CINTA TERTINGGAL DI PERPUSTAKAAN

 

Gadis berkacamata tebal itu tampak asik diantara deretan rak buku. Beberapa buku diambilnya lalu dibawanya kemeja yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Disitu sudah ada setumpuk buku yang beberapa menit lalu diambilnya. Entah apa yang akan dilakukannya dengan buku-buku sebanyak itu. Ia terlihat sibuk membuka, membaca, menulis, kemudian membuka buku lainnya, membaca lagi dan menulis lagi. Dia sibuk sendiri dengan dunianya.

“Buku sastra di sebelah mana ya?” sebuah suara mengalihkan kesibukan gadis itu sejenak. Tanpa menoleh sedikit pun tangan gadis itu lalu menunjuk ke arah sebelah kanan. Pria yang tadi bertanya segera mengikuti arah yang ditunujuk. Gadis itupun kembali berkutet dengan buku-bukunya.

Tak berapa lama kemudian, “Sory kamu kan kayaknya familiar dengan perpustakaan ini, ngngng…. Bisa nyariin buku ini nggak, “ pria itu kembali menghampiri gadis berkacamata sambil menyodorkan secarik kertas.

Masih dengan gaya acuh tak acuhnya, gadis itu membaca coretan dalam kertas yang diberikan oleh si penanya, lalu, “Cari saja dideretan buku sastra, ada di rak buku barisan ke dua paling pojok sebelah kanan.”

Laki-laki itu lalu pergi menuruti petunjuk yang di katakana si gadis yang kelihatannya tak mau di ganggu.

“Thanks ya bukunya sudah aku temukan. Dari tadi aku pusing muter-muter nyari buku ini eh nggak taunya kamu tahu persis dimana letaknya,” Ucap laki-laki tadi. “Nama ku Aryo, kamu siapa?” lanjut laki-laki itu seolah tak peduli dengan keacuhan si gadis.

“Asti,” jawab gadis itu pendek tanpa menoleh sedikit pun.

Merasa diperhatikan, Asti menghentikan kegiatannya menulis lalu menatap laki-laki dihadapannya. Sedetik kemudian dia tertegun, mulutnya yang hamper berucap mendadak terhenti hingga melongo. Betapa kagetnya dirinya melihat siapa yang kini duduk satu meja dengannya. Laki-laki yang baru saja menanyakan namanya ini adalah Aryo, mahasiswa tingkat tiga yang digandrungi banyak cewek di kampus ini.

“Lho kok malah bengong. Kamu anak semester berapa? “Tanya Aryo mengulang pertanyaannya tadi sekaligus membuyarkan lamunan Asti.

“Oh eh ngngng….Aku?” Tanyanya meyakinkan.

“Iya kamu. Emangnya ada oranglain dimeja ini selain kita?” Senyum Aryo mengembang.

“Aku adik tingkatmu.”

“Lho kamu tahu ya aku semester enam.”

Ups! Kontan wajah asti memerah malu.

“Aku kok nggak pernah melihatmu?” Kata Aryo yang tampak kebingunggan.

Jelas saja Aryo merasa bingung dan heran karena hampir semua mahasiswa dikampus ini dikenalnya atau paling tidak ia hafal wajah. Maklum dia kan ketua senat .

Sementara dalam hati, Asti merasa tak heran bila Aryo tidak mengenalnya. Siapa sih memperdulikan keberadaan dirinya. Mahasiswa kutu buku yang menghabiskan sisa kuliahnya di perpustakaan. Hampir tak ada mahasiswa yang mengenalnya dengan akrab apalagi cowok-cowok.

“Kamu aktiv di kegiatan apa?”Asti hanya menggeleng dan kembali menunduk, pura-pura sibuk kembali dengan buku-bukunya.

“Pasti kamu lebih suka disini, ya. Pantas saja kamu hafal letak buku-buku di sini. Aku sebenernya juga senang membaca, tapi waktu ku tak banyak. Ok deh kapan-kapan kita ngobrol lagi, ya, aku harus ke ruang senat dulu. Bye Asti!”

Aryo meninggalkan senyum simpatiknya. Asti pun sekali lagi terbengong-bengong bahkan tak sempat membalas senyum ramah sang cowok pujaan. Dia benar-benar seperti bermimpi bias duduk dan ngobrol dengan Aryo.

Dua hari kemudian Asti kembali bertemu kembali dengan Aryo di perpustakaan. Saat itu Aryo bermaksud mengembalikan buku sastra yang dipinjamnya tempo hari. Cowok keren itu mengurungkan niatnya untuk segera meninggalkan perpustakaan ketika melihat gadis berkacamata yang duduk di meja sebelah pojok. Tiba-tiba dia tertarik untuk menghampiri Asti.

“Hai, Asti,” sapanya ramah sambil menarik kursi di sebelah Asti.

“Oh ka-mu…” sapa Asti balik dengan setengah grogi.

“Kamu lagi baca apa si kok asik banget. Lagi enggak ada kuliah atau sedang menunggu jam kuliah,” cerocos Aryo berusaha memecah kekakuan Asti.

“Barusan saja selesai jam kuliah pertama. A-aku lagi pengen baca buku ini sambil menunggu jam kuliah kedua nanti sore,” tutur Asti sekuat tenaga menyembunyikan salah tingkahnya.

“Wih…….buku yang kemarin ternyata menarik, ya sebenarnya aku pinjam untuk adiku tapi malah jadi tertarik untuk ikutan baca. Adiku seperti kamu, doyan buku-buku hehehe…,” kata Aryo setengah bercanda membuat Asti ikut tertawa.

“Membaca buku itu merupakan kegiatan mengasikan. Banyak hal kita peroleh tanpa harus mengalaminya secara langsung. Seperti membuka jendela saja. Kita dihadapkan pada pandangan yang luas dan bebas menelajah,” Ujar Asti dengan dunia yang dicintainya.

Asti tak lagi canggung. Saat Aryo membuka pembicaraan tentang dunia buku Asti seolah mendapatkan kepercayaan dirinya.

Pancingan Aryo ternyata mengena sengaja Aryo bertanya-tanya tentang buku Agar Asti tidak banyak diam. Beruntung dia punya Adik kutu buku juga. Dan beruntung pula dia mengantarkan adiknya ke toko buku setidaknya jadi tahu hal-hal yang menarik bagi pencinta buku. Kini Asti tidak lagi pendiam seperti dua hari lalu. Ternyata gadis berkacamata ini pandai bicara juga. Wajahnya tampak berekspresikan ketika menjelaskan satu persatu buku yang sudah dibacanya. Mata bulatnya yang tersembunyi dibalik kaca mata tampak berbinar indah.

Belum pernah Aryo memandangi wajah gadis yang seperti ini. Biasanya saat berbincang dengan gadis-gadis ia hannya bisa menikmati kecantikan dan kemulusan kulitnya yang terkadang bisa terlalu lama dipandang jadi membosankan. Berbeda dengan wajah Asti yang semakin lama dipandang semakin menarik Aryo bahkan menebak jika Asti mau membuka kacamatanya pasti wajah ini lebih menarik. Matanya bulat dan tatapannya tajam. Tanpa sadar Aryo berguman sendiri sambil terus mendengarkan Asti yang asik berceloteh. Asti pun tanpa sadar menjadi banyak bicara satu hal yang jarang dilakukannya.

Tak terasa, sudah satu jam lebih Aryo dan Asti mengobrol panjang lebar. Seperti yang sudah-sudah Aryo yang duluan berpamitan karena ada jadwal latihan basket. Sebelum pergi, Aryo sempat mengajak Asti untuk mengajak menonton latihan basket, tapi segera ditolaknya oleh gadis itu. Bisa menjadi berita yang menghebohkan dikampus bila ketahuan Asti dan Aryo jalan berdua. Asti merasa minder.

Aryo dan Asti semakin akrab karena sering bertemu dan ngobrol diperpustakaan. Aryo sendiri heran mengapa menjadi ketagihan berbincang panjang lebar dengan Asti. Ada satu hal dalam diri Asti yang tidak ditemukan pada gadis lain. Perpaduan antara kepolosan dan kepintaran.

Sementara itu, bisa dibayangkan bagaimana perasaan dengan keakrapan yang baru dijalaninya. Kini, tak hanya buku tujuannya ke perpustakaan. Setiap kali dating ke perpustakaan ia merasa deg-degan menunggu kedatangan Aryo ia pun tak lagi gerogi seperti yang dulu bahkan merasa percaya diri. Aryo pernah dengan terus terang mengatakan bahwa gadis seperti Asti yang memiliki pengetahuan luas tentang pustaka sangat jarang dijumpainya palagi saat mengetahui ternyata Asti juga sangat pandai menulis cerpen. Kekagumannya pun semakin bertambah sikap Aryo yang jujur inilah yang membuat Asti tersanjung.

Meskipun merasa bahagia dengan kehadiran Aryo, Asti tidak berani berharap banyak. Ia melambung terlalu tinggi karena jika jatuh pasti sakit terasa luar biasa. Beberapa kali Aryo menawarkan diri mengantarkan Asti pulang ke rumah bila waktu hampir petang. Tapi dengan halus Asti selalu menolaknya. Asti juga menolak untuk sekedar di ajak makan dan minum di kantin. Asti tidak mau keakrapannya dengan Aryo diketahui mahasiswa lain. Bahkan ketika berada di perpustakaan, Asti selalu memilih tempat yang agak bersembunyi. Berjaga-jaga kalau Aryo datang, agar keduanya tidak mudah terlihat orang banyak.

Berita kedekatak Aryo dengan Asti ternyata tidak bisa ditutup-tutupi. Mungkin karena Aryo adalah sosok yang terkenal dikamp
us. Atau mungkin karena kabar ini ada sangkut pautnya dengan Asti, gadis yang tidak pernah diperhiyungkan di kampus. Anak-anak kampus menjadi penasaran selama ini nama Asti hampir tidak pernah disebut-sebut dalam pembicaraan diantara mahasiswa maupun dosen. Cewek seperti apa yang bisa menahan perhatian cowok yang menjadi rebutan gadis-gadis kampus. Begitulah mungkin pertanyaan yang beredar dari mulut ke mulut. Akhirnya, Asti pun kini banyak di cari orang.

Hanya Asti yang tidak mengetahui jika namanya kini jadi bahan pembicaraan orang di kampus. Hingga suatu hari, saat ia menunggu kedatangan Aryo di perpustakaan, datanglah seorang gadis cantik menghampirinya.

“Nama mu Ast,i kan? Kamu sedang menunggu kedatangan Aryo, ya?” Tanya gadis itu to the point, tanpa basa-basi dulu.

Dittanya demikian, Asti langsung kaget dan merasa ada yang tidak beres.

“Ya,” jawab Asti lirih tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya .

“Aku Rossa, pacar Aryo. Terus terang saja, aku kesini saja aku kesini hanya ingin mengatakan bahwa gosip kedekatanmu dengan Aryo sangat mengganggu diriku, juga hubungan ku dengan Aryo. Jadi nggak usah berpanjang lebar lagi, jadi aku ingin kamu menjauhi Aryo. Lagi pula tidak ada yang kamu harapkan dari Aryo. Aryo tidak mungkin jatuh cinta dengan gadis macem kamu. Jangan menyalah artikan perhatian Aryo.”

Gadis bernama Rossa itu berkata-kata dengan ketus dan sinis. Setelah meyelesaikan kalimatnya yang sedikit mengandung ancaman, ia langsung berbalik pergi meninggalkan Asti yang terbengong-bengong.

Bagai disambar petir di siang bolong Asti mendengar perkataan Rossa. Rossa pacar Aryo? Yah, mengapa selama ini ia tidak pernah berfikir tentang pacar Aryo. Tapi bukankah selama ini tak ada yang tahu, Asti dan Aryo sering bertemu? Ah, Aryo… mana mungkin cowok sekeren itu belum punya pacar. Mengapa selama ini tidak menanyakan siapa pacar Aryo. Mengapa selama ini ia hanyut oleh perhatiannya Aryo. Hampir saja aku menjadi pungguk merindukan bulan. Bodohnya aku .Begitu pikiran yang berkecamuk di otok Asti.

Lihatlah betapa berbedanya Asti dan rosa .Rosa begitu cantik dengan kulit putih dan rambut panjangnya yang lurus berkilau .Tubuhnya tinggi semampai.penanpilannya seksy dan trendi anggun dan indah di pandang mata . Lalu Asti? Ah bagai bumi langit . Asti tidak ada apa-apanya dengan rosa .

“Heh,ko melamun sih bukannya baca buku.” Tiba-tiba Aryo sudah berada di hapan Asti.

“Maaf aku harus pergi. Ada kuliah.” Kata Asti sambil membereskan buku-bukunya di meja .

“Lho, hari ini kamu sudah nggak ada kuliah lagi, kan?” Tanya Aryo yang hafal jadwal kuliah Asti.

“Pokoknya, aku harus pergi,” buru-buru Asti menjawabnya. Ia lalu beranjak pergi namun baru selangkah kakinya terhenti dan kembali berbalik ke arah Aryo.

“Mulai sekarang kita tidak usah bertemu lagi. Please, jangan temui aku lagi di perpustakaan,” pinta Asti dengan sorot mata yang terluka.

“Tapi kenapa? Apa yang terjadi? Asti…Asti… jangan pergi dulu. Tunggu!” kejar Aryo berusaha menghadang langkah Asti tiba-tiba sebuah tangan halus mencengkram lengannya menahannya untuk tidak berlari mengejar Asti.

“Rossa?! ngapain kamu disini?”

“Aku mencarimu. Ternyata benar gossip yang bredar. Diam-diam kamu sering menemui Asti di perpustakaan ini, ya. Buat apa, sih? Apa menariknya gadis itu?” Rossa memberondong Aryo menjadi salah tingkah.

“Apa yang kau katakan pada Asti? Kau tidak berhak menyakiti gadis itu. Dan bukan urusanmu lagi aku berteman dengan siapa kita sudah putus. Ingat itu!” Aryo berkata tegas.

”Tapi aku tidak rela kamu mencari gantiku dengan gadis semacam dia.”

“Ah, sudahlah aku tidak mau bertengkar lagi denganmu dan ingat jangan sekali-sekali lagi menemui Asti.”

Aryo pergi mengejar Asti. Rossa yang ditinggalkannya hanya tertegun kemudian menangis. Mengapa Aryo tertarik dengan Asti? Kenapa bukan gadis lain yang lebih cantik dariku? Pertanyaan itu sekali lagi mengganggunya Rossa merasa terhina.

Setelah kejadian itu Asti bagai ditelan bumi. Berkali-kali Aryo bolak-balik keperpustakaan, Tapi tak dijumpai gadis itu Aryo tidak tahu mesti kemana mencari tahu keberadaan Asti. Teman kuliahnya tak banyak yang mengenalnya. Alamat rumahnya Aryo tak pernah punya karena Asti tak pernah memberikannya. Apalagi nomor teleponnya. Satu-satunya tempat yang diharapkan bertemu dengan Asti adalah perpustakaan. Hampir setiap hari Aryo duduk dibangku yang biasa diduduki Asti sembari berharap gadis itu muncul tapi hari berlalu, minggu berlalu, bulan berlalu, Asti tak juga nongol. ”Ah, Asti…dimana kamu? Aku tetap menunggumu di perpustakaan ini. Aku ingin menjelaskan sesuatu… tentang perasaan ku.”

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: