Konsep Situ Gintung tak Jelas

Rabu, 01 April 2009 pukul 23:50:00

 

Baru 99 korban tewas yang ditemukan.
JAKARTA — Menyusul jebolnya tanggul Situ Gintung yang menyebabkan tewas dan hilangnya sekitar 200 jiwa, pemerintah didesak membenahi situ atau danau di wilayah Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jadebotabek). Ada 218 situ di seantero Jadebotabek.
Kemarin, pukul 10.30 WIB, Tim SAR menemukan mayat di Kali Pesanggrahan, dekat jembatan H Saimin, Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Dengan demikian, total telah 99 korban tewas akibat tragedi Situ Gintung yang jasadnya telah ditemukan. Masih 101 orang yang hilang.
Tim SAR terus melakukan pencarian, baik di darat maupun di sungai. ”Pencarian difokuskan di Kali Pesanggrahan sampai Teluk Jakarta. Ada dugaan korban terbawa arus Kali Pesanggrahan,” kata Koordinator Posko Utama Penanggulangan Bencana Situ Gintung, Rahmat Salam.
Soal pembenahan situ, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyampaikan tiga rekomendasi, agar tragedi Situ Gintung tak terulang. Pertama, melakukan survei dan review situ-situ yang diduga memiliki potensi bencana, terutama di dekat permukiman padat.
Kedua, menyusun analisis risiko situ-situ tersebut dan melengkapinya dengan sistem peringatan dini (early warning system). Ketiga, audit teknologi terhadap kekuatan struktur dan kelayakan bendungan, tanggul, jembatan, infrastruktur keairan, dan sebagainya.
Direktur Bidang Sumber Daya Lahan Kawasan dan Mitigasi Bencana BPPT, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, pintu pelimpasan banjir (spillway) Situ Gintung, telah mengalami erosi buluh. Erosi itu mendeformasi struktur spillway. Itu didasarkan pada hasil analisis 5 Desember lalu.
Planolog Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, menilai konsep pembangunan Situ di Jakarta tidak jelas. Tidak ada pembatasan area tangkapan air (cathchment) dan zona penyangga antara permukiman dengan situ. ”Seharusnya ada zona penyangga 50-100 meter,” katanya, kemarin.
Konsep fungsional situ pun dinilainya tidak jelas: sebagai tandon atau penampungan air, tempat wisata, perikanan, atau irigasi. Seharusnya, kata dia, dibedakan berdasarkan peruntukan. ”Jika situ dibangun untuk irigasi, airnya tidak boleh tercemar dan tidak boleh ada objek wisata.”
Berdasarkan data Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta, pada 1998 ada 40 situ dengan luas 325,125 hektare di lima wilayah Jakarta. Tapi, lima situ saat ini telah berubah menjadi daratan, delapan lainnya tertutup gulma air.
Dibeton
Tanggul jebol di Situ Gintung akan dibangun kembali, setelah pemda menyelesaikan tata ruangnya. Tak seperti konstruksi sebelumnya yang hanya terdiri atas tanah urukan, tanggul baru akan berkonstruksi beton agar aman bagi warga di sekitarnya.
Biaya pembuatan tanggul sekitar Rp 200-300 miliar dari APBN. Tanggul yang akan dilengkapi spillway selebar lima meter itu ditargetkan selesai Oktober 2009. ”Sebelum masuk musim hujan,” kata Wakil Presiden, Jusuf Kalla, usai memimpin rapat khusus di Sekolah Calon Polisi Wanita, tak jauh dari lokasi bencana Situ Gintung, kemarin.
Rapat dihadiri Menko Kesra, Aburizal Bakrie; Mensos, Bachtiar Chamsyah; Mendagri, Mardiyanto; Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah; dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto.
Wapres mengatakan pemerintah akan membantu masyarakat yang rumahnya rusak. Besarnya, seperti yang diberikan pemerintah kepada korban gempa Yogyakarta, yaitu: Rp 30 juta untuk rumah rusak berat; Rp 15 juta untuk rumah rusak sedang; dan Rp 5 juta untuk rumah rusak ringan.
Wapres mengatakan pemerintah tak akan merelokasi warga korban tragedi Situ Gintung. ”Warga boleh memperbaiki rumahnya asal sesuai tata ruang,” katanya. Tapi, terhadap yang ingin pindah, Wapres mempersilakan.
Sementara itu, warga yang menempati Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dikabarkan akan dipindahkan ke gedung Kertamukti, Ciputat–tak jauh dari Kampus UIN Jakarta–pada Senin (6/4). ”Tempat pengungsian UMJ akan digunakan kembali untuk perkuliahan,” kata Ratu Atut. eye/djo/c81/c89/c84/
Hasil Analisis BPPT
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah melakukan analisis terhadap pintu pelimpas banjir (spillway) Situ Gintung. Survei ini tidak dilakukan khusus untuk meneliti kekuatan dan konstruksi tanggul Situ Gintung, melainkan menitikberatkan pada kualitas air dan pemanfaatan air situ untuk waduk resapan.
Meski demikian, BPPT mendapati adanya ketidakberesan pada spillway  Situ Gintung. Apalagi, setelah terjadinya bencana pada Jumat (27/3), BPPT mengkaji ulang dokumen 5 Desember 2008 tersebut, untuk mengetahui penyebab jebolnya tanggul. Berikut hasilnya:
* Melihat bekas-bekas jebolnya tanggul, diduga ada erosi buluh (piping) yang berlangsung sudah cukup lama. Itu ditandai dengan adanya mata air di bawah tanggul.
* Erosi buluh itu menyebabkan deformasi struktur spillway. Saat muka air situ naik, dengan cepat melimpas spillway, sehingga terjadi gaya dorongan massa air yang lebih besar sehingga terjadi /landsliding/ (longsoran) pada badan tanggul. Makin lama makin menggerus bagian dasar tanggul sehingga mencapai sekitar 20 meter.
* Berdasarkan analisis data curah hujan, tutupan lahan, luas DAS, kejadian gempa, longsor tebing, dan kondisi tanggul, maka dapat disimpulkan bahwa spillway merupakan titik lemah jebolnya tanggul.
Catatan:
– Saat survei dilakukan, BPPT mendapati sebagian pemukiman telah berkembang di badan tanggul Situ Gintung. Beda ketinggian tanggul dan rumah di bawahnya adalah 15 meter.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: