Sahabatku Di Kuta Bali

“Bunda…” panggil Andien ketika memasuki rumahnya Andien masuk ke dapur untuk mencari Bundanya, tapi dia tak melihat sang Bunda di situ. Ketika sedang berjalan menuju kamarnya, Andien mendengar suara sang Bunda dari kamar Bundanya.

“Jadi mengajak anak-anak liburan?” sayub-sayub suara sang Bunda. Andien langsung menghentikan langkahnya dan mendengarkan suara sang Bunda yang ternyata sedang melakukan pembicaraan via telepon dengan Ayahnya.

“Ya sudah, nanti aku survei penerbangan yang ke situ…” Andien ingin bersorak menebak apa yang ingin dibicarakan oleh Bundanya. Tapi dia menahan keinginannya untuk sampai sang Bunda mengatakan langsung rencananya.

Sepanjang hari itu, senyum selalu menghias wajah Andien. Bunda saja sampai bingung melihat wajah anaknya yang ceria terus seperti itu.

“Kamu kenapa An, kok dari tadi senyum-senyum?” tanya sang Bunda. “Andien lagi senang aja, Bunda apa tidak ada rencana yang mau Bunda kasih tau ke Andien?” Andien mencoba memancing berita sang bunda merasa sedikit mengerti apa yang dimaksud oleh anak semata wayangnya itu.

“Kamu menguping Bunda ya tadi siang?”

“Ih, Andien tidak sengaja mendengar…jadi, benar Bunda?”

“Ya, kebetulan Ayahmu ada tugas di Bali, jadi Ayahmu mengajak kita, sekalian liburan katanya.”

“Hore… akhirnya, jadi juga rencana jalan-jalan ke Bali, aduh Bunda, Andien jadi tidak sabar pergi kesana, Andien mau cepat-cepat liburan deh…”

“Biasanya, kamu paling tidak suka liburan.”

“Iy, abisnya setiap liburan, Andien tidak boleh ikut acara teman-teman buat jalan-jalan. Ayah sama bunda juga sibuk terus, tidak bisa ajak Andien pergi, ujung-ujungnya Andien Cuma melamun di rumah, tapi kalo sekarang, Andien kan mau ke Bali sama Ayah dan Bunda.”

Bunda sangat senang melihat wajah Andien yang sangat bersinar bahagia seperti saat itu, sudah lama sekali keluarga kecil itu tidak menghabiskan waktu bersama.

“Andien…” panggil Vika.

Andien menuju kelasnya dengan riang. Akhirnya, dia punya berita bagus yang bisa disampaikan pada teman-temanya. Tapi wajah teman- temannya juga sangat bahagia, pasti juga ada yang ada mau disampaikan oleh mereka.

“Tebak kita punya apa buat liburan kali ini?” ujar Vika.

“Rencana jalan-jalan pastinya,” sahut Rian langsung.

“Tapi sayangnya, kamu pasti tidak di ijinkan untuk ikut,” lanjut Winda.

“Jadi kayanya kita tidak perlu repot-repot memberitahu kamu deh, nanti yang ada nanti kamu kepikiran terus mau ikut lagi….” Sambung Vika

Keempat sahabatnya itu langsung tersenyum jahil, sepertinya mereka senang bisa membuat Andien bengong seperti itu. Andien jadi urung memberitahu mereka bahwa dia akan pergi berlibur juga.

“Ah, mereka saja maen rahasi-rahasian, biar saja aku juga merahasiakan rahasiaku, biar nanti aku langsung tunjukin foto-foto disana, pasti jadi ngiri.” Ucap Andien dalam hatinya.

Keempat sahabat Andienpun meninggalkan Andien dan mulai membisik-bisik membuat rencana liburan mereka. Andien sendiri tidak berminat untuk mencari tahu kemana sahat-sahabtnya itu akan berlibur.

Salah satu hal yang membuat Andien sangat bahagia bisa mengunjungi Bali, adalah adanya Putri. Putri adalah salah satu sahabatnya yang menghuni kota Bali.

Andien bersahabat dengan Putri melalui telepon dan internet, mereka belum sempat bertemu muka langsung, padahal sudah begitu lama Andien ingin bertemu dengan sosok Putri.

Biasanya, gadis-gadis Bali mempunyai mata yang indah dan sangat pintar menari, orang bilang. Mata indah mereka di dapat dari kepintaranmenari mereka. Andien ingin sekali melihat langsugdan mempelajari tarian khas bali. Andienpun langsung menghubungi putri.

“Putri… Panggil Andien histeris ketika Putri mengangkat teleponya.”

“Hai An, adaapa sepertinya kamu sedang bahagia?”

“Yang benar?”

“Ia, aku sudah tidak sabar untuk bertemu kamu, kamu harus temani aku jalan-jalan selama di sana, dan aku ingin sekali melihat kamu menari.”

“Andien, aku tak bisa menari,” suara putri yang tadinya riang berubah menjadi lemas.

“Ah, kamu ini merendah sekali, aku tau gadis-gadis bali pandai sekali menari, nanti kamu ajari aku ya….”

“Ya terserah kamu percaya atau tidak. Tumben kamu di ijinkan liburan oleh orang tua kamu.”

“Ayah akan bertugas di Bali selama beberapa minggu, dan waktunya tepat ketika aku akan libur sekolah. Jadi, Ayah mengajak Aku dan Bunda untuk berlibur di sana. Kamu sendiri sudah memasuki liburan belum?”

“Sudah, kamu tenang saja, aku siap menemani kamu kapan saja selama disini.”

“Baiklah, samapai berjumpa di sana.”

Selesai berbicara dengan Putri, Andien langsung turun menemui Bundanya yang sedang memasak di dapur.

“Bunda, tadi aku sudah telepon Putri, aku bilang akan pergi kesana dan menemuinya.” Ujar Andien.

“Putri juga sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu.” Sahut Bunda.

“Ya, oh ya, tadi juga di sekolah bilang teman-teman bialang mau pergi libuaran sama-sama lagi, tapi mereka tidak mau kasih tau Andien akan pergi kemana, percuma katanya abis Andien juga tidak akan diijinkan ikut.” Cerita Andien.

“ Kamu kecewa?”

“Tidak dong Bunda, kan kali ini Andien akan liburan ke tempat yang di tuju para wisatawan, pulau dewata, sama Ayah dan Bunda lagi, terus bisa ketemu sahabatku, liburan kali ini pasti menyenangkan.”

“Bunda harap juga begitu.”

“Harus begitu, Putri bilang ia akan menemui Andien di Kuta, nanti kita ke Kuta kan, Bunda?”

“Iya sayang, nanti kita akan pergi kemanapun kamu mau, asal kamu jadi anak baik.”

“Andien kurang baik apa si, Bunda?”

“Kamu sudah sangat baik.”

Andien langsung memeluk Bundanya, sudah lama mereka tidak berbincang seperti ini, biasanya Bunda sibuk mengurus butiknya dan arisan di sana sini. Tapi, semenjak mempunyai orang kepercayaan. Bunda sudah mulai jarang kebutik dan cukup mengamati perkembangan butiknya dari rumah.

Akhirnya, hari libur yang dinantikan Andien datang juga. Hari ini, Andien dan keluarganya akan tiba di Bali. Sekarang Andien sedang berada di dalam pesawat yang akan mengantarkannya menuju ke Bali.

Setelah melewati beberapa jam di pesawat, akhirnya mereka menginjak juga tanah Bali. Senyum tidak bisa hilang dari wajah manis Andien. Ayahnya langsung menghampiri supir jemputan dari perusahaan dan memasukan koper-koper ke dalam mobil, kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju hotel.

“Ayah, bisa kita langsung ke Kuta?” Andien sudah tidak sabar lagi menemui Putri.

“Nanti dong sayang, sekarang Andien dan Bunda istirahat dulu di hotel. Ayah mau lapor dulu di perusahaan cabang di sini. Setelah itu, Ayah menyusul istirahat di hotel. Nanti sore baru kita pergi ke kuta, setuju?”

“Iya setuju.”

Andien langsung diam dan mengamati jalan-jalan yang dilewatinya. Segalanya berbeda dengan Jakart. Bangunan-bangunan sampai suasana yang ada di pulau Dewata sangat berbeda dengan suasana di Jakarta.

Banyak turis yang berlalu-lalang. Andien merasa sangat beruntung bisa menghabiskan liburan kali ini di pulau Dewata itu.

Akhirnya, waktu yang dinantikan Andien tiba juga. Dia dan keluarganya sedang dalam perjalanan menuju pantai Kuta. Tadi Andien sudah menghubungi Putri dan sudah janjian ingin bertemu.

Putri mengatakan bahwa dia akan menunggu di dekat tempat penyewaan Banana Boat. Dia juga bilang akan menggunakan baju berwarna hijau dan syal berwarna merah muda.

Andien sudah benar-benar tidak sabar ingin bertemu Putri. Dia ingin bercerita banyak dengan Putri. Sebenarnya Andien ingin sekali mengenalkan Putri dengan teman-temannya sekolahnya. Andien jadi kepikiran, dimana kira-kira sahabat-sahabatnya sedang berlibur.

Akhirnya Andien dan keluarga tiba juga di pantai kuta. Andien langsung mengajak Ayah dan Bundanya menuju tempat penyewaan Banana Boat.
Tapi, Andien tidak melihat siapa-siapa. Andien segera menghubungi Putri.

“Kamu di mana? Aku sudah di tempat penyewaan,” Andien khawatir Putri tidak jadi datang.

“Aku ada di bawah tenda payung tak jauh dari situ, kamu berjalan pelan saja kesini, nanti juga ketemu, cepat ya, aku sudah tidak sabar bertemu.” Putri langsung memutuskan teleponnya.

Andien mendadak kesal saat itu. Mengapa putri tidak langsung menemuinya. Mengapa Andien harus menghampiri Putri?, apakah gadis bali itu menjadi sombong karena merasa ini tanah kelahirannya. Tapi, meskipun merasa sedikit kesal, Andien tetap menuju tempat yang di maksud.

Andien menemukan meja bertendakan payung tak jauh dari situ. Tapi yang ada di situ adalah seorang lelaki sebaya Ayahnya. Tapi setelah mendekat, Andien bisa melihat seorang gadis cantik seusianya. Namun, satu hal yang membuat Andien dan kedua orang tuanya sedikit terkejut. Gadis itu duduk di atas kursi roda.

“Andien….” Panggil gadis cantik itu.

Andien langsung menghampiri gadis yang pastinya pemilik nama putri itu. Andien juga langsung memeluk gadis itu.

“Hai An, akhirnya kita bertemu juga, kenalkan ini pamanku,” ujar putri memperkenalkan pamannya yang dari tadi menemaninya.

Setelah memperkenalkan orang tuanya pada Putri. Andien meminta izin kepada Paman Putri dan kedua orang tuanya untuk berjalan-jalan sebentar.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita?” tanya Andien.

“Aku takut kamu tidak mau lagi berteman lagi dengan aku karena kondisi ini. Aku menderita polio semenjak kecil.” Ujar Putri.

“Tidak mungkin aku tidak mau berteman denganmu lagi.”

“Maaf, bukan maksudku menilai kamu jelek. Tapi, beberapa orang yang kukenal lewat dunia maya langsung menjauhiku begitu aku memberitahu kondisiku. Selama inin aku hanya bisa mencari teman lewat dunia maya saja. Aku sekolah di rumah, home schooling, tidak punya teman, bahkan tidak bisa ikut menari. Aku merasa kesepian dan bosan, tapi aku coba menepis rasa bosan itu dengan melukis, aku sangat suka melukis.” Cerita Putri.

“Oh ya, aku ingin melihat lukisanmu.”

“Pasti aku akan senang sekali menunjukan lukisan-lukisanku. Kamu tidak malu berteman denganku?”

“Kenapa harus malu? Kamu tidak melakukan suatu kesalahan yang memalukan? Aku sangat senang bisa bertemu dengan mu. Aku tidak akan menjauhi kamu.”

“Terima kasih An, aku yakin kamu adalah orang yang baik. Aku sangat beruntung bisa bertemu kamu, maafkan aku tidak bisa memperlihatkan dan mengajarkan kamu tarian Bali.”

“Tidak apa, aku sudah senang bisa bertemu kamu.”

Tiba-tiba angin kencang berhembus di sepanjang pantai kuta. Topi yang di pakai Andien terlepas dan terlempar jauh ke belakang. Andien bergegas mengambilnya. Tapi karena tidak melihat jalan, Andien tidak sadar menabrak seseorang.

“Aduh,” ujar Andien pelan.

“Aw. Duh mba kalau jalan liat-liat dong,” omel lelaki yag di tabrak Andien.

Andien terdiam, dia merasa mengenali suara itu. Perlahan ia menatap wajah orang yang di tabraknya itu.

“Rian…” panggil Andien histeris.

“Andien, kok kamu disini?” tanpa Rian heran.

“Aku sedang liburan bersama keluargaku. Kalau kamu disini, berarti…..”

“Rian, Andien….” Panggil suara Vika dari belakang sosok Rian.

“Vika, Davi, Winda…” teriak Andien.

Vika dan Andien langsung berlari memeluk Andien. Mereka sebenarnya heran dengan keberadaan Andien, tapi mereka senang bertemu teman-temannya.

“Aku tidak menyangka kalian juga berlibur disini,” ujar Andien.

“Kamu juga tidak menyangka akan melihat kamu di sini, kamu sendirian ?” tanya Winda.

“Tidak, aku bersama temanku, gadis bali, ayo aku kenalkan,”

Andien mengenalkan Putri pada teman-temannya. Teman-temannya sama sekali tidak keberatan dengan keadaan Putri. Mereka juga berjanji akan menjadi sahabat Putri. Andien sangat senang bisa mengenalkan Putri pada teman-temannya, apalagi Andien melihat binar mata Putri. Putri merasa beruntung bisa bertemu dengan Andien. Hari ini menjadi hari yang indah untuk Putri dan Andien.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: