Dari Lapangan Golf ke Pelaminan

Jumat, 08 Mei 2009 pukul 22:40:00

Kisah di Balik Kasus Nasrudin (2)
M Bachrul Ilmi, Rahmad Budi Harto
Sudah sepekan motif asmara melilit Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnain (41 tahun). Sudah sepekan pula Rani Juliani (22), perempuan yang disebut terlibat cinta segitiga dengan Antasari dan Nasrudin, hilang bak ditelan bumi. Di manakah dia?
Teman-teman Rani, para caddy di Padang Golf Modernland (PGM), Tangerang, hanya angkat tangan saat ditanya keberadaan istri ketiga Nasrudin. Saat  Republika menemui Dewi (nama samaran),  caddy PGM, dia berujar, ”Tolong bilang ke Rani, ‘Rani kami kangen’.”
Di mata teman-temannya, Rani Juliani–atau yang tertulis di ijazahnya sebagai Rhani Juliani–adalah wanita yang riang, supel, dan senang meminjamkan duit. Rani pun memiliki kelebihan, yaitu berwajah rupawan. Tapi, mereka juga menambahkan satu hal tentang Rani: orangnya polos.
Seperti remaja lain, Rani, Dewi, dan kawan-kawan sesama  caddy , kerap ke mal. ”Biasanya kalau jam istirahat, kita-kita main ke Metropolis Mal untuk  nyanyi di karaoke  box ,” tutur Dewi yang ingat HUT Rani karena tanggal lahirnya sama dengan hari lahir artis Agnes Monica, 1 Juli 1986.
Meski cukup akrab, Rani alumnus SMA Yuppentek 2, Cikokol, Tangerang, tahun 2004–tak pernah membicarakan soal pribadinya kepada  gank -nya, termasuk pernikahannya dengan Nasrudin. Teman-temannya pun, kata Dewi, tak pernah mempersoalkannya, karena menganggap soal pribadi.
Setamat SMA, Rani langsung menjadi  caddy PGM. Dia menjadi langganan Nasrudin setahun kemudian. Pada 2005, Nasrudin menjadi anggota tetap PGM. Dari lapangan golf, mereka ke pelaminan pada pertengahan 2007. Rani kemudian keluar dari PGM dan menjadi  caddy freelance di Imperial Klub Golf, Lippo Karawaci.
Tapi, pada April 2008, Rani kembali bekerja di PGM. Kali ini di bagian pemasaran. Empat bulan lalu, Rani yang tercatat sebagai mahasiswa jurusan manajemen informasi STMIK Raharja, Jl Jend Sudirman, Cikokol, Tangerang, ini keluar lagi dari PGM, tanpa alasan jelas.”Rani mengaku kesulitan kuliah yang ada hubungannya dengan komputer, dia ingin pindah jurusan,” kata Dewi yang sempat mengantar sahabatnya mendaftar kuliah pada pertengahan 2008.
Kendati supel dalam pertemanan dengan sesama  caddy , Rani bukanlah orang yang suka bergaul dengan lingkungan rumahnya. Hj Mulyani, pemilik toko busana Muslim dan mebel di seberang rumah Rani, mengatakan, Rani jarang keluar rumah saat masih menjadi  caddy . Rani hanya terlihat keluar pagi untuk berangkat kerja, atau pulang saat sore dan malam.
Tapi, ayah Rani, Endang M Hasan, dan ibunya, Kuswati, sering keluar rumah. ”Ibunya dekat dengan saya. Sering ke sini untuk  ngobrol ,” katanya. Kuswati, kata Mulyani, pernah minta pendapatnya tentang rencana pernikahan Rani dengan Nasrudin. Kuswati gundah karena Rani menjadi istri ketiga tanpa diketahui oleh istri pertama dan kedua Nasrudin. ”Saat itu saya bilang  mendingan tidak usah dan dipikir-pikir dulu. Lagi pula, anak ibu  kan cantik. Pasti banyak laki-laki yang mau.”
Namun, pernikahan tetap berlangsung sederhana, dihadiri kerabat dan tetangga, di rumah orang tua Rani, Jl Kiai Maja, RT 01/04, Kampung Kosong, Kel Panunggangan, Kec Pinang, Kota Tangerang. Tak ada arak-arakan mobil saat itu, hanya satu mobil yang mengantar kedatangan Nasrudin.
Lokasi rumah Rani sebenarnya hanya 15 menit berkendaraan dari rumah istri kedua Nasrudin, Irawati Arienda, di perumahan Banjar Wijaya, Tangerang. Orang tua Rani tinggal di rumah itu sejak 1982. Ayah Rani pensiunan sopir sebuah perusahaan tekstil tak jauh dari rumahnya.
Setelah menikah, Mulyani melihat Nasrudin jarang menginap. Dia hanya muncul sekali sepekan. Setiap berkunjung pun hanya 3-4 jam. ”Mungkin karena sibuk. Dan,  kan tidak diketahui istri pertama dan kedua. Jadi, mungkin agak sulit menginap,” katanya.
Di kalangan tetangga Rani, Nasrudin tak dikenal sebagai pengusaha. ”Sebelum kejadian pembunuhan itu, kami mengetahui suami  sirri Rani itu sebagai pilot,” kata Parno Sanjaya (54), salah seorang tetangga Rani yang rumahnya persis di depan rumah Rani.Informasi bahwa Nasrudin pilot, kata dia, berasal dari ayah Rani. Parno mengatakan, dua kali sepekan datang ke rumah Rani, menggunakan Avanza atau BMW.
Suatu saat Kuswati mengeluhkan lagi soal frekuensi kedatangan Nasrudin itu kepada Mulyani. Mulyani pun menyarankan Kuswati mendorong Rani kuliah. Saran itu diterima. ”Status dia kan istri ketiga. Kita  nggak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Ternyata ada kejadian ini (pembunuhan Nasrudin–Red),” ujarnya.
Direktur STIMIK Raharja, Po Abbas Sunarya, mengatakan, Rani menjadi mahasiswa sejak Agustus 2008. Rani bukanlah mahasiswa berprestasi. ”Mungkin karena dia kuliah sambil bekerja,” katanya.
Kamar 808
Antasari juga anggota tahunan di PGM sejak empat tahun lalu. Pengacara Antasari, M Assegaf, mengatakan, kliennya memang kenal Rani saat main golf di PGM. Saat itu Rani menjadi  caddy yang melayani para jaksa yang bermain golf, termasuk Antasari. Namun, sejak Antasari memimpin KPK, Desember 2007, dia tak lagi bermain golf di PGM.
Ari Yusuf Amir, pengacara Antasari, mengatakan, Antasari pernah bertemu Rani di kamar 808 Hotel Grand Mahakam, Jakarta Selatan, Mei 2008. Tapi, dia membantah keduanya berselingkuh, karena pertemuan hanya 5-10 menit. Rani yang saat itu staf pemasaran PGM, kata Ari, menawari Antasari kembali menjadi anggota klub golf itu.
Untuk penawaran itu, Rani mengirimkan SMS kepada Antasari. Pada saat yang sama Antasari juga menerima SMS dari Nasrudin, yang isinya tentang kasus korupsi di PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), induk PT Putra Rajawali Banjaran (PRB) yang dipimpin Nasrudin. Antasari lalu menyuruh Rani dan Nasrudin bertemu di Hotel Grand Mahakam, karena saat itu Antasari pun menunggu seorang ustaz atau guru spiritualnya.
Staf hotel Grand Mahakam, David (bukan nama asli), mengakui Antasari kerap ke hotel di dekat Plaza Blok M itu dan beberapa kali menyewa kamar. ”Iya dia beberapa kali ke sini. Tapi, saya lupa apakah dia ke sini bareng Rani atau tidak,” katanya kepada  Republika , Rabu, (6/5). Public Relations Officer Hotel Grand Mahakam, Ninda Mashita Sulaeman, mengaku pihak hotel tidak bisa memberikan informasi apa pun kepada pihak luar mengenai informasi kliennya. ”Itu  privacy ,” kata Ninda.
Ninda juga menampik kemungkinan dugaan perselingkuhan Antasari dan Rani berlangsung di kamar 808. Sebab, itu ruang serba guna untuk rapat, dengan kapasitas 10 orang. Dalam ruangan tidak ada tempat tidur. Hanya meja besar yang dikelilingi sekitar 10 kursi.Pintu kamar berwarna putih di lantai delapan itu tampak sama dengan pintu kamar lain di depan atau di sampingnya. Tak ada tanda apa pun yang membedakannya sebagai ruang serba guna.  Republika pun kembali menanyakan itu kepada pihak hotel.
Menurut Front Office Manager Hotel Grand Mahakam, Venny Artha, dari luar pintu kamar 808 tidak beda dengan pintu kamar lain seperti kamar 807 di seberang dan juga kamar sampingnya. Namun, kamar 808 memang ruang untuk rapat dengan tarif Rp 3 juta per hari. Hotel itu memiliki tiga  function room di lantai delapan, enam, dan dua.
Caddy
Lapangan parkir PGM dipenuhi mobil para pegolf di akhir pekan. Saat itulah banyak  member tetap PGM yang biasanya eksekutif perusahaan dan pejabat pemerintah bermain. PGM mempekerjakan 300  caddy , 60 di antaranya  caddy pria yang biasa membantu pegolf pemula.
Namun, banyak  caddy per
empuan–seperti Rani–yang juga mahir mengayunkan tongkat golf karena PGM sendiri juga menyediakan tempat dan waktu latihan bagi para  caddy . Pegolf pemula punya banyak pilihan pelatih untuk melancarkan pukulan.Bagi Choky,  caddy PGM, menemani pegolf adalah pekerjaan menyenangkan. Selain ringan, juga bisa mengatur jadwal sesuka hati. Tak heran  caddy bisa menjadi pekerjaan sampingan yang lumayan.
Setiap kali turun lapangan,  caddy mendapatkan bayaran Rp 40 ribu dari PGM. Namun, mereka juga mendapat tips dari pegolf. Untuk pegolf lokal, tips mulai dari 100 ribu rupiah sekali permainan selama lima jam. Ekspatriat dari Korea dan Taiwan yang pabriknya banyak terdapat di Tangerang, tergolong pelit. Tipsnya hanya 50-70 ribu.
Namun, karena sistem pembayaran seperti itu juga yang membuat para  caddy harus berjuang mendapatkan pelanggan agar bisa tetap turun lapangan di hari-hari sepi ( weekdays ). ”Kita memang saling bersaing,” kata Amaliah,  caddy yang baru empat bulan bekerja di PGM, dan telah punya pelanggan seorang pejabat Bea dan Cukai.
Caddy langganan bisa mendapat tips berlipat ganda dibanding  caddy biasa. Bahkan, bila pegolf sedang menang taruhan, uang Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta dipastikan mampir ke saku  caddy . Hubungan keduanya bisa dibilang dekat karena  caddy selalu ditelepon pegolf bila akan main.
Seorang  caddy di PGM terlihat baru saja ditelepon bahwa sang pegolf tidak jadi main ke PGM karena akan pergi ke Amerika. Karena itu, Amaliah tak menyangkal hubungan antara  caddy dengan pegolf bisa menjadi serius.  c81

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: