Satu Yang Berharga

Yusna telah mengenal Oding dengan baik. Selama tiga tahun mereka melewati rentang kebersamaan. Dan dua tahun terakhirnya, Oding adalah cinta pertama gadis itu. Sebeum kemudian mereka lulus dan meninggalkan bangku menengah pertama dan melanjutkan ke SMA. Kisah cinta mereka berakhir bukan karena terpisah. Namun karena hati Yusna yang tergoyah.

Gadis manis berwajah tirus itu menyadarkan tubuh. Buku pelajaran di atas meja di hadapannya tidak mampu di serap. Deretan huruf di halamannya hanya menghadirkan ingatannya pada Oding. Pada cowok kutu buku dengan kacamata minus. Cowok yang beberapa hari lalu ia temui di antara rak-rak toko buku ketika Miranda, teman duduk Yusna, meminta diantar ke sana.

Tak banyak berubah pada sosoknya. Bahkan matanya yang tajam tersembunyi di balik lensa masih seperti dulu. Masih bersorot lembut dan ramah, meski Yusna pernah menyakiti hatinya.

“Apa kabar Yus?” sapa Oding. Ia tersnyum tulus yang membuat dada Yusna tersesak dan ia tergagap. Ia hanya membalas senyumannya.

Oding meninggalkan buku di tangannya pada tempatnya semula. “Nyari buku?”

Yusna Tidak suka membaca. Oding tahu itu meski dulu Yusna banyak ia pinjami buku. Pertanyaan Oding barusan membuat bibir Yusna menyungginngkan senyum masam.

“Tidak,hanya mengantar teman,” sahutnya sembari menoleh pada Miranda disampingnya.Matanya menangkap gerakan tangan Oding terangkat dan terulur.

“Oding,” cowok itu menyebut namanya.Miranda menoleh pada Yusna sebelum menyambut uluran tangan itu dan menyebutkan namanya.

“Aku mencari novel,” kata Miranda setelah tautan tangan mereka terlepas. “bias ngasih saran?”

“yup. Tapi yang berbobot.”

“berapa kilogram bobotnya?”

Miranda tertawa.Oding meraih semua buku dan mengulurkanya.

“Ini bagus. Sebuah cerita tentang persahabatan, cinta, dan jati diri.”

Miranda menerima buku itu.Mengamati sampul berwarna pastel nan lembut. Membaca sekilas synopsis di sampul belakangnya.

“Benar-benar bagus?” Matanya terangkat.

“Tanya saja sama Yusna,” sahut Oding,menolehkan kepala Miranda ke samping.

“Kamu sudah punya,Yus? Kok tidak meminjamiku?”

Yusna tergeragap lagi.”Bukunya sudah hilang. Maaf….”

Miranda bersungut dan menyayangkan Yusna yang tidak bisa merawat buku. Ia tidak tahu jika kata “maaf” itu lebih Yusna tunjukan pada Oding. Pada cowok yang pernah menghadiahi buku itu di hari ultahnya. Ultah terakhir yang dirayakan bersama Oding sebelum mereka putus.

Putus? Yusna menggeleng. Bangkit dari duduknya dan melangkah menuju jendela. Memandang kosong pada keremangan malam dengan pendar lampu taman.

Memang tak ada kata putus yang menyudahi hubungan mereka. Yang ada hanyalah penghindaran Yusn. Gadis itu tak mau lagi menemui Oding. Mencari berbagai alasan untuk menjauh. Mengingkari pernah jatuh cinta pada cowok itu dan menganggapnya hanya inplus cinta monyet. Hingga Oding tak pernah lagi menemuinya.

Tak ada penyesalan. Karena pada saat itu Yusna tengah dekat dengan Denny, cowok keren kakak kelasnya yang bertubuh tegap, berwajah tampan, dan jago basket. Ia tengah 6terlambung oleh angannya. Oleh sensasi semu yang diberikan Denny padannya. Nyatanya, hannya dalam hitungan bulan semua itu terlerai. Denny terlalu tampan dan cowok itu menyadari kelebihan fisiknya mampu menjerat banyak gadis. Seandainya burung, sayapnya teramat kokoh untuk terbang ke mana ia suka. Yusna hannya satu ranting tempat ia sesaat berpijak melepas lelah.

Denny berlalu meninggalkan luka menganga di hati Yusna. Sempat terbersit keinginan gadis itu untuk kembali pada Oding. Namun keangkuhan hatinya membentuk dinding kokoh.

Beberapa bulan sesudahnya, Yusna menerima kehadiran Roni di hatinya. Toh, hubungan mereka tidak bertahan lama. Roni teramat posesif. Yusna merasa terkekang. Pertengkaran hebat menyudahi jalinan asmara mereka. Melemparkan Yusna kembali pada sosok Oding. Pada sosok yang begitu tulus mencintainya. Yang bisa memahami kehendaknya. Yang mengerti bagaimana ia ingin dipermalukan. Namun yang tidak cukup keren untuk dibanggakan. Seorang cowok yang pernah ia campakan!

“Kita tidak bisa memiliki segalanya, Yus,” begitu Miranda pernah berkata. “Karena tak seorang pun sempurna.”

Napas Yusna terhela berat. Kali ini, rasa sesal menggedor batinnya.

Yusna mematut diri di depan cermin. Awalnya, ia sudah memutuskan untuk tidak datang ke acara ultah Ninik, teman kursus Bahasa Inggrisnya. Tapi siang tadi Ninik mendesaknya untuk datang. Yusna tidak memilik alasan untuk menolak, selain ia tahu bahwa dengan siapa ia datang.

Miranda memang menawari untuk menjemput.

“Enggak enak sama cowokmu,” tolak Yusna.

“Toh, kalian sudah saling kenal. Dan kurasa, Yudi nggak bakalan keberatan,” bujuk Miranda.

“Dan kurasa, Yudi nggak bakalan keberatan,” bujuk Miranda.

“Dan aku akan menjadu anjing congek kalian?”

“Kamu nggak mirip anjing kukira.”

Yusna meninju bahu temannya. Miranda tertawa.

“Atau, perlu kucarikan pangeran untukmu?”

Kepala Yusna tergeleng tegas. “Tidak, thanks.”

“Tapi….”

“Aku bisa datang sendiri,” kata Yusna, penuh dengan keyakinan. Hanya dalam hati ia ragu. Ini perayaan ultah yang ketujuh belas. Pasti semua tamu undangan hadir berpasangan. Akan tampak konyol jika ia datang sendirian.

Bersama dengan dentang jam di ruang tengah yang terdengar samar, pintu kamar diketuk.

“Dicari Oding, Yus,” suara Mama terdengar. Sisir di tangan Yusna mengambang di udara. Ia menunggu Mama mengulang kalimatnya. Tapi wanita itu tak juga mengulang.

“Siapa, Ma?” tanya Yusna. Tak ada sahutan. Gadis itu memburu pintu dan menguaknya. Namun Mama tak lagi di sana. Mungkin telah kembalidengan kesibukannya. Dengan penasaran, Yusna memburu ke ruang tamu.

Oding tengah duduk di kursi ruang tamu. Ia mengangkat mukadan tersenyum begitu Yusna menguak tirai.

“Miranda bilang kamu butuh teman ke pesta ultah,” katanya sembari melipat koran sore Papa yang barusan ia baca.

“Miranda?”

“Tadi sore ia menemuiku.”

Lancang. Miranda bahkan tidak memberitahunya.

“Atau sudah ada yang menemani?”

Yusna menggeleng ketika kembali ke kamarnya untuk berbenah, hatinya bertanya, adakah ini jalan untuk kembali?

Yusna layak bersyukur Oding tidak membencinya setelah apa yang ia perbuat. Cowok itu bahkan tidak menyinggung perlakuannya dulu. Entah terbuat dari apa hatinya. Yang Yusna tahu, rasa sesal yang pernah mencampakan cowok itu menjelma menjadi hasrat untuk kembali memiliki Oding.

Gadis itu merasa, Oding masih memiliki cinta untuknya. Jika tidak, tak mungkin ia bersedia menemaninya malam ini.

Yusna layak berterima kasih pada Miranda untuk kelancangan gadis itu.

Sebuah nama mengoyak tiba-tiba. Selama kebersamaan mereka kembali, Yusna memang tidak pernah bertanya akan singgasana hati Oding. Ia telah merasa yakin bisa kembali mendapatkan cinta cowok itu. Nyatanya, kabar dari Miranda meredam semua keyakinannya.

Yusna menatap mega putih di atas sana. Merasai sesak menghimpit. Sesak yang tercipta karena harapan yang berkeping. Berserak menusuk dinding hati.

“Kupikir ia masih mencintaiku. Setidaknya sikapnya selama ini….”

Miranda menganguk. “Mungkin ia memang masih mencintaimu.” Sepasang matanya mencari mata Yusna dan menatapnya tajam. “Tapi, Yus, itu bukan berarti kamu berhak merampasnya dari gadis lain.”

“Hanya seorang gadis SMP. Gadis cantik yang sebentar lagi akan menyadari dari dirinya diinginkan banyak cowok lain dan akan mengabaikan Oding…”

“Seperti dirimu?” penggalan Miranda telak menghantam dinding hati Yusna.

“Just see….”

Dan kini Yusna telah berada di hadapan gadis kecil itu di satu meja perpustakaan kota. Ia tengah asyik menekuri lembar novel chiklitnya. Mendongak ketika Yusna tengah memandanginya.


Ellie?”

Kelopak mata gadis itu mengerjap. Senyumannya terkembang bingung.

“Saya teman Oding,” Yusna buru-buru melanjutkan. “Yusna.”

Gadis belia itu meringis. “Maaf, saya tidak tahu…,” sesalnya.

“Kita mememang tidak pernah bertemu.”

“He eh. Padahal kak Oding sering cerita.”

“Tentang saya?” Yusna takjub. Ellie mengangguk. Tanpa diminta ia berceloteh. Rupanya Oding selalu cerita semua yang mereka lakukan bersama. Termasuk ketika datang ke ultah Ninik tempo lalu.

“Termasuk bahwa saya….” Yusna ragu melanjutkan kata-katanya.

“Mantan pacar Kak Oding?” Ellie menebak tepat. Disusul anggukan kecilnya.

“Nggak cemburu?”

Ellie menutup bukunya. Ruang perpustakaan yang luas tak begitu ramai oleh pengunjung. “Kak Oding bilang, dalam cinta musti ada kasih, seti, percaya, dan terbuka.”

Oding pun pernah mengatakan itu pada Yusna.

“Kamu percaya?”

Anggukan Ellie kecil, namun tegas. “Karena Kak Oding pun percaya sama Ellie.”

Hati Yusn terasa dingin, beku.

Ketika berpamitan, Ellie menatapnya dan bertanya “Kak Yusna hendak kembali pada Kak Oding?”

Di tempatnya, Yusna tercenung sekian detik sebelum menggeleng pelan dan mengulas senyum.

“Tidak, Ellie. Kamu lebih berhak mendapatkan cowok sebaik dia,” sahutnya menatap. Menciptakan binar bola mata gadis belia itu. Yusna hanya berdoa dalam hati, Ellie tidak melakukan kebodohan seperti yang pernah ia lakukan. Mencampakan cowok sebaik Oding hanya karena ketampanan fisik cowok lain yang lebih sempurna. Karena dalam cinta, hatilah yang utama.

Langkah Yusna terasa ringan, meski hatinya nelangsa.

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: