penting
Setiap yang berlebihan adalah ketidakwajaran. Setiap ketidakwajaran bisa
mendatangkan keburukan (madharat) dan kerusakan (mafsadat). Mahar yang
berlebihan bisa menimbulkan permusuhan. Permusuhan antara suami dan istri
maupun permusuhan antar keluarga. Tetapi mahar yang terlalu sedikit bisa
menyebabkan wanita merasa tidak dihormati dan dihargai. Sehingga ia tidak merasa
hormat kepada suami.

Karena itu, mudah-mudahan kita bisa mencapai kemaslahatan dalam urusan
mahar ini. Seperti wanita dari kaum Fuzarah, Anda bisa menanyakan kerelaannya jika
Anda hendak memberikan mahar sederhana. Jika suku calon istri berbeda,
menanyakan kerelaannya juga dimaksudkan agar istri tidak merasa kurang dihargai.
Barangkali mahar dari Anda di luar kelaziman masyarakat setempat.
Wallahul Musta’an.

Jalinan Perasaan yang Barakah
Suatu ketika Rasulullah Saw. bersabda, "Bilamana seorang wanita
menyedekahkan maharnya kepada suaminya sebelum si suami menggaulinya, maka
Allah menulis (kebaikan) baginya untuk setiap satu dinar dengan pahala
membebaskan budak."
Kemudian sahabat bertanya kepada Rasulullah, "Lalu bagaimana jika hal itu
diberikan setelah berhubungan?"
Beliau menjawab,
Khat Arab
"Hal itu termasuk kecintaan (mawaddah) dan keharmonisan."
Menyedekahkan mahar kepada suami setelah merasakan hubungan intim, insya-
Allah akan menumbuhkan cinta dan keharmonisan. Mereka merasakan suasana
rumahtangga yang diliputi oleh kerinduan dan kehangatan cinta-kasih. Bagi mereka
sakinah (ketenteraman), mawaddah dan rahmah. Syaratnya, istri menyedekahkan
dengan senang hati.
Dalam kitab suci Al Qur’an Allah Swt mengabarkan masalah maskawin
(shadaq), antara lain:
Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita-wanita (yang kalian nikahi)
sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan
kepada kalian sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah
(ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS An-
Nisa’ [04]: 4).
Jika Anda ingin menyerahkan sebagian mahar Anda kepada suami dengan
senang hati dan penuh kerelaan, sampaikanlah dengan cara yang sebaik-baiknya.
Sampaikan dengan perkataan yang menyejukkan dan lemah lembut, sehingga tidak
membuat suami merasa pemberiannya kurang berarti. Ingatlah perkataan Ummu
Sulaim kepada Abu Thalhah ketika hendak menikahinya. Mudah-mudahan mahar
yang Anda sedekahkan kepada suami dapat menjadi pemberian yang sedap lagi baik
akibatnya. Mudah-mudahan Allah melimpahkan kebarakahan yang berlimpah.

Tuntutan psikis yang tinggi
menjadikan apa yang dipandang selalu kurang.
Kalau Anda memakai kacamata gelap,
matahari yang terang pun kelihatan redup!

Peringatan bagi Suami
Allah dan Rasul-Nya membolehkan wanita menyerahkan maharnya kepada
suami dengan penuh kerelaan. Di dalamnya, insya-Allah akan didapatkan keindahan
dan akibat yang baik.
Tetapi, ini tidak bisa menjadi alasan bagi suami untuk mendesak istri agar
menyerahkan mahar yang telah dibayarkan. Tidak. Sama sekali tidak bisa. Sebab,
syarat penyerahan mahar adalah kerelaan dengan senang hati. Bisa jadi istri
menyerahkan mahar yang telah diterima karena desakan suami, tetapi ia masih
berharap akan memperoleh kembali sekalipun ia tidak mengatakan. Yang demikian
ini termasuk beratnya hati. Bukan kerelaan. Bukan tindakan dengan senang hati.
Istri yang menyerahkan dengan senang hati, bisa jadi mempunyai harapan akan
mempunyai perhiasan. Tetapi bentuk pengharapannya berbeda. Ia mengharap karena
ada rasa yakin. Kalau suami dilapangkan rezekinya, ia akan dengan senang hati
memberikan perhiasan seperti yang dikehendaki.
Jadi, jangan sekali-kali mendesak istri untuk menyerahkan maharnya sebagai
pemberian kepada suami. Ingatlah peringatan Rasulullah Saw. yang disampaikan di
hari-hari terakhir menjelang wafatnya.
Kata Rasulullah,
"Barangsiapa menikahi seorang perempuan dengan harta yang halal, tetapi
menginginkan kemegahan dan kesombongan, Allah tidak akan memberinya bekal
kecuali kehinaan dan kerendahan. Sesuai dengan kadar kesenangannya, Allah akan
menyuruhnya berdiri di tepian jahannam dan kemudian jatuh ke dalamnya sejauh
tujuh puluh kharif (ukuran panjang). Siapa yang merampas mahar istrinya (atau tidak
membayarnya) di sisi Allah ia menjadi pezina. Allah akan berkata kepadanya di hari
kiamat, "Aku menikahkan kamu kepada hamba-Ku dengan perjanjian-Ku. Engkau
tidak memenuhi perjanjian itu." Allah akan menagih hak istrinya dan bila ia tidak
sanggup membayar dengan seluruh kebaikannya, ia dilemparkan ke neraka."
Betapa sedikit perolehannya. Betapa pedihnya neraka. Tak ada kesempatan untuk
bertemu dan melihat keramahan Rasulullah di yaumil-mahsyar bagi mereka yang
merampas mahar istrinya. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita terhindar dari halhal
yang demikian.

Rasulullah Saw. mengingatkan,
Khat Arab
Siapa saja laki-laki mengawini seorang wanita dengan mahar sedikit atau
banyak, tetapi di dalam hatinya bermaksud tidak akan menunaikan apa yang menjadi
haknya itu kepadanya, berarti ia mengecohnya. Bila ia mati sebelum menunaikan hak
perempuan itu, maka kelak pada hari kiamat ia akan bertemu dengan Allah sebagai
orang yang berzina. (HR Thabrani).

Seorang suami terlarang mencari-cari alasan untuk menyudutkan istrinya
sehingga ia mendapat kesempatan untuk tidak memberi maskawin. Suami juga tidak
boleh menarik kembali maharnya dengan alasan apapun. Istri boleh menyedekahkan
sebagian maharnya kepada suami. Meskipun demikian, itu harus merupakan
pemberian yang penuh kerelaan dan senang hati. Memberi dengan penuh kerelaan.
Bukan atas desakan-desakan suami yang dapat menyebabkan istri terbebani secara
psikis, karena dalam hati ia merasa tidak rela.
I
ni tidak boleh terjadi. Ini justru bisa menjadikan istri tidak hormat pada suami.
Sekaligus merupakan bibit nusyuz (pembangkangan) istri kelak di kemudian hari.
Alhasil, keluarga jauh dari barakah dan sakinah. Na’udzubillahi min dzalik.
Sekali lagi, suami tidak boleh menimbulkan situasi yang membuat istrinya
merasa sungkan atau tidak enak kalau tidak memberikan maharnya. Mari kita
perhatikan nasehat Abdul Hamid Kisyik, "…. Dengan kata lain berikanlah mahar
kepada wanita yang telah kamu pilih sebagai pemberian penuh kerelaan tanpa
tendensi dan pamrih. Kemudian jika mereka memberikan sebagian dari mahar itu
kepadamu setelah mereka miliki tanpa paksaan sedikit pun ataupun merasa malu dan
tertipu maka terima dan ambillah itu sebagai anugerah bukan dianggap sebagai suatu
hal yang menyedihkan atau suatu kesalahan.
"Apabila seorang istri memberikan hartanya kepada suaminya karena merasa
sungkan, takut atau terpaksa maka tidak halal bagi suami untuk mengambilnya,
firman Allah Swt.: Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain
sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang
banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya sedikit pun. Apakah
kamu akan mengambilnya kembali dengan tuduhan yang dusta dan dengan
menanggung dosa yang nyata? (QS An-Nisa’:20).
Bagaimana kamu akan dapat mengambilnya kembali padahal kamu telah
menggaulinya sebagai suami-istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil
darimu perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalizha). (QS An-Nisa’: 21).”
Mahar adalah hadiah. Sedangkan hadiah dapat menumbuhkan dan menguatkan
perasaan sayang dan cinta-kasih, seperti yang disinyalir oleh sebuah hadis Rasulullah
Saw., "Berikanlah hadiah, itu akan menumbuhkan dan memperkuat rasa cinta."
Hak Atas Mahar

Sekalipun pembahasan ini kurang relevan, tapi saya harus membicarakannya
agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami pembicaraan saya sebelumnya. Di
awal sub bab Berlebihan Menuntut Mahar saya telah mengatakan, "Padahal mahar
merupakan hak penuh wanita yang menikah. Ia yang memiliki mahar itu dan baginya
mahar yang dibayarkan suaminya. Bukan bagi keluarga maupun orangtuanya."
Maksud pembicaraan ini, ketika berlangsung pernikahan wanitalah yang berhak
atas mahar itu, termasuk kerelaan atas sedikitnya banyaknya jumlah mahar yang
diterima. Hak ini ada pada wanita yang akan menikah dan baginya mahar tersebut.
Bukan keluarganya.

Tetapi setelah menjadi hak penuh wanita, ia boleh memberikan kepada sebagian
keluarganya. Atau, ia menyimpan sendiri.
Mudah-mudahan pembicaraan singkat ini memberi kejelasan, sehingga tidak ada
jalan bagi mereka yang ingin memberat-beratkan mahar melalui anak gadisnya.
Mari kita ingat peringatan ‘Abdul Hamid Kisyik, seorang ulama Mesir yang
memiliki pena tajam. Beliau berkata, "Jika mahar dibuat mahal, akhirnya
menyebabkan kerusakan dan keresahan di muka bumi. Hal ini tidak lagi maslahat
untuk ummat. Karena itu, wanita yang paling sedikit maharnya justru memiliki
keagungan dan akan mendapat kebarakahan yang amat besar."

MEMPERSULIT PROSES PERNIKAHAN
"Pernikahan itu sangat sensitif," kata Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a., "dan
tergantung kepada pribadi masing-masing untuk mendapatkan kemuliaannya."
Pernikahan itu sangat sensitif. Pada saat itu seseorang menjadi peka, lebih peka
dari sebelumnya. Boleh jadi ia menjadi lebih peka terhadap kebajikan-kebajikan dan
akhlak mulia. Boleh jadi ia justru menjadi peka terhadap kekurangan-kekurangan
orang lain sekalipun sedikit, sedangkan kebaikannya yang banyak tidak nampak di
mata.

Pernikahan itu sangat sensitif. Kalau sebuah pernikahan mengalami keretakan
dan kegersangan, yang merasakan panas serta gerahnya tidak hanya suami dan istri.
Sanak-kerabat pun bisa ikut merasakan. Pernikahan itu sangat sensitif. Kalau masingmasing
pribadi berusaha untuk saling menyelami dan menguatkan jalinan perasaan
(al-athifah) untuk kebaikan bersama, guncangan-guncangan besar pun insya-Allah
tidak menggoyahkan. Apalagi guncangan kecil, baik dari tetangga maupun keluarga.
Pernikahan itu sangat sensitif. Kalau masing-masing berusaha untuk
mendapatkan kemuliaan –bukan dimuliakan– insya-Allah mereka akan meraih
rumahtangga yang barakah, sakinah (menenteramkan jiwa) mawaddah wa rahmah
(diliputi oleh rasa cinta dan kasih-sayang).

Pernikahan itu sangat sensitif. Segala jalan yang menyebabkan munculnya
keraguan dan kebimbangan mengenai akhlak maupun fisiknya, perlu dijauhkan.
Setiap pintu yang bisa membukakan penyesalan perlu ditutup, sedangkan pintu yang
mendatangkan kemantapan dan terhapusnya jalan penyesalan sebaiknya dibuka lebar.
Sederhana dalam proses dan sederhana dalam pelaksanaan merupakan jalan besar
menuju keluarga yang barakah, sakinah, mawaddah wa rahmah.
Sementara itu, mempersulit proses pernikahan dapat membuka pintu-pintu
madharat. Mempersulit proses pernikahan melapangkan jalan fitnah dan mafsadat
(kerusakan) masyarakat. Tetapi yang ingin saya bahas di sini adalah madharat bagi
suami-istri yang akan menikah.
Kado Pernikahan 91
Rasulullah bersabda,"Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat
anugerah Allah adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya
baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit
menikahinya, dan buruk akhlaknya."

Ada beberapa madharat yang bisa muncul akibat proses pernikahan yang
dipersulit:

Pertama,
Menyebabkan Pembandingan
Sulitnya menempuh proses pernikahan, dapat menyebabkan orang melakukan
pembandingan. Ia membandingkan proses yang ia jalani. Bisa juga membandingkan
orang yang dikehendaki.
Adakalanya, orang membandingkan dengan proses yang ditempuh oleh orang
lain. Pembandingan menyebabkan munculnya penilaian. Sebagian dari penilaian
masih berada dalam kebenaran, akan tetapi sebagian lagi dapat menjatuhkan kepada
prasangka dan dosa. Ia menilai iktikad calon teman hidupnya maupun keluarganya.
Adakalanya, orang membandingkan calon istrinya dengan orang lain.
Pembandingnya bisa jadi memang benar-benar ada, bisa jadi imajinatif. Ia tidak
membandingkan calon istrinya dengan seseorang, tetapi membandingkan dengan apa
yang diangan-angankannya di waktu dulu. Sumber pembandingan bisa jadi cerita
orang, bisa juga buku-buku tentang nikah.
Mungkin ia membandingkan calonnya dalam aspek psikis. Misalnya, keramahan
dan kelembutannya. Mungkin juga ia membandingkan aspek fisik si calon dengan
orang lain, sehingga ia menjadi kurang lega dan mantap dibanding sebelumnya.
Padahal, ketika sudah menikah saja seorang istri perlu menjauhkan suami dari
membanding-bandingkan kecantikan istri dengan orang lain. Sebab ini dapat
membuka jalan ketidakpuasan dan penyimpangan.
Ibnu Mas’ud r.a. mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda,
Khat Arab
Seorang wanita tidak boleh bergaul dengan wanita lain, kemudian ia ceritakan
kepada suaminya keadaan wanita itu, sehingga suaminya seolah-olah melihat wanita
tersebut." (HR Bukhari & Muslim).

Kedua,
Menimbulkan Keraguan
Ketika Mu
ghirah bin Syu’bah r.a. akan meminang seorang wanita, begitu An-
Nasa’i menceritakan dalam hadisnya, Rasulullah bertanya, "Sudahkah kamu melihat
wanita itu?"

Kemudian Mughirah menjawab, "Belum."
Rasulullah kemudian berkata, "Lihatlah wanita itu, karena akan mengurangi
penyesalan antara kedua belah pihak. Yakni memberi kemungkinan tumbuhnya
keserasian, keselarasan, dan kebersamaan antara keduanya."
Al-Amasy berkata, "Setiap perkawinan yang dilangsungkan tanpa saling melihat
akan menyebabkan kesusahan dan kesedihan."
Melihat wanita yang akan dinikahi dapat menumbuhkan kemantapan. Ia lebih
yakin kepada satu pilihan. Mudah-mudahan mereka akan memperoleh keserasian dan
keselarasan setelah menikah.
Ketika proses pernikahan dipersulit, orang dapat membanding-bandingkan. Ini
membuka jalan ketidakpuasan dan ketidakrelaan.
Proses pernikahan yang dipersulit juga dapat mengakibatkan orang menjadi tidak
mantap melangkah, sekurang-kurangnya menjadi ragu. Padahal kemantapan terhadap
pilihan sangat diperlukan agar tercapai keselarasan, keserasian dan kebersamaan
antara keduanya. Demi mencapai kemantapan agar tidak mengangankan yang lain,
orang boleh melihat calonnya.
Mari kita lihat kembali kisah Mughirah bin Syu’bah r.a. melalui jalur lain:
Ketika Mughirah bin Syu’bah berkeinginan untuk menikahi seorang wanita, Nabi
Saw. bersabda kepadanya, "Pergilah untuk melihat wanita itu, karena dengan
melihat itu akan memberikan jaminan bagi kelangsungan hubunganmu berdua". Dia
melaksanakannya, lalu menikahinya. Di kemudian hari ia menceritakan tentang
kerukunan dirinya dengan wanita tersebut. (HR Ibnu Majah, An-Nasa’i dan At-
Tirmidzi).
Kalau orang merasakan keraguan, barakah pernikahan bisa berkurang.
Na’udzubillahi min dzalik.
Ketiga,
Melemahkan Kesediaan untuk Berjuang Bersama
Proses pernikahan yang dipersulit bisa melemahkan kesediaan untuk berjuang
bersama-sama. Kalau semula keluarga dibayangkan sebagi perahu yang perlu dikayuh
bersama-sama, sulitnya proses pernikahan dapat menyebabkan pikiran berubah. Ia
telah membayar proses pernikahan dengan kesulitan. Setelah akad nikah tercapai,
tibalah saatnya untuk menjadi penumpang saja di perahu itu. Tidak mengayuhnya
bersama-sama.
Keluarga yang demikian ini akan timpang. Apalagi kalau masing-masing merasa
paling banyak berjuang dalam mengibarkan layar pernikahan.

Keempat,
Mengeraskan Hati
Proses pernikahan yang sulit dapat mengeraskan hati dan meninggikan tuntutan
psikis terhadap istri. Kerasnya hati menyebabkan komunikasi begitu kering. Tidak
ada dialog dari hati ke hati, sehingga mata harus menangis karena perhatian orang
yang tercinta ada yang mengikis. Jarang sekali ada silaturrahmi, justru antar anggota
keluarga yang tinggal serumah. Sehingga masing-masing berjalan sendiri. Kalau ada
kebahagiaan, ia rasakan sendiri. Kalau ada keperihan, ia tangisi sendiri.
Tingginya tuntutan psikis terhadap istri, menyebabkan suami kurang bisa
merasakan kebaikan-kebaikan istri walaupun sebenarnya sangat besar. Ia selalu
merasa kecewa dan kesal terhadap istrinya. Padahal istri sudah melakukan banyak
hal. Ia mudah menyalahkan istrinya sebagai orang yang tidak bisa menjalankan
perannya dengan baik. Meskipun ia tahu setiap orang mempunyai kekurangan (sama
seperti dirinya).
Tuntutan psikis yang tinggi menjadikan apa yang dipandang selalu kurang.
Kalau Anda memaki kacamata gelap, matahari yang terang pun kelihatan
redup!
Antara Mempersulit dan Kesulitan
Adakalanya terhambatnya akad nikah karena keluarga wanita mempersulit
proses pernikahan. Adakalanya, kedua pihak tidak mempersulit proses, tetapi mereka
menjumpai kesulitan-kesulitan. Yang pertama, membuat orang merasa terhalang dan
dihambat. Yang kedua, insya-Allah dapat memperkokoh ikatan ketika keduanya
merasa mendapat tantangan yang harus disikapi dengan baik, arif, bijaksana, dan
tenang.
Adakalanya sebuah pernikahan harus menghadapi kesulitan untuk menguji
kesungguhan dan kejernihan niat. Ketika menghadapi masalah ini, sebagian mungkin
lari atau segera berhenti di tengah jalan. Sebagian lagi tetap mencoba untuk tidak
menyerah.
Kesulitan adalah perkara yang wajar, bahkan sangat wajar, dalam sebuah
mujahadah (perjuangan). Mencapai pernikahan yang barakah adalah perjuangan
untuk menjaga kesucian dan kehormatan. Kesulitan adalah kelayakan. Ia seperti hujan
yang diikuti petir, sedang petir membawa muatan energi besar. Sebelum hujan turun,
terlebih dulu ada awan. Mereka yang berada di bawahnya merasa kepanasan.
Meskipun demikian, kesulitan yang merupakan ujian kesungguhan niat agar
mendapat kemuliaan dan barakah Allah, berbeda sekali dengan kesulitan karena
mempersulit diri. Yang pertama adalah takdir Allah yang di dalamnya pasti ada
kebaikan. Yang kedua, Allahu a’lam bishawab. Saya tidak bisa menjelaskan.
Bagaimana memahaminya? Anda bisa jadi tidak berpuasa ketika Ramadhan tiba.
Dini hari Anda makan sahur bersama keluarga. Sesudah itu meniatkan untuk
melakukan puasa. Siang harinya Anda masuk-masukkan batang pensil ke
tenggorokan sehingga Anda muntah-muntah. Alhasil, Anda harus membatalkan
puasa.
Bisa jadi sebaliknya. Anda sudah berniat puasa. Jam tiga dini hari sudah masak
dan makan sahur. Pagi sampai siang hari menjaga diri dari melakukan hal-hal yang
dapat membatalkan. Tetapi pukul lima sore hari Anda datang bulan (menstruasi)
sehingga Anda harus membatalkan puasa.
Yang pertama Anda batal berpuasa karena mempersulit diri. Yang kedua, Anda
tidak jadi berpuasa karena mendapatkan kesulitan yang tidak bersumber dari diri
Anda. Yang pertama adalah perbuatan dosa, karena Anda memiliki pilihan untuk taat
atau tidak taat kepada perintah Allah. Yang kedua insya-Allah justru memberi
kemuliaan bagi Anda. Derajat Anda terangkat jika Anda ridha. Anda tidak berdosa
ketika membatalkan puasa, karena Anda menghadapi "paksaan takdir" (jabr) yang
tidak dapat Anda tentukan.
Keduanya perlu diganti dengan puasa di lain hari. Tapi makna keduanya sangat
berbeda.
Ada contoh lain. Ketika puasa, Anda sakit, sehingga Anda tidak berpuasa. Jika
Anda ridha, Allah akan membebaskan dosa-dosa Anda sesuai dengan sakit yang Anda
alami dan keridhaan Anda menerima. Dalam hal ini, kesulitan meningkatkan
kemuliaan dan derajat Anda.
Walaupun demikian, bisa jadi Anda sakit karena Anda tidak mau mengambil
rukhshah (keringanan). Misalnya Anda melakukan perjalanan jauh yang melelahkan
dan membahayakan fisik jika tidak makan, akan tetapi Anda tidak mengambil hak
Anda untuk tidak berpuasa. Akibatnya Anda sakit. Padahal Allah dan Rasul-Nya telah
memberi keringanan.
Pada kasus ini, Anda tidak mendapat kesulitan karena takdir mengharuskan
demikian. Anda sakit karena Anda menzalimi diri sendiri. Anda mempersulit diri.
Anda memberat-beratkan, sehingga Anda terkalahkan.
Wallahu A’lam bishawab wallahul musta’an.

MENGAJUKAN SYARAT NIKAH
Sebagian wanita mengajukan syarat-syarat ketika seorang laki-laki hendak
menikahinya. Adakalanya syarat itu muncul karena kehendaknya sendiri. Tetapi,
adakalanya syarat itu merupakan kehendak orangtua atau keluarg
a yang dibebankan
kepada anak gadisnya jika ingin melangsungkan pernikahan.
Pokok persoalan sehubungan dengan syarat-syarat nikah tidak terletak kepada
siapa yang pertama mempersyaratkan, istri sendiri atau keluarganya. Tetapi berkaitan
dengan kedudukan syarat itu menurut syari’at.
Kita ikuti penjelasan Abu Bakr Jabir Al-Jazairi tentang masalah ini. Jika
persyaratan yang ditetapkannya itu menegakkan dan memperkuat akad nikah, kata

Al-Jazairi, seperti syarat nafkah, menggauli, atau pembagian yang adil apabila
peminangnya sudah beristri, maka syarat-syarat tersebut berkaitan langsung dengan
asal (pokok) akad, sehingga tidak perlu ditetapkan lagi.
Jika syaratnya itu merusak akad nikah, seperti disyaratkan tidak boleh bersenangsenang
dengannya (termasuk bersebadan, pen.), atau tidak usah menyediakan
makanan dan minuman yang biasa disiapkan oleh wanita, maka syarat tersebut tidak
benar dan tidak wajib memenuhinya. Hal ini dikarenakan syarat-syarat tersebut
bertentangan dengan tujuan menikahinya, deikian kata Al-Jazairi dalam Pedoman
Hidup Muslim (Litera AntarNusa, 1996).
Masih dalam buku yang sama, Al-Jazairi menjelaskan bahwa jika syarat-syarat
tersebut keluar dari masalah tersebut seluruhnya, seperti si wanita mensyaratkan calon
untuk mengunjungi keluarganya, atau jangan membawanya ke luar negeri misalnya,
maka selama bukan syarat yang bersifat menghalalkan yang haram atau
mengharamkan yang halal, maka persyaratan itu wajib dipenuhi. Jika tidak, wanita
bisa mengajukan fasakh (pembatalan) pernikahan, jika memang mau.
Rasulullah Saw. bersabda,
Khat Arab
"Seutama-utama syarat yang harus dipenuhi, adalah persyaratan dalam rangka
menghalalkan kemaluan (bersenggama dengan istri)." (HR Bukhari & Muslim).
Masalah lain berkenaan dengan syarat nikah adalah menyangkut sah tidaknya
akad nikah. Adakalanya nikah sah tetapi syaratnya batal, misalnya mensyaratkan
tidak usah memberi maskawin atau nafkah. Sekalipun nikahnya sah, tetapi kewajiban
membayar maskawin dan memberi nafkah tetap tidak terhapus.
Ada hadis yang dapat kita simak. Rasulullah Saw. bersabda, "Hanya satu syarat
saja yang tidak ada pada Al-Qur-‘an adalah salah, apalagi jika ada 100 syarat." (HR
Bukhari).
Pembicaraan lebih lanjut tentang masalah ini silakan diperiksa di berbagai
sumber. Anda juga bisa bertanya kepada pihak-pihak yang berhak, sehingga Anda
mendapat kejelasan tentang berbagai pendapat yang berbeda-beda dalam perkara ini.
Bukan bagian saya untuk membahasnya di sini. Saya belum memiliki hak untuk itu.
Sekali lagi, jika Anda hendak mengajukan syarat-syarat nikah kepada calon
suami Anda, periksa dulu berbagai sumber yang membahas masalah ini agar Anda
mendapat pemahaman hukum yang matang. Bertanyalah kepada orang-orang yang
faqih dan adil, agar Anda mendapatkan penjelasan yang mendalam dan rinci,
sehingga terang apa-apa yang kabur. Sampai Anda mendapatkan keyakinan setelah
Anda berada dalam keraguan. Dan itu, sekali lagi, bukan bagian saya untuk
membahas. Saya takut tergelincir dalam masalah ini mengingat masih sangat
sedikitnya bekal.
Bagian saya sekarang insya-Allah membahas maslahat dan madharat di balik
pengajuan syarat-syarat kepada calon suami yang akan menikahi.
Mempersyaratkan Tinggal Di Rumah Istri
Atsram menceritakan, seorang laki-laki menikahi seorang wanita dan ia
mensyaratkan tetap tinggal di rumahnya. Kemudian laki-laki itu bermaksud akan
membawa istrinya pindah, sedang istri-istrinya tidak mau yang kemudian
mengadukan masalahnya kepada Khalifah Umar.
Umar berkata bahwa wanita itu mempunyai hak agar dipenuhi syaratnya. Maka
laki-laki itu berkata, "Kalau begitu engkau menceraikan kami." Maka Umar berkata,
"Putusnya hak tergantung pada syarat."
Ada dua pendapat dalam maslah ini. Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Abu
Hanifah berpendapat bahwa syarat seperti ini hukumnya batal, tetapi akad nikahnya
sah. Imam Ahmad, Auza’y dan Abu Ishaq memandang syarat ini sah dan wajib
dipenuhi.
Jika kita mengikuti pendapat yang terakhir, maka ikatan pernikahan itu telah
berakhir dengan perceraian ketika suami terpaksa harus pindah tempat tinggal. Kata
Umar bin Khaththab, "Putusnya hak tergantung pada syaratnya."
Jika kita mengikuti pendapat pertama, masalahnya tidak selesai dengan
sederhana. Kalau suami mengabaikan persyaratan istri atau keluarga istri, akan
muncul masalah-masalah psikis yang bisa menjadi bibit madharat dan mafsadat
(kerusakan). Misalnya, istri merasa dilecehkan dan tidak diperhatikan haknya. Istri
bisa mengalami kekecewaan dan mengarahkan kepada perbuatan nusyuz
(pembangkangan, mendurhakai suami).
Jadi, ada masalah yang tidak sederhana di sini. Ketika seorang suami bermaksud
melakukan kebaktian kepada orangtua, terutama ibu, selama beberapa minggu
misalnya, masalah bisa timbul. Baik masalah pada suami, maupun pada istri. Padahal,
orang yang harus ditaati oleh seorang laki-laki yang pertama adalah orangtua,
terutama ibu. Sedang bagi wanita yang pertama kali harus ditaati sesudah menikah
adalah suaminya, sejauh tidak bertentangan dengan hukum.
Ini baru satu contoh masalah. Sepanjang hidup, manusia selalu berhadapan
dengan pilihan-pilihan. Kadang pilihan hidup menghadapkan orang kepada
kemungkinan pindah dari tempat tinggalnya untuk mencapai kemaslahatan dan
barakah. Demikian juga ketika ia telah menjalin ikatan pernikahan, keluarga itu bisa
berhadapan dengan kemungkinan pindah domisili karena ada sesuatu yang bisa
mendatangkan kemaslahatan, sakinah dan barakah bagi keduanya. Atau, kepindahan
itu mempunyai makna syi’ar, ketaatan, dan bahkan kecintaan terhadap agama.
Wallahu A’lam bishawab. Wallahul musta’an.
Saya teringat nasehat Yahya Ibn Mu’adz kepada saudaranya. Ketika saudaranya
mengemukakan ingin tinggal di tempat yang paling baik di muka bumi, Yahya
menjawab, "Menyinggung perkataanmu tentang keinginanmu tinggal tinggal di
tempat yang paling baik di muka bumi ini, jadikanlah dirimu sebagai orang yang
terbaik di antara manusia, kemudian menetaplah di manapun engkau suka. Sebuah
tempat menjadi terhormat karena penduduknya, bukan karena yang lain."
Di balik apa-apa yang tidak kita sukai, kadang Allah memberikan kebaikan yang
sangat besar. Kadang kita mengharap hujan, tetapi mengeluh ketika ada mendung
yang tebal. Sementara di balik apa-apa yang kita sukai, bisa jadi terdapat banyak
kerugian yang tidak kita lihat saat ini.
Mensyaratkan Tidak Berhubungan Intim
"Seutama-utama syarat yang harus dipenuhi," kata Rasulullah Saw., "adalah
persyaratan dalam rangka menghalalkan kemaluan (bersenggama dengan istri)."
(HR Bukhari & Muslim).
Dalam hadis ini istilah yang dipakai adalah mastahlaltum bihi furuj. Kata kunci
dalam soal kita sekarang adalah furuj, farji (alat kemaluan). Bukan nikah atau zawaj
(kawin). Ini menunjukkan kepada kejelasan dan kekuatan kedudukan hubungan
kelamin sebagai sesuatu yang menyebabkan munculnya persyaratan. Sementara, tidak
mungkin melakukan hubungan kelamin secara halal tanpa melakukan akad
pernikahan. Karena itu, memang tidak salah jika diartikan persyaratan dalam rangka
menikah, tetapi titik tekannya ada pada masalah persyaratan untuk terjadinya

hubungan kelamin. Begitu.

Dalam fiqih dikenal adagium, perintah untuk melakukan sesuatu berarti perintah
untuk melakukan perbuatan yang menjadi sarana terjadinya sesuatu. Kalau Anda
diperintahkan shalat, berarti Anda juga diperintahkan berwudhu. Sebab tidak sah
shalat Anda jika Anda tidak memiliki wudhu (jika Anda berhadas). Meskipun begitu,
perintah berwudhu tidak menunjukkan perintah untuk shalat.

Nah, jika Anda mempersyaratkan suami untuk tidak melakukan hubungan intim
kelak sesudah menikah sampai Anda lulus kuliah, apakah yang demikian ini tidak
bertentangan dengan akad dan tujuan menikah? Padahal, salah satu tujuan menikah
adalah untuk memelihara kehormatan kemaluan agar tidak terjerumus ke dalam
kemaksiatan karena menyalurkan tidak pada yang halal.

Rasulullah Saw. bersabda, "Hai para pemuda, barangsiapa di antara kamu
mampu kawin, maka hendaklah dia menikah, karena pernikahan itu lebih mampu
menahan pandangan mata dan lebih menjaga kemaluan." (HR Bukhari & Muslim).
Syarat pernikahan yang seperti ini, sepanjang yang saya ketahui, tidak perlu
ditaati. Tetapi persoalan yang ingin saya bahas di sini bukan boleh-tidaknya
melanggar persyaratan yang merusak makna dan tujuan akad nikah. Saya ingin
mengajak Anda untuk melihat pintu-pintu madharat dan mafsadat (kerusakan) yang
bisa terjadi akibat adanya persyaratan semacam ini.

Jika Anda mempersyaratakan kepada suami Anda karena Anda tidak ingin
mengandung selama Anda masih kuliah atas berbagai pertimbangan, baik
pertimbangan sendiri maupun pertimbangan bersama dengan suami yang sama-sama
masih kuliah, maka ada yang perlu diperhatikan. Ketika Anda sudah terikat oleh
pernikahan yang sah, maka halallah apa-apa yang sebelumnya haram dan dosa besar.
Anda berhak mendapat kesenangan-kesenangan khusus bagi suami-istri. Pada saatsaat
tertentu, gejolak itu rendah. Tetapi pada saat-saat lain, gejolak bisa meninggi
bahkan tak terkendali.

Kalau hari sedang hujan, es tidak menarik. Tapi kalau matahari sedang terikteriknya,
keinginan yang mendesak untuk mereguk kenikmatan tak bisa ditahan lagi.
Nah, ibarat kebutuhan terhadap es, segalanya bisa terjadi saat Anda berdua saling
memendam kerinduan.

Sebenarnya, Anda halal melakukan hubungan intim karena Anda telah mengikat
pernikahan yang sah. Masalahnya adalah, kalau sesudah "kecelakaan yang halal" itu
terjadi ternyata Anda harus hamil dari benih suami Anda sendiri. Apalagi kalau
sebelumnya Anda sempat memakai alat-alat kontrasepsi dan tidak terjadi apa-apa,
maka kehamilan yang terjadi dapat mengakibatkan Anda melakukan penolakan
terhadap anak yang Anda kandung. Padahal ia adalah anak Anda sendiri, anak yang
sah dari suami yang sah melalui hubungan intim yang sah dan halal. Sepenuhnya sah.
Rentetan akibatnya akan sangat panjang. Akibatnya terhadap Anda maupun
akibat terhadap suami karena sebelumnya tidak memiliki orientasi untuk memiliki
anak semasa kuliah. Rentetan akibatnya juga merugikan anak secara langsung untuk
masa yang sangat panjang, karena penolakan Anda menyebabkan ketidakmampuan
Anda untuk menerima keberadaannya dan memberikan kasih sayang kepadanya.
Padahal kasih-sayang dan penerimaan merupakan hal yang sangat penting dalam
mendidik anak. Selain itu, penolakan terhadap anak dapat melahirkan sejumlah
konflik-konflik psikis yang berat.

Kalau misalnya Anda tidak sampai mengalami kecelakaan karena Anda berdua
mematuhi persyaratan itu, masih ada yang harus Anda perhatikan. Bagaimana
pengaruh problem-problem psikis yang terakumulasi selama menunggu perkuliahan
selesai, padahal ia telah memiliki istri yang sah? Bagaimana kesiapan kalian untuk
menjadi suami istri yang baik dan saling menerima, apabila sebelumnya Anda
terhalang untuk menjalin kebersamaan? Apalagi kalau masing-masing masih tinggal
di kost yang berbeda.

Akhirnya juga berkait dengan kesiapan untuk menjadi orangtua. Kurangnya
orientasi sejak awal dapat menyebabkan Anda mengalami kejutan mental (shock)
setelah berkumpul bersama. Setelah kalian menjalin kebersamaan selama beberapa
waktu sebagai suami-istri dengan menjauhkan jima’, sekarang tiba-tiba Anda
menghadapi bahwa seorang anak sebentar lagi akan lahir setelah beberapa bulan
sebelumnya Anda dikumpuli.

Jadi, soal orientasi dan kesiapan menjadi orangtua ini yang potensial
menimbulkan madharat dan mafsadat jika Anda mempersyaratkan suami untuk tidakmelakukan hubungan intim, meskipun syarat ini tidak berhak untuk ditaati. Saya kira lebih baik kita meniatkan semenjak awal untuk melahirkan anak-anak yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah sekalipun masih kuliah. Insya-Allah yang demikian ini merupakan mujahadah. Kelak, kita akan merasakan
keindahannya di dunia dan akhirat. Insya-Allah. Allahumma amin.
Mempertimbangkan Kembali Syarat Nikah
Jacqueline McCord Leo pernah menulis sebuah buku berjudul New Womens
Guide to Getting Married (Bantam Books, 1982). Buku ini menceritakan tentang
berbagai seluk beluk proses pernikahan. Sejak dari pemesanan undangan, jumlah
pakaian yang harus dipesan, warna apa saja yang perlu dipilih, kuenya bagaimana,
bunga apa saja yang harus disediakan kalau menikah untuk pertama kali. Juga, pesta
yang bagaimana kalau untuk perkawinan yang kedua atau yang berikutnya. Termasuk
di dalamnya, bagaimana jika Anda tidak menikah tetapi mendambakan prosesi
pernikahan, karena hidup ini sedemikian sepi tanpa prosesi pernikahan (he he he,
heran juga mereka).

Tetapi di antara isi buku itu, yang paling menarik untuk pembahasan kita kali ini
adalah mengenai syarat nikah. Dalam sebuah perkawinan Amerika, ada surat
perjanjian yang disebut sebagai Marriage Contracts. Isinya perjanjian mengenai
beberapa masalah yang dianggap penting untuk ditaati, yang mencakup karier dan
tempat tinggal sampai perlakuan pihak yang satu kepada pihak yang lain. Surat
perjanjian ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian tuntutan istri yang harus ditaati oleh
suami dan tuntutan (syarat nikah) suami yang harus ditaati oleh istri. Misal, setiap
Selasa selepas makan malam suami mengecup kening istri dan mengatakan I love
you.

Surat perjanjian ini dibuat untuk satu rentang waktu tertentu, misal 5 tahun.
Sesudah jatuh tempo, mereka membuat surat perjanjian baru untuk disepakati selama
rentang waktu lain. Tergantung kesepakatan bersama.
Melalui surat perjanjian semacam ini, hak-hak kedua pihak lebih terjamin dan
mempunyai kedudukan hukum formal yang kuat. Istri berhak melakukan complaint
jika suami tidak mencium keningnya sambil mengatakan I love you sehabis makan
malam hari Selasa.

Tetapi, dapatkah Anda membayangkan perasaan apa yang muncul ketika suami
mengecup keningnya? Kira-kira mana yang lebih menyentuh hati, kecupan karena
terikat syarat nikah ataukah usapan lembut karena perasaan sayang?
Melalui surat perjanjian ada kesepakatan yang diakui secara hukum. Tetapi ada
harga yang harus dibayar. Mereka menjadi lebih peka terhadap perilaku-perilaku yang
mengarah kepada tidak dipatuhinya perjanjian daripada sentuhan kasih-sayang dalam
peristiwa-peristiwa kecil setiap hari. Ini justru mendekatkan kepada ketidakbahagiaan
dan konflik daripada kemesraan dan saling menerima.

Sek
arang ketika Anda ingin mengajukan syarat-syarat pernikahan,
pertimbangkanlah kembali. Apakah syarat-syarat nikah yang Anda ajukan tidak
membuka pintu madharat dan mafsadat (kerusakan)? Ataukah syarat pernikahan
Anda justru akan mendekatkan kepada maslahat dan kemuliaan dunia akhirat?
Pertimbangkanlah secara jernih. Mintalah fatwa kepada hatimu. Bertanyalah
kepada nuranimu yang jernih. Rasulullah Saw. bersabda, "Mintalah fatwa dari
hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya dan tenteram pula
dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa dan ragu-ragu dalam
hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya."
(HR Ahmad).
Perkara syarat nikah adalah haq. Wanita berhak mengajukan syarat nikah.
Wallahu A’lam bishawab.
Kelak Ada Dialog
Jika masih terbuka kemungkinan untuk didialogkan bersama setelah menikah,
ada baiknya Anda menahan diri untuk tidak mempersyaratkan kepada suami. Kelak
ada saat yang lebih leluasa untuk berbicara dari hati ke hati, sehingga ia dapat
memahami dengan lebih baik ketika memikirkan dan mengambil keputusan atas
masalah yang sebelumnya ingin Anda persyaratkan. Sementara Anda bisa mengambil
jarak dari masalah. Bisa jadi, Anda justru berubah setelah membicarakannya dari hati
ke hati.
Insya-Allah yang demikian ini akan lebih dekat kepada kemaslahatan. Masalah
yang Anda hadapi, bisa jadi justru menumbuhkan mawaddah (rasa cinta) dan
keharmonisan (ulfah) di antara Anda dan suami ketika dibicarakan bersama-sama.
Melalui dialog yang terbuka dan saling percaya, bisa jadi tercapai apa yang
semula ingin Anda persyaratkan. Bisa jadi tidak. Tetapi di dalamnya Anda mendapat
pemahaman bahwa di balik apa-apa yang tampak tidak baik, bisa jadi di dalamnya
ada kebaikan yang berlimpah. Sebaliknya, bisa jadi Anda menganggapnya baik
padahal banyak madharat di dalamnya.

Akhirnya, kepada Allah kita memohon kebaikan yang sempurna di dunia dan
akhirat bagi kita dan keluarga kita, termasuk orangtua kita. Langkah untuk menikah
sebagian-nya merupakan langkah untuk mencapai keselamatan atas diri kita dan
orangtua kita, termasuk mertua kita. Kalau dari pernikahan itu akhlak dan agama kita
menjadi baik sehingga derajat amal kita jauh lebih tinggi dari derajat amal orangtua
kita misalnya, insya-Allah mereka akan disusulkan kepada kita meskipun derajat
amalnya tidak mencukupi sejauh mereka tetap beriman. Yang demikian ini termasuk
di antara barakah pernikahan. (Ya Allah, barakahilah kami, ya Allah, dan jadikanlah
pernikahan kami penuh barakah).

Mereka yang pernikahannya barakah, insya-Allah kelak termasuk orang-orang
yang di Hari Akhirat dikumpulkan Allah bersama orangtua dan keturunan mereka.
Apakah kita tidak ingin dimasukkan ke dalam golongan yang disebutkan Allah dalam
surat Az-Zukhruf [43] ayat 70, "Masuklah ke surga beserta istrimu untuk
digembirakan." Selanjutnya dalam surat Ar-Ra’d [13] ayat 23, Allah menjanjikan,
"Surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama mereka yang saleh di antara
orangtua mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka."
Abdullah bin ‘Abbas, dalam hadis yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dan Ibnu
Mardawaih, meriwayatkan sabda Rasulullah Saw., "Ketika seseorang masuk ke surga,
ia menanyakan orangtua, istri, dan anak-anaknya. Lalu dikatakan padanya, ‘Mereka
tidak mencapai derajat amalmu.’ Ia berkata, ‘Ya Tuhanku, aku beramal bagiku dan
bagi mereka.’ lalu Allah memerintahkan untuk menyusulkan keluarganya ke surga
itu."
Setelah itu Ibn ‘Abbas membaca surat Ath-Thuur [52] ayat 21, Dan orang-orang
yang beriman, lalu anak-cucu mereka mengikuti dengan iman, Kami susulkan
keturunan mereka pada mereka, dan Kami tidak mengurangi amal mereka sedikit
pun.
Di hari ketika anak dan orangtua bercerai-berai, antar sanak-kerabat dan teman
akrab menjadi musuh, mudah-mudahan kita termasuk golongan yang dikecualikan
sekalipun saat ini bekal kita masih jauh dari mencukupi. Mari kita perhatikan firman
Allah Swt. dalam surat Az-Zukhruf [43] ayat 67, Teman-teman akrab pada hari itu
sebagian menjadi musuh sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.
Saya jadi teringat kepada sebuah hadis. Rasulullah Saw. bersabda, "Harta yang
utama adalah lisan yang senantiasa dzikir, hati yang senantiasa bersyukur, dan istri
beriman yang membantu suami dalam menegakkan bangunan imannya." (HR Ibnu
Majah & Tirmidzi, hasan).

Jadi, keputusan untuk menikah sampai kepada pernik-pernik pernikahan banyak
mempengaruhi barakah tidaknya pernikahan. Wallahu A’lam bishawab.
Mudah-mudahan Allah mengampuni segala kesalahan kita dalam melangkah.
Sejak dari niat ketika akan berangkat sampai tindakan-tindakan sesudah akad
pernikahan hingga walimahnya. Astaghfirullahal ‘adzim. Laa ilaaha illaa Anta,
subhanaKa innii kuntu minadz dzalimin.

TENTANG BARAKAH
Kita telah membicarakan masalah barakah. Tetapi apakah yang dimaksud
dengan barakah? Kita mulai dulu pembicaraan kita dengan orang yang membawa
laknat dan orang yang membawa barakah. Kalau seorang yang suka membuat
kerusakan ada di tengah kita, semua yang ada di situ bisa mendapatkan
keburukannya. Adapun kalau seorang yang takwa hadir di tengah kita, kehadirannya
mendatangkan barakah, seperti kata Al Qur’an, Sekiranya penduduk negeri beriman
dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit
dan dari bumi… (QS 7: 96).
Untuk menggambarkan konsep laknat dan barakah ini, kata K.H. Jalaluddin
Rakhmat, Rasulullah Saw. membuat perbandingan mengenai orang yang bergaul
dengan orang yang jahat dan dengan orang yang saleh. Kata Rasulullah, kalau Anda
bergaul dengan orang saleh, Anda seperti bergaul dengan pedagang minyak wangi.
Walaupun Anda tidak kecipratan minyak wangi itu, Anda tetap tercium harum oleh
orang-orang yang ada di sekitar Anda. Sementara itu, jika Anda bergaul dengan orang
yang jahat, maka Anda seperti bergaul dengan pandai besi. Walaupun Anda tidak
tercoreng arangnya, paling tidak Anda sesak nafas karena kepulan asapnya.
Sebuah pernikahan disebut barakah jika terjadinya akad mendatangkan kebaikan
tidak hanya bagi kedua suami istri itu. Seperti minyak wangi, sekeliling pun ikut
merasakan barakahnya. Pernikahan mendatangkan kemanfaatan bagi orang-orang
sekitar, sekalipun tak langsung tampak.
Adakalanya orang baru merasakan wanginya setelah wewangian itu lewat.
Seperti ketika ada truk yang mengangkut durian, kita baru mencium wanginya setelah
truk berlalu beberapa meter. Adakalanya, orang merasakan kemanfaatan tetapi tidak
tahu sumber wewangian yang dihirupnya.
Sebaliknya, pernikahan yang justru mendatangkan kerusakan, adakalanya baru
terasa setelah lewat jauh. Kita merasakan bau yang menusuk, justru setelah motor
yang mengangkut ikan asin agak basah telah lewat beberapa ratus meter dari hadapan
kita.

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: