Bab 4 Selama Proses Berlangsung

Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a. mengatakan:
"Pernikahan itu sangat sensitif
dan tergantung kepada pribadi masing-masing
untuk mendapatkan kemuliaannya."

Menikah adalah kesucian. Sangat besar kemuliaan di dalamnya. Sangat
tinggi kedudukannya dalam Islam, sehingga Al-Qur’an menyebutnya
sebagai mitsaqan-ghaliza (perjanjian yang sangat berat). Hanya tiga kali
kata ini disebut, dua untuk perjanjian tauhid. Maka, pernikahan yang diridhai Allah
akan dipenuhi oleh doa malaikat yang menjadi saksi pernikahan.
Ketika akad nikah terjadi, halal apa-apa yang sebelumnya diharamkan. Apa yang
sebelumnya merupakan maksiat dan bahkan dosa besar, sejak saat itu telah menjadi
kemuliaan, kehormatan dan besar sekali pahala di sisi Allah. Pernikahan telah
mengubah pintu-pintu dosa dan kekejian menjadi jalan kemuliaan dan kesempurnaan
manusia dalam beragama. Allah menyempurnakan setengah agama ketika seseorang
melakukan pernikahan.
Namun demikian, sebelum akad ada proses. Selama proses inilah setan berusaha
memanfaatkan momentumnya untuk menggoda dan merusak, sehingga pernikahan
bergeser jauh dari makna dan tujuannya.
Proses menuju akad nikah banyak memberi pengaruh terhadap hubungan antara
suami dan istri kelak setelah menikah. Demikian juga, hubungan antara dua keluarga,
yaitu keluarga istri dan keluarga suami, banyak dipengaruhi oleh proses dari
peminangan hingga akad berlangsung. Persepsi dan penerimaan masing-masing
anggota keluarga, banyak dipengaruhi oleh persoalan-persoalan qalbiyyah (hati, termasuk
niat) ketika proses sedang berlangsung. Oleh karena itu, setelah peminangan,
yang perlu kita jaga adalah segala hal yang dapat merusak makna dan tujuan
pernikahan, yang mungkin muncul selama proses berlangsung. Sebagian proses
berjalan dengan mudah dan sederhana. Sebagian harus menempuh proses yang pelik
dan rumit. Sebagian berlangsung cepat dalam waktu singkat, sebagian harus
menunggu dalam waktu yang cukup lama.
Proses pernikahan manakah yang terbaik? Yang terbaik adalah yang paling
maslahat dan barakah, serta jauh dari mafsadah (kerusakan) dan bibit-bibit
kekecewaan yang menjauhkan orang dari rasa syukur. Proses pernikahan yang
mendatangkan maslahat dan barakah bisa jadi berlangsung dengan mudah, bisa pula
berlangsung melalui jalan yang pelik. Allah Maha Tahu apa yang paling maslahat
bagi Anda. Ketika hujan lebat sedang turun dan petir menggelegar sambutmenyambut,
kalau Anda tidak berhati-hati, bisa tersambar oleh petir yang nyasar.
Kalau Anda menjaga diri, istiqamah, dan tawakal, insya-Allah Anda akan mendapati
hujan sebagai pensucian bumi hati Anda. Sedang petir membawa muatan listrik yang
menerangi.
Sesungguhnya, sepanjang yang saya ketahui, salah satu pandangan Islam tentang
pernikahan adalah sederhana dalam proses dan sederhana dalam pelaksanaan. Anda
harus memperhatikan keadaan hati Anda ketika akan melaksanakan. Sebab, di sinilah
setan berusaha untuk menyimpangkan niat dan tujuan Anda. Islam menganjurkan kita
untuk menyegerakan menikah, tetapi setan bisa mengambil bentuk yang mirip ketika
kita tidak mau menunda-nunda tanpa alasan. Setan mengarahkan kita untuk bersikap
tergesa-gesa. Khusus pembahasan mengenai menyegerakan dan tergesa-gesa, insya-
Allah akan kita bicarakan pada bab berikutnya, Antara Menyegerakan dan Tergesagesa.


Kita seringkali tidak bisa membedakan,
apakah kita melakukan sesuatu
karena persangkaan kita yang baik kepada Allah
ataukah justru karena persangkaan kita
yang kurang tepat kepada-Nya.

Setan berusaha untuk merebut masa sebelum menikah, masa yang sangat rawan.
Masa ini bisa menyesatkan manusia jika tidak berhati-hati. Dengan demikian boleh
jadi ia mendapati pernikahannya kelak tidak sebagaimana harapannya, meskipun —
barangkali– pasangan hidupnya sudah berperilaku yang sesuai dengan tuntunan Islam

dan bahkan melakukan kebajikan-kebajikan dalam rumah tangga. Na’udzubillahi min
dzalik. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang demikian.
Ada dua hal yang perlu kita jaga sejak berangkat meminang (atau, sejak
datangnya pinangan bagi seorang gadis) sampai dengan pelaksanaan akad-nikah.
Pertama, menyangkut persangkaan kita kepada Allah. Ini yang paling rawan. Kedua,
persangkaan dan persepsi kita terhadap pernikahan dan calon pasangan hidup kita.
Masalah kedua ini, banyak kaitannya dengan masalah pertama. Jika masalah yang
pertama tidak baik, masalah yang kedua sangat mungkin untuk ikut tidak baik.

 

Persangkaan Kepada Allah
Orang yang tampak bersungguh-sungguh ketika berdoa, bisa jadi karena
keyakinannya bahwa Allah itu dekat. Allah Maha Mendengar doa orang-orang yang
berpengharapan kepada-Nya. Ia yakin bahwa Allah memperhatikan orang yang
datang kepada-Nya untuk mengadukan keluh-kesahnya atau memohon pertolongan-
Nya. Karena kemuliaan-Nya, maka adalah kelayakan bagi manusia untuk berdoa
secara sungguh-sungguh sekaligus berhati-hati agar terjauh dari berdoa yang tidak
layak, sekalipun Allah Sangat Luas Pemberian-Nya.
Meskipun demikian, bisa jadi orang tampak sangat bersungguh-sungguh ketika
berdoa, sampai wajahnya berkerut-kerut dan ekspresinya berubah, justru karena
ketidakyakinannya. Ia mengkhusyuk-khusyukkan diri ketika berdoa, justru karena
keyakinannya yang tipis bahwa Allah Maha Mengabulkan doa orang-orang yang
berpengharapan kepada-Nya. Ia menyangatkan diri ketika memohon kepada Allah
karena khawatir keinginannya tidak tercapai, padahal ia tahu Allah Maha Besar
Kekuasaan-Nya.
Sungguh, sangat jauh perbedaan antara kesungguhan doa orang yang yakin dan
kesungguhan orang yang berdoa justru karena kurang yakin terhadap kemurahan
Allah. Orang yang sangat besar keyakinannya kepada Allah ketika berdoa bisa jadi
sampai menangis, mengingat-ingat besarnya karunia Allah dan kecilnya amanah yang
sudah ia tunaikan. Orang yang berdoa karena kurngnya keyakinan, juga bisa
menangis. Tetapi jauh sekali perbedaannya. Dan berbeda sekali persangkaannya
kepada Allah. Padahal, Allah Swt. berfirman dalam sebuah hadis Qudsi:
"Aku menuruti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku." (HR Bukhari dan
Muslim).
Kita seringkali tidak bisa membedakan, apakah kita melakukan sesuatu karena
persangkaan kita yang baik kepada Allah ataukah karena persangkaan kita yang
kurang tepat kepada Allah Azza wa Jalla. Kita sering tidak bisa membedakan, kecuali
setelah mengambil jarak dari masalah itu dengan pertolongan Allah. Dan datangnya
pertolongan Allah, adakalanya sesuai dengan persangkaan kita mengenai pertolongan,
bisa pula sebaliknya, justru nampak berkebalikan dengan apa yang kita anggap
sebagai cara menolong. Sungguh, rugi orang yang menyangka pertolongan Allah

sebagai pengabaian-Nya. Semoga kita terhindar dari prasangka yang tidak diridhai-
Nya.
Pernikahan adalah salah satu amanah Allah bagi manusia yang beriman kepada-
Nya. Pernikahan adalah ketundukan kita kepada-Nya, sekalipun Allah memberi
tempat kepada perasaan-perasaan manusiawi. Justru, Allah-lah yang memberikan
perasaan-perasaan dan dorongan itu kepada manusia. Sementara itu, setan berusaha
untuk memanfaatkan momentum menjel
ang nikah, selama proses menuju pernikahan,
justru untuk mengangkuhkan diri seolah Allah tidak memperhatikan. Padahal tidak
ada yang bisa disembunyikan dari pengetahuan dan "penglihatan" Allah.
Pernikahan adalah amanah Allah. Dan Allah tidak pernah zalim kepada
makhluk-Nya. Tidak pernah Allah memberikan amanah kepada manusia, kecuali Ia
akan memberikan sarana untuk memenuhi amanah. Allah tidak pernah zalim. Maha
Suci Allah dari kezaliman.
Setiap amanah telah dicukupi dengan sarana yang dengan itu orang bisa
melaksanakan amanah-Nya, dalam hal ini melaksanakan pernikahan. Walaupun
demikian, manusia sering melakukan kezaliman kepada dirinya sendiri maupun
kepada Allah dengan prasangka-prasangka buruk kepada-Nya. Maha Suci Allah dan
segala puji bagi-Nya yang luas ampunan dan kasih sayang-Nya.
Astaghfirullahal’adzim. Laa ilaaha illa Anta, subhanaka innii kuntu minazhzhalimin.
Masya Allah. Manusia seringkali tergesa-gesa dan penuh keluh-kesah karena
dangkalnya ilmu dan pendeknya jangkauan akalnya terhadap rahmat Allah. Ketika
membutuhkan gerimis untuk mendinginkan bumi hatinya, ia mengeluh dan kadang
bahkan cepat memberikan penilaian yang salah ketika Allah mengirimkan mendung.
Padahal, mendung yang tebal itu membawa muatan air yang melimpah, lebih dari
sekedar yang ia butuhkan. Ketika ia tidak melihat mendung, dan hanya merasakan
teriknya matahari, ia lupa bahwa matahari pun adalah rahmat. Berkait dengan
keinginannya, matahari mempercepat penguapan air laut menjadi awan yang
selanjutnya akan menjadi hujan. Tetapi manusia sangat pendek jangkauan akalnya,
tergesa-gesa dan mudah mengeluh.
Semoga Allah mengampuni kezaliman kita dan menggantikan dengan hati yang
bersyukur.
Masalah-masalah berkenaan dengan prasangka yang kurang baik terhadap Allah,
tidak hanya ketika berhadapan dengan apa yang oleh anggapan lahiriah sebagai
kesulitan. Keadaan-keadaan yang dirasa mudah, juga perlu dijaga agar kemudahan
yang diberikan oleh Allah tidak menjatuhkan kita ke dalam keadaan "mengabaikan"
rahmat Allah. Seolah-olah, kitalah yang menyebabkan kemudahan. Manusia memang
rawan terhadap sikap takabur, menyombongkan diri di hadapan orang lain dan di
hadapan dirinya sendiri.
Mudah-mudahan kita bisa menjaga persoalan-persoalan qalbiyyah selama proses
menuju pernikahan berlangsung. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan

kita dari urusan hati yang menjerumuskan. Semoga Allah mensucikan niat kita dalam
melangkah ke jenjang pernikahan. Saya sangat mengharap kepada Allah niat terbaik
saat melangsungkan akad-nikah. Mudah-mudahan Allah menjadikan pernikahan kita
barakah dan diridhai Allah hingga kelak kita menghadap-Nya di yaumil-akhir.
Mudah-mudahan Allah Swt. mengaruniai kita keturunan yang memberi bobot kepada
bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.
Inilah yang kita perlu jaga. Kita perlu menata hati ketika menjalani urusanurusan
selama proses berlangsung, termasuk ketika nanti mengadakan walimah.
Mudah-mudahan kebersahajaannya maupun kemeriahannya, kita laksanakan di atas
niat serta jalan yang diridhai Allah. Semoga barakah dunia akhirat. Allahumma amin.
Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan.

Persangkaan dan Persepsi Terhadap Calon
Proses pernikahan ada yang berlangsung cepat, ada yang membutuhkan waktu
lama. Mengenai waktu yang dibutuhkan selama proses, saya teringat kepada doa
keluar rumah yang artinya, "Dengan menyebut nama Allah atas jiwaku, hartaku, dan
agamaku. Ya Allah, jadikanlah aku ridha dengan apa yang Engkau tetapkan dan
jadikanlah barakah apa yang telah Engkau takdirkan. Sehingga, tidak kepingin aku
untuk menyegerakan apa yang Engkau tunda, dan menunda apa yang Engkau
segerakan."
Ada satu catatan. Pernikahan termasuk salah satu dari tiga perkara yang
dianjurkan untuk disegerakan. Jika tidak ada hal yang merintangi, mempercepatnya
adalah lebih baik. Mempercepat proses pernikahan termasuk salah satu kebaikan dan
lebih dekat dengan kemaslahatan, barakah, dan ridha Allah. Insya-Allah, pertolongan
Allah sangat dekat. Apa-apa yang menghalangi langkah untuk menyegerakan, akan
dimudahkan dan dilapangkan. Sesungguhnya Allah tidak zalim terhadap apa-apa
yang diserukan-Nya. Allah tidak zalim terhadap hamba-Nya, betapa pun Allah
Mutlak Kekuasaan-Nya. Kitalah yang sering zalim kepada Allah.
Laa ilaaha illa Anta, subhanaka innii kuntu minazh-zhalimin. Rabbana zhalamna
anfusana waillam taghfirlana lanaa kuunanna minal khosirin.
Ya Allah, ampunilah hamba atas kezaliman hamba sendiri.
Mempercepat proses pernikahan adalah lebih baik, tetapi hendaknya tidak
terjatuh pada sikap tergesa-gesa. Selama proses berlangsung, kita membutuhkan
informasi dan pembicaraan berkaitan dengan rencana pernikahan. Adakalanya, kita
mendapatkan informasi mengenai beberapa hal dari keluarga calon, perantara, atau
orang lain. Adakalanya, kita mendapatkan keterangan tentang beberapa hal dari calon
pendamping secara langsung.
Selama masa ini kita sangat peka terhadap berbagai informasi yang kita terima,
disebabkan oleh besarnya harapan untuk menyegerakan ataupun besarnya

kekhawatiran. Bisa juga oleh sebab-sebab lain yang bersifat qalbiyyah (hati). Kadangkadang,
orang mengalami deprivasi (kebutuhan yang sangat, seperti orang yang lapar)
yang menyebabkannya menjadi lebih peka terhadap jenis-jenis informasi tertentu.
Pada saat Anda sedang mengalami deprivasi makanan, Anda akan cepat mengira
orang yang sedang memukul-mukulkan besi kecil sebagai penjual nasi goreng sedang
lewat.
Masa menjelang nikah adalah masa yang sensitif. Apa yang berlangsung selama
masa ini, bagaimana memaknainya, mempengaruhi bagaimana kedua manusia itu
kelak akan menghayati pernikahannya. Proses antara pinangan dengan pelaksanaan
akad, hingga detik-detik akadnya, bisa menjernihkan niat-niat yang masih keruh
sehingga pada saat keduanya melakukan shalat berjama’ah segera setelah akad,
mereka banyak beristighfar, memohon pertolongan Allah untuk melimpahkan
kebarakahan dan menjauhkan dari keburukan, serta merasakan syukur yang dalam
karena telah terhindar dari ancaman maksiat. Tetapi, proses menuju pernikahan bisa
juga mengeruhkan niat-niat, sekalipun sekilas tampak mendapat pembenaran agama.
Padahal manusia mendapatkan hasil dari perbuatannya sesuai dengan apa yang
diniatkan.
Pada masa ini, di antara sekian banyak hal yang mungkin harus diselesaikan,
masalah lisan adalah yang paling peka dan paling rawan. Sebab, masalah
memperlakukan lisan ini mempengaruhi keseluruhan masalah lain, termasuk dalam
hubungan suami-istri setelah menikah. Bahkan termasuk bagaimana menghayati
hubungan intim suami-istri. Wallahu A’lam bishawab wastaghfirullahal ‘adzim. Saya
mohon perlindungan Allah dari kekejian lisan saya sendiri.
Ada dua hal yang perlu dijaga dalam memperlakukan lisan selama proses
berlangsung (juga sesudahnya). Pertama, menjaga lidah dalam mengucapkan katakata
(hifdhul-lisan). Kedua, menjaga persepsi kita terhadap apa yang kita dengar dari
lisan orang lain.
Ada dua bagian manusia yang dapat menjaminkan surga atau menjerumuskan ke
neraka, yaitu lisan dan kemaluan. Nikah adalah proses menjaga kesucian kemaluan
kita dari tindakan yang tidak diridhai Allah (mudah-mudahan kita termasuk orang
yang menikah demi menjaga kesucian farji). Melalui nikah, apa yang sebelumnya
merupakan dosa besar, menjadi ibadah yang dimuliakan. Nikah adalah kesucian.
Tetapi, lisan dapat menjadikannya keruh.
Dari Sahl bin Sa’d As-Sa’di r.a., bahwa Rasulullah Saw. bersabda,
"Barangsiapa yang menjamin kepadaku akan menjaga apa yang ada di antara
kedua rahangnya (mulut) dan apa yang ada di antara kedua kaki pahanya
(kemaluan) niscaya aku menjamin surga untuknya." (HR Bukhari).
Suatu ketika Uqbah bin Amir r.a. bertanya, "Ya Rasulullah, apakah keselamatan
itu?"
Beliau menjawab, "Tahanlah lisanmu, kerasanlah di rumahmu, dan tangisilah
dosamu." (HR Tirmidzi).

Saya tidak bisa menjelaskan bab ini lebih lanjut. Cukuplah saya akhiri bab ini
dengan beberapa hadis. Mudah-mudahan Allah Swt. mengampuni kesalahankesalahan
niat dalam menikah disebabkan oleh ketidaktahuan kita, dan
meluruskannya dengan menyemayamkan niat terbaik yang diridhai-Nya. Mudahmudahan
kelak kita akan mendapati pernikahan kita dan keturunan kita seluruhnya
barakah dan diridhai Allah ‘Azza wa Jalla. Allahumma amin.
Al-Maqdisi mengetengahkan sebuah hadis, bahwa Rasulullah Saw. bersabda,
"Berikan penafsiran terbaik tentang apa yang engkau dengar, dan apa yang
diucapkan saudaramu, sampai engkau menghabiskan semua kemungkinan dalam
arah itu."
Suatu ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya mengenai hadis, "Jika engkau
mendengar sesuatu yang mungkin diucapkan oleh saudaramu, berikan interpretasi
yang terbaik sampai engkau tidak dapat menemukan alasan untuk melakukannya."
Menanggapi pertanyaan tersebut, Imam berkata, "Carilah alasan untuknya
dengan mengatakan mungkin dia berkata begini, atau mungkin maksudnya begini."
Tabayyun (meminta penjelasan) adalah bentuk lain upaya untuk mendapatkan
interpretasi sesuai dengan yang dimaksudkan oleh orang yang mengucapkannya. Bisa
jadi kita mendengar langsung dengan orang yang berbicara, tetapi kita menangkapnya
tidak sebagaimana dimaksud. Di sinilah tabayyun (mengecek kebenaran informasi)
diperlukan.
Rasulullah Saw. juga diriwayatkan pernah bersabda,
"Janganlah salah satu di antara kamu sekalian ber-imma’ah, yang jika orang
lain baik maka engkau baik, dan jika mereka jelek maka engkau ikut jelek pula. Akan
tetapi hendaklah engkau tetap konsisten terhadap (keputusan) dirimu. Jika orangorang
baik, maka engkau juga baik, dan jika mereka jelek, hendaklah engkau
menjauhinya keburukan-keburukan mereka." (HR Tirmidzi).
Apakah imma’ah itu? Kita minta Muhammad Hashim Kamali, seorang guru
besar ilmu fiqih pada International Islamic University, Malaysia, untuk menjelaskan.
Menurut Muhammad Hashim Kamali, imma’ah adalah, "Memuji atau mencela orang
lain tanpa alasan, tetapi semata-mata karena dia melihat orang lain melakukan hal
itu."
Kita imma’ah ketika kita dengan cepat menyimpulkan ucapan orang lain hanya
dari mendengar selintas. Kita juga imma’ah kalau kita segera memberikan pujian
karena mendengar kabar sekedarnya mengenai dia. Apalagi kalau sampai
menjatuhkan kesimpulan dengan sangat yakin tentang seseorang hanya dari rumor —
entah, apakah masih termasuk imma’ah atau bukan.
Alhasil, dengan kriteria seperti itu, rasanya hampir setiap hari kita terperosok ke
dalam imma’ah. Kadang-kadang tersadar sesudah lewat, tetapi melakukan kesalahan
lagi beberapa menit sesudah sadar.
Kado Pernikahan 61
Saya mohon ampunan kepada Allah atas berbagai perbuatan imma’ah yang saya
lakukan karena ketidaktahuan saya atau karena kecerobohan saya. Saya meminta
maaf kepada Anda jika saya pernah gegabah menyimpulkan ucapan Anda, padahal
saya belum memeriksanya.
Apapun, kita mengharap pertolongan Allah semoga kemudahan dalam proses
menumbuhkan kehangatan dan keakraban setelah menikah. Adapun kesulitan dalam
proses, melahirkan kesetiaan, kedalaman cinta, dan kelurusan niat setelah
melaksanakan akad nikah. Bagi mereka ketenteraman, mawaddah wa rahmah hingga
hari kiamat kelak. Allahumma amin.
Rahmat Allah datang dalam berbagai bentuk.

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: