Gairah Tubuh Luki

Tanggal Post : 07 March 2005
Judul : Gairah Tubuh Luki
Waktu : 00:38

Pengirim : Admin
Email : admin@ah-uh.tk

Aku adalah seorang pria lajang berusia 30 tahun. Aku masih melajang, bukan karena tidak bisa mendapat jodoh sebenarnya – tapi justru sebaliknya . . . banyaknya peluang membuatku tidak bisa menentukan pilihan.

Suatu kali temanku, yang amat sangat ramah. Usianya sekitar 35 dan sebut saja namanya Widi. Iapun mengajakku jalan – jalan ke rumah teman wanitanya yang tinggal di seputar kantor Pacific World sekarang di bilangan Semawang.

Hubungan kami terus berlanjut, dan mulailah beberapa kali saya datang ke tempat kost nya hitung – hitung refreshing setelah penat bekerja terutama saat saat pesawat delay.Dia tinggal di sebuah kamar ukuran 3×4 meter. Karena seringnya aku datang kesana, akhirnya akupun mempunyai sebuah kunci sendiri.

Setelah lewat setengah tahun, suatu kali selesai jemput di airport, aku tidak ada kesibukan apapun dan akupun menuju kos Luki. Sampai di depan kamarnya, beberapa kali kupanggil namanya, tidak ada jawaban. Akupun masuk dengan kunciku. Di dalam kamar kutemukan serobek kertas yang isinya dia sedang pergi keluar dan akan segera datang.

Akupun bersantai dan kemudian menyalakan VCD. Selesai satu film, saat melihat rak, di bagian bawahnya kulihat beberapa VCD porno. Karena memang sendirian, akupun menontonnya. Sebelum habis satu film, tiba-tiba terdengar pintu depan dibuka. Akupun tergopoh-gopoh membuka pintu..

"Hallo, De sudah lama!" Luki yang baru masuk tersenyum. "Eh, tolong dong bayarin taksinya, uang Luki sepuluh-ribuan abangnya nggak ada kembalinya." Aku tersenyum mengangguk dan keluar membayarkan taksi yang cuma duaribu rupiah. Kupikir ngak apalah, hitung – hitung kalah meceki di kantor.

Saat aku masuk kembali . . . pucatlah wajahku! Luki duduk di karpet di depan televisi dengan gaya menantang, dan . . . menyalakan kembali video porno yang sedang setengah jalan! Luki memandang padaku dan tertawa geli, "Ih! De! Begitu, tho, caranya? Luki sering bergaya seperti itu," kamu mau ngak, kayaknya de kamu guide yang paling alim yang pernah kukenal".

Gugup dan keringat dingin bercucuran dari mukaku dan dengan berat membuka mulut aku berkata, "Ki . . . Putar vcd yang lain aja".

"Aahhh, kau De…. Sok munafik. Tu, liat . . . cuma begitu aja! Gambar yang dibawa temen Luki di karaoke lebih serem."

Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, dan khawatir kalau kularang Luki pergi tanpa pamit mencari korban di tempatnya bekerja di salah satu cafe di Semawang.Akupun duduk-duduk di beranda depan membaca majalah.

Sekitar jam 10 malam, aku keluar dan membeli makanan. Sekembalinya, di dalam rumah kulihat Luki sedang tengkurap di karpet, dan . . . astaga! Ia mengenakan daster yang pendek dan tipis. Tubuh mudanya yang sudah mulai matang terbayang jelas. Paha dan betisnya terlihat putih mulus, dan pantatnya membulat indah. Aku menelan ludah dan terus masuk menyiapkan makanan.

Setelah makanan siap, aku memanggil Luki. Dan . . . sekali lagi astaga . . . jelas ia tidak memakai BH karena puting susunya yang menjulang membayang di dasternya. Aku semakin gelisah karena penisku yang tadi sudah mulai "bergerak," sekarang benar-benar menegak dan mengganjal di celanaku.

Selesai makan, saat mencuci piring berdua di dapur sebelah kamar kosnya, kami berdiri bersampingan, dan dari celah di dasternya, buah dadanya yang indah mengintip. Saat ia membungkuk, puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah itu. Aku semakin gelisah. Selesai mencuci piring, kami berdua duduk di karpet kamar kosnya.

"Oom, ayo tebak. Hitam, kecil, keringetan, apaan ….!"

"Ah, gampang! Semut lagi push-up! Khan ada di tutup botol Fanta! Gantian . . . putih-biru-putih, kecil, keringetan, apa?"

Luki mengernyit dan memberi beberapa tebakan yang semua kusalahkan.

"Yang bener . . . Luki kepanasan habis jalan – jalan!"

"Aahhh . . . kamu ngeledek …!" Luki meloncat dari karpet yang didudukinya dan berusaha mencubiti lenganku. Aku menghindar dan menangkis, tapi ia terus menyerang sambil tertawa, dan . . . tersandung! Ia jatuh ke dalam pelukanku, membelakangiku. Lenganku merangkul dadanya, dan ia duduk tepat di atas batang kelelakianku! Kami terengah-engah dalam posisi itu. Bau bedak bayi dari kulitnya dan bau sampo rambutnya membuatku makin terangsang . . . dan akupun mulai menciumi lehernya. Mia mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tangankupun mulai meremas kedua buah-dadanya.

Nafas Luki makin terengah, dan tangankupun masuk ke antara dua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang.

"Uuuhhhhh …. mmmmhhhh ….." Luki menggelinjang.

Kesadaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkan bahwa yang sedang kucumbu adalah seorang wanita panggilan, tapi gariahku sudah sampai ke ubun-ubun dan akupun menarik lepas dasternya dari atas kepalanya. Aahhh ….! Luki menelentang di tempat tidur dengan tubuh hampir polos!

Aku segera mengulum puting susunya yang merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan hingga dadanya basah mengkilap oleh ludahku. Tangan Luki mengelus belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuat aku makin tak sabar.

Aku menarik lepas celana dalamnya, dan . . . nampaklah bukit kemaluannya yang baru ditumbuhi rambut jarang. Bulu yang sedikit itu sudah nampak mengkilap oleh cairan kemaluan Luki. Akupun segera membenamkan kepalaku ke tengah ke dua pahanya.

"Ehhhhhh…… mmmmmmmaaahhhh…..," Tangan Luki meremas bantal dan pinggulnya menggeletar ketika bibir kemaluannya. Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan.

"Ooohh…. aduuuhhhhh….," Luki mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap diantara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat. Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku akan membelai kelentitnya dan tubuh Luki akan terlonjak dan nafas Luki seakan tersedak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras.

Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum Luki tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit kubelai-belaikan di pipi Luki. "Mmmmhh…… mmmmmhhhh…… oooohhhhmmmmm……," ketika Luki membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku. Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi iapun mulai menyedot. Tanganku berganti-ganti meremas dadanya dan membelai kemaluannya.

Segera saja kemaluanku basah dan mengkilap. Tak tahan lagi, akupun naik ke atas tubuh Luki dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Luki dan aroma kemaluan Luki di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit.

Dengan tangan kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Luki, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Luki menekan pantatku dari belakang. "Ohh mam…. masuk …. hhh… masukin…. Ohhhh…. hhhh… ehekmmm…"

Perlahan kemaluanku mulai menyeruak masuk ke liang kemaluannya, dan Luki semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku terasa tertahan sesuatu yang kenyal. Dengan satu sentakan, tembuslah halangan itu. Luki memekik kecil, dahinya mengernyit menahan sakit. Kuku-kuku tangannya mencengkeram kulit punggungku. Aku menekan lagi, dan terasa ujung kemaluanku membentur dasar. Lalu aku diam tak bergerak, membiarkan otot-otot kemaluan Luki terbiasa dengan benda yang ada di dalamnya.

Sebentar kemudian kernyit di dahi Luki menghilang, dan akupun mulai menarik dan menekankan pinggulku. Luki mengernyit lagi, tapi lama kelamaan mulutnya menceracau,

"Aduhhh…. sssshhhh….. iya…. terusshh…. mmmhhh…… aduhhh….. enak…. De…"

Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Luki, lalu me
mbalikkan kedua tubuh kami hingga Luki sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak kemaluanku menancap hingga pangkal di kemaluannya. Tanpa perlu diajar, Luki segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku berganti-ganti meremas dan menggosok dada, kelentit dan pinggulnya, dan kamipun berlomba mencapai puncak.

Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Luki makin menggila dan iapun membungkukkan tubuhnya dan bibir kami berlumatan. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku.

Setelah tubuh Luki melemas, aku mendorong ia terlentang, dan sambil menindihnya, aku mengejar puncakku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Luki tentu merasakan siraman air maniku di liangnya, dan iapun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang ke dua.

Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.

"Aduh, De.. . . Luki lemes. Tapi enak banget."

Aku cuma tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus. Satu tanganku lagi ada di pinggulnya dan meremas-remas. Kupikir tubuhku yang lelah sudah terpuaskan, tapi segera kurasakan kemaluanku yang telah melemas bangkit kembali dijepit liang vagina Luki yang masih amat kencang.

Aku segera membawanya ke kamar mandi, membersihkan tubuh kami berdua dan . . . kembali ke kamar melanjutkan babak berikutnya. Sepanjang malam aku mencapai tiga kali lagi orgasme, dan Luki . . . entah berapa kali. Begitupun di saat bangun pagi, sekali lagi kami bergumul penuh kenikmatan sebelum akhirnya aku terpaksa memakai seragam, sarapan dan berangkat tour ke Kintamani.

TAMAT

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: