Ilmu Menjalani Hidup

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Orang bilang, segala sesuatu itu ada ilmunya. Kayaknya sih memang demikian. Soalnya, paling males bekerja bersama orang yang ‘nggak tahu’ mesti ngapain kan? Kita sendiri juga suka bingung kalau harus mengerjakan sesuatu yang kita nggak punya ilmunya. Bahkan sebenarnya, apa yang kita dapatkan juga bergantung kepada ilmu kita. Kalau pencapaian kita masih cetek begini, mungkin itu karena ilmu kita juga masih cetek. Kita ini hanya ngakunya saja lulusan sekolah terbaik. Padahal, ilmu kita nggak seberapa. Sayangnya, kita tidak sadar soal itu. Maaf kata ya, ijazah saya; nyaris tidak bisa digunakan dalam cara saya menjalani hidup sekarang. Anda begitu jugakah? Itu menunjukkan jika kita masih harus mempelajari ilmu untuk menjalani hidup.
 
Ilmu, tidak hanya bisa didapat dari orang yang disebut guru. Atau mereka yang berdiri diatas mimbar. Ilmu hidup, justru sering dimiliki oleh orang-orang sederhana. Dan orang seperti itu, bisa siapa saja. Maka setiap kali memfasilitasi training, saya selalu menyediakan beberapa buku yang saya tulis untuk dihadiahkan kepada peserta yang bersedia berbagi pendapat atau aktif dalam forum itu sehingga orang lain dapat menarik pelajaran berharga darinya. Kadang-kadang, klien saya juga berinisiatif menyediakan hadiah hiburan. Biasanya sih berupa makanan kecil seperti coklat, kacang, kue-kue atau apa saja yang bisa dinikmati selagi mereka mengikuti acara training itu. Jadi, dikelas saya; peserta boleh mengikutinya sambil menikmati kelezatan makanan yang didapatkannya sebagai hadiah atas keterlibatannya secara aktif dalam diskusi interaktif.
 
Suatu ketika, peserta training saya mengemukakan pendapat yang sangat berharga. Sebagai imbalannya, saya menghadiahinya dengan cokelat lezat. Tapi, dia menolak hadiah itu. Padahal kan biasanya orang senang kalau dikasih hadiah. Dan tentunya, akan dengan senang hati pula menerimanya. Teman kita ini, tidak demikian. Maka, saya pun bertanya; “kenapa?”
 
Beliau kemudian menjawab; “Saya mau hadiahnya diganti dengan buku Pak Dadang….” Katanya. Teman-temannya di kelas pun menyambutnya dengan keriuhan beraneka ragam.
 
“Oke…” kata saya. “Tetapi, bisakah Anda jelaskan mengapa Anda merasa layak mendapatkan hadiah berupa buku itu?”
 
Teman kita itu berhenti sejenak. Lalu katanya; “Saya ingin menambah ilmu Pak….”
Berapa banyak diantara kita yang lebih mementingkan isi perut dibandingkan dengan isi kepala? Benar kita semua membutuhkan pemenuhan atas kebutuhan terhadap nutrisi berupa makanan. Tetapi ternyata sahabatku, bukan hanya tubuh fisik kita saja yang membutuhkan nutrisi itu. Jiwa kita pun tidak kalah butuhnya terhadap pemenuhan aspek-aspek penting yang bisa membuatnya lebih baik. Contohnya begini. Ketika sedang galau. Kita menutupi kegalauan itu dengan makan yang banyak. Semakin banyak makan, katanya kegalauan semakin berkurang ya? Apa memang demikian? Kenyataannya, melampiaskan kegalauan dengan makan bisa menyebabkan efek samping merugikan. Faktanya, kita tidak bisa mendapatkan penyelesaian dengan menjadikan makanan sebagai pelarian.
 
Beda sekali jika kita menyantap ilmu atau berbagai pencerahan. Contoh sederhananya begini. Ketika galau itu, kita mencari referensi yang relevan dengan situasi yang tengah kita hadapi. Didalamnya ada nasihat yang menyejukkan hati. Yang memberi kita inspirasi. Dan penyadaran diri. Hingga kita tersadar bahwa masalah yang kita hadapi itu sengaja Tuhan kirimkan untuk membuat kita naik kelas menjadi pribadi yang derajatnya lebih tinggi. Atau, memang mungkin Tuhan hanya ingin menguji. Jika kita lulus melewati ujian itu, maka Tuhan menganggap kita layak mendapatkan kepercayaan dan tanggungjawab yang lebih besar lagi. Nanti. Jika saatnya untuk itu sudah tiba.
 
Memangnya ilmu yang kita miliki ini masih belum cukup? Saya tidak tahu pasti. Yang jelas sih, ada beberapa indikasi yang menunjukkan jika saat ini ilmu kita belum cukup, atau belum sepenuhnya diamalkan. Buktinya? Begini: Dengan semua pencapaian ini. Kita belum merasa cukup juga. Kita merasa bahwa ada begitu banyak hal yang kita inginkan dalam hidup, namun masih belum bisa kita raih. Hingga saat ini.
 
Saya, misalnya. Termasuk orang yang beruntung. Meskipun pendapatan saya belum tinggi-tinggi amat, tapi masih lebih tinggi dibandingkan kebanyakan professional lain seusia saya. Tetapi, sampai sekarang; ada begitu banyak hal yang belum bisa saya raih. Anda pun demikian kan? Kita, sama-sama punya banyak keinginan yang masih belum bisa diwujudkan. Dan itu menunjukkan bahwa sehebat apapun kita sekarang, ternyata ilmu hidup yang kita miliki ini belum benar-benar sampai ke puncaknya. Kita, belum sampai kepada puncak pencapaian tertinggi yang semestinya bisa kita gapai.
 
Kita masih sering merintih begini;”Tuhan, kenapa ya pendapatan saya kok masih segini-gini saja. Kenapa Tuhan, orang lain bisa mencapainya sementara saya tidak. Kenapa Tuhan, semakin hari, semakin besar kekhawatiran saya. Kenapa Tuhan, semakin bertambah usia saya, semakin gamang saya dengan masa depan yang bakal saya jalani setelah memasuki masa pensiun nanti……” dan seribu satu ‘kenapa Tuhan’ lainnya.
 
Dari peserta training yang menolak cokelat itu saya belajar bahwa, diusia yang sudah tidak muda lagi inilah justru sebenarnya kita sangat membutuhkan untuk menambah ilmu. Peserta training yang lebih memilih buku itu telah memberi saya sebuah penyadaran bahwa; untuk menjalankan hal-hal teknis, ilmu yang didapat dibangku sekolah pun sudah cukup. Tapi untuk menjalani hidup, kita membutuhkan ilmu yang hanya bisa kita tuntut sambil menjalani hidup itu sendiri. Pengingat dari sahabat saya itu sejalan dengan nasihat Rasulullah dalam sabdanya; “Tuntutlah ilmu, hingga ke liang lahad…” Sehingga kita, hanya boleh berhenti menuntut ilmu; ketika sudah tidak bisa bernafas lagi.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 22 April 2013

Iklan

Tips Jitu Mengintai HP Pasangan

Teknologi informasi yang sekarang ini menjadi trend di seluruh belahan dunia tentunya membawa dampak yang berbeda bagi setiap individu, banyak hal positif yang didapatkan darinya, banyak juga dampak negatif yang tidak bisa dihindarkan. Dan tentunya ini sudah menjadi hukum alam yang tidak perlu kita pusingkan.
Beranjak dari hal diatas, saya ingin membagi tips untuk anda agar dapat memantau smartpone / handphone yang merupakan salah satu produk teknologi informasi. Apa yang bisa anda pantau ? sejauh ini yang bisa saya share dalam artikel ini adalah :
Short Message Service (SMS)
1. Inbox
2. Sent Item
3. Draft
Call Bisa jadi tidak ada pada beberapa settingan browser)
1. Panggilan masuk
2. Panggilan keluar
3. Panggilan tak terjawab
Hal ini tentunya membuat sebagian orang mencibir, dan sebagian orang mendukung kemudian sebagian orang tidak peduli dengan apa yang saya tulis, namun demikian jika anda mempunyai niat baik untuk memantau kegiatan apa saja yang dilakukan pasangan anda dengan mainan kesayangannya (baca : handphone) inilah saat yang tepat untuk memulainya.
Terlepas dari siapapun yang anda pantau, baik pasangan, anak kesayangan anda atau bahkan teman anda, hendaknya digunakan untuk tujuan positif. Dan tentunya applikasi ini hanya berjalan pada handphone android, untuk handphone berbasis symbian, java, windows phone, dan blackberry, untuk sementara waktu pada artikel ini tidak relevan.
Peralatan :
1. Handphone berbasis android (yang akan di intai/pantau)
2. Sebuah komputer/laptop
3. Program sederhana pada sisi handphone dan laptop
4. Sebuah akun Gmail (jika belum punya silahkan daftar disini)
Logic :
Hanphone >Program Pengintai< Komputer
Semua aktivitas yang dilakukan pada handphone akan terecord pada applikasi yang sama persis pada komputer / notebook.
Langkahnya adalah sebagai berikut, saya bagi menjadi dua kategori utama, yaitu pada sisi client (handphone) dan pada sisi server (komputer).
Client (Handphone Android):
Download program Mighty Text (di play store)

Kemudian install
Kemudian login menggunakan akun gmail yang anda buat/existing
Tampilan setelah anda melakukan login di Mighty text via gmail (ada button unlink)

Server (Komputer /Notebook):
Firefox
– Install Add On di Firefox (klik disini)
– Kemudian jalankan Mighty Tex dari browser firefox anda: https://mightytext.net/app
Chrome
– Install ekstensi nya disini
– Kemudian jalankan Mighty Text dari browser chrome :https://mightytext.net/app
Setting:

New Message:

Message Example:

Sekarang, anda tinggal siapkan kopi dan snack, nikmati pengintaian anda, btw anda juga dapat mengirim sms dan melakukan panggilan dari browser anda!.
Penting!:
1. Anda perlu tahu email dan password untuk login di Mighty Text
2. Anda perlu koneksi internet baik pada sisi client maupun server
3. Mohon tidak digunakan untuk tujuan yang melanggar hukum yang berlaku
4. Saya tidak bertanggung jawab atas seluruh kejadian yang ditimbulkan dari artikel ini
Wassalam

Sumber: Hendra Wijaya
http://www.it3.web.id/2013/03/18/tips-jitu-mengintai-hanphone-pasangan/

Kaca Mata Pilihan Ayah

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Sudah lama Kakak mengeluhkan soal kacamatanya yang tidak nyaman lagi dikenakan. Mungkin minusnya sudah bertambah sehingga tidak cocok lagi menggunakan kacamata itu. Tapi sampai sekarang kakak belum juga mendapatkan penggantinya. Kayaknya, Ayah sedang sibuk sekali akhir-akhir ini. Makanya, belum juga sempat membawa Kakak ke optik.
 
“Gimana kalau kita lihat pilihan model yang Kakak sukai di internet…” begitu kata Ayah. “Nanti Ayah belikan frame-nya dulu. Setelah itu, kita ke optic untuk mengukur lensanya….” Lanjutnya.
 
Aneh kan?
Masak sih beli frame dulu, terus nanti balik lagi ke optic untuk memasang lensanya. Logikanya kan sekalian aja datang ke optic buat beli frame dan lensa itu sekaligus. Tapi emang Ayah suka aneh gitu. Buat semua orang dirumah sih sudah tidak aneh lagi. Karena kami tahu kalau Ayah suka yang aneh-aneh.
 
Keesokan harinya, Ayah beneran membawa frame kaca mata buat Kakak. Bagus banget sih. Tapi, Kakak nggak suka.
 
“Loh, ini kan sudah sesuai dengan model yang kita lihat di internet, Kak…” Ayah protes berat. Pilihan modelnya tidak diterima sama Kakak.
“Bukan yang ini Ayyaaaaah…” balas Kakak. “Kan udah Kakak bilangin yang nggak pake penyangga gini….” Katanya. Sambil menunjukkan dua benda oval yang biasa menempel di hidung kalau orang pakai kacamata.
 
“Hadduh Kakaaaaaak, semua kacamata ada penyangga hidungnya kan?” kata Ayah. “Kalau nggak pake penyangga gini mana bisa menempel dihidung. Bisa-bisa kacamatanya menggelosor nggak ada sangkutan….” Tambahnya. Perasaan Ayah aja kali. Gara-gara hidungnya tidak mancung.
 
Kakak berusaha mati-matian menjelaskan kepada Ayah bahwa penyangga kacamata itu ada dua macam. Ada yang berupa benda oval disangga kawat kecil, dan ada yang langsung menyatu dengan framenya. Nah, Kakak sukanya yang langsung menyatu itu.
 
“Eh, emang ada yang kayak gitu ya?” sambut Ayah. Emang deh Ayah ini ketinggalan zaman. Dia tahunya model kacamata itu seperti yang selama ini dipakainya saja. Makanya Ayah. Tidak boleh bersikukuh dengan kebenaran yang diyakininya sendirian.  Semoga saja sekarang Ayah sadar, bahwa dunia ini jauh lebih luas daripada yang diketahuinya. Ayah perlu membuka wawasan. Supaya tidak ngotot ketika sedang berdebat. Atau tidak lagi memaksakan kehendak kepada anak-anaknya.
 
Kayaknya, bukan hanya dirumah Ayah bersikap seolah-olah sudut pandangnya itu sudah benar-benar mencakup semua hal. Ayah bisa saja bersikap begitu juga dikantornya. Mungkin, kepada anak buahnya Ayah juga suka memaksakan sudut pandangnya. Ayah mengira itu yang terbaik buat anak buahnya. Padahal, belum tentu juga kan? Makanya Ayah, dengarkanlah apa yang dikatakan anak buah Ayah. Supaya Ayah bisa paham, apa yang sebenarnya mereka butuhkan.
 
“Ya sudahlah kalau begitu, sabar saja ya.” Ayah berkata lembut. “Nanti Ayah ganti deh dengan yang kamu mau…”Alhamdulillah. Ayah tidak egois dengan kemauannya sendiri. “Tapi nanti, kalau sudah ada rezeki lagi….” Tambahnya.
 
Kakak yang tadi sudah senang, jadi lemas lagi. Soalnya, tidak jelas. Kapan penggantinya akan diterima. Sedangkan Ayah bilang barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan. Untungnya Ayah sedang baik ketika itu. Beberapa hari kemudian, dibuatnya kejutan buat Kakak… Jeng jeng…. Kacamata baru!
 
Kakak tersenyum melihat kacamata itu. Ayah juga senang. ”Ayah itu baik banget ya…”  kata Kakak. Semua orang dirumah ikut senang. Tapi, rasa senang itu langsung buyar ketika Kakak berkata begini; “Tapi, ini bukan model yang kita sepakati waktu lihat di internet…..”
 
“Heleh.” Ayah terperanjat. “Ini sudah model paling cocok untuk gadis remaja seperti kamu lho Kak….” Katanya. “Penyangganya juga yang menyatu seperti yang kamu mau.”
 
Kasihan Ayah. Sudah cape-cape membelikannya dua kali untuk Kakak. Tapi kali ini juga tidak diterima lagi. Itulah Ayah. Niat baik pun, harus disertai dengan pengertian dong. Jangan karena niat Ayah baik, terus Ayah mengabaikan aspirasi orang lain. Kalau di rumah sih masih nggak apa-apa. Karena kita ini keluarga. Kalau keluarga kan saling mendukung dalam keadaan apapun. Tapi kalau hal itu Ayah lakukan diluar rumah. Di kantor. Atau tempat lainnya. Belum tentu Ayah dimaklumi seperti di rumah. Ayah. Bahkan niat yang paling baik pun harus didukung oleh kesediaan Ayah untuk memahami orang lain.
 
“Sudahlah. Ayah bisa bangkrut kalau begini…” ketus Ayah. “Pokoknya Kakak pake frame itu. Suka atau tidak. Terserah.” Nah tuch kan. Akhirnya, kesal juga. “Pilih salah satu dari kedua frame itu. Titik.” Keluar lagi deh gaya otoriternya.
 
Kakak terdiam untuk beberapa saat. Lalu, “Ya udah deh.” Katanya dengan suara yang lemah. “Kakak ambil yang ini aja,” katanya. Sambil menunjuk. Tapi nggak jelas juga menunjuk yang mana. Hanya Kakak sendiri yang memahami perasaannya. Sedangkan orang lain, hanya bisa ikut berempati. Tapi justru empati itulah yang diperlukan oleh seseorang dari orang-orang disekelilingnya kan?. Kalau tidak ada empati, bagaimana kita bisa saling menghibur dan membesarkan hati?
 
“Ayah…” kata Abang.
Ayah langsung menoleh kearahnya.
“Seandainya Ayah berada pada posisi Kakak,” lanjutnya. “Apa yang Ayah rasakan?”
Pertanyaan itu langsung membuat Ayah terhenyak. Nggak ada satu kata pun yang terucap untuk beberapa saat. Ayah. Benar-benar tertohok dengan pertanyaan itu. “Apa yang Ayah rasakan?” sekali lagi Abang bertanya kepada Ayah.
 
Hening sejenak. Lalu…
“B-baiklah.” Suara Ayah terdengar agak bergetar. “Hari minggu depan ini, kita pergi sama-sama untuk membeli kacamatanya ya Kak…..”
 
Kata-kata Ayah yang terakhir itu membuat semua orang gantian tertegun. Suka sih. Tapi nggak nyangka aja Ayah bisa berubah sedrastis itu. Sebuah perubahan yang melegakan semua orang. Semoga saja, di kantor pun Ayah bisa mengubah sikap dan cara pandangnya terhadap sesuatu. Sehingga Ayah bisa membangun hubungan yang lebih baik lagi dengan anak buahnya.
 
Sekarang, Kakak sudah punya kacamata pilihannya sendiri. Kacamata yang disukainya. Yang benar-benar sesuai dengan keinginannya. Dan Kakak, bahagia sekali karenanya. Lebih rajin belajar. Dan lebih sayang kepada Ayah.
 
Semoga saja…. Ayah bisa membawa pengalamannya ini ke kantornya. Supaya Ayah bisa lebih mendengarkan isi hati dan aspirasi anak buahnya. Karena apapun yang Ayah lakukan untuk mereka, akan sia-sia saja jika tidak seusai dengan harapan mereka. Nggak rugi kok memahami mereka itu. Justru yang rugi itu adalah ketika apa yang dilakukan untuk mereka hanya didasarkan sudut pandang Ayah. Seperti ruginya Ayah ketika membelikan dua pasang kacamata untuk Kakak yang hanya bagus menurut Ayah saja.
 
Ayah.
Jiwa dan kepala kita berbeda. Begitu pula dengan isi hati dan jalan pikiran kita.
Maka Ayah. Belajarlah untuk memahami orang lain. Agar apa yang Ayah lakukan lebih mengena. Lebih sejalan dengan cara berpikir mereka. Dan lebih mampu menyentuh relung kalbu mereka. Karena Ayah. Tuhan pun sudah menciptakan kita dengan keunikan masing-masing. Kita berkewajiban untuk menghargai hasil karya Tuhan itu melalui penghargaan atas keberagaman sudut pandang. Pikiran. Perasaan. Dan preferensi masing-masing. Ketika kita bisa begitu Ayah. Maka hidup kita semua menjadi sempurna. Karena kita, ditakdirkan Tuhan untuk saling memahami. Dan saling melengkapi. Bisakah? Ayah.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 12 April 2013

Bernilaikah Pekerjaan Ini?

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Sudah berapa lama Anda bekera? Baru sebulan? Wah, tentu masih semangat-semangatnya ya? Oh, sudah setahun. Masih asyik kan? Sudah bertahun-tahun? Dengan pekerjaan yang itu-itu saja? Anda tidak bosan dengan pekerjaan itu? Saya sendiri tidak tahu persis, apakah kita harus bosan pekerjaan yang sudah terlalu lama kita jalani ini ataukah mestinya kita semakin menyukainya. Yang saya ketahui secara pasti adalah; kita tidak lagi bisa bekerja dengan rasa senang jika merasa bosan terhadap pekerjaan kita. Lah, itu mah semua orang juga tahu ya. Kalau bosan, pasti nggak asyik lagi. Kalau nggak asyik, ya sudahlah asal jalan saja. Formalitas. Yang penting ngabsen. Ada disitu. Duduk. Dan menyelesaikan pekerjaan apa adanya. Cukup dong. Tidak lebih dari itu. Ohya, satu lagi; mengerjakannya sengaja dilambat-lambatin. Y-yyaaaa…begitulah…..
 
Kartijah, anggap saja begitu namanya. Ibu rumah tangga di kampung. Harus membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Maka meski tidak terbilang muda lagi, dia bekerja banting tulang. Pekerjaannya? Memanggul gelondongan kayu milik boss dari tengah hutan hingga ke pinggir jalan raya. Jika sedang tidak ada penebangan, dia pergi ke pinggir kali dimana boss lain sedang beraksi. Dipikulnya batu-batu kali itu dari dasar sungai, naik hingga ke ujung tebing. Kemudian dimuatkannya kedalam truck besar yang menunggunya disana. Ketika matahari tepat diubun-ubunnya, Kartijah berteduh sambil membuka bekal makan siangnya berupa nasi putih berlauk sepotong ikan asin. Setelah itu, dia melanjutkan pekerjaannya hingga hari hampir gelap. Untuk pekerjaannya itu, Kartijah mendapatkan upah dua puluh ribu rupiah saja.
 
Kira-kira beberapa puluh kilometer kearah kota, ada pusat bisnis yang gemerlapan. Didalamnya, ada banyak orang bekerja digedung-gedung mentereng yang deretannya begitu rapat seperti hutan tanpa tangkai, dahan, atau pun dedaunan. Semilir angin diganti dengan hembusan udara sejuk dari air-conditioner canggih. Baju bersih dan pakaian perlente mendandani semua pekerjanya. Setiap beduk dhuhur tiba, semua orang berhamburan menuju kantin dan warung-warung nasi yang meriah. Pilihan lauknya, beraneka ragam. Tepat jam 5 sore, mereka pun bubaran. Untuk pekerjaannya itu, mereka mendapatkan imbalan beberapa juta sebulan.
 
Keesokan harinya, Kartijah bangun pagi sekali. Menyiapkan apapun adanya untuk anak dan suaminya. Lantas bergegas pergi ke hutan atau pinggir kali tempat dia meraih rezekinya sehari-hari. Tidak sekalipun dia merasa berat hati untuk melangkahkan kaki. Karena dia percaya, bahwa rezekinya sudah menunggu disana. Dan dia, akan dengan senang hati memetiknya meski dengan kerja keras dan tetesan keringat dibawah terik matahari. Dia tidak akan membiarkan dirinya terlambat datang, karena bisa kehilangan kesempatan yang mungkin hanya satu-satunya itu. Jika terlambat, orang lain akan mengambil pekerjaannya. Atau, boss hutan dan boss sungai tidak mau lagi menggunakan tenaganya.
 
Keesokan harinya, para pekerja di gedung-gedung tinggi itu bangun pagi. Mematikan alarm bawel itu. Menguap sebentar. Kemudian menarik selimutnya lagi. Rasanya beraaaaat sekali untuk pergi ke kantor hari ini. Tidak seperti hari pertama ketika mereka diterima bekerja di tempat itu. Dulu sih, mereka semangat sekali. Senang. Gembira. Bangga. Dan penuh antusias. Hari ini. Sudah beberapa tahun mereka bekerja disana. Kayaknya, ada yang tidak beres. Entah apa. Pokoknya tidak terasa lagi asyiknya. Makanya, ada saja alasan untuk menghindari pekerjaan. Kalau perlu, tinggal menelepon saja. Dan mengatakan;’hari ini, saya sedang tidak enak badan….’ Mereka, tidak perlu khawatir kalau pendapatannya berkurang. Karena diakhir bulan, gaji mereka akan ditransfer secara utuh.
 
Dengan tuntutan pekerjaan dan imbalan seperti itu, Kartijah masih bisa menunjukkan senyum yang cerah diwajahnya. Dengan tuntutan pekerjaan dan imbalan seperti itu, orang-orang di gedung perkantoran mewah itu masih saja sering menggerutu. Cemberut-cemberutan. Berselisih dengan temannya. Menggunjingkan atasannya. Dan, mengeluhkan tentang suasana kerja di kantornya yang semakin hari semakin tidak nyaman.
 
Kartijah, menjaga keberlangsungan pekerjaannya seperti dia merawat sumber penghidupannya. Merindukannya. Dan mendedikasikan dirinya dengan sepenuh kesungguhan. Dia sadar betul atas betapa berharganya gelondongan kayu dan bongkahan batu itu untuk diri dan keluarganya. Sehinga dia, selalu tersenyum setiap kali ada beban yang harus diangkutnya. Semakin banyak beban itu, semakin senang dia rasanya. Dan semakin gigih usaha kerasnya. Seolah-olah, dia merupakan orang yang paling beruntung dimuka bumi ini.
 
Di ujung lain, di gedung perkantoran itu. Orang-orang intelek yang beruntung itu bergerombol sambil merumpi. Padahal mereka tahu bahwa dijam itu, mestinya mereka sudah kembali sibuk mengerjakan tugas-tugasnya. Boro-boro merasa rindu pada pekerjaannya. Yang mesti dikerjakan pun masih ditunda-tundanya. Semakin banyak pekerjaan, semakin gundah gulana hatinya. Semakin manyun. Sambil membayangkan betapa beratnya hari-hari kerja yang mesti dijalaninya. Mereka selalu cemberut, setiap kali ada beban pekerjaan yang harus dilakukannya. Seolah-olah, mereka diposisikan sebagai orang yang paling tertindas dimuka bumi.
 
Kartijah, tak henti bersyukur atas pekerjaan yang diperolehnya. Mereka yang berada di gedung perkantoran itu pun bersyukur juga sih. Dan rasa syukurnya itu sudah dijadwal, yaitu di tanggal 25 setiap bulannya. Mereka ‘bersyukuuuur sekali’. Mmmmh…maksudnya, bersyukurnya hanya sekali dalam sebulan. Beda dengan Kartijah yang bersyukur setiap hari. Makanya, Kartijah bisa senang hati setiap hari. Sedangkan koleganya digedung-gedung tinggi hanya senang hati sebulan sekali. Itu pun tidak sehari penuh. Rasa senang mereka hanya berlangsung beberapa menit saja. Karena setelah upah itu diterimanya, hampir di menit yang sama langsung ‘dikasih’ lagi kesana. Dan dikasih juga kesini. Langsung berhamburan kesana-sini. Lalu mereka merengut lagi…..
 
Apakah Kartijah tidak pernah menangis? Sering. Ada momen-momen syahdu dimana dia menitikan air mata. Khususnya ketika memikirkan anak-anaknya. Bagaimana masa depannya kelak jika tidak terus sekolah? Tapi bagaimana caranya agar anak-anaknya bisa terus bersekolah? Dia menangis. Namun tangisnya disimpan untuk disaat-saat sunyi. Dan dengan tangis itu, dia memotivasi diri sendiri untuk bekerja gigih serta penuh dedikasi setiap hari. Kartijah, benar-benar memahami nilai pekerjaan ini. Sehingga meski upahnya kecil, dia tetap mensyukurinya. Meski tugas-tugasnya sangat berat – baik dalam pengertian fisik, maupun non fisik – dia tetap menjalaninya dengan tabah. Tekun. Dan tanpa keluhan.
 
Orang-orang keren di kantor besar itu. Mesti sesekali mengambil cuti. Lalu mengemas pakaian secukupnya, dan memasukkannya kedalam ransel. Kemudian menyandang ransel itu menuju ke terminal bis antar kota. Disana mereka boleh membeli tiket untuk berlibur. Mereka, boleh memilih tujuannya kemana saja. Ke barat, atau ke timur. Utara atau selatan. Terserah kemana saja. Karena kemanapun arah yang mereka tempuh itu, akan membawanya untuk bertemu dengan Kartijah dalam bentuk, rupa, dan penampakannya yang berbeda-beda. Di pelabuhan, ada Kartijah. Di pegunungan, ada Kartijah. Di proyek-proyek bangunan ada Kartijah. Disawah ada Kartijah. Dimana saja, pasti ada Kartijah.
 
Orang-orang keren di kantor besar itu. Mesti mengambil jatah cuti. Agar bisa bertemu dengan Kartijahnya sendiri. Supaya mereka sadar bahwa pekerjaannya sungguh jauuuh lebih baik dari itu. Mereka perlu menemui Kartijah agar bisa lebih mensyukuri pekerjaannya. Dan mereka perlu menjumpai Kartijah, agar paham bahwa Tuhan sudah memberinya begitu banyak kenikmatan. Beragam kemudahan. Serta beraneka ragam anugerah. Hanya saja, mereka terlalu sering mengabaikannya.
 
Dengan menemui Kartijah itu, semoga saja mereka bisa kembali ke kantornya masing-masing dengan kesadaran baru. Semangat yang lebih menggebu-gebu. Antusias tertingginya. Untuk mengeksplorasi puncak kemampuan dirinya. Dan menghidupkan semangat juangnya, tanpa perlu lagi mengeluhkankan tentang ini dan itu. Karena hanya dengan cara itu, karir yang lebih baik  bisa mereka raih. Namun hal itu, hanya bisa dimulai; jika kita menyadari. Bahwa. Pekerjaan ini. Sungguh. Sangat. Bernilai.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 11 April 2013

Kehilangan Jabatan

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Orang bilang, semakin tinggi jabatan itu semakin enak. Gaji, tunjangan, dan gengsinya juga lebih tinggi kan? Makanya, kita semua saling berlomba mengejar jabatan. Boleh? Boleh saja. Tapi pertanyaannya adalah; apakah kita juga sudah siap jika kehilangan jabatan itu? Mungkin kita tidak pernah membayangkannya. Namun hal itu bisa terjadi kapan saja, dan dialami oleh siapa saja. Termasuk Anda. Dan juga saya. Sehingga jika kita tidak mempunyai kesiapan mental menghadapi situasi yang tidak menyenangkan itu, maka kehilangan jabatan bisa menimbulkan resiko yang berdampak besar bagi hidup kita. Kalau kita sudah siap secara mental? Meskipun kecewa, tapi kita bisa tetap berbahagia kan.
 
Saya ingat betul peristiwa belasan tahun yang lalu. Ketika itu, salah seorang senior saya mendapatkan promosi jabatan. Sebelumnya pun beliau sudah bertitel ‘manager’. Namun kemudian mendapatkan kepercayaan berupa tanggungjawab yang lebih besar, dengan level jabatan yang lebih tinggi. Ditangannya, sudah ada surat keputusan top management. Bahagia? Oh, pastinya dong. Siapa juga yang tidak bahagia mendapatkan promosi ke posisi bergengsi. Keluarganya bahagia. Teman-temannya pun ikut berbahagia pula. Sayangnya, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tahu kenapa? Karena beberapa hari kemudian, top management meralat surat keputusan itu. Sahabat saya itu, tidak jadi dipromosi.
 
Dalam jarak ratusan kilometer dari tempat itu, saya mempunyai sahabat lain. Kalau yang ini, sudah menjadi pesohor dengan jabatan yang tinggi. Dihormati, dan dipuja puji oleh orang-orang diseluruh sudut dan setiap sisi organisasi. Senang? Tentu dong ya. Siapa yang tidak senang menduduki posisi terhormat dengan segala priviledge yang menyertainya. Setelah bertahun-tahun dalam posisi ini, rupanya terjadi restrukturisasi dan mutasi. Orang lain kemudian ditunjuk sebagai pengganti beliau. Dengan penggantian itu, beliau tetap bekerja disitu. Namun kali ini, tidak disertai dengan jabatan maupun kewenangan sebesar yang dimilikinya sebelum reorganisasi dan mutasi itu berlangsung.
 
Anda baru saja membaca kisah tentang dua orang yang kehilangan jabatan. Orang pertama kehilangan jabatan yang ‘baru saja’ didapatkannya. Sedangkan orang kedua kehilangan jabatan yang ‘sudah bertahun-tahun’ dinikmatinya. Sekarang, mari membayangkan bagaimana seandainya salah satu dari kedua peristiwa itu menimpa kepada diri Anda?  Jika Anda keberatan untuk berandai-andai, boleh juga Anda sekedar berempati kepada yang mengalaminya; kira-kira, seperti apa ya rasanya.
 
Memang tidak mudah untuk memahami orang lain, khususnya jika kita sendiri tidak pernah mengalaminya. Tetapi, kita sungguh mesti belajar memahami hal itu karena kita  tidak bisa menghindari kejadian serupa itu. Hanya caranya saja yang akan berbeda. Tapi intinya sama yaitu; ‘kehilangan jabatan’. Entah dengan pensiun, ataupun salah satu dari kejadian yang menimpa kedua teman saya itu. Atau mungkin dengan cara lain yang sama sekali tidak bisa kita duga. Faktanya, kita akan kehilangan jabatan yang saat ini kita sandang. Tidak peduli seberapa suka, senang, atau cintanya kita pada jabatan ini. Kita – cepat atau lambat – harus melepaskannya juga. Maka pertanyaannya adalah; apakah Anda sudah siap untuk melepaskan jabatan itu atau tidak?
 
“Tenang saja mas bro. Umur gue masih muda….” Mungkin para eksekutif muda berpikir demikian. Hey. Jangan salah loh. Tidak ada jaminan jika kita masih mendapatkan kepercayaan itu hingga pensiun. Pernah mengenal orang-orang yang khilangan jabatan pada usia yang justru sedang ‘semangat-semangatnya’? Makanya, menghindari sifat takabur itu perlu Mas Bro….
 
Bagaimana pun juga, tidak mudah untuk berlapang dada menyikapi kehilangan jabatan itu. Khususnya ketika kita sedang sangat menginginkannya. Maka siapa saja yang sangat menginginkan suatu jabatan, harus memiliki kesiapan untuk kehilangan jabatan itu kapan saja. Seperti teman saya yang pertama itu. Sebagai manager yang gigih dan hebat, tentu dia kecewa ketika surat pengangkatannya itu hanya ‘berlaku’ beberapa hari. Namun karena sudah siap mental. Maka beliau tidak terlalu bersedih hati. Ketika kembali lagi ke posisinya semula, beliau tidak mengurangi kualitas kerjanya sama sekali. Tetap tampil sebagai professional yang unggul.
 
Sebaliknya, jika kita tidak punya kesiapan mental untuk kehilangan jabatan itu. Bukannya mengharapkan, tetapi jabatan kita itu memang tidak langgeng kan? Sulit untuk tetap berlapang dada jika hati kita tidak siap kehilangannya, bukan? Bayangkan saja; semua kenikmatan sebagai pejabat seperti direnggut begitu saja. Misalnya, teman saya yang kedua itu. Sejak kehilangan jabatan itu, binar cerah yang selama ini senantiasa menghiasi wajahnya mulai pudar. Semakin hari, kinerjanya semakin menurun drastis. Dan yang lebih berat lagi, semakin sering mengeluhkan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Sakit, yang sudah diobati oleh berbagai macam cara. Namun tidak kunjung sembuh juga.  Untuk sahabat saya itu, saya hanya mempunyai sebuah resep yang terdiri dari satu kata, yaitu;” “Relakanlah.” Karena kerelaan kita untuk melepaskan jabatan yang hilang itulah yang bisa membuat hati kita tetap sabar. Senantiasa tenang. Dan selamanya tenteram.
 
Sahabatku. Jika gairah muda Anda saat ini mendorong Anda untuk terus mengejar jabatan. Maka lakukanlah. Karena tidak salah kok mengejar jabatan itu. Tetapi bersamaan dengan perburuan Anda kepada jabatan itu, tumbuhkanlah juga kesiapan mental Anda untuk menghadapi situasi yang tidak terduga, berupa kehilangan jabatan itu.  Agar jika hal-hal tidak terduga terjadi juga, maka jiwa kita; tidak akan terlampau terpengaruh. Kita bisa segera pulih. Dan bangkit lagi. Untuk terus berusaha dengan gigih.
 
Sahabatku. Jika saat ini Anda tengah mengalami situasi sulit berupa terenggutnya jabatan yang Anda cintai; hiasilah lidah Anda dengan kalimah indah yang Allah dalam surah 2 (Al-Baqarah) ayat 156 ini; “Sesungguhnya, kami berasal dari Allah. Dan kepadaNya jugalah kami kembali…..” Dengan begitu sahabatku, kebahagiaan kita akan tetap utuh. Meskipun kita tengah didera oleh kehilangan yang tidak menyenangkan itu. Insya Allah.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 8 April 2013

Benarkah Rezeki Itu Tidak Akan Tertukar?

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Anda pasti pernah mendengarnya juga, kan? Rezeki itu tidak akan tertukar, katanya. Jadi ya tenang saja. Rezeki Anda, akan menjadi milik Anda. Sedangkan rezeki saya, akan tetap menjadi milik saya. Maka ketika kita luput dalam mendapatkan sesuatu, kita diingatkan untuk selalu sabar. Lalu kita berkata; ‘oh, itu bukan rezeki kita….’. Begitu kita diajari, bukan? Saya bertanya; “jika itu bukan rezeki kita, lantas mana yang rezeki kita itu dong?” Misalnya saja, Anda sudah dihadapkan pada ‘rezeki Anda’ itu. Namun Anda tidak mau mengambilnya, apakah itu masih jadi rezeki Anda? Saya tidak tahu pasti. Yang jelas, saya percaya bahwa meskipun Tuhan sudah menjatahkan rezeki untuk kita; Tuhan sangat menyukai ketika kita bersedia menggunakan tangan ini meraihnya. Jika tidak, mungkin saja Tuhan akan mengalihkan rezeki itu kepada orang lain, kan? Ya suka-sukanya Tuhan saja dong. Dia kan Yang Maha Kuasa. Betul apa tidak?
 
Sore itu, saya ada jadwal training untuk salah satu klien kami di Jakarta. Kalau acaranya didalam kota, kan enak menyetir sendiri saja. Sudah menjadi kebiasaan kalau menyetir mobil tanpa mengenakan sepatu. Lebih nyaman pakai sandal saja. Sepatu hanya dipakai pada saatnya nanti. Maka seperti biasanya, istri saya menyiapkan sepatu didalam mobil. Namun, saya tidak melihat ada kaus kaki didalamnya. Jadi, saya kembali ke kamar untuk mengambil ‘gulungan’ kaus kaki dari lemari. Setelah itu, kami pun beranjak pergi.
 
Sesampai di lokasi, barulah kami mengganti sandal dengan sepatu formal. Ketika itu juga saya melihat ada gulungan kaus kaki didalam sepatu itu. Tadi sih tidak kelihatan, makanya saya mengambil gulungan kaus kaki lainnya. Karena ingin menghargai istri yang sudah susah payah menyipakannya di rumah, maka saya memutuskan menggunakan kaus kaki pilihan istri saya itu. Namun begitu gulungan dibuka, ternyata kaus kaki itu beda corak di kiri dan kananya. Hadduh. Itulah resikonya kalau punya beberapa pasang kaus kaki. Seseorang bisa salah ‘menggulungnya’ jika dicuci pada saat yang bersamaan. Di rumah, saya punya cukup banyak persediaan kaus kaki. Sama-sama hitam sih. Tapi, warna detailnya sengaja dipilih berbeda-beda. Biar tidak bosan, kan. Namun resiko tertukarnya besar sekali rupanya.
 
Saya tertegun. Kenapa tadi kok didalam hati saya ada bisikan untuk mengambil sendiri gulungan kaus kaki lainnya? Hebat kan scenario Tuhan? Maka saya pun tidak ambil pusing. Segera mengambil gulungan kaus kaki  satunya lagi. Dan membukanya. Ya ampuun… kedua kaus kaki ini pun digulung bukan dengan pasangannya. Wah, kalau begini caranya; saya bisa tampil seperti badut dong. Biarin deh. Belum tentu juga peserta training saya memperhatikan sampai ke kaus kaki segala kan? Mau gimana lagi? Namun, sebelum melakukan kenekatan itu, saya perhatikan bahwa ternyata; kedua gulungan kaus kaki itu saling berpasangan secara bersilangan. Artinya, kami membawa 2 pasang kaus kaki yang komplit, namun tertukar dalam gulungan.
 
“Kita ini disayang Tuhan….” Begitu istri saya bilang sambil tersenyum manis.
Ya… kami yakin demikian. Selama ini, hidup kami memang diliputi oleh kasih sayang Tuhan. Tapi, saya masih bertanya; kenapa kok tertukarnya pas sekali. Kenapa saya mengambil gulungan ini sehingga gulungan yang disiapkan oleh istri saya tadi menjadi sempurna? Kenapa saya tidak mengambil gulungan lain dari lemari? Atau kenapa kaus kaki ini tidak tertukar dengan pasangan lain dari gulungan yang tidak saya ambil? Dan sejuta kenapa lainnya.
 
Tiba-tiba saja tumbuh pemahaman baru dalam hati saya. Rupanya, seperti itu jugalah rezeki kita. Jika sudah Tuhan tetapkan akan menjadi milik seseorang, maka rezeki itu tidak akan lari kemana. Akan tetap menjadi milik orang itu dengan cara yang tidak diduga sekalipun. Sahabatku, rezeki Anda itu sudah ditentukan menjadi milik Anda. Saya tidak bisa mengambilnya, atau merampasnya dari Anda. Begitu juga sebaliknya. Seperti kedua pasang kaus kaki saya yang tertukar itu, kita berpasangan secara tepat dengan rezeki kita. Jika pun sempat ‘tertukar’ maka cepat atau lambat; akan terjadi pertukaran lain yang menyebabkan milik Anda kembali kepada Anda. Dan milik saya, kembali kepada saya.
 
Tenteraaaaam rasanya ketika saya memahami hal itu. “Betul kan Bunda, rezeki itu tidak akan pernah tertukar.” Begitu sapa lembut saya kepada istri tercinta. Maka mari kita syukuri semua yang kita dapatkan. Dan tidak usah bersedih hati, jika ada sesuatu yang luput. Karena rezeki kita itu sudah ada takarannya masing-masing. Maka dengan begitu, kita akan terus berbahagia dengan apa yang ada pada kita. Tanpa sedikitpun rasa takabur yang menodainya. Dan kita pun akan tetap lapang dada ketika sedang dihadapkan kepada berbagai macam kesempitan.
 
Tapi…
Sebentar dulu.
Saya masih memikirkan sesuatu.
Jika rezeki itu sudah ditakar untuk masing-masing orang; apa yang menjadi dasar atau pertimbangan Tuhan dalam menentukan takarannya? Kebutuhan hidup? Kita semua kan sama-sama butuh rumah bagus, tapi tidak semua orang dapat rezeki yang cukup untuk membeli rumah bagus. Kita kan sama-sama butuh mobil, tapi tidak semua orang mendapatkan rezeki untuk membeli mobil. Kita semua kan juga sama-sama membutuhkan pelayanan kesehatan yang baik, tapi kenyataannya; tidak semua orang mendapatkan rezeki yang menjadikannya mampu untuk membiayai pelayanan kesehatan yang terbaik. Jadi apa dong pertimbangan Tuhan dalam menentukan jatah dan takaran rezeki itu sesungguhnya? Tidak terlalu jelas lagi, apakah ini pertanyaan. Atau gugatan.
 
Sudahlah, tidak usah terlalu jauh memikirkannya. Begitu kata orang. Anehnya, orang juga tidak berhenti untuk mengeluhkan; “Tuhan, kenapa kami selalu berada dalam kekurangan…..” Merintih, jika penghasilannya tidak kunjung cukup menutupi biaya hidup seperti keinginannya. Bukankah itu mengindikasikan ada sesuatu yang bertolak belakang dengan keyakinan yang selama ini diimaninya?
 
“Sekalipun kita tidur, Tuhan tetap akan memberikan rezekiNya kepadamu kok!” ada juga yang menasihatkan seperti itu. Benar? Benar. Jika konteks kita hanya dalam lingkup untuk bertahan hidup. Benar. Kita tidak akan mati sekalipun cuman berdiam diri. Pasti ada saja kok rezeki yang datang entah darimana atau bagaimana. Nyatanya demikian. Tapi anehnya, orang-orang ini percaya juga kok bahwa kehidupan ini ‘bukanlah semata-mata soal bertahan hidup’.
 
Menurut pendapat Anda, apakah saya akan mendapatkan dua pasang kaus kaki komplit, jika yang mengambil gulungan kaus kaki itu hanya istri saya saja? Meskipun setiap helai kaus kaki itu sudah ada pasangannya masing-masing, namun hanya dengan usaha yang benar saja masing-masing akan ketemu dengan pasangannya yang tepat. Dimulai dari petugas cuci setrika di rumah kami. Kemudian istri saya. Dan saya sendiri. Tuhan memang menjamin rezeki setiap mahluknya. Ada tertera dalam kita suci. Namun konteksnya, untuk menjaga agar tetap hidup. Sedangkan untuk bisa menapak kepada tingkatan yang lebih tinggi dari ‘sekedar hidup’ itu; kita wajib berikhtiar.
 
Gampangnya, kita boleh mengumpamakan bahwa rezeki yang Tuhan siapkan itu ada 2 macam. Pertama, rezeki untuk menjamin kelangsungan hidup mahluk-mahluknya. Itu tidak akan tertukar. Karena standarnya sama, yaitu; jaminan Tuhan bahwa setiap ciptaannya akan Dia hidupi. Antara saya dengan Anda, syarat untuk hidupnya kan sama. Kita dengan orang lebih kaya atau lebih miskin dari kita pun sama, yaitu; bisa makan untuk terus hidup. Itu Tuhan jamin. Sampai kapan? Sampai tiba saatnya bagi kita untuk pulang ke rumahNya sesuai batas waktu dalam ketentuanNya. Tuhan berikan kepada semua. Yang beriman. Yang ingkar. Yang beribadah. Yang membantah. Dapat jatah yang sama.
 
Namun selain jenis pertama itu, ada jenis rezeki yang kedua, yaitu: floating rizc, kalau saya boleh menyebutnya demikian. Maksudnya, rezeki yang Tuhan taburkan dialam semesta ini yang boleh diperoleh siapa saja yang bersedia berjerih payah untuk menggapainya. Itulah jenis rezeki ‘beyond our basic need fulfilment’. Rezeki yang untuk mencicil rumah. Rezeki untuk mengkredit kendaraan. Rezeki untuk menabung. Untuk liburan, sesekali makan di restoran, menonton bioskop dan sebagainya. Tuhan berikan kepada siapapun yang gigih usahanya, serta tepat cara menggapainya. Setinggi apapun tingkat keimanan kita, jika tidak ikhtiar; Tuhan tidak kasih jenis rezeki ini. Meskipun ingkar hingga berani mendustakan keesaan Tuhan, jika seseorang gigih dan mahir teknik memetiknya; maka Tuhan akan berikan rezekinya yang floating ini. Kenapa? Karena Tuhan adalah Maha Rahman. Maha Rahim. Pengasih. Lagi penyayang.
 
Jadi sahabatku, jika selama ini kita masih sering luput dalam meraih rezeki; hendaknya tidak lagi buru-buru mengatakan ‘itu bukan rezeki kita’. Tetapi mulailah menyadari bahwa cara dan tingkat kegigihan kita belum cukup untuk meraihnya. Sungguh sahabatku, Tuhan telah berfirman dalam surat 53 (An-Najm) ayat ke 39. Mari renungkan bunyinya; “Dan sungguh, tidak ada sesuatupun yang akan diperoleh seseorang kecuali apa yang telah diusahakannya….”. Jika kita berusaha, tentu berpeluang lebih besar untuk mendapatkan rezeki yang lebih banyak daripada kita diam saja. Meskipun dengan diam itu rezeki kita masih tetap dijamin oleh Allah. Namun, bukankah kita semua tertarik untuk mendapatkan bagian dari ‘floating rizc’ yang Tuhan taburkan itu?
 
Maka mari sahabatku, temani saya untuk melanjutkan ikhtiar ini. Supaya kita bisa kebagian. Dan jika kita maaaasih juga gagal mendapatkan rezeki itu, maka mulailah belajar menyapa Sang Pencipta: “Tuhan, terimakasih telah Engkau berikan kesempatan kepada hamba untuk berusaha hari ini. Namun hamba belum berhasil yaaa robbi. Tolong ajarkan kepada hamba Tuhanku, cara mendapatkannya. Agar pada kesempatan yang lain, hamba berhasil meraihnya.”
 
Dengan pemahaman yang baru ini, kita bisa membangun harapan untuk memperbaiki keadaan. Kita tetap punya semangat untuk terus berikhtiar. Dan kita, berkesempatan untuk mendapatkan seperti yang bisa diperoleh orang lain yang sudah terlebih dahulu terampil meraihnya. Memang rezeki tidak akan tertukar. Tetapi, kini sudah bukan saatnya lagi untuk hanya berorientasi pada rezeki jenis pertama itu. Saatnya untuk menggapai rezeki jenis kedua. Kita ubah paradigmanya.  Kita tambah kegigihannya. Dan kita perbaiki caranya. Maka kehidupan dan pencapaian kita, akan meningkat lebih baik lagi. Insya Allah.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 4 April 2013

Kenapa Anak Buah Malas Belajar Lagi?

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Sebagai atasan, kita mempunyai kewajiban untuk selalu mendorong agar anak buah kita terus mengembangkan diri. Supaya kemampuan kerja mereka meningkat. Dan mereka pun bisa mendapatkan lebih banyak reward. Demi kepentingan mereka sendiri, kan? Sebenarnya sih, kita juga untung dong. Kan enak banget kalau punya anak buah yang hebat-hebat. Kita, tidak usah diribetin oleh masalah-masalah yang muncul karena ketidakmampuan anak buah menangani pekerjaannya. Pokoknya, rugi sendiri deh kalau sebagai atasan kita tidak mau membantu anak buah mengembangkan diri mereka. Makanya wajar dong, kalau sebagai atasan kita terus mengingatkan anak buah agar tidak henti mengembangkan diri. Tapi, apakah anak buah kita bisa disuruh terus belajar dengan semudah itu? Tidak semudah itu ternyata ya? Anda tahu kenapa?
 
Saya punya dua teman dekat. Hubungan kami sangat dekat sekali sehingga saking dekatnya itu, bolehlah kalau saya sebut kedua teman saya itu sebagai ‘sisi kanan’ dan ‘sisi kiri’ diri saya. Boleh ya? Terimakasih. Keduanya sekarang sedang terlibat dalam diskusi alot. Mereka mempertanyakan; apa yang kita lakukan untuk mengembangkan diri kita sendiri? Padahal kita sering berbusa-busa memerintahkan anak buah kita supaya serius belajar. Gigih mempelajari hal baru. Dan sebagainya.
 
Kenyataannya, kita sering melihat atasan yang hanya pandai menyuruh anak buah untuk terus mengasah kemampuan dirinya. Namun sering lupa, bahwa sebagai atasan; kita pun mesti terus mengasah kemampuan yang kita miliki. Sambil menyuruh anak buah berlatih, kita bersembunyi dibalik kata ‘sibuk’, bahkan untuk sekedar membaca buku tentang bagaimana cara mengasah kemampuan kepemimpinan kita. Soalnya, kita merasa bahwa kemampuan kepemimpinan kita memang sudah tinggi. Meskipun kenyataannya, kita sering kesulitan untuk menangani anak buah.
 
“Ya nggak gitu-gitu amat kali. Kita juga sering kan ikut training? Toh kantor punya budget untuk mengirim kita ke berbagai macam event training. Kita juga belajar terus kok.” Begitu sisi kiri batin saya memprotes.
 
Dan sisi kanan jiwa saya menimpali;”Iya sih.” Katanya. “Tapi coba aja elo pikir-pikir lagi.” Tambahnya. “Apa elo benar-benar mempelajari sesuatu di kelas training jika setiap sesi elo datang telat melulu.” Tampaknya sisi lain saya menggugat balik. “Pembukaan telat.” Katanya. “Habis coffee break telat.” Cecarnya. “Setelah istirahat makan siang juga elo kembali ke kelas dengan telat…..”
 
“Halah Mas Bro, gue kan Manager. Banyak kerjaan yang mesti dilakukan….” Begitu sisi kiri berkilah. Padahal, yang manager sibuk itu kan sebenarnya bukan kita aja ya. Tapi, kenapa cuman kita yang doyan bersembunyi dibalik alasan kesibukan ya?
 
“Well…” sisi kanan menarik nafas. “Didalam kelas juga elo lebih sering baca blackberry daripada mendengarkan curahan ilmu yang dipaparkan oleh pembicara di kelas elo….”
 
“Hadeuh… hari gini kagak ngecek BB? Please dong Bro! This is for business my man! Business…..!!!!” Tentu saja sisi kiri punya alasannya sendiri. Padahal, pastinya kan bukan cuman kita saja yang punya BB. Dan setiap pengguna BB tahu betul, bahwa sebagian terbesar pesan-pesan yang masuk ke BBnya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Yang sudah pasti ada hubungannya adalah ‘keriduan’ kita menantikan bunyi durirang di gadget kesayangan kita itu. Atau sekedar getarannya yang menggairahkan. Atau, cukup dengan kedap kedip display sinyalnya saja. Lantas alam bawah sadar kita mengingatkan bahwa pesan itu tidak bisa ditunda-tunda. Mesti dibaca sekarang. Kalau tidak. Maka itu artinya kita tidak update! Hari gini enggak update? Rasanya gimanaaaa gitu.
 
“Kesimpulannya.” Begitu sisi kanan merespon. “Elo cuman bisa menyuruh anak buah elo untuk terus belajar, dan mengembangkan diri. Sementara elo sendiri….. NOL BESAR.” Sepertinya saya melihat sisi kanan itu mengacungkan logo ‘O’ yang dibentuk dari jari telunjuk dan jempolnya.
 
“Sudahlah Mas Bro…” balas sisi kiri. “Nggak bisa gue belajar dari trainer yang gayanya membosankan begini…..” Duh. Seandainya sisi kiri itu menyadari bahwa meskipun trainer yang sekarang sedang berdiri di depan kelas itu membosankan, tapi… dia tidak lebih membosankan daripada diri kita sendiri ketika menceramahi anak buah kita soal pengembangan diri. Trainer itu, cuma dua jam berdiri disitu. Atau paling lama ya dua hari saja berceloteh didepan kita. Mungkin cuma itu satu-satunya momen pertemuan kita dengannya seumur hidup kita. Sedangkan kita? Setiap hari bertemu dengan anak buah kita. Dan kita. Menceramahi mereka dengan kata-kata yang sama. Nada yang sama. Tingkah polah yang sama. Lalu kita masih menganggap diri kita ini tidak membosankan ya. Oh….
 
“Siapa yang lebih membosankan?” kata sisi kanan saya. “Trainer itu dimata elo? Ataukah diri elo dimata anak buah elo….?” Kalau kita pinter, mestinya kita bisa memilih trainer yang cocok dengan kita. Banyak pilihannya kok. Ada yang pinter tapi serius banget. Ada juga yang lucu, tapi ilmunya pas-pasan. Ya tak apa dong. Kita tidak butuh ilmu selangit kok untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ada yang main sulap melulu. Tidak apa juga, karena sulap bisa membuat orang tidak tertidur di kelas training. Emang ada juga sih trainer yang beneran punya ilmu tinggi, sekaligus juga cara membawakan materinya pun bagus. Jadi, asyik banget kalau ikut kelas dia. Ada macam-macam deh pokoknya. Terserah kita aja mau memilih yang mana. Yang penting, kita bisa mempelajari sesuatu yang bermakna darinya, kan?
 
“Tapi apa iya di level kita masih butuh training ya?” sisi kiri saya berguman. Seolah pertanyaan itu hanya untuk dirinya sendiri. Yaaa… kalau kita tidak merasa butuh, mana bisa kita bisa sepenuh hati menjalaninya kan? Dan kalau kita memang tidak butuh, kenapa mesti ikut training yang tidak kita butuhkan?
 
“Tidak. “ jawab sisi kanan. “Kita tidak butuh training kok.” Tambahnya. Mantap dan lugas. Sebenarnya saya merasa sedikit terkhianati. Saya tidak berharap sisi kanan bicara begitu.
 
“Hnnaaah… kan elo udah tahu soal itu Mas Bro!” jingkrak sisi kiri. “Maaasak sih di level kayak kita ini masih butuh training segala?!” Kayaknya kita memang tidak membutuhkan training kok. Sebab, training; hanya merupakan satu dari sekian banyak proses pembelajaran untuk terus meningkatkan diri. Tidak usah ikut training kok, kalau kita mempunyai cara dan metode lain untuk terus mengembangkan diri. Lagi pula, dalam setahun Anda sanggup mengikuti berapa kali training sih? Selain berbiaya tinggi, training kan juga menyita banyak waktu.
 
“Proses apapun bisa elo tempuh…” jawab sisi kanan saya. “Bebas aja kok pren.” Lanjutnya. “Yang penting elo pastikan tuch mulut elo nggak cuman bisa memerintah anak buah elo doang. Elo. Gue. Mesti bisa melakukannya buat diri sendiri.” Oh, sekarang saya seneng lagi karena bisa memahami apa yang tadi dimaksudkan oleh sisi kanan.
 
“Ohoho… so pasti dong Mas Bro!” timpal sisi kiri. “Gue. Nggak pernah berhenti belajar.” Katanya. “Istilahnya: terus belajar, belajar terus.” Sekarang, pernyataan itu bagi saya terdengar lebih menyerupai jargon. Yaa….. jargon. Soalnya, saya tahu persis apa yang selama ini dilakukan oleh diri saya sendiri. Jadi, saya tahu persis kalau sisi kiri saya itu melakukan apa yang dikatakannya atau hanya indah dimulut saja.
 
“Tidak ada masalah…” timpal sisi kanan. “Yang penting, ada bukti nyata dari proses yang elo bilang elo terus menerus lakukan itu.
 
Sekarang saya tercenung. Bukan lagi sekedar sisi kiri saya yang merasa tertohok. Ini saya. Sekujur tubuh saya yang tercenung. Sambil bertanya kepada diri saya sendiri; “Bukti apa yang bisa saya tunjukkan bahwa selama ini saya memang benar-benar terus berusaha untuk belajar meningkatkan diri?” Sebagai atasan, selama ini saya sudah terlalu sering menasihati anak buah untuk ini dan itu. Tetapi diri saya sendiri…..?
 
Benar kata sisi kiri saya. Apa buktinya kalau selama ini saya terus mengembangkan diri? Adakah skill saya yang bertambah? Atau masih hanya bisa yang itu-itu saja? Adakah ilmu saya semakin tinggi? Adakah wawasan saya semakin luas? Adakah keberanian saya mengambil resiko semakin terukur? Adakah kemampuan saya dalam mengambil keputusan semakin akurat? Jika tidak ada aspek dalam diri saya yang lebih baik dari sebelumnya dalam menjalankan tugas kepemimpinan ini, maka itu menunjukkan bahwa sebenarnya; selama ini, saya tidak belajar apa-apa.
 
Padahal jelaaaaaas sekali nasihat Rasulullah kepada umatnya. “Tuntutlah ilmu, hingga engkau berangkat ke liang lahad.” Hanya maut yang boleh membuat kita berhenti belajar. Begitulah nasihat beliau. Tetapi sebagai atasan, saya sering merasa jika ilmu saya sudah cukup tinggi. Sehingga sekarang, giliran anak buah saya yang giat berlatih dan belajar. Sehingga tanpa disadari, diri saya sendiri; sudah sejak lama berhenti bertumbuh kembang.
 
Sebenarnya… siapa sih yang mesti terus mengembangkan diri itu? Anak buah saya. Iya. Teman-teman saya. Juga iya. Sedangkan diri saya sendiri? Lebih iya lagi. Sebab dalam perjalanan karir saya kemudian, saya menemukan bahwa ceramah saya kepada anak buah tentang pentingnya untuk terus menuntut ilmu itu sama sekali tidak berguna. Mereka tidak mau menuruti kata-kata saya. Sudah saya sediakan training yang bagus dan mahal bagi mereka. Namun tidak ada bekas-bekasnya. Saya ragu jika mereka mempelajari sesuatu dari training itu. Lalu saya berhenti berceramah. Lantas mulai mengajari diri sendiri untuk terus belajar. S-a-y-a yang mesti terus belajar.
 
Tahukah Anda teman-teman? Saya tidak usah lagi berbusa-busa menyuruh. Karena sekarang, ada perubahan yang saya rasakan dari mereka. Ketika saya rajin menjinjing buku, dan membacanya. Beberapa anak buah saya menjadi lebih sering terlihat membaca buku. Bahkan ada yang datang kepada saya mengusulkan judul-judul buku yang layak untuk dibaca. Ada juga yang mengirimkan kembali kepada saya buku yang kami hadiahkan untuk mereka sambil berkata;”Pak, saya lebih suka buku yang judulnya blablabla, apakah boleh saya tukar?” Bahkan ada yang membaca buku bagus yang para manager pun belum tentu pernah membacanya.
 
Ketika saya mencoba melakukan sesuatu dengan cara yang baru sekaligus memaksa diri keluar dari zona nyaman. Saya melihat beberapa anak buah saya berani melakukan sesuatu yang selama ini tidak mau dilakukannya. Ada yang datang kepada saya, dengan gagasan yang selama ini tidak pernah saya pikirkan. “Pak, bagaimana kalau kita mencobanya dengan cara seperti ini?”
 
Ketika saya mengambil cuti untuk mengikuti training dengan biaya sendiri. Team member saya datang ke ruang kerja saya untuk mengatakan “Dang, gimana kalau teman-teman kita dikasih training tentang blablabla….”
 
Sejak saat itu. Saya memahami bahwa yang menjadi penyebab betapa sulitnya menjadikan proses pembelajaran dan peningkatan diri sebagai budaya bagi anak buah saya adalah karena saya; ‘menyuruh’ mereka melakukannya. Saya, tidak ‘melakukannya’. Dan sekarang, saya menemukan begitu banyak fenomena yang sama dihadapi oleh para atasan. Sulit untuk menyuruh anak buahnya terus mengembangkan diri. Sahabatku, jika Anda menghadapi masalah yang sama. Mungkin, Anda bisa mencoba menggunakan resep saya ini; “Tunjukkanlah, bahwa diri Anda sendiri terus menerus mengembangkan diri”. Jika Anda berhasil melakukannya, maka Anda tidak usah lagi menyuruh mereka. Karena mereka, akan mengikuti Anda dalam melakukannya. Insya Allah. Dicoba ya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 2 April 2013